Touch Me!

Touch Me!
Jealous?



Pagi yang indah,...


Tentu saja tidak terasa indah bagi Devi dan Lexi. Pagi ini mereka berangkat bersama sekarang pun juga masih bersama di ruangan kerja. Sungguh terasa canggung bagi Devi. Tapi tidak untuk Lexi, sedari pagi tadi wajah pria tampan itu terus menekuk kesal. Iya, sudah tahu kan apa masalahnya?


Devi mencoba untuk memfokuskan dirinya karena bayangan apa yang terjadi semalam terus menghantuinya. Ternyata aroma tubuh Leci benar-benar membuatnya mabuk kepayang, bagaimana bisa dia tanpa sadar melakukan hal memalukan itu? Devi melirik ke arah Lexi yang masih sama saja ekspresinya. Pria itu tampak malas melakukan apapun, tapi terlihat tetap memaksakan diri.


" Sekretaris Lexi, Presdir Nath meminta anda untuk ke ruangan beliau. " Ucap seorang gadis cantik yang tak lain adalah asisten manager di perusahaan Chloe, gadis itu tersenyum merona saat Lexi mengangguk sembari tersenyum, tentu saja itu adalah senyum yang dipaksakan.


" Tapi sebelum itu, manager meminta saya untuk menyerahkan dokumen ini kepada anda. " Gadis cantik itu tersenyum menatap Lexi. Tentu saja wanita yang ada di ujung ruangan terus mengamati gerak gerik gadis cantik itu. Sungguh, ingin sekali dia menjambak gigi gadis itu dan membanting tubuhnya sampai hancur.


" Baiklah, akan aku serahkan kepada Presdir. Kau boleh kembali ke ruangan mu. " Ujar Lexi yang sudah bersiap untuk keluar ruangan.


" Tunggu! " Cegah gadis itu.


" Ada lagi? "


Gadis itu nampak merona dan terlihat malu-malu.


" Sekretaris Lexi, boleh aku meminta nomor pribadi anda? aku sudah pernah mengirim pesan kepada anda melalui media sosial, tapi anda mengabaikan pesan saya. "


Lexi menggaruk tengkuknya bingung, dia sempat melirik kepada Devi yang sedang mengamati mereka dengan mulut yang bergerak tanpa suara. Tentu saja dia sedang memaki, memang apa lagi yang akan keluar dari mulut Devi saat melotot seram begitu? Lexi mencoba mengacuhkan keberadaan Devi dan memberikan nomor pribadinya kepada si gadis cantik itu.


Anggap saja ini balas dendam. Siapa suruh kau mendukung Ibuku semalam?


Devi semakin bengis menatap mereka, tentu saja dia sedang berfantasi menghajar mereka. Mulai dari membotaki rambut mereka, lalu mencabut semua gigi mereka, mencabut bulu-bulu di seluruh tubuh juga bila perlu, setelah mereka terlihat seperti tuyul, barulah dia akan membuat mereka seperti gantungan kunci. Heh! hanya dalam fantasi tidak masalah kan?


Tak mau lagi membuang waktu, Lexi dan gadis itu keluar ruangan secara bersamaan.


" Tolong jangan menghubungiku ya? " Pinta Lexi.


Gadis itu mengerutkan dahinya. Bukankah dia sudah memberikan nomor ponsel? lalu kenapa tidak mau dihubungi? jadi gunanya dia mendapatkan nomor ponsel sekretaris tampan itu apa?


" Tapi kenapa? "


Lexi menghela nafasnya lalu tersenyum, " Baiklah, kau boleh menghubungi ku jika itu masala pekerjaan. Tapi juga bukan, itu akan membuat istriku marah, maklum saja, istriku sangat pemarah. " Ujar Lexi sembari menepuk pundak gadis itu dan berlalu meninggalkannya yang masih mematung kebingungan.


Memang kapan sekretaris Lexi menikah? apa ini sejenis metode tarik ulur? dia memberiku nomor telepon tapi pura-pura melarang ku telepon? ah, sekretaris Lexi memang susah ditebak. Tenang saja sekretaris Lexi, aku sudah lama mengagumi mu. Aku tida akan mudah menyerah kok.


***


" Nath? " Sapa Lexi setelah mengetuk pintu lalu membukanya.


Nath mengangkat kepalanya untuk menatap ke arah sumber suara.


" Ini dokumen dari manager keuangan, dan ini dokumen yang sudah aku periksa, kau hanya tinggal menandatanganinya. "


" Kau sedang menstruasi ya? " Tanya Nath dengan nada mengejek.


Lexi hanya menghela nafas tanpa berniat menjawabnya.


" Apa kau gagal dalam mencetak gol? " Pertanyaan ini mampu membuat Lexi menatap Nath dengan mata yang membulat sempurna.


Tentu saja Nath sangat tahu apa artinya itu. Sudah pasti jawabannya adalah, Iya. Nath menutup dokumen yang yang sudah ia tanda tangani dan menatap Lexi. Sungguh, dia ingin tertawa sekencang-kencangnya, tapi melihat wajah Lexi yang begitu memprihatinkan, membuat tawa itu bisa ia tahan untuk sekedar menghormati kegagalan yang memalukan itu.


" Apa punyamu tidak bisa berdiri? " Pria itu sungguh terlihat serius meski ia sendiri tahu jika pertanyaan itu sangatlah konyol.


" Jangan omong kosong! tentu saja berdiri! "


" Lalu, apa masalahnya? " Nath.


Lexi menatap langit-langit sesaat lalu kembali menatap Nath dengan tegas.


" Punyaku hanya dibuat berdiri tapi tidak ditidurkan lagi. " Ujar Lexi dengan wajah emosinya.


" Pft.....! " Nath langsung menutup mulutnya karena tidak ingin sampai dia kelepasan dan tertawa didepan manusia malang itu.


Lexi hanya diam mengingat kejadian semalam, tidak bisa dipungkiri, kejadian itu membuatnya harus ke kamar mandi beberapa kali dan menina bobokkan tongkat ajaibnya sendiri, karena si gadis yang membuat tongkat ajaibnya upacara, malah asyik tertidur dengan nyenyak.


" Kau bisa mencobanya lain waktu, tidak perlu se marah itu. " Nath mencoba menenangkan sahabatnya yang terlihat kacau.


Lexi hanya bisa menghela nafas. Masalahnya, apa mungkin si mulut kubangan itu akan seagresif semalam? Lexi juga belum yakin apa yang membuat gadis itu begitu antusias padanya. Jika Lexi yang mencoba merayunya apa dia akan menerima? atau mungkin di akan marah? apa mungkin juga dia akan membalas sergapan nya dengan lebih buas? oh ya ampun! kata mungkin memang tida ada habisnya ya?


" Ku beri satu bocoran, " Nath mendekatkan wajahnya agar bisa berbisik di dekat Lexi, yah walaupun ruangan itu kedap suara, Mungkin Nath lupa atau sengaja mengejek si calon mantan perjaka itu.


Lexi yang merasa tertarik, akhirnya mendekatkan wajahnya juga. Nath nampak berbisik beberapa kata, Lexi mengangguk lalu tersenyum. Lexi memberikan telapak tangannya untuk beradu telapak tangan dengan Nath. ( Tos ).


Setelah beberapa obrolan dengan Nath, Lexi kembali dan memeriksa ponselnya yang ternyata, si gadis cantik tadi mengirimnya pesan untuk mengajaknya makan siang. Lexi menghubungi gadis itu dengan suara yang ia buat selantang mungkin.


" Hai? ini Lexi, dimana makan siangnya? ah, itu ide bagus. Aku akan menemui mu di kantin ya? " Ucap Lexi lalu mengakhiri panggilan telepon.


Jangan tanya bagaimana mimik wajah gadis di sudut ruangan itu ya, karena dia benar benar kesal hingga pena yang sedang ia gunakan ia tekan dan membuat beberapa lembar kertas menjadi berlubang.


Sialan! apa dia benar-benar marah karena semalam? dia marah karena aku menggodanya atau karena gagal nih? tidak bisa dibiarkan! walaupun aku tidak cinta, tapi kalau punya anak dari Lexi aku bisa memperbaiki keturunan kan?.


Lexi mencuri pandang ke arah Devi sebentar, sungguh itu sangat menakutkan. Wajah gadis itu benar-benar marah.


Jika ada yang bertanya kepada Lexi, apakah dia mencintai Devi? jawabannya adalah tidak tahu. Bagi Lexi, dia hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Meski awalnya sulit menerima pernikahan ini, tapi tidak sedikitpun dibenaknya untuk bercerai, dan kehadiran Devi juga mulai ia terima dengan ikhlas. Tidak ada pilihan selain belajar untuk mencintainya kan kalau begitu?


To Be Continued.