Touch Me!

Touch Me!
S2- Pergi



Setelah kepulangan dari rumah Tuan Ozi dan Ibu kandung Sammy, sekarang Sammy sudah terlihat lebih baik. Tidak ada lagi Sammy yang murung seperti hari kemarin. Bahkan, selama perjalanan kembali ke rumah Sammy terus saja berceloteh menceritakan banyak hal. Mulai dari cara Nathan memperlakukan karyawannya, Nathan yang sekarang menjadi budak cinta, Nathalie dan Nathania yang pernah memintanya untuk mengatakan kepada Nyonya besar Chloe, sebenarnya Vanya maupun Nathan tentu sudah tahu semua hal itu. Tapi melihat bagaimana Sammy cekikikan, mereka hanya bisa mengimbangi nya dan ikut tertawa saat Sammy terlihat bahagia dengan obrolannya.


Sesampainya mereka di rumah, Mereka memutuskan untuk mengerjakan apa yang sudah tertunda untuk hari ini. Sammy segera berangkat ke kantor, Vanya dan Nath juga ikut pergi ke VNS untuk menyelesaikan beberapa urusan sampai Sammy resmi di angkat menjadi presdir disana nanti.


" Sialan! " Ucap Sammy pelan. Lagi-lagi harus menyaksikan sepasang manusia menyebalkan yang tak lain adalah Nathan dan Ivi. Gila kan? sekarang Ivi tengah duduk dipangkuan Nathan sembari saling menyuap kan nasi. Kesal juga cemburu, itulah yang selalu Sammy rasakan saat melibat kemesraan sepasang manusia. Sungguh, rasanya dia ingin menjadi orang ketiga bagi semua pasangan yang mesra agar mereka tidak bisa bahagia lagi.


" Hallo? hallo? " Ucap Sammy seraya berjalan masuk mendekati Nathan dan Ivi.


" Berisik! " Nathan menatap tajam sesaat lalu tersenyum manis saat Ivi menatapnya dan menyuapkan makanan untuknya.


Apa-apaan?! saat melihatku tatapannya seperti iblis penguasa dunia. Tapi saat menatap Ivi, dia begitu manis mengalahkan manisnya biang gula.


" Kakak kedua? sudah selesai urusannya? " Tanya Ivi.


" Sudah. Ngomong-ngomong, sebenarnya kita berdua memiliki masa lalu yang hampir mirip loh. Apa kau sama sekali tidak iba melihatku? " Sammy tersenyum saat Ivi mengeryit menatapnya.


" Maksud kurang ajar apa yang kau miliki? " Tanya Nathan sembari menatap tajam bola mata Sammy yang sepertinya sengaja tak mau menatap Nathan.


" Apa kakak kedua juga ditelantarkan? " Tanya Ivi.


" Iya. " Sammy memasang wajah sedih nya hingga terlihat hampir menangis. Ivi yang merasa tidak tega karena ia mengalami dan tahu benar bagaimana rasanya, dia sontak bangkit dari pangkuan Nathan. Dia berjalan mendekati Sammy dan memeluknya erat. Tentu saja Nathan bisa melihat bagaimana Bahagianya Sammy mendapat pelukan dari istrinya.


" Ja jangan memeluk laki-laki lain! " Nathan yang merasa cemburu akhirnya menjauhkan tubuh Ivi. Membalikkan tubuh Ivi untuk menghadapnya lalu ganti memeluk tubuhnya.


" Memeluk ku lebih nyaman kan? " Nathan tersenyum miring dengan tatapan tajam menatap Sammy. Kesal, tapi dia harus menahannya. Selain karena tidak mau membuat mood istrinya buruk, dia juga tidak mau menambah sedih Sammy sekarang.


" Kakak ipar,.... " Sammy berpura-pura menangis untuk merebut perhatian Ivi. Pokonya, selama mereka bermesra-mesraan dan dia sendiri belum menikah, tidak akan Sammy biarkan kebahagian sepasang manusia terjadi di hadapannya.


" Sayang, lepaskan aku dulu! " Karena terus memberontak, Nathan terpaksa juga melepaskan tubuh Ivi. Seperti yang diharapkan Sammy, Ivi kini kembali memeluk tubuh Sammy sembari menepuk pelan punggungnya.


" Kakak kedua, semua yang terjadi memang terasa sangat berat. Tapi kalau kakak merelakan masa lalu dan membiarkan itu menjadi kenangan pahit sebagai pelajaran hidup, semua pasti akan baik-baik saja. Kakak tidak perlu merasa sedih. Kami semua yang menyayangi kakak kedua tentu akan selalu bersama kakak kedua. "


" Apa kakak ipar juga menyayangi ku? " Tanya Sammy sembari tersenyum licik menatap Nathan.


" Tentu saja. "


Hah?! Nathan yang sedang di mabuk cinta terhadap Ivi benar-benar mirip seperti Ayahnya. Tidak perduli siapapun, selama mendengar istrinya menyatakan rasa sayang atau cinta, dia akan merasa tersaingi dan menjadi over protektif. Ditambah lagi, Sammy dengan sengaja menjulurkan lidah dan merasa bangga diri.


" Sayang? " Panggil Nathan sembari memegangi perutnya.


" Ah! perut ku sakit. " Alasan Nathan agar Ivi kembali memperhatikannya. Seperti yang di harapkan oleh nya, Ivi kini kembali memperdulikannya.


Menyebalkan! tapi sudahlah. Mau di apakan lagi? mereka memang sulit untuk dipisahkan sekarang. Baru Sammy ingin kembali ke ruangan kerjanya untuk membereskan barang, tiba-tiba suara ponselnya berdering. Bibirnya melengkung tersenyum melihat siapa yang menghubunginya. Ele, satu nama gadis yang akhir-akhir ini mengisi hati Sammy dengan kebahagian. Gadis yang memiliki sifat ramah dan penyayang itu benar-benar mampu membuatnya gak bisa menahan diri untuk tersenyum hanya dengan membayangkan wajah nya saja. Tapi, ada satu hal yang membuat Sammy menjadi pengecut selama ini dan tidak berani menyatakan perasaan cintanya. Tentu saja semua itu karena dia pernah mengalami cinta bertepuk sebelah tangan dan menghabiskan bertahun-tahun untuk jatuh cinta kepada Berly. Sungguh dia bahagia hanya dengan hubungan tanpa status seperti sekarang ini meski hatinya selalu ingin mengikat Ele dengan pernikahan.


" El? " Panggil Sammy melalui sambungan teleponnya. Dia juga sudah keluar dari ruangan Nathan sekarang.


Bisa kita bertemu?


" Bisa. Tentu saja bisa. Dimana aku harus menjemput mu? " Tanya Sammy semangat.


Aku ada di dekat kantor dimana kau bekerja. Aku ada di kafe sebelah gedung.


" Baiklah, tunggu aku. Aku akan segera kesana. " Ucap Sammy lalu mengakhiri sambungan teleponnya. Dia bahkan sama sekali tidak perduli dengan banyaknya orang yang menyapanya. Eh tunggu! tiba-tiba langkah kaki Sammy menjadi ragu-ragu saat sudah keluar dari gedung kantor. Dia merasa belum siap jika nantinya Ele akan menyampaikan kabar mengejutkan seperti yang Berly lakukan beberapa saat lalu. Tapi dia juga sudah berjanji untuk menemui Ele.


" Baiklah, berdoa saja dan siap-siap patah hati. " Ucap Sammy lalu kembali melangkahkan kaki menuju kafe dimana Ele menunggunya.


Tak butuh waktu lama, kini Sammy sudah sampai di kafe itu. Dia juga sudah melihat Ele yang duduk di kursi sembari memandangi kedua jemarinya yang saling bertautan. Perlahan Sammy mulai menjalankan kakinya mendekati Ele.


" El? " Panggil Sammy sembari memaksakan senyumnya. Ele yang mendengar suara Sammy sontak menatap ke arah Sammy lalu tersenyum.


" Hai? " Seperti biasa, gadis cantik itu tersenyum manis dan begitu lembut suaranya.


" Aku sudah memesan jus wortel kesukaan mu. " Ucap Ele sembari mendekatkan jus wortel kepada Sammy.


" Terimakasih ya? " Ucap Sammy yang mendapati anggukan dari Ele.


Lima belas menit sudah mereka membicarakan hal biasa untuk mengisi waktu agar tidak ada keheningan. Hingga tibalah satu kalimat keluar dari bibir Ele dan membuat Sammy terdiam.


" aku akan kembali ke negara asal ku. "


Miris! lagi-lagi begini. Kapan dia akan memiliki istri kalau setiap wanita yang ia cintai selalu memiliki alasan untuk meninggalkannya. Merasa tidak bisa berkata apapun, Sammy hanya bisa memaksakan senyumnya dan mengangguk.


" Semoga kau selamat sampai tujuan. Kalau begitu, aku harus segera kembali ke kantor. " Sammy bangkit dengan tubuh yang begitu mati rasa. Dia bahkan sudah tidak bisa lagi menahan diri lebih lama untuk berada di hadapan wanita yang ia cintai.


To Be Continued.