
" Vanya? apa yang kau katakan?
Deg......
Vanya tidak bisa lagi berbicara saat suara itu terdengar di telinganya.
" Nath, dia,..
Belum lengkap Mage berbicara, Nath mengangkat tangannya ke atas dengan maksut untuk berhenti bicara.
Tuhan bantu aku. Tidak tahu apa pendapat Nath saat melihat wajah Nathan. Dan kenapa juga, Nathan ada di tempat ini. Apapun caranya, aku hanya bisa bersandiwara saat ini. Semoga saja, Nath tidak menyadari jika Nathan adalah anaknya.
Nath mendekati pelayan mini cafe dan membisikkan sesuatu. Tak lama kemudian, Pelayan cafe meminta para pengunjung untuk segera meninggalkan tempat itu. Begitu juga dengan Mage. Hanya ada Vanya, Nathan, dan Nath.
Ibu tidak baik-baik saja. Tubuh Ibu gemetar. Nathan menatap Ibunya yang benar-benar terlihat takut.
Nath berjalan mendekati Vanya. Dengan segenap hati yang berkecamuk tak jelas, dia mencoba untuk bersikap sewajarnya.
" Vanya, duduklah. " Nath menepuk kursi yang ada disebelahnya.
Vanya yang benar-benar gugup dan takut, dia lebih memilih duduk disamping Nathan. Lebih tepatnya mereka kini justru pas sekali berhadapan.
Ya Tuhan,... apa yang aku lakukan? posisi ini malah membuatku terintimidasi. Kenapa kami malah berhadapan? kan aku tambah gugup kalau begini.
" A, ada apa? " Vanya masih terlihat gugup. Bahkan bibir yang ia paksa untuk tersenyum, justru membuat mimik wajah yang jelas ketakutan.
Vanya, aku tidak bisa berkata apapun. Aku tidak tahu harus bagaimana. Bagaimana mengungkapkan perasaan bahagiaku. Ternyata, kau adalah Ibunya anakku. Rasa-rasanya, aku ingin menaiki helikopter dan berkeliling sembari mengatakan kebenaran ini. Ah, atau aku akan naik roket ke bulan dan mengukir nama kalian berdua disana. Tapi, aku tidak bisa langsung begitu kan? aku penasaran kapan kita membuat Nathan? yang aku ingat, hanya saat kita pulang dari Bar. Huh....! kesal! kenapa saat membuat Nathan aku bisa tidak ingat sih?! itu kan momen penting.
" Jadi, dia adalah anakmu? " Nath menatap Vanya dan Nathan bergantian. Tatapan itu menyiratkan sebuah jawaban dari pertanyaannya.
" I, iya. " Kedua tangan Vanya saling meremas untuk mengontrol tubuhnya yang terlihat gugup.
" Siapa namanya. " Tanya Nath lagi.
Nama? bagaimana ini? mau bohong pun, rasanya akan sia-sia saja. Cepat atau lambat, Nath juga akan tahu kan? hanya saja, aku masih belum bisa menjelaskan padamu. Bagaimana bisa ada Nathan di antara kita.
" Nak, siapa namamu? " Tanya Nath yang di sadari oleh Nathan jika Ayahnya sedang berpura-pura. Tapi entah apa maksutnya, Nathan hanya bisa mengikuti permainan sang Ayah.
" Namaku, Nathan. " Jawab Nathan.
" Wuah,... nama kita sama rupanya. " Ujar Nath sembari tersenyum menatap wajah Nathan.
" Be, benarkah? " Nathan mulai gugup untuk mengimbangi sang Ayah yang jelas sekali terlihat satai melakukanya. Atau jangan-jangan, Ayahnya sudah terbiasa berbohong? batin Nathan yang sedikit kesal
Tolong jangan... jangan lanjutkan arah pembicaraan itu
Nath, tolong.. aku belum siap untuk menjelaskan padamu.
" Kau tahu Nathan? setelah aku perhatikan, wajah mu sangat mirip dengan wajahku ya?
" Nath, em,... sepertinya, aku tidak enak badan. Bolehkah aku pergi sekarang? " Vanya memohon dengan tatapan yang menyiratkan ketakutan yang besar.
Nathan menatap Vanya. Kenapa Vanya? kenapa kau begitu ketakutan? apakah kau masih tidak mempercayaiku? aku bisa memaafkan apapun salahmu. Aku menerima mu saat aku tahu kau sudah memiliki seorang anak yang pada akhirnya aku tahu. anakmu juga anakku. Aku akan menerima mu apapun dan sebesar apapun kesalahanmu. Asal kau tetap bersamaku, aku pasti akan memaafkan dan selalu menerimamu. Jadi Vanya, aku masih memberimu kesempatan untuk bicara jujur tanpa paksaan dariku.
Bicaralah Vanya,..
" Kau ingin pergi? padahal aku ingin banyak berbicara dengan kalian.
Vanya meraih tangan Nathan. Dia langsung berdiri dan mengambil langkah menuju pintu keluar.
Brak.......!
Pintu kaca yang tadi hampir saja terbuka, kini kembali tertutup karena tangan Nath yang tiba-tiba saja merapatkan kembali pintu itu.
Nath menatap Vanya tajam. " Vanya, lebih baik kau jelaskan. Bukan malah kabur begitu saja.
Tatapan itu? Nath sudah mengetahui semuanya?
Vanya semakin tak kuasa menahan tubuhnya yang memang sudah gemetar sedari tadi.
Ya ampun...! kenapa kau begitu gugup? padahal, kau hanya perlu memelukku lalu memberi tahu yang sebenarnya. Terutama, Proses pembuatan Nathan. Ah!!! aku sangat kesal! kapan sih itu terjadi?!
Nath semakin menatap Vanya tegas. " Vanya, berhentilah membodohi diri sendiri. Aku sudah tahu semuanya.
Jeder......!!!!!!!!! Sudah bagaikan sambaran sambaran petir yang menyambar hatinya. Vanya bahkan mencubit lengannya agar tersadar jika ini hanya mimpi. Tapi tidak, ini adalah kenyataan. Kenyataan yang harus ia hadapi. Vanya mengingat kembali apa yang Nath katakan.
Semuanya? hancur sudah kepercayaan diri Vanya selama ini. Matanya mulai tidak fokus karena terus melirik ke kanan ke kiri. Air mata juga tak kunjung menghilang dari pelupuk matanya.
Jujurlah Vanya, aku tidak akan marah. Katakan apapun. Aku justru sangat bahagia. Ternyata, kau adalah Ibu dari anakku. Aku hanya ingin tahu. Kapan itu terjadi.
Vanya menatap Nath dengan segenap ke beranian yang tersisa. Benar, ini bukan mimpi. Sosok tampan yang biasanya terus menatapnya penuh cinta, kini berubah menjadi tatapan tegas yang seolah sudah lelah untuk di bohongi.
" Aku, tidak paham apa maksutmu. " Vanya menundukkan kepalanya. Entah perasaan mana yang lebih menonjol. malu? takut?
Nath mendekatkan wajahnya ke telinga Vanya dan berbisik disana. " Aku tahu, Nathan adalah anak kita. Beri tahu aku tentang itu.
Bruk.....!
Vanya terjatuh dengan posisi terduduk dilantai. Rasanya, seluruh tubuhnya sangat lemas seperti kehilangan energi. Rasanya, dia bahkan sudah hancur terlebih dahulu sebelum menjelaskan. Lalu bagaimana Vanya harus menjelaskan tentang itu. Mengingatnya saja, membuat Vanya sudah tidak bisa lagi mendapati kesadarannya.
" Vanya!
" Ibu!
Nath meraih tubuh Vanya lalu mendekapnya erat. " Nathan, pulanglah kerumah. Sopir Ayah akan mengantarmu pulang.
" Ta, tapi Yah, Ibu, dia..
" Dia akan baik-baik saja. Ayah akan membawanya ke rumah sakit. Pulanglah. Biarkan Ayah dan Ibu menyelesaikan masalah kami dulu.
" Baiklah, aku akan pulang ke apartemen.
" Pulanglah ke rumah kita.
" Tidak. Aku akan merasa aman di sana. Lagi pula, ada Bibi Sherin dan Berly. Aku tidak akan kesepian.
" Baiklah anak pintar. Jaga dirimu baik-baik.
" Ayah dan Ibu juga. Semoga masalah kalian cepat terselesaikan. Aku menunggu kalian.
Nath tersenyum dan mengangguk.
***
Nath sudah membawa Vanya ke rumah sakit. Hanya saja, Vanya masih terbaring tidak sadarkan diri. Dokter mengatakan jika, Vanya merasa tertekan hebat sehingga menguras seluruh energi dan membuatnya pingsan.
" Vanya, sebenarnya apa yang terjadi? kenapa kau begitu ketakutan hingga pingsan? kau hanya perlu mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak akan marah sedikitpun. " Ucap Nath sembari menggenggam jemari Vanya erat.
Setelah beberapa waktu, Nath merasai jemari Vanya yang perlahan bergerak. Nath dengan sigap bangkit dari posisinya. Dia mendekatkan wajahnya untuk melihat bagaimana keadaan Vanya.
Vanya perlahan membuka matanya. Sayup sayup mata itu mulai terbuka dengan kening yang mengeryit. Matanya bulat sempurna saat manik matanya fan Nath bertemu.
Nath?! tidak! tidak! bagaimana ini? aku harus bagaimana? tapi aku, tiba-tiba ngantuk sekali.
Lagi, Vanya kembali pingsan membuat Nath kembali ketakutan. " Vanya! Vanya! " Nath mendesah sebal.
Dia mendekatkan bibirnya ditelinga Vanya. " Bangunlah, atau aku akan mengambil Nathan sekarang juga.
Entah itu kebetulan atau apa, Vanya yang memang kembali pingsan, sontak membuka matanya.
" Apa yang kau katakan?! kenapa kau mau mengambil anakku?!
Nath menyeringai. " Maka, kau perlu menjelaskan sebelum itu terjadi.
To Be Continued.