Touch Me!

Touch Me!
S2- Membujuk



Ivi tengah menggenggam jemari Ayahnya yang kini tengah berbaring sakit di ranjang rumahnya. Sebenarnya Ivi dan Dodi ingin membawa Ayah mereka ke rumah sakit, tapi karena keras kepala ayahnya, mau tidak mau mengikuti apa yang Ayahnya inginkan sementara ini. Setelah Ivi benar-benar memastikan bahwa Ayahnya sudah tidur, Ivi perlahan bangkit dari duduknya dan mengajak kakaknya untuk membicarakan masalah pengobatan Ayah mereka.


" Kakak, berapa uang yang kakak punya? " Tanya Ivi.


Dodi mengusap dahinya yang berkeringat deras karena panik dan juga rasa takut yang begitu berlebihan.


" Tidak banyak, Vi. Mungkin sekitar dua jutaan. Kau tahu kan? hampir semua gaji kakak serahkan kepada Ibu untuk membeli obat Ayah? "


Ivi menyeka air matanya yang sulit untuk ia tahan.


" Kakak, aku punya sekitar empat jutaan. Bagaimana kalau kita bawa Ayah ke rumah sakit dulu? selanjutnya, mari kita pikirkan nanti. Kakak, kangker paru-paru Ayah masih bisa disembuhkan kakak. Kakak dengar kan waktu itu? kangker paru-paru Ayah baru akan memasuki stadium dua. Ayo kakak, jangan membuang waktu lagi. "


Ivi meraih tangan Dodi, tapi jelas Dodi menahannya. Ivi menatap Dodi bingung.


" Masalahnya, Ayah yang tidak mau. Ayah tidak ingin menyusahkan kita. "


Ivi terdiam sembari menantap manik mata Dodi ya g terlihat tak berdaya.


" Lalu? apa kita harus mengikuti ucapan Ayah? kakak tahu kan betapa pentingnya Ayah bagi kita? apa kakak akan membiarkan Ayah berkorban menahan sakit dan pasrah untuk mati? tidak kakak! orang seperti Ayah tidak boleh mati. Aku tidak akan membiarkan Ayah meninggalkan ku. "


Dodi memeluk tubuh Ivi erat. Dibanding dirinya, Ivi sangatlah dekat dengan Ayahnya. Bahkan Ayah dan Ivi akan saling mencari saat mereka tidak bertemu beberapa saat saja. Saat pulang dai bekerja, yang langsung Ayah pertanyakan adalah kabar dan semua tentang Ivi. Bagi Ayah, Ivi adalah hidupnya. Ivi adalah cinta sekaligus semangatnya untuk bertahan dari kerasnya kehidupan di dunia ini. Begitu juga sebaliknya, bagi Ivi, Ayah adalah bagian terpenting dari hidupnya. Tawanya, semangatnya, semua hal Ivi lakukan sepenuh hati hanya untuk Ayahnya. Rasa cintanya benar-benar melebihi cinta kepada dirinya sendiri.


" Ivi, maafkan kakak. Semua karena kakak yang kurang kompeten menjadi anak. Ayah menjadi seperti ini karena kakak yang tidak bisa menghasilkan uang lebih untuk Ayah berobat dari awal. "


" Tidak. Ini bukan salah siapa-siapa. Jangan saling menyalahkan. Ayo kita bujuk Ayah. "


Suara dering ponsel Ivi membuat mereka beralih konsentrasi. Ivi mengeryit sebelum menerima panggilan teleponnya. Tapi dia juga memutuskan untuk menerima panggilan teleponnya.


" Iya? "


" Tidak bisa. "


" Ayah ku sedang sakit. "


" Apa aku bisa merepotkan mu? kalau boleh, aku bisa meminjam nya? aku janji akan membayarnya dengan menyicil. "


Ivi terdiam. Dia mencengkram lengan kakaknya hingga tak sadar kalau kakaknya sampai meringis menahan sakit.


" Baiklah. "


Sambungan telepon terputus.


" Ivi, sakit! " Ivi menatap kakaknya yamg masih meringis lalu mengikuti jari telunjuk kakaknya yang tengah menunjukkan cengkramannya.


" Oh, maaf. Aku sengaja. " Ivi menjauhkan tangannya seketika. Tatapannya masih belum berubah. Seolah tengah memikirkan sesuatu yang tida biasa.


" Ada apa? " Tanya Dodi.


" Tidak ada kak. Sekarang, tidak perlu khawatir lagi tentang biaya. Sekarang panggil Ibu untuk membujuk Ayah agar segera mengunjungi rumah sakit. "


Dodi menatap bingung manik mata adiknya yang terlihat nekat dan tidak bisa dibaca. Karena ini adalah kali pertama baginya melihat Ivi berekspresi seperti itu. Entah harus mengiyakan atau mencari tahu alasan apa yang membuat Ivi begitu yakin setelah menerima sambungan telepon barusan. Tapi Ivi sangatlah mirip dengan Ayahnya. Jika dia tida ingin menceritakan, maka percuma saja bertanya, karena itu tidak akan membuat Ivi membuka mulutnya untuk memberi tahu.


" Bisakah Ayah mempercayai kami? Ayah, tolong semangat dan kuat. " Ivi menggenggam erat jemari Ayahnya yang kini tengah berbaring di Brankar rumah sakit. Ivi tahu benar jika Ayahnya kini merasa bersalah dan tidak memiliki semangat.


" Ayah, tolong jangan menyalahkan diri sendiri. Ayah tolong bersemangat agar cepat sembuh. Tolong bertahanlah untuk kami. " Pinta Dodi.


" Kalau kau mati, bagaimana dengan ku? aku akan kesepian. Mau menikah lagi juga percuma, aku kan sudah tua! " Ibu memalingkan wajah Sembari menahan tangisnya.


Ayah terdiam mencerna setiap kata yang keluar dari anak dan istrinya. Teman hidup yang selalu membuatnya semangat. Ayah menatap istri dan anak-anaknya bergantian. Mereka benar-benar terlihat begitu berharap dia bangkit dan semangat untuk sembuh. Ayah tersenyum menatap anggota keluarga yang ia cintai.


" Ayah akan berusaha semangat untuk kalian semua. "


" Nah! itu baru benar! " Kompak mereka bertiga berucap lalu mendesah lega.


" Ini baru Ayah ku. Super Hero ku. " Ivi memeluk Ayahnya erat.


" Lagi pula, kalau Ayah tidak ada, bagaimana kalau aku diculik kucing garong? "


Ibu dan Dodi kompak berdecih sebal. Tapi lain Ayah merespon ucapan Putri tercintanya itu.


" Ayah akan memotong semua kaki kucing garong itu. Ayah akan mematahkan tulang tulangnya jadi dia tidak akan bisa melakukan apapun kepada putri Ayah. "


" Makanya, Ayah harus sembuh. Karena sebentar lagi, aku bukan hanya akan diculik kucing garong. Tapi akan berkumpul dengan iblis-iblis yang bergentayangan. "


Semua mengernyit bingung mendengar ucapan Ivi yang beberapa hari ini terus bercerita tentang keluarga iblis. Pada awalnya, semua menganggapnya hanya gurauan Ivi, tapi sepertinya tokoh iblis-iblis yang berkumpul sebagai keluarga itu nyata.


" Sebenarnya, siapa iblis yang kau maksud? " Tanya Ayah.


Ivi mengurai pelukannya lalu menghela nafas kasarnya.


" Dia adalah seorang iblis berbentuk manusia. Mulutnya sangat jahat dan suka sekali menghina. Dia juga sangat ketus dan hobi berkelahi denganku. Dia selalu mengatai kakak Bien ku yang tampan itu dengan sebutan curut mabuk. Ayah bisa membayangkan betapa jahatnya orang itu kan? "


" Apa dia seorang pemuda? " Tanya Ayah.


" Iya. Pemuda yang paling menyebalkan dan wajahnya mirip seperti kotoran lalat. "


" Sepertinya dia tampan. " Ujar Dodi.


Ivi terperangah dengan tatapan yang tidak percaya.


" Tampan? kan sudah ku bilang, mukanya sangat mirip dengan kotoran lalat. Bagaimana kotoran lalat bisa di sebut tampan sih?! "


" Masalahnya, aku belum pernah melihat kotoran lalat. " Dodi menatap Ayah dan Ibunya bergantian.


" Ayah, Ibu, apa kalian pernah melihat kotoran lalat? " Ayah dan Ibu menggeleng serempak.


" Aku malah setuju, kalau kakak Bien mu itu disamakan dengan curut mabuk. " Ujar Dodi jujur.


To Be Continued.