Touch Me!

Touch Me!
Mari Kita Hidup Bahagia



Hallo para Reader tercinta. Selamat malam?.. semoga kalian tetap dalam keadaan sehat ya?


Hari ini, Author lagi-lagi mau mengucapkan banyak terimakasih untuk Like,komen, hadiah serta Vote nya.


Karena kalian semua, Author jadi semangat untuk Up. Tapi maaf, Author belum bisa Crazy up ya. Yang pasti, Author akan usahakan Up setiap hari demi kalian.


Dan maafkan Author yang jarang balas komen dari para reader maupun para Author lain yang ikut menyemangati. Itu dikarenakan Author yang sedang sibuk didunia nyata. Tapi Author janji, pasti akan feed back saat Online.


Jadi, jangan lupa tinggalkan like beserta komen. Boleh juga kasih hadiah dan Vote nya 🤭


Salam hangat dari Author dan, selamat membaca para sayangkuh❤️❤️❤️❤️


STAR....


Vanya membuka matanya perlahan karena sinar matahari yang mengganggu tidurnya. Dia meregangkan tubuhnya bergeliat kesana kemari hingga tak sengaja menyentuh dada Nath yang berada disampingnya.


Eh? aku lupa kalau semalam kita tidur di ranjang yang sama.


Vanya menyentuh wajah Nath perlahan. Dia tersenyum memandangi kekasihnya yang masih tertidur pulas. Dia benar-benar terpesona olehnya. Bahkan tidur pun, Nath masih begitu mempesona. Wajah polos yang biasanya terlihat dingin, kini begitu menggemaskan. Bibir yang kecil tapi berisi, alis yang tebal, hidung yang mancung, bulu mata yang tebal, garis wajah yang tegas, semua itu menjadi satu kesatuan yang membuat seorang Nathan Chloe begitu mempesona.


Bagaimana Tuhan menciptakan manusia seindah dirimu Nath? bagaimana Tuhan memberimu hati yang begitu baik? kau selalu begitu sabar denganku. Kau menerima semua kekuranganku. Kau memaafkan sebesar apapun kesalahanku. Aku iri padamu Nath. Aku iri karena tidak memiliki hati sepertimu. Hati yang begitu mudah untuk memaafkan.


Vanya berniat menjauhkan tangannya dari wajah Nath. Tapi, dengan mata yang masih tertutup, Nath menahan tangan itu lalu membuka matanya.


" Apa yang kau gumamkan didalam hati dengan menatap wajahku?


Vanya menelan salivanya. Mata Nath yang terbuka mendadak, membuat Vanya salah tingkah. Vanya tersenyum untuk menyembunyikan kegugupannya.


" Kau sudah bangun?


" Seperti yang kau lihat. " Nath meraih pinggul Vanya dan menarik tubuhnya agar menempel padanya.


" Nath, ini sudah hampir siang. Ayo kita bergegas untuk bekerja. " Vanya mencoba menjauhkan tubuhnya meski tahu jika itu percuma. Semakin Vanya mencoba menjauh, semakin bertambah pula kekuatan di lengan Nath untuk menahannya.


Apa aku sedang mentransfer tenaga ke lengan Nath ya?


" Kita tidak akan bekerja. " Jawab Nath sembari memeluk tubuh Vanya dan menjatuhkan wajah Vanya ke dada bidangnya.


" Kenapa? " Tanya Vanya. Kepalanya mendongak ke atas untuk memperhatikan mimik wajah pria yang mendekapnya.


Nath menghela nafasnya. " Kita kan akan pergi ke pencatatan sipil. Kau lupa ya? kita akan menikah.


Menikah? me, menikah ya?! ya ampun! menikah mendadak seperti ini, orang-orang pasti akan mengira kami Marriage by accident.


" Kita tidak punya banyak waktu, Sayang. Tanggal pernikahan yang orang tuaku tentukan, akan terjadi beberapa minggu lagi. Kalau tidak bertindak sekarang, takutnya kita akan kalah telak.


" Apa?! jadi, orang tuamu benar-benar masih bersikeras?


" Iya. Aku juga baru tahu belakangan ini. Dari awal, mereka sudah membuat takdir untukku. Entah itu karir, pendidikan, pergaulan, semua seakan orang tuaku yang menakdirkannya. Mereka terlalu terbiasa mengaturku. Tapi mereka lupa, bahwa penentu takdir yang sebenarnya adalah, Tuhan.


Kau begitu terbatasi. Orang tua macam apa yang tega membelenggu anaknya dengan alasan-alasan yang berunsur materi. Semoga aku tidak akan menjadi orang tua semacam itu.


" Nath, " Panggil Vanya seraya mengeratkan pelukannya.


" Hem...? " Nath juga melakukan hal yang sama. Lengannya erat mendekap tubuh mungil wanita pujaannya.


" Mari kita menjadi orang tua yang baik untuk Nathan. Aku tidak ingin dia mengalami hal sepertiku dan sepertimu. Mari kita utamakan kebahagiaannya.


Nath tersenyum sembari mengecup pucuk kepala Vanya. " Tentu saja. Yang paling penting bagiku sekarang, Kau dan anak kita bahagia.


" Kau juga harus bahagia. " Vanya menimpali ucapan Nath.


" Aku bahagia, ketika anak dan istriku bahagia.


Blush.....


Vanya tidak mampu menyembunyikan rona merah yang melambangkan kebahagiaan di wajahnya. Dia benar-benar tidak menyangka, jika dia dengan mudah dicintai oleh seorang Pria yang begitu sempurna. Seorang Pria yang tak lain adalah Ayah dari putranya. Terkadang, Vanya mencubit dan memukul wajahnya. Dia selalu ingin memastikan ini mimpi atau tidak. Dan ketika dia sadar jika itu bukan mimpi, dia bisa bernafas lega sembari mengucap syukur. Ternyata, Tuhan, langit dan bumi berpihak padanya.


" Nath, berjanjilah padaku. Setelah ini, mari kita hidup dengan bahagia.


" Tentu saja, Istriku. " Nath melorotkan tubuhnya hingga menjadi sejajar dengan Vanya. Ia mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Vanya. Tak kalah, Vanya merangkul leher Nath dan membalas ciuman itu.


***


" Bibi, apa ada kabar tentang Ibuku? " Nathan menatap Sherin penuh tanya.


Sherin menggeleng. " Ibumu belum membalas pesan Bibi. Jangan terlalu khawatir. Ayahmu bersamanya kan?


Sherin tersenyum sembari menepuk punggung tangan anak kecil tampan itu. " Ayahmu akan menjaga Ibumu dengan baik. Percayalah,..


" Mungkin, Ayah dan Ibumu, sedang membuat adik untukmu. Jadi, Than than, bersiaplah memiliki adik. " Sela Berly sembari meraih buah strawberry yang sudah dipotong di atas meja dan langsung melahapnya.


Nathan mengerutkan dahinya sembari mencerna ucapan Berly.


Ih.....!!!! bocah sialan! mulutmu kenapa asal bicara begitu?! ya Tuhan, tolong,... tolong bebaskan aku dari mulut sampah Berly. Sherin mengumpat didalam hati karena kesal. Adik tirinya ini, benar-benar suka asal bicara.


Ting Tong.


Suara bel pintu membuyarkan pembicaraan mereka. Sherin bangkit dari posisinya untuk membuka pintu.


" Selamat pagi?


Ck! pagi yang sial!


" Selamat pagi juga Dokter Kevin.


" Apa kau sedang sibuk?


Iya. Sibuk mengumpat mu di dalam hati!


" Tidak juga. " Jawab Sherin sembari mencoba tersenyum agar tak terlihat kalau ia sedang sebal.


" Boleh aku masuk?


Tidak boleh! jangan masuk!


" Iya, silahkan.


Sherin berjalan menuju ruang tamu dan disusul oleh Kevin. Nathan dan Sherin yang melihat kedatangan Kevin, mereka langsung sigap meninggalkan Sherin dan Kevin.


Dasar bocah tengik! kalian sengaja kan? kalian pasti sengaja membiarkan aku menghadapi Dokter gila ini. Dasar tidak tahu malu! setiap pagi selalu datang kemari. Sebenarnya, apa tujuan mu sih? muak aku lama-lama kalau begini.


" Sherin, kau sudah sarapan?


Bukan urusanmu! sama sekali bukan!


" Sudah Dokter Kevin. " Sherin masih mencoba untuk bersabar dan tersenyum.


" Em,.. kalau begitu, kau sudah mau berangkat?


Jangan tanya lagi dasar brengsek!


" Iya. Begitulah.


" Kita berangkat bersama, bagaiman?


Najis! aku tidak mau! memang tidak cukup ya kemarin? gara-gara turun dari mobilmu, semua wanita di rumah sakit hampir saja membakar masal tubuhku.


" Oh,.. tidak perlu Dokter Kevin. aku akan berangkat beberapa puluh menit lagi.


" Tidak masalah, aku akan menunggu.


Kurang ajar! kau ini bodoh atau apa sih?! kan sudah jelas kalau aku sedang menolak dengan halus.


" Itu, sungguh tidak perlu, Dokter Kevin.


" Panggil Kevin saja.


Tidak mau! aku masih ingin hidup. Aku juga masih ingin bekerja. Kalau sampai aku memanggilmu begitu, para penggemarmu akan mencincang tubuhku dan membuatnya menjadi sate. Ya ampun,.. sate daging Sherin....


" Maaf Dokter Kevin, panggilan itu sepertinya kurang nyaman.


" Kau bisa membiasakan diri. Dengan begitu, kau akan menjadi terbiasa lalu timbullah rasa nyaman.


Sherin terperangah tak percaya. Aku hampir gila rasanya menghadapi Dokter sinting ini.


" Sherin, bisakah kita berteman?


" Kita memang rekan kerja kan?


" Maksut ku, teman sebelum menjadi kekasih. Belajar untuk saling mengenal satu sana lain. Bagaimana?


To Be Continued.