
Devi membuka matanya perlahan karena terganggu dengan dekapan Lexi yang begitu erat.
Ya ampun, jadi ini yang Vanya bilang morning surprise?
Devi menelan ludahnya sendiri saat matanya terbuka sempurna, kenapa? karena dada bidang Lexi yang ditumbuhi bulu-bulu **** itu yang dia lihat. Batinnya bergumam karena terpesona dengan apa yang dia lihat, bahkan dadanya saja begitu sempurna. batinnya.
Apakah ini yang Vanya bilang, Fall ini love after s*x?
Hah?! wajahnya benar-benar merona mengingat apa yang terjadi semalam.
" Pastikan ini tidak akan gagal, kalau sampai itu terjadi, maka aku akan benar-benar menjadi gila. "
Setelah mengatakan itu, Lexi ingin bangkit untuk mengunci pintu, tapi Devi menahannya karena dia sudah mengunci pintu. Mereka kembali menautkan bibir dengan begitu rakus. Seolah saling melahap satu sama lain, itulah yang terlihat. Lexi mengubah posisinya perlahan dan membuat Devi kini berada dibawah kungkungannya. Tidak mau lagi banyak bersabar, Lexi langsung membuka paksa lingerie Devi hingga semua berhambur entah kemana. Pria itu benar-benar berubah menjadi sosok lain malam ini. Devi yang mulai hanyut dalam permainan panas itu, dia mulai menggelinjang seakan kepanasan, matanya terpejam menikmati setiap sentuhan yang Lexi edarkan ke tubuhnya. Perlahan tapi pasti, kecupan Lexi mulai turun ke leher, lalu ke bagian dada yang kemarin sempat membuatnya kacau seharian. Lexi yang masih merasa takut ada gangguan, dia dengan cepat membuka penutup itu. Dan, lagi-lagi Lexi benar-benar terpesona karena itu. Lexi mengecupnya dan memainkannya layaknya bayi yang kehausan sembari melepaskan kain mini yang membungkus intinya.
Gila! aku tidak tahan lagi.
Kembali mendaratkan ciumannya ke bibir Devi, pria itu membarengi kegiatannya dengan melepas seluruh bajunya, meski beberapa kali harus melepas panggutan karena kaos yang harus ia buka lewat leher. Lexi perlahan mengarahkan tongkat ajaibnya ke arah, em apa ya? baiklah, mari kita sebut itu kantong ajaib ya? perlahan Lexi memberikan tekanan yang membuat gadis itu meringis karena rasa perih yang ia rasakan. Benar, awalnya memang Lexi masih tidak mempercayai jika wanita yang menjadi istrinya itu masih suci. Tapi bukti itu membantah hipotesa Lexi yang begitu berandalan dalam menuduh istrinya sendiri. Mereka sama-sama menahan sakit di awal, karena bukan hanya pertama untuk Devi, ini juga pertama untuk Lexi.
" Maaf, apa sangat sakit? " Tanya Lexi yang merasa tak tega dan menghentikan kegiatan itu sejenak.
Devi mengangguk, dan kedua tangannya masih erat mencengkram kedua lengan Lexi.
" Maaf, tapi aku tidak bisa berhenti. "
Devi hanya kembali mengangguk.
Lexi perlahan-lahan menggerakkan pinggulnya maju dan mundur. Sebenarnya dia benar-benar tidak tega melihat Devi meringis kesakitan, tapi tidak mungkin juga dia menghentikan kegiatan itu kan? Lexi hanya bisa mengontrol diri agar bisa melakukannya dengan pelan dan hati-hati, namun semakin lama, tubuhnya semakin tidak bisa dikontrol dan memaksanya untuk memompa lebih cepat lagi. Meski awalnya Lexi merasa egois, tapi saat melihat wajah Devi yang tidak lagi meringis kesakitan dia mulai mengutamakan ke egoisannya. Tak bisa juga dipungkiri, lama kelamaan Devi begitu menikmati ini.
Lexi memberikan kecupan di kening Devi setelah dia berhasil menggapai nikmatnya surga dunia versi dunia nyata.
" Kau baik-baik saja? " Tanya Lexi sembari menjatuhkan tubuhnya disamping Devi.
Gadis itu hanya diam tak menjawab karena tidak tahu apa yang harus dia katakan untuk menjawab pertanyaan Lexi.
Haruskah aku katakan, bahwa aku sangat menikmati itu meski sakit di awal? tidak kan? walau bagaimanapun aku masih harus menjaga diri. Itu yang Vanya perintahkan.
Lexi menarik tubuh Devi dan membawanya kedalam dekapannya. Dia juga memberikan kecupan di pucuk kepala Devi beberapa kali disana.
" Terimakasih karena menjaga dirimu dengan baik. "
Devi hanya bisa diam sembari mencerna ucapan Lexi.
Ini pujian atau hinaan? apakah aku harus bangga karena masih perawan di usia dua puluh enam tahun? yang itu berarti aku tidak pernah berpacaran? huh! sudahlah, aku lelah dan sangat mengantuk.
Lexi tersenyum puas sembari mendekap istrinya. Entahlah, perasaan ingin berlaku lembut tiba-tiba saja tumbuh di pikirannya. Tapi sungguh dia bangga dengan dirinya kali ini, setelah tiga puluh satu tahun ia hidup, akhirnya bisa juga merasakan apa yang sering Nath dan Kevin ceritakan. Dan mulai sekarang, dia bisa dengan bangga memamerkan keahliannya diranjang kan? ah! akhirnya dia sudah tidak perjaka lapuk lagi.
Dengar mulut kubangan, oh tidak! aku tidak akan memanggilmu begitu lagi, aku akan bersikap baik padamu. Walau bagaimanapun, kau sudah memberikan yang paling berharga untukmu. Jadi, aku akan memperlakukan istri dengan sangat baik.
Pagi hari.
Sayang, temui mereka ya? kalau kau masih menolak, aku akan menghentikan ini, bagaimana?
Tentu saja Vanya hanya bisa mengangguk setuju kan?
***
" Selamat pagi, Nona Vanya dan Presdir Nath? " Sapa sekretaris Ayahnya Vanya.
Vanya hanya mengangguk dan sedikit tersenyum tipis. Sedangkan Nath yang biasanya dingin, tiba-tiba tersenyum ramah entah apa maksudnya.
" Semua sudah menunggu di ruang keluarga, silahkan Nona dan Presdir Nath. "
Nathan mendengus kesal karena namanya tak sekalipun disebut oleh orang tua itu.
" Ibu, apa aku tidak terlihat? "
Vanya menatap Nathan bingung. " Apa maksudmu, sayang? "
" Bapak tadi hanya mempersilahkan kepada Ibu dan Ayah saja. " Gerutunya.
" Jangan hiraukan itu. Mungkin dia tidak tahu nama mu. " Ucap Nath sembari mengelus kepala anaknya.
Sesampainya di ruang keluarga, Ayah beserta yang lainya juga ikut bangkit menyambut kedatangan Vanya, Nath dan Nathan.
" Selamat datang Vanya. " Ayah langsung berjalan dan memeluk Vanya. Vanya tak menolak tapi juga tak membalas pelukan Ayah. Sadar dengan Vanya yang masih belum terbiasa, Ayah mencoba melepaskan tubuh putri kandung yang sangat ia rindukan itu. Dia beralih menatap Nath. Ayahnya Vanya mengulurkan telapak tangan dan disambut hangat oleh Nath. Tatapannya beralih kepada seorang anak laki-laki tampan yang sangat mirip dengan Nath. Ayah melihat Nath dan Nathan bergantian karena melihat kemiripan diantara mereka yang begitu jelas.
" Hai nak, apa kabar? siapa namamu? " Sapa Ayah yang mulai bergetar suaranya. Ini adalah untuk yang pertama kali dia dipertemukan dengan cucu kandungnya. Rasanya ingin sekali dia memeluk dan mencium bocah tampan itu.
" Aku baik, namaku Nathan. Nathan Rezef Chloe. " Nathan yang tidak tahu apa-apa itu hanya bisa degan bangga menyebut nama lengkapnya.
Ayah sudah tidak bisa menahan diri dan langsung memeluk tubuh Nathan.
Rina menatapnya kesal. Dia merasa iri dengan keberuntungan yang Vanya miliki. Menikahi dan hamil anak dari seorang pengusaha muda yang kaya, kemudian menjadi pewaris KBR Group, lalu menjadi pewaris Dirgantara Fondation. Bagaimana keberuntungan begitu berpihak padanya? dia benar-benar kesal saat mengingatnya.
Tristan menatap keluarga kecil Vanya yang terlihat begitu bahagia. Dia benar-benar menyesali pernikahannya dengan Rina. Seandainya tidak ada putrinya dalam pernikahan ini, dia pasti akan mati-matia mengejar Vanya. Tapi kenyataan menamparnya dengan begitu kejam. Vanya terlihat bahagia saat bersama Nath. Apalagi, mereka juga sudah memiliki anak tampan dari keluarga Chloe.
To Be Continued.
Hallo kesayangan......
Othor up lagi nih gara-gara kalian banyak berdoa supaya othor bahagia😂
( Buat yang penasaran soal Gaby, othor udah siapin sendiri di novel yang lain ya? yang pasti bakal menguras air mata banget 😭)
Lagi ya! tinggalin like dan komennya di setiap episode supaya othor semangat terus.❤️
Lopek you, kesayangan othor. Jangan lupa bahagia dan selalu jaga kesehatan ya....