
Nathan mengetuk-ngetukkan jarinya dimeja sembari menyangga wajah dengan satu tangannya. Ini sudah dua hari dia tidak bertemu Ivi. Jujur saja, meskipun menyebalkan, tapi Ivi adalah gadis yang lumayan membuat betah untuk bicara. Jangan tanya bagaimana Nathan selama dua hari terakhir ini. Yang dilakukan oleh Nathan hanya mengomel ke sana kemari tidak jelas. Bahkan yang anehnya, Nathan dengan percaya dirinya datang menggunakan setelan jas yang amat sangat aneh. Celana berwarna grey, kemeja berwarna cream dan jas berwarna black navy, dan yang paling mencengangkan, Nathan menggunakan dasi bermotif besar dan ada warna pink disana. Sungguh memalukan hingga Sammy begitu enggan berjalan berdekatan dengannya.
Hari ini adalah hari minggu, tapi suasana hari Nathan masih saja seperti hari senin yang menyebalkan. Dia ingin sekali menemui Ivi tapi tidak mempunyai alasan untuk membodohi Sammy, orang tua, dan kedua adiknya.
" Sialan! " Gerutu Nathan karena Susana diruangan tengah tidak pernah sepi. Padahal kalau sepi kan dia bisa diam-diam kabur untuk menemui Ivi. Dia bukanya tidak mau menghubungi Ivi, hanya saja Ivi tidak bisa dihubungi selama dua hari terakhir.
" Tuan muda, maaf mengganggu. Di luar ada tamu ingin bertemu dengan Tuan, katanya. "
Nathan sontak menatap pelayan yang memberi tahunya. Dia tersenyum lalu melangkahkan kaki dengan cepat menuju ruang tamu.
" Ayam goreng, kau kemana- " Ucapan Nathan terhenti karena ternyata, orang yang ingin menemuinya bukanlah orang yang tengah ia harapkan. Nathan mengeryit mengingat-ingat kapan dan di mana pernah bertemu dengan gadis yang tengah tersenyum menatapnya. Lelah mengingat tapi tetap saja tidak ingat kapan pernah bertemu dengan gadis itu.
" Kau siapa? " Tanya Nathan bingung. Dia juga masih berdiri tak berniat untuk duduk dengan orang asing yang terus tersenyum entah apa maksudnya.
Gadis itu ikut berdiri untuk menyeimbangkan diri karena merasa kurang sopan jika si pemilik Tuan rumah justru memilih untuk berdiri saat menyambutnya.
" Kau lupa? " Tanya gadis itu yang terlihat kecewa dari pertanyaannya.
Bukan lupa, tapi otak sempurna ku ini hanya bekerja untuk mengingat sesuatu yang penting saja.
" Ada apa? " Tanya Nathan dengan wajah malasnya.
" Boleh kita duduk? " Pinta gadis itu. Nathan sebenarnya sangat enggan, kenapa? karena baru saja beberapa detik, kakinya sudah pegal dan matanya juga sudah mulai sakit melihat bibir merah merekah karena lipstik tebal itu senyum tersenyum terus menerus kepadanya.
Nathan dengan sangat amat dan kalau ada di atas kata itu, akhirnya duduk untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan gadis itu.
Nathan yang tidak mau melihat ke arah gadis itu tak sengaja melirik dan mendapati gadis sialan itu masih saja memamerkan giginya tiada henti.
Sialan! apa dia tidak bisa merapatkan bibirnya? apa giginya tidak kering? apa ada sumber air di setiap celah giginya? Oh, ya ampun! aku tidak tahan lagi! Tolong!!!!! siapapun, Tolong aku!!!!!
" Nathan, " Panggil gadis itu dengan nada suara begitu lembut. Dan tahu apa yang terjadi? Nathan justru bergidik ngeri. Dia mengusap tengkuknya terus menerus karena merasa takut dengan suara yang terdengar begitu keramat di telinganya.
" Karena kau lupa, maka aku akan mengingatkan mu. Namaku Salia Marhen. Kita pernah bertemu beberapa waktu lalu. Nenek dan Kakek Chloe yang meminta ku datang waktu itu. Sekarang juga mereka yang meminta ku untuk datang. "
Nathan, pria itu justru terus menerus menggerakkan kedua kakinya karena benar-benar tidak tahan lagi duduk berhadapan dengan gadis yang selalu tersenyum seperti itu. Mungkin bagi pria lain senyum dari gadis cantik seperti Salia adalah hal yang indah. Tapi tidak untuk Nathan, senyum seperti itu hanya akan membuatnya takut dan semakin mencoba untuk berlari menjauh.
Karena tak mendapat respon dari Nathan, Salia bangkit dan mencoba untuk menepuk bahu Nathan karena pria itu seperti tidak mendengarkan ucapannya.
" Nathan,.... "
" Ah!!! " Pekik Nathan saat tangan Salia menyentuh pundaknya dengan lembut.
Nathan yang hanya fokus kapan ini berakhir, begitu kaget hingga reflek berdiri dengan dua telapak tangan tergerak seperti meminta Salia untuk menjauh.
" Stay away from me! " Ucap Nathan yang sudah berdiri dan mulai melangkahkan kaki agar jarak antara dia dan Salia cukup jauh.
Hal itu tentulah membuat Salia bingung, karena dia sama sekali tida pernah bertemu dengan pria yang begitu sulit di dekati seperti Nathan.
" Nathan, kau tidak apa-apa? "
" Nathan,... " Panggil Salia lagi.
Nathan kini malah semakin terperangah kesal dan ingin sekali menjitak kepala Salia hingga berlubang karena masih saja memanggil namanya dengan nada keramat seperti itu.
" Sammy! Sammy! " Panggil Nathan karena sudah hilang kesabrannya.
" Apa?! " Jawab Sammy yang muncul dan berdiri entah sejak kapan berada di balik sofa besar yang tak jauh Nathan dan Salia duduk. Kemungkinan besar, Sammy sudah lama berada disana dengan posisi jongkok.
Nathan memang sempat menatap heran, tapi dari pada heran karena hal ini, lebih baik fokus menyingkirkan nenek lampir di hadapanya itu.
" Sini! " Dengan mimik sebal, Sammy memajukan langkahnya mendekati Nathan.
" Kenapa? "
" Siapa yang menyuruh mu membukakan pintu untuk orang asing?! " Tanya Nathan dengan nada kesal.
" Aku yang mempersilahkan dia masuk. " Jawab Sammy dengan wajah polos.
" Kalau begitu, temani dia duduk. "
" Tidak mau ah! " Sammy menggeleng cepat. Ya iyalah dia menggeleng. Kalau sampai dia melakukan itu, bisa-bisa si nenek dan kakek Chloe yang terkutuk itu memarahinya habis-habisan.
" Kau berani berbuat, maka harus berani bertanggung jawab. " Ujar Nathan yang bertambah kesal.
" Aku tidak mau! lagi pula, ini bukan hanya salah ku saja. " Elak Sammy yang membuat Nathan mengeryit bingung.
" Apa maksud mu? "
" Tuh.. " Sammy menunjuk dengan bibir yang ia buat sedikit maju.
Dan tak berapa lama, munculah Nathania dan Nathalie yang sepertinya juga ikut berjongkok di balik sofa duduk. Mereka kompak meringis malu sembari memegangi ponsel yang masih menyala layarnya. Tak sengaja Nathan melihat layar itu lalu mendesah kesal.
" Kalian masih saja menghitung durasi ku menghadapi makhluk jadi-jadian ini? "
" Ti tidak kok. " Elak Lili sembari mengalihkan pandangan karena merasa malu. Semetara Nathania, gadis itu juga ikut tersenyum tapi nampak enggan untuk mengatakan sesuatu.
Nathan kembali menghela nafas. Dia menggeleng keheranan dan kembali fokus dengan nenek lampir yang masih menatap bingung.
" Dengar ya, Sammy. Aku dan Ivi akan segera menikah. Kau tahu bagaimana pacar ku itu kan? dia sangat cemburuan dan mudah sekali sedih. Aku tidak ingin dia salah paham dengan ku. Kalau dia melihat ini, dia pasti akan menangis meraung-raung seperti anak babi yang kehilangan induknya. "
" Aku ada disini loh. "
Tak disangka juga, ternyata Ivi juga ikut bersembunyi bersama Nathalie, Nathania dan Sammy. Ivi tersenyum malu setelah berdiri karena merasa pegal terus menerus berjongkok.
Sialan!
To Be Continued.