
Hampir satu jam semua orang menunggu operasi sesar berlangsung. Gelisah, itulah yang dirasakan semua orang. Terlebih Nathan. Pria itu sudah seperti setrikaan yang tidak memiliki kendali. Berjalan kesana kemari dengan gelisah. Sudah mengeluh ingin buang air kecil, perutnya tiba-tiba terasa sakit, keringat dingin juga terus bercucuran membasahi seluruh tubuhnya. Sebenarnya semua orang sudah memberi tahu Nathan untuk tenang dan jangan membuat mereka juga semakin panik, tapi mau bagiamana lagi? semakin di beri saran, Nathan justru semakin menjadi gelisah.
" Nathan! " Panggil Nyonya besar Chloe yang berjalan pelan di bantu dengan tongkatnya. Tuan besar Chloe juga berjalan pelan mengimbangi istrinya.
" Nenek? " Nathan berjalan cepat menghampiri Nyonya besar Chloe lali memapahnya pelan dan menuntunnya untuk duduk setelah mengusir Keenan dan Zadet dari kursi tunggu.
" Bagaimana? apa cicit ku sudah lahir? " Tanya Nyonya besar Chloe yang terlihat panik.
" Belum terdengar suara bayi, mungkin sebentar lagi, Nek. " Jawab Nathalie mewakili Nathan yang tidak konsentrasi sama sekali. Didalam hati Nathalie membatin, untung saja Nathan ingat dimana harus mendudukkan Neneknya.
Nyonya besar Chloe menghela nafas. Dia meraih pundak Nathan dan mengelusnya pelan.
" Jangan khawatir, perempuan cerewet itu adalah anak yang sangat kuat. Dia dan bayinya pasti akan baik-baik saja. "
Tidak tahu mantra apa yang Neneknya ucapkan, tapi Nathan benar-benar merasa tenang setelah itu. Dia jadi bisa berpikir secara positif dan tidak lagi membayangkan hal-hal aneh yang sedari tadi hanya membuatnya ketakutan saja.
Beberapa saat kemudian. Suara tangisan bayi terdengar begitu lantang dan nyaring. Barulah setelah beberapa saat setelah itu, Dokter dan para tenaga medis lain yang ikut membantu proses operasi sesar keluar dari ruang operasi. Nathan yang begitu penasaran bagaimana keadaan Ivi dan anaknya, dia berjalan dengan cepat menghampiri Dokter itu.
" Dokter, bagaimana keadaan istri dan anak saya? "
Dokter itu menghela nafas lalu tersenyum setelahnya.
" Awalnya bayi anda lahir tapi tidak mengeluarkan suara. Tapi setelah kami melakukan beberapa rangsangan, syukurlah bayi anda bisa menangis. Keadaan istri anda juga sudah baik-baik saja sekarang. Sebentar lagi, mereka akan segera dipindahkan ke ruang rawat. "
Nathan mendesah lega lalu mengusap wajahnya yang dipenuhi dengan keringat dingin. Sungguh dia bisa merasa lega sekarang karena Ivi dan bayinya baik-baik saja.
" Boleh saya bertemu mereka sekarang, Dok? "
Dokter itu mengiyakan karena sepertinya Nathan benar-benar terlihat gelisah dan tidak ingin menunda lebih lama lagi untuk menemui istri dan anaknya. Lain dari Nathan yang bahagia karena bisa melihat langsung istri dan anaknya, yang lainya hanya bisa menunggu sampai Ivi dipindahkan ke ruang perawatan.
" Sayang? " Nathan mengelus kepala Ivi dan mencium keningnya.
" Nathan? " Ivi meneteskan air mata harunya. Iya, dia yang mendapat bius di sebagian tubuhnya tentu bisa melihat dengan jelas saat bayinya lahir dan tidak menangis sama sekali. Setelah Dokter melakukan beberapa tindakan seperti membalikkan tubuhnya dan mengusap punggungnya terus menerus, lalu memukul pelan bagian belakang bayinya, dan untunglah bayi yang ia lahir kan melalui operasi sesar itu menangis setelah beberapa saat mendapatkan tindakan dari Dokter.
" Tuan, silahkan, ini bayinya. " Seorang perawat memberikan bayi yang dilahirkan kepada Nathan. Kaku memang, tapi setelah di arahkan oleh suster cara menggendong bayi, akhirnya Nathan bisa dengan jelas merasakan tubuh mungil bayinya, bahkan juga wajah bayinya yang begitu menggemaskan.
" Sayang, bayi kita ini kecil sekali ya? " Ucap Nathan yang merasa tubuh bayinya begitu enteng di lengannya.
" Dia cukup gendut, Tuan. Bayi laki-laki anda lahir dengan bobot Tiga ribu lima ratus gram. " Ucap Perawat menerangkan kepada Nathan.
" Hanya segitu? " Nathan terheran-heran sendiri sembari membatin di dalam hati. Sepertinya dia perlu memberikan banyak susu dan makanan agar bayinya cepat gendut. Perawat itu hanya tersenyum menanggapinya.
Setelah dipindahkan keruang perawatan. Satu persatu mereka masuk menemui Ivi dan bayi laki-laki yang lahir pertama di generasi sekarang. Semua orang merasa bahagia setelah melihat keadaan Ivi dan melihat bagaimana lucu dan tampan putra pertama Nathan yang di beri nama, Nichole Rezef Chloe.
" Itu kan karena aku adalah Ibunya. " Ujar Ivi tersenyum bangga.
" Cih! yang pasti, itu karena Nathan adalah cucuku. Kalau tidak menikah dengan cucuku, mana mungkin kau akan melahirkan cicit setampan ini? " Nyonya besar Chloe melirik Ivi sesaat lalu kembali fokus kepada Nichole.
Bukanya marah, Ivi justru semakin senang menggoda Nyonya besar Chloe.
" Nenek, aku malah jadi ingin mencium Nenek loh. "
" Dasar ganjen! "
" Nenek, apa Nenek begitu banyak tenaga? kalau memang iya, bagaimana kalau Nenek menggendongku ke kamar mandi? "
" Dasar bocah menyebalkan! untung saja kau sudah melahirkan cicit yang lucu dan tampan ini. Kalau tidak, aku pasti sudah mengikat bibir menyebalkan mu itu. " Iya, beginilah mereka yang sepertinya tidak akan akur begitu saja. Sebebarnya bukan Nyonya besar Chloe tidak mau menerima Ivi, jujur dia sama sekali tidak keberatan lagi dengan Ivi sebagai cucu menantunya. Hanya saja, mulut Ivi dan mulut Nyonya besar Chloe sangat tidak bisa di kontrol kalau sudah berbicara. Bahkan, beberapa bulan laku mereka sampai berdebat hanya karena Ivi salah urutan saat membuat adonan kue. Tapi untunglah, Ivi adalah sosok yang tidak mudah tersinggung dan selalu bisa mengimbangi mulut Nyonya besar Chloe. Dan pada akhirnya, Nyonya besar Chloe menjadi merasa nyaman saat berbicara dengan Ivi karena tidak perlu memikirkan tentang wibawa lagi.
Setelah selsai bertemu dengan cicitnya, Nyonya besar Chloe dan Tuan besar Chloe pamit untuk pulang dan akan datang lagi besok untuk berkunjung sekaligus membawakan sup telur buatan Nyonya besar Chloe yang diminta Ivi tadi. Sammy yang biasa menunduk saat Nyonya besar Chloe dan Tuan besar Chloe tentu akan melakukan seperti biasanya. Tapi kali ini Nyonya besar Chloe berhenti tepat dihadapannya.
" Kenapa kepala mu tertunduk seperti itu? " Taya Nyonya besar Chloe tanpa ekspresi.
" Saya, "
" Kau adalah seorang presdir. Bagaimana bisa kau menundukkan kepalamu di depan wanita tua sepertiku? "
Sammy menelan salivanya lalu menatap Nyonya besar Chloe ragu-ragu. Tentu dia merasa ragu dan juga gugup. Tahu memang kalau Nyonya besar Chloe hanyalah seorang wanita tua. Tapi posisinya lah yang membuat Sammy tak berani walaupun hanya sekedar untuk menatap.
" Nyonya besar, aku "
" Kau ini bodoh ya? kenapa kau terus saja memanggil ku Nyonya besar? "
" Maaf. " Ucap Sammy karena tidak tahu lagi caranya untuk berkata-kata yang lain.
" Panggil aku sama seperti mereka! "
Sammy menatap kedua bola mata Nyonya besar Chloe yang masih sama seperti dulu. Tegas, dan menakutkan.
" Kalau aku dengar kau memanggilku Nyonya besar lagi, aku akan mematahkan leher mu meskipun aku sudah renta. Kau juga harus menjaga baik-bak cicit kedua ku. Kalau sampai terjadi sesuatu, aku sendiri yang akan datang untuk menghukum mu. " Nyonya besar Chloe meninggalkan Sammy yang menatap punggungnya dengan linangan air mata haru.
" Nenek? " Panggil Sammy lirih. Meskipun matanya meneteskan air mata, tapi bibirnya benar-benar tersenyum bahagia.
To Be Continued.