
Vanya dan Nath kembali menjalani rutinitas hariannya. Cuma bedanya, kini Vanya mulai membantu Nath untuk bersiap ke kantor.
" Sayang, bantu aku memakai dasi. " Nath tersenyum sembari menyodorkan dasi dari tangan kanannya.
Vanya yang sedang memeriksa penampilannya dari cermin, membalikkan tubuhnya untuk menatap Nath.
" Tapi aku tidak pernah memakaikan dasi. Bagaimana jika hasilnya buruk?
Nath berjalan mendekati Vanya dengan bibir yang tak henti-hentinya tersenyum. Nath meraih tangan Vanya dan membalikkan telapak tangan dengan posisi menadah. " Pegang ini dan ikuti perkataan ku.
Vanya terdiam sesaat lalu tersenyum sembari mengangguk.
" Tahan ini, dan ikat ke kanan. Lalu ke kiri. Tarik ke atas dan masukkan dari sini dan tarik kebawah. " Nath terus memandu gerak tangan Vanya.
Jantung Vanya tidak berhenti berdetak kencang. Gugup hingga rona merah menghiasi pipinya.
Ya Tuhan.... aku benar-benar sangat gugup. Aku masih tidak menyangka, Aku menikah dengan pria setampan Nath. Jika aku bertemu dengan teman-trman lamaku, aku bisa dengan bangga memerkan Nath. Apalagi, Nath kan seorang Presdir. Ya Tuhan,.. kau sungguh baik. Hasil dari pemerkosaan ternyata berakhir dengan kebahagiaan.
Nath juga merasakan yang sama. Meski Vanya sudah menjadi Istrinya, debaran itu tidak pernah mereda sedikitpun. Semakin lama mereka berdekatan, rasa-rasanya, Nath seakan tidak mau menjauh sedikitpun.
Cup....
Kecupan singkat mendarat di bibir Vanya. Vanya tersenyum sembari memukul pelan dada Nath.
" Ayo kita berangkat. " Ajak Vanya yang tidak mau lagi berlama-lama. Bukan tidak mau berdekatan dengan Nath, tapi perasaan yang menginginkan hal lebih dari sekedar kecupan, sangat sulit untuk Vanya tahan.
Grep.....
Nath menahan lengan Vanya. Tatapan intens itu seolah tak akan pernah berhenti.
" Kenapa? " Tanya Vanya sembari menatap Nath.
" Apa kau masih berdarah?
Deg......
Jantung Vanya seolah berdetak seratus kali lipat dari biasanya. Dia menelan ludahnya sendiri. Jujur saja, darah menstruasi itu sudah berhenti dihari pernikahan itu dilaksankan. Tapi, entah mengapa, perasaan yang tadi datang, tiba-tiba hilang berganti rasa gugup.
Apa yang harus aku jawab? tadi memang aku menginginkan lebih, tapi sekarang? aku benar-benar gugup.
" Vanya?
Vanya mendapati dirinya kembali saat Nath kembali memanggil namanya.
" Em?
" Kau masih berdarah?
Kenapa bertanya lagi sih? kalau sudah tidak, lalu mau apa? sebentar lagi jam kantor kan?
" Em, Nath, bagaimana kalau kita lakukan saat malam saja. Se, sekarang kita sudah hampir terlambat. " Wajah Vanya benar-benar merah saat mengatakan ini. Dia bahkan tidak tahu apa yang dia katakan benar atau tidak.
" Malam? " Nath menatap Vanya bingung.
" Iya. Sekarang kita hampir terlambat.
" Bukankah bisa dilakukan dengan cepat?
" Apa?! Mana bisa begitu?!
" Em, Nath. Nanti malam saja ya?
" Bukankah itu akan membuatmu tidak nyaman?
Vanya terperangah mendengar ucapan Nath.
Apa-apaan?! kenapa aku tidak nyaman?! aku tidak terlalu menggilai hal seperti itu kok. Yah walaupun aku pernah memperkosa mu.
" Sebenarnya, Nath. Aku tidak terlalu menginginkan hal itu. Tapi, jika kau memaksa, maka aku bisa apa? " Ucap Vanya dengan nada yang mimik yang malu-malu.
Nath mengangguk mengerti. Dia berjalan meninggalkan Vanya dan kembali dengan sebuah pembalut ditangannya.
" Ini? " Vanya menatap pembalut itu dengan tatapan bingung.
" Jadi, dari tadi kau membicarakan ini? " Vanya bertanya sembari menunjukkan pembalut ditangannya.
" Iya. Tidak nyaman kan kalau tidak memakai itu?
Sialan! benar-benar memalukan.
" Itu tidak perlu. Menstruasi ku sudah berakhir. " Ucap Vanya dengan wajah sebal. Dia berlalu meninggalkan Nath tanpa menggubris apapun lagi.
" Bisa-bisanya membicarakan tentang pembalut dengan ambigu begitu?! memang dia tidak tahu apa?! kalau lawan bicaranya pasti akan berpikir mesum. Benar-benar membuatku kesal. " Gumam Vanya seraya berjalan menuju kamar Nathan.
" Nak, ayo kita berangkat. " Ajak Vanya setelah membuka pintu dan mendapati putranya telah siap dengan setelan baju seragam sekolah.
" Aku akan pergi bersama Berly dan Bibi Sherin bu.
Vanya menghela nafasnya. " Kau tidak mau berangkat bersama Ibu lagi ya?
" Bukan begitu bu, aku hanya sudah membuat janji dengan Berly.
" Baiklah.
Setelah pintu kamar itu tertutup, Nathan terdiam sembari mengingat pesan dari Kevin.
" Nathan, mulai sekarang, jangan biarkan dirimu terlalu dekat dengan Ayahmu. Paman tidak bermaksut menjauhkan mu dari Ayahmu. Tapi, kakek dan nenekmu bukanlah orag yang berbelas kasih. Pernikahan Ayah dan Ibumu terlaksana tanpa restu dari Nenek dan Kakek mu. Mereka tida akan dengan mudah menerima Ibumu. Biarkan Ayah dan Ibumu mendapatkan restu. Dengan begitu, mereka tidak akan bisa memisahkan mu dari kedua orang tuamu.
" Jika mereka mengetahui keberadaan ku, mereka pasti akan menerima Ibuku kan? " Taya Nathan.
" Tidak. Mereka bukan orang yang seperti itu.
" Tapi, bagaimana aku bisa?
Kevin memegang kedua pundak Nathan. Dia menatap dengan tegas tapi juga menenangkan. " Kakek dan Nenekmu, bahkan lebih menyeramkan dari yang kau bayangkan. Bukan wajahnya. Tapi tindakan dibalik wajah tenang mereka yang mengerikan. Biarkan Ayah dan Ibumu berjuang. Kau setuju?
Nathan mengangguk dalam diam.
Beberapa saat kemudian, Kevin, Sherin, Berly dan Nath berada dalam perjalanan menuju sekolah.
" Nathan kau baik-baik saja? " Tanya Kevin yang sedari tadi memperhatikan dari kaca spion tengah.
" Hem.. " Nathan menjawab singkat.
Kevin tersenyum. Dia tahu benar. Di usia Nathan yang belum genap lima tahun, dia harus menjalani ini semua. Kehidupan rumit yang bahkan sulit dimengerti oleh orang dewasa. Kehidupan pelik yang mau tidak mau Nathan harus menjalani di usia yang masih begitu kecil.
" Nathan, aku percaya padamu. Aku tahu kau pasti mampu. Karena Kau, adalah anak dari Nathan Chloe. " Kevin tersenyum seolah memberikan semangat dan kepercayaan diri untuk Nathan.
" Aku tahu. Paman jangan tersenyum begitu. Menjijikkan. " Nathan mengalihkan pandangan seolah enggan wajahnya ditatap oleh Kevin.
Sherin menyunggingkan senyum nya. Senyum yang seolah-olah mengiyakan apa yang dikatakan Nathan. Maksutnya, ' Menjijikkan. '
" Sayang, kalau kau mau tersenyum, maka lakukanlah,.. jangan menahannya.
Sherin membelalakkan matanya ke arah Kevin yang tersenyum sembari fokus mengendarai mobil.
Sayang jidat mu!
***
Lexi berjalan setengah berlari menuju lift yang pintunya hampir tertutup. Dia menekan tombol panah agar pintu lift kembali terbuka. Dia mendesah lega saat pintu lift itu berhasil terbuka.
" Selamat pagi Sekretaris Lexi? " Sapa Wanita yang berada dibelakangnya.
Lexi menolehkan pandangan. " Pagi juga.
Matanya tertahan setelah manik mata mereka bertemu. Gadis itu menungging kan senyum dingin dengan sebelah alis yang terangkat ke atas.
Menyeramkan sekali. Sepagi ini sudah bertemu dengan gadis gila ini.
" Sekretaris Lexi kenapa terus menatapku?
Lexi terkesiap dan langsung memalingkan pandangan. Benar. Kenapa dia sampai lupa untuk memalingkan wajah? Lexi menggelengkan kepalannya. Mengusir pikiran-pikiran tidak penting. Mungkin saja, karena wajah gadis itu menyebalkan. batinnya.
To Be Continued.