Touch Me!

Touch Me!
Asisten Untuk Lexi



Vanya melakukan aktivitas paginya. Sekarang ini, bukan hanya putra nya saja yang perlu di urusi. Tapi juga sosok suami yang kini melengkapi hidupnya juga menjadi tanggung jawab Vanya.


" Sayang, sarapan sudah siap. " Ucap Vanya mengingatkan putranya yang sedang bersiap untuk pergi ke sekolah.


" Baik Ibu. " Jawab Nathan lalu menyambar tas yang memang sudah di siapkan oleh Vanya.


Vanya berjalan menuju kamarnya untuk memeriksa Nath yang masih belum juga keluar dari kamar.


" Nath... " Panggil Vanya seraya mendorong pintu agar terbuka.


" Iya.


Deg.....


Vanya menelan salivanya sendiri. Nath yang begitu sempurna dengan penampilannya kali ini. Dada bidang yang seperti roti sobek itu benar-benar membuat mata Vanya tak bisa beralih pandang. Ada tetesan-tetesan air yang menghiasi tubuh dan wajahnya. Apalagi, Nath hanya dibalut handuk di bagian pinggang hingga batas pahanya. Benar-benar pemandangan yang luar biasa. Bahkan, bagi Vanya, ini lebih indah dari pada Negera Selandia baru.


" Sayang, mulutmu kenapa terus terbuka. " Nath menekan dagu Vanya ke atas agar mulutnya tertutup.


Vanya berdehem untuk mengembalikkan kesadarannya.


Bagaimana aku tidak melongo kalau begini? roti sobek,. oh... roti sobek.... mengapa kau berada di tubuh suamiku? aku jadi ingin merantainya dirumah agar tidak pergi keluar rumah. Eh, bukan merantai. Tapi menguncinya dirumah agar bisa ku nikmati sendiri dada yang seperti roti sobek itu.


" Sayang? kau baik-baik saja? " Tanya Nath yang kini sudah mulai mengerti apa yang membuat Istrinya berekspresi begitu.


" I, iya. " Vanya berucap dengan gugup tapi matanya, bahkan tetap melotot melihat dada Nath yang ada dihadapannya.


Di angan-angan Vanya. Dia sedang berguling-guling sembari bermain dengan dada Nath. Menggigitnya, membuatnya menjadi alas tidur, memeluknya, mengelus dan memberinya stempel. ' MILIK VANYA SEORANG!'


" Sayang,.... " Nath meraih tangan Vanya lalu menaruhnya di dadanya.


Oh my God! its dream or not? kenapa ini terasa nyata?


Nath mendekatkan wajahnya dan berbisik ditelinga Vanya. " Sayang, kau suka?


Vanya membulatkan matanya lalu menarik tangannya agar menjauh dari dada menggoda itu.


Iya. Iya aku suka. Suka sekali.


" Jangan terlalu percaya diri. " Kilah Vanya sembari mengalihkan pandangannya.


" Benarkah? " Goda Nath yang kini semakin terlihat senang menggoda istrinya.


Benar,.... aku suka loh! suka sekali.....


" Jangan banyak bicara. Ayo lekas berpakaian. Sarapan sudah siap.


" Baiklah kalau begitu. Padahal, aku pikir, aku akan menyerahkan tubuhku untukmu hari ini.


Huhuhu.... aku ya tentu saja mau! tapi aku malu lah kalau terlalu transparan. Meskipun kita sudah menikah, aku juga harus terlihat tidak gampangan kan?


" Kalau begitu, aku tunggu di meja makan ya? " Vanya beranjak meninggalkan pemilik dada menggoda itu. Dari pada terus berada disana, dan otak mesum Vanya selalu saja meronta dengan tidak tahu dirinya, lebih baik kabur saja. Dia juga tidak mau kalau Nath mengetahui betapa gilanya otak mesum Vanya ketika melihat si pemilik dada roti sobek itu. Bisa-bisa suaminya lari terbirit-birit kalau tahu betapa tidak senonohnya angan-angannya. Dia pasti akan berpikir, Oh tidak!!!! istriku mesum sekali! dia terlihat seperti wanita murahan!!!!


Vanya bergidik ngeri membayangkan hal itu. Tidak seru kan? kalau sampai dia menjadi janda padahal baru saja menikah.


Tahan Vanya,.... tahan. Jangan terlalu murahan please... jaga Image mu Vanya! jangan membuat suamimu kabur.


Setelah beberapa saat, Keluarga bahagia yang baru saja berkumpul itu, terlihat begitu gembira.


Vanya tersenyum menatap suami dan anaknya yang begitu bahagia berbagi makanan. Dia tidak pernah menduga akan hal ini. Bahkan, dia selalu mengucap syukur untuk semua yang tuhan berikan.


Takdir yang berjalan atas kehendak Tuhan. Vanya hanya bisa mensyukuri jalannya takdir yang begitu mulus mempersatukan mereka. Tanpa dia sadari, jika kebahagiaan saat ini, akan menjadi awal dari perjuangan cinta yang sesungguhnya.


***


Lexi berjalan setengah berlari menuju ruangannya. Dia dengan kaki panjangnya, tak membutuhkan waktu lama untuk sampai.


Bugh...


Lexi menjatuhkan beberapa dokumen-dokumen yang belum selesai ia kerjakan kemarin. Sebenarnya sungguh lelah. Dia pulang pukul Dua puluh dua malam. Lalu kembali pukul Tujuh. Tapi bagaimana lagi? ini adalah tanggung jawabnya. Mengeluh pun, tidak akan ada gunanya. Jika bukan Nath atasannya, sudah pasti Lexi lebih memilih untuk beranjak pergi.


Setengah jam sudah dia bergelut dengan kertas-kertas yang bertengger di mejanya. Hingga ketukan pintu menghentikan konsentrasinya.


Tok... Tok....


" Masuk! " Titah Lexi tanpa menatap pintu yang diketuk.


" Selamat pagi? Sekretaris Homo!


" Selamat pa, " Ucapannya terhenti saat manik mata mereka bertemu.


" Kenapa anda bengong Pak, SH?


" Apa yang kau lakukan disini?! " Tanya Lexi ketus. Dia masih tetap dengan posisinya. Hanya pandangan matanya yang berubah.


" Apa?! " Lexi bangkit dari posisinya hingga bangku yang tadi ia duduki terjatuh dengan posisi terlentang.


Jangan sekaget itu juga kali!


" Iya, seperti yang anda dengar pak, SH.


" Tidak mau! aku tidak mau kalau harus berdekatan dengan mulut kubangan seperti mu!


Devi tersenyum sinis. " Ah, aku juga tidak ingin dekat dengan anda.


" Kalau begitu, enyahlah!


Dasar keparat sialan!


" Uh, uh, bagaimana ya? Presdir bilang, kalau anda menolak, anda akan ditugaskan di Antartika untuk menggantikan induk beruang menyusui anaknya. " Senyum cerah secerah mentari menghiasi wajah gadis itu. Sungguh, dia benar-benar pintar sekali menutupi wajahnya yang juga sama sekali tidak menyetujui keputusan Presdir Nath.


" Sialan! " Lexi meraih ponselnya untuk menghubungi Nath.


" Nath! " Bentaknya saat panggilan teleponnya tersambung.


" Apa-apaan kau ini?!


" Apa?!


" Aku tidak membutuhkannya!


" Tapi kenapa dia?!


" Aku benar-benar akan menyantet mu Nath!


***


Nath merogoh saku jasnya saat dering ponsel terdengar di telinganya.


" Ada apa?


" Kenapa? aku hanya meringankan beban mu. Kau begitu sibuk kan?


" Aku yang membutuhkannya.


" Karena dia memiliki kemampuan untuk itu. Bekerja samalah dengan rukun dan kompak.


" Aku tunggu santet itu tiba. Aku juga penasaran, seperti apa yang namanya pak santet. Atau bu santet?


Nath mengakhiri panggilan teleponnya. Dia menatap istrinya yang juga ikut mendengarkan pembicaraan mereka. Nath memberikan kecupan singkat untuk Istri yang memberikan ide itu.


Tadi malam.


Nath menceritakan tentang Lexi tang begitu marah karena segudang pekerjaan yang membuatnya tidak sempat sarapan bahkan makan siang.


" Nath, kenapa tidak merekrut seseorang untuk membantunya?


" Tidak mudah sayang. Pekerjaan Lexi sangat sempurna. Aku takut, itu hanya akan menjadi beban untuknya jika harus mendidik orang baru.


" Tapi sampai kapan dia akan bekerja terus menerus seperti itu? dia kan manusia bukan robot?


" Iya aku tahu. Tapi tidak mudah mencari orang yang memiliki kemampuan kan?


Vanya menaikkan tubuhnya ke atas untuk mensejajarkan dengan Nath. " Aku kenal orang itu.


" Siapa?


" Devi. Dulu, dia pernah menjadi Asisten Sekretaris di perusahaan lokal.


Nath mengerutkan dahinya sejenak. " Seberapa yakin kau tentang dia?


" Sangat yakin. Aku akan menjamin dengan tubuhku.


Nath bangkit dari posisinya yang tadi memeluk tubuh Vanya. Kini dia terduduk sembari menatap Vanya kesal.


Eh? kenapa dia berekspresi begitu? apa yang salah dari ucapan ku? apa menjamin dengan tubuh terkesan murahan ya? apa dia sedang memikirkan itu?


" Kenapa kau begitu memperdulikan Lexi sampai rela menjamin dengan tubuhmu?


" Eh? bukan begitu maksut ku. Aku hanya merasa kasihan dan ingin sedikit membantu.


" Jangan pernah merasa kasihan kepada pria lain! Rasa kasihan, akan membuatmu perduli padanya. Lalu, lama kelamaan akan membuatmu terbiasa dan menyukainya. Kau tidak memiliki niat itu kan?


Eh? dia cemburu ya? ah! senang sekali dicemburui oleh pria tampan sepertimu. Hahaha.....


To Be Continued.