Touch Me!

Touch Me!
S2- Bagaimana Rasanya?



Pagi harinya di kediaman keluarga Chloe.


Ivi dan Nathan terus saja bersin-bersin sedari subuh tadi. Entah kemana remote AC perginya. Nathan dan Ivi semalaman harus menahan dingin. Padahal sudah mereka selingi dengan bermain Ludo, melakukan olah raga ringan agar suhu tubuhnya naik. Tapi tetap saja, saat malam semakin larut, Nathan dan Ivi mulai mengantuk dan pada akhirnya, mereka tertidur sembari menggulung tubuhnya di bawah selimut. Sialnya, saat pagi hari, Nathan dan Ivi sepertinya pilek dan masuk angin.


" Hatchi...! "


" Hatchi...! "


Ivi dan Nathan menggosok hidungnya bersamaan. Sungguh ini adalah malam pertama yang begitu exstream. Selain tubuhnya menjadi masuk angin, kedua lengan Ivi dan Nathan sampai merah kebiru-biruan. Dan itu karena permainan Ludo yang mereka lakukan semalaman.


" Nathan, kau punya minyak angin? " Tanya Ivi sembari bangun dari posisi rebahan nya.


" Tidak punya. Aku tidak pernah menggunakan benda itu. " Ujar Nathan.


" Bagaimana ini? sepertinya aku masuk angin parah. "


" Sepertinya aku juga. "


" Kita ke Dokter saja yuk. " Ajak Nathan seraya bangkit dari tempat tidurnya.


Ivi tak memiliki alasan untuk mengatakan tidak karena memang dia tidak tahan dengan tubuhnya yang masuk angin itu. Jika saja dia ada dirumah orang tuanya, Ibunya Ivi pasti akan mengurus Ivi. Dan inilah kesalahan Ivi. Dia tidak pernah mau belajar menjalankan tugas wanita pada umumnya. Dia malah lebih menyukai kegiatan yang sering Ayahnya lakukan. Seperti memancing, pergi berjualan di pasar bersama Ayahnya, bermain layang-layang seperti kaka laki-lakinya, pokoknya semua hal yang selayaknya anak laki-laki.


Nathan dan Ivi keluar dari kamar dengan pakaian yang membuat semua orang berpikir negatif. Ivi menggunakan celana panjang, baju lengan panjang, dan juga leher yang dililit syal. Sedangkan Nathan, dia juga menggunakan celana jeans hitam berwarna panjang, dan juga kaos polos berwarna hitam dengan lengan panjang.


" Eh, Nathan, Ivi. Ayo makan dulu. " Ajak Vanya kepada sepasang pengantin baru yang tak lain adalah anak dan menantu nya.


Ivi dan Nathan kompak mengangguk. Setelah makanan sudah tersedia di piring, Nathan menaikkan kedua lengan bajunya untuk menikmati sarapannya. Dan inilah kebiasaan Nathan sedari kecil kalau menggunakan lengan pajang saat akan makan.


" Uhuk...! uhuk....! " Sammy tersedak saat tak sengaja melihat lengan Nathan yang merah-merah seperti pulau pulau merah kecil yang berceceran disana.


Vanya sigap memberikan segelas air mineral kepada Sammy lalu menepuk punggungnya beberapa kali dengan pelan.


" Santai saja saat makan. Tidak akan ada yang merebut makanan mu. "


Bukan itu masalahnya, Ibu. Tapi lengan Nathan sampai Semerah itu, apa Ivi benar-benar menjadi Vampir semalam? dan Ivi? dia menutupi lehernya dengan syal begitu, apa Nathan juga serakus itu?


" I Ibu? " Panggil Sammy setelah Vanya kembali duduk disampingnya.


" Apa? " Jawab Vanya lalu mulai menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya.


Sammy mendekatkan wajahnya untuk berbisik kepada Vanya.


" Uhuk...! Uhuk....! " Sekarang giliran Vanya yang tersedak. Tapi bukan Sammy yang memberikan air dan mengelus punggung Vanya, melainkan si pemilik utama. Yaitu, Nath.


Setelah mulai lebih baik, Vanya kini jadi banyak tersenyum dan pipinya juga terlihat merona.


Melihat anehnya tatapan semua orang, Ivi mulai menyikut Nathan yang justru lebih fokus dengan sarapannya.


" Nathan! " Panggil Ivi lirih.


Sungguh, Nathan justru semakin membuat tatapan semua orang menjadi semakin aneh.


" Kakak pertama, apa kakak lapar sekali? " Tanya Nathania. Gadis cantik kembaran Nathalie itu justru tak menghiraukan makanannya dan malah fokus menatap Nathan yang sedang makan tanpa perduli keadaan sekitar.


" Hem... " Jawab Nathan singkat karena mulutnya juga penuh dengan makanan.


" Iya, tubuhku rasanya drop sekali hari ini. " Jawab Nathan yang masih saja tidak menghiraukan bagaimana tatapan aneh mereka. Ivi memang melihat bagaimana mereka menatapnya dengan tatapan aneh, tapi entahlah. Sungguh Ivi tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh mereka.


" Apa rasanya enak? " Tanya Vanya yang malah membuat anak kembarnya serta Sammy merona malu mendengar pertanyaan Ibu mereka.


" Sakit. "


Ivi semakin mengkerut malu, sedangkan mereka semua yang bertanya hal aneh, justru semakin tersenyum entah apa maksudnya karena dia memang tidak tahu.


" Pertama memang sakit, tapi setelah beberapa kali, pasti rasa ya akan sangat nyaman dan membuat ketagihan. "


Sontak Nathan menatap Ibunya dengan tatapan penuh tanya. Tapi melihat senyum mesum Ibunya, kini dia paham apa yang di maksud oleh Ibunya itu. Ditambah lagi, Nathania, Nathalie dan Sammy yang merona pipinya.


" A apa yang Ibu bicarakan?! " Protes Nathan.


" Tentu saja tentang malam pertama kalian. "


Kini Ivi dan Nathan saling menatap gugup. Mereka juga kompak menelan salivanya bersamaan.


" Ibu, berhentilah untuk selalu berpikir mesum! " Sebal Nathan.


" Apa kau tidak bisa melakukanya? " Tanya Ayahnya Nathan, yang tak lain adalah Nath. Pria yang sedari tadi memilih untuk tidak ikut berbicara, kini juga merasa penasaran.


" A apa maksud Ayah? " Tanya Nathan gugup.


" Apa punya mu tidak berfungsi dengan baik? " Nathan terbatuk meski tidak ada sama sekali makanan di dalam mulutnya. Tapi entahlah, rasanya udara yang ada di rongga mulutnya seolah menerobos keluar begitu saja.


" Nathan, apa yang dimaksud Ayah mertua? apa yang tidak berfungsi? " Tanya Ivi berbisik karena dia memang tidak paham.


" Tidak ada. Jangan di dengarkan. " Ujar Nathan yang juga berbisik.


" Ayah, jangan meremehkan ku begitu. Tentu saja berfungsi dengan baik. Iya kan Ivi? " Tanya Nathan yang kini menatapnya dengan tatapan mengancam. Mulutnya juga bergerak komat-kamit seolah mengingatkan agar jangan salah bicara.


" I iya. " Jawab Ivi yang langsung membuat Nathan tersenyum.


" Sayang sekali. Ayah tidak mudah untuk di bohongi. " Ujar Nath lalu kembali menikmati sarapannya.


" Ayah mana boleh begitu! aku tentu saja melakukannya dengan sangat baik. Aku dan Ivi sudah melakukannya. Iya kan Ivi? " Lagi-lagi Nathan melotot dengan artian untuk mengancamnya.


" I iya. " Nathan tersenyum bangga. Tapi sayang, sang Ayah terlihat sama sekali tidak mau mempercayai Nathan dan lebih fokus menikmati sarapannya.


" Jadi, Ivi. Bagaimana rasanya? " Tanya Nathan yang terlihat begitu penasaran. Sebenarnya dia sudah paham kalau sedang membahas tentang malam pertama. Tapi kalau ditanya tentang bagaimana rasanya, mana bisa dia menjawab?


Nathan menendang kaki Ivi agar Ivi cepat memberikan jawaban dan jangan banyak berpikir. Kalau seperti itu terus, tentu saja mereka akan curiga. Ujar Nathan.


" E enak sekali, Ibu mertua. " Jawab Ivi. Sungguh dia tidak tahu harus mengatakan apa. Entah benar atau salah, biarkan saja lah. Batin Ivi.


Lain dari Nathalie, Nathania dan Sammy yang merona malu sendiri, Vanya kini tersenyum menatap Ivi dengan tatapan penuh arti.


Baiklah, Aku harus ikut campur rupanya. Kalau begini terus, aku keburu renta menunggu cucu dari mereka. Bersiaplah anak dan menantuku, kalau seorang Vanya sudah ikut campur, kalian, atau bahkan semut pun pasti tidak akan bisa mengelak.


To Be Continued.