Touch Me!

Touch Me!
Keteguhan



Halo para Reader tersayang... ❤️❤️❤️❤️


Terimakasih atas segala dukungannya. Baik untuk, Like,Komen, Vote, dan hadiahnya. Ataupun bagi yang membaca.


Jangan kapok untuk selalu dukung Author agar selalu semangat Up ya,.... Dan maaf, kalau masih banyak Typo dan kesalahan dalam bahasa.


Salam hangat... Semoga, kita dalam keadaan yang selalu sehat. 🤲🤲🤲🤲🤲🙏🙏🙏


Happy Reading....


***


Vanya menatap Nath dan Mage bergantian. Dia mulai menguasai dirinya lagi. Vanya menarik nafas dan menghembuskannya. Tersenyum dan berlaku seolah tidak terjadi apa-apa.


Nath menghempaskan tangan Mage yang masih mencengkram kerah kemejanya. Beralih menatap Vanya. " Sa,


Baru Nath akan melangkah mendekati Vanya, Mage dengan cepat meraih lengannya dan menahan langkah kaki Nath.


Semua sama saja. Sulit menemui laki-laki yang hanya bisa fokus dengan satu wanita. Dan aku lupa, Nath adalah pria yang belum aku kenal seluruhnya. Meski dia, adalah Ayah dari anakku.


" Maaf Presdir Nath. Saya akan kembali lagi nanti. Maaf karena tidak mengetuk pintu dulu. " Ucap Vanya sembari menunduk seolah merasa bersalah.


" Tunggu! " Cegah Nath saat Vanya sudah membalikkan tubuhnya hendak pergi. Nath menepis tangan Mage dengan wajah dinginnya.


Apa lagi? kau tidak tahu ya? aku ingin menangis. Aku takut tidak kuat jika tetap disini. Vanya mengepalkan tangannya. Bukan menahan marah. Tapi dia takut terlihat lemah. Dia takut, jika Nath sama seperti dugaannya.


' Grep....


Vanya membuka matanya lebar. Ia benar-benar terkejut melihat kedua lengan Nath mendekapnya erat dari belakang.


" Maaf,.. Maaf membuat mu melihat kesalah pahaman ini." Nath menjatuhkan wajahnya di pundak Vanya.


Dia memelukku? dihadapan wanita itu? apa Nath benar-benar begitu mencintaiku?


Nath melepas dekapannya. Dia membalikkan tubuh Vanya agar berhadapan dengannya.


" Kau marah,Sayang? " Nath mengusap pucuk kepala Vanya.


Nath, kau benar-benar mencintaiku.


Vanya terdiam dengan wajah menahan tangis.


" Vanya, maaf. Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku,


Ucapan Nath terhenti seketika, saat Vanya memeluknya erat. " Katakan sesuatu, Vanya. Jika kau diam begini, aku jadi takut. Aku tidak bisa membaca isi hatimu. Tolong katakan sesuatu. " Nath memeluk tubuh ramping gadis pujaannya itu.


Vanya tersadar jika ada sosok wanita yang sedari tadi menatap mereka tajam penuh kemarahan meski air mata membanjiri pipinya. Vanya melirik Mage dan menatapnya sesaat.


Jadi, kau adalah Ibu dari anaknya Nath?


" Hentikan Nath! " Mage berucap dengan intonasi yang tinggi. Entah dari mana sumber kekuatan untuk mengeluarkan suara selantang itu. Mungkin karena perasaan cemburu yang begitu besar. Hingga membuatnya begitu berani.


Vanya dan Nath sontak melepaskan pelukannya sembari menatap Mage bingung.


" Kau sadar kau siapa? " Tanya Nath dengan wajah kesal.


" Tentu saja. Aku sangat sadar. Kau juga tahu Nath. Kita adalah satu sampai akhir. Kita memiliki sesuatu yang sangat penting. *Cinta sejati.


Sesuatu yang sangat penting? maksutnya anak? lalu bagaimana denganku? aku juga memiliki anak dengan Nath meski dia tidak menyadarinya. Apa sekarang posisiku adalah sebagai pengganggu*?


" Hentikan omong kosong mu! keluarlah. Aku tidak ingin lagi berdebat denganmu. " Nath masih menatap mantan kekasihnya itu dengan tajam.


Nath, dia sudah jauh berubah. Kenapa? dulu kau sangat mencintaiku. Kau rela melakukan apapun untukku. Entah itu harus mengorbankan nyawa sekalipun. Tapi Nath yang sekarang? tatapan cinta dari matanya begitu terlihat saat menatap gadis itu. Kenapa? dulu dia tidak pernah menatapku begitu.


Mage mengepalkan tangannya kuat. Benar, dia semakin menyadarinya sekarang. Begitu banyak yang sudah berubah dari seorang Nath. Dia begitu hangat dan penuh kasih. Dulu juga dia sangat menyayangi dan memperhatikan Mage. Tapi, tidak sejauh ini. Yang berarti, cintanya kepada Mage, tidak sebesar cintanya kepada Vanya.


" Baiklah Nath. Aku akan pergi sekarang. Tapi, kau harus ingat ini. Kau dan aku adalah satu. Kita diciptakan untuk satu sama lain. Tidak ada yang bisa, memberikan apa yang sudah aku berikan kepadamu. *Rasa cinta yang begitu dalam.


Lagi-lagi anak?! AKU JUGA PUNYA ANAK! APA AKU HARUS MENGUMUMKANNYA SEKARANG*?!!!!!!!!!!!!!!


" Pergilah Mage. Aku tidak ingin mendengar kata-kata aneh dari mulutmu.


Mage menatap Nath dan Vanya bergantian.


Aku pergi, dan aku akan kembali Nath. Jika bukan kau, aku tidak memiliki tempat untuk ku tinggali. Kau hanya milikku. Dari awal, kau adalah milikku. Maka, kau akan menjadi milikku selamanya.


" Jangan. " Nath meraih lengan Vanya dan memeluknya.


" Nath, " Vanya mencoba melepas pelukan Nath.


" Sebentar Sayang. " Nath semakin mempererat pelukannya.


*Apa kau begitu sedih? aku tahu, kalian sudah memiliki anak. Aku juga tidak ingin egois. Tapi, hatiku yang brengsek ini, seakan enggan untuk melepaskan mu.


Vanya, aku sangat takut. Takut kau akan pergi meninggalkan ku. Aku mencintaimu Vanya. Aku tahu, ada banyak gadis yang bisa aku dapatkan. Tapi hatiku, begitu keras menolaknya*.


" Nath, ini sudah cukup lama. Aku harus kembali.


" Kau tidak ingin menanyakan sesuatu? " Nath menatap Vanya sendu. Perasaan takut yang kini melanda hatinya, membuatnya kehilangan kemampuan untuk bisa menebak isi hati Vanya.


Bukankah seharusnya kau yang menjelaskan?


" Apa yang harus kutanyakan Nath?


Apapun Vanya. Tanyakan apa yang mengganjal di hatimu.


" Apapun.


" Aku, tidak ingin menanyakan apapun Nath. Aku harus segera kembali.


" Vanya, tentang tadi, Mage yang tiba-tiba mencium ku. Demi Tuhan. Aku tidak memiliki niat untuk kembali padanya.


Aku tahu. Tapi, siapa yang bisa memprediksi. kalian sudah memiliki anak, kalian juga memiliki peluang untuk bersatu kembali sebagai keluarga.


Vanya percayalah padaku.


" Vanya, ayolah.... katakan sesuatu. Jika kau tetap diam saja, maka aku,... " Nath meraih pinggang Vanya dan menempelkan pada tubuhnya.


" A, apa yang akan kau lakukan? " Vanya menatap Nath gugup. Lagi-lagi, jarak yang begitu dekat membuat wajah Nath terlihat jelas. Iya jelas. Jelas tampan sekali.


" Menurutmu? " Nath kini mendekatkan wajahnya. Membuat bibir mereka hampir bersentuhan.


" Jangan macam-macam! " Vanya membekap bibir Nath.


Nath meraih tangan Vanya. Menyingkirkan dari bibirnya dan Menggenggam tangan Vanya.


" Maka, katakan apa yang sedang kau pikirkan.


Vanya menghela nafasnya sembari menatap Nath.


" Nath, jika putramu memintamu untuk menikah dengan Ibunya, apa yang akan kau lakukan?


Nath mengerutkan keningnya. Bukanya ini tidak ada hubungannya dengan masalah yang terjadi antara Nath dan Mage?


Nath nampak berpikir sejenak lalu menatap Vanya penuh keyakinan. " Dengar, Vanya. Entah itu Ibuku Ayahku, saudaraku bahkan anakku, tidak akan bisa memaksakan kehendak seorang Nath. Aku akan menikahi wanita yang aku cintai. Yaitu, kau. Dan aku, tidak suka berkorban ataupun mengorbankan orang lain. Nath, adalah Nath yang selalu seperti itu.


Bagus. Hahahahaha..... akhirnya, aku bisa tidur nyenyak. Kali ini, biarkan aku menjadi egois. Aku menginginkanmu. Bukan hanya untukku, tapi juga untuk anak kita Nath.


" Baiklah,... aku akan mempercayaimu. " Ujar Vanya yang terlihat tak lagi murung seperti sebelumnya.


" Oh ya. Kenapa kau datang kemari?


" Lexi menyuruhku datang.


Nath dan Vanya saling menatap.


*Apa dia senagaja ingin mengompori ku? apa dia ingin aku dan Nath berpisah? sialan! aku doakan, kau akan menikah dengan istri yang selalu membuatmu takut sepanjang waktu.


Dasar bedebah lapuk itu. Dia sengaja atau apa sih?! apa segitu cemburunya dia dengan ku? apa terlalu lama sendiri membuatnya gila?! lihatlah Lexi. Aku akan mencincang habis tubuhmu, dan melemparkannya ke sungai Amazon agar menjadi santapan ikan piranha*.


***


Lexi tersenyum membayangkan apa yang terjadi diruangan Nath sekarang.


" Ah....., Mage pasti sangat terkejut. Senjata paling ampuh saat ini adalah Vanya. Iya, aku akui. Vanya mampu menetralisir pesona Mage yang luar biasa. Semoga Mage mau mengerti dan tidak datang lagi kepada Nath. " Gumam Lexi. Tapi sayang, niat baiknya tidak didukung oleh keadaan. Maksut baiknya malah menjadi serangan balik untuk dirinya sendiri.


Semangat Lexi. Maaf, kau harus mengalami banyak kesialan karena kejombloanmu. Semoga suatu hari, kau bertemu dengan bidadari yang mampu menghiasi hatimu dan menghilangkan kegabutan mu. 🤭🤭🤭


To Be Continued.