
Nathan menatap punggung Ivi tanpa bisa berkata-kata. Kembali meyakinkan apa yang Ivi katakan tentu saja adalah yang harus ia lakukan. Sungguh dia tidak tahu harus bagaiman merespon ucapan Ivi. Meski sejujurnya dia ingin sekali menjawab, Ayok. Tapi mana mungkin? mulutnya terlalu mementingkan gengsi dari pada memikirkan suara hatinya sendiri.
Sialan! hanya mengajak berlatih membuat anak? kenapa tidak berbalik dan menyerang ku. Kan aku tidak mau merayu mu terlebih dulu. Cepat berbalik dan lakukan apa yang disarankan Ibu ku!
Ivi meremas kain yang membungkus bantalnya. Dia malu, bahkan sangat malu. Ivi kini justru sibuk merutuki mulutnya yang tidak tahu malu itu. Bagaimana dia akan bisa melihat Nathan seperti biasanya nanti?
" Kau tadi mengajak apa? " Tanya Nathan. Sebenarnya dia kesal kepada Ivi. Ini sudah lebih dari lima menit dan Ivi tidak melakukan pergerakan apapun. Memang bisa membuat anak hanya dengan menghadapkan punggung? Sialan! rasanya dia benar-benar ingin menyerang Ivi terlebih dulu. Tapi sialnya, tubuhnya tertahan oleh gengsi yang begitu besar.
" Tidak usah! lupakan saja. Ayo kita tidur. "
Nathan mendengus kesal. Bibirnya juga berkomat-kamit marah. Tangannya mengepal ke atas seolah ingin menjitak kepala Ivi hingga berlubang.
Kurang ajar! bagaimana bisa dia melakukan ini? dia yang mengajakku, tapi dia tidak melakukan pergerakan. Ah!!! apa-apaan ini?!! kenapa juga yang di bawah sudah upacara? ya ampun!!
Nathan dengan wajah kesal berjalan cepat menuju kamar mandi. Marah? iya tentu saja marah. Padahal dia sudah membayangkan hal-hal mesum walaupun tidak tahu apa yang dia lakukan dalam imajinasinya itu benar atau salah.
Sialan! umur sudah tiga puluh tahun, tapi masih saja harus memakai tangan!
Ivi juga tak kalah kesal. Iya, gadis itu tentu juga ikut kesal. Padahal dia sudah mengutarakan maksudnya, tapi Nathan malah diam saja tidak bergerak. Walau bagaimana pun, dia itukan seorang gadis yang tidak mungkin memulainya terlebih dulu. Memang, Ibu mertuanya menyarankan agar dia bergerak lebih awal, tapi bagaimana bisa? Jelas lah, Ibu mertuanya sudah memiliki banyak pengalaman, tentu dia memiliki keahlian. Tali kalau hanya teori saja tanpa ada praktek, bagaimana bisa dia melakukan itu? membayangkan menggerayangi tubuh Nathan, mencium bibir Nathan, lalu memulainya dulu untuk melakukan anu-anu alias kikuk kikuk, tidak semudah yang Ibu mertuanya katakan ternyata.
Ah! dasar Nathan bodoh! aku kan sudah memberi kode, sebagai seorang pria, harusnya kau yang merayuku duluan kan?
Ivi mendesah sebal. Sebenarnya dia sudah tahu kalau pasti gagal. Tapi mau bagaimana lagi? dia itu sama sekali tida berpengalaman.
" Apa aku lihat di video saja ya? tapi dimana bisa lihat video pembuatan anak? kan di YouTube tidak ada. "
Ivi memutar bola matanya sembari berpikir. Setelah beberapa saat, akhirnya dia tersenyum karena sudah mendapatkan ide. Dia meraih ponselnya untuk menghubungi salah satu sahabatnya, degan suara yang pelan, dia meminta sahabatnya untuk mengirimkan Video dua puluh satu plus, alias tutorial pembuatan anak.
Setelah beberapa saat, Ivi membuka salah satu Video yang di kirimkan dari sahabatnya. Dengan seksama Ivi mulai menonton Video itu tanpa suara. Sungguh dia panas dingin dibuatnya. Pipinya juga merona entah mengapa.
" Gi gila! ca caranya memalukan sekali rupanya. Bagaimana bisa aku dan Nathan seperti ini? " Ivi menelan salivanya saat melihat pemeran pria memegang bagian dada si wanita.
" Apa semuanya harus dipegang? " Ivi menundukkan kepala untuk melihat dadanya. Hah! memalukan sekali, dadanya saja hampir rata begitu, kira-kira bagaimana cara memegangnya nanti? Tidak! Ivi menggelengkan kepalanya cepat. Dia menaruh ponsel jauh darinya.
" Me meskipun terlihat enak, ta tapi memalukan sekali. " Ivi tanpa sadar menggigit ujung selimut yang ia pegang. Jujur saja, sebagai gadis normal, dia sedikit tergoda dengan adegan itu. Tapi, lagi-lagi pengalaman yang masih nihil dan rasa malu yang begitu besar, Ivi hanya bisa menelan ludah dan bersabar sampai hari untuk kikuk kikuk tiba.
Sudah tiga puluh menit berlalu, tapi Nathan masih saja betah di dalam kamar mandi. Tadinya Ivi masa bodoh saja, tapi karena merasa khawatir, dia akhirnya bangkit dan berjalan mendekati kamar mandi. Memang tadi sempat mendengar gemercik air dari dalam sana, tapi entah lah. Suara air itu tiba-tiba menghilang dan begitu tangan.
" Apa yang dia lakukan selama ini di dalam kamar mandi? " Ivi membulatkan mata karena otaknya memikirkan begitu banyak hal negatif.
" Apa dia terjatuh, kepalanya terbentur lantai lalu mati? apa dia tertidur di dalam bathtub lalu tanpa sadar dia tenggelam? " Ivi berniat menempelkan telinganya ke pintu kamar mandi, tapi sayang, bukan di pintu kamar mandi kupingnya menempel. Tapi, keping serta separuh wajah Ivi menempel di dada Nathan yang masih ada tetesan air disana.
" Ah! " Ivi menjauhkan dirinya seketika karena menyadari jika Nathan lah yang ada disana. Bukanya menjauh, kaki Ivi tiba-tiba gontai dan hampir saja jatuh. Untunglah, Nathan sigap menahan tubuhnya agar tidak terbentur di lantai.
Beberapa detik mereka tertahan dengan posisi seperti orang berdansa, tatapan mereka juga bertemu dengan intens. Tapi saat tetesan air jatuh ke wajah Ivi, barulah dia tersadar.
" Apa-apaan?! lepaskan aku! "
Nathan yang masih merasa kesal dengan Ivi, dia akhirnya melepaskan tubuh Ivi begitu saja.
" Ah! " Pekik Ivi karena tubuhnya terjatuh ke lantai.
" Nathan! kau ini jahat sekali, sih?! " Protes Ivi sembari memegangi pinggangnya yang terasa sakit.
" Kau lebih jahat! "
Ivi terperangah bingung mendengar ucapan Nathan.
" Memang aku melakukan apa? " Tanya Ivi seraya bangkit dari posisinya.
Nathan membuang wajah kesalnya begitu saja.
Memang melakukan apa? dasar tidak peka! jelas-jelas kau membuat ku berimajinasi liar. Aku bahkan sudah bereaksi, tapi kau masih mendiamkan ku begitu saja. Kau pikir, bagian bawah ku akan tenang hanya dengan melihat punggung mu?
" Hei, Nathan. Seharusnya aku yang merasa kesal. Kenapa malah kau yang seperti gadis ABG sedang marah sih? "
Nathan menatap Ivi sesaat lalu kembali mengacuhkannya. Dia lebih memilih untuk mengambil baju gantinya dari pada bertengkar tidak jelas.
" Nathan, dengar ya? aku berada di depan pintu kamar mandi, itu karena aku mengkhawatirkan mu. Lagi pula, kau sendiri kan yang tiba-tiba membuka pintu? " Gerutu Ivi yang terus mengekor kemana kaki Nathan melangkah. Dia asyik saja mengoceh tanpa perduli kalau Nathan ingin mengganti pakaian. Semakin sebal dengan mulut Ivi, Nathan menanggalkan begitu saja handuk yang melilit di pinggangnya.
" Ah! " Pekik Ivi sembari menutup kedua mata menggunakan tangannya.
" Nathan, harusnya kau bilang kalau mau melepas handuk. " Protes Ivi.
" Baiklah, aku akan membuka handukku. "
" Sudah terlambat! "
" Oh. "
Nathan tersenyum saat tak sengaja melihat kebelakang. Ivi benar-benar rapat menutup kedua mata dengan tangannya. Padahal kalau mau melihat dengan jelas, Nathan menggunakan celana pendek.
" Apa sudah selesai? " Tanya Ivi tanpa mengubah posisinya.
" Hem.... " Jawab Nathan.
Ivi menyingkirkan tangannya lalu menatap Nathan. Yah, meskipun tidak mengenakan baju, tapi Nathan sudah memakai celana pendek. Batin Ivi.
Nathan dan Ivi saling menatap dengan pemikiran mereka masing-masing. Ivi menatap bingung, sementara Nathan mulai kembali terpancing oleh sesuatu yang menyiksanya beberapa saat lalu.
" Na Nathan, ke kenapa kau menatapku begitu? "
Nathan meraih tangan Ivi, menarik tubuh Ivi dan mendekatkan ke tubuhnya.
To Be Continued.