Touch Me!

Touch Me!
S2- Keenan atau Zadet?



Setelah mengetahui permasalah dua sahabat kembarnya, Keenan dan Zadet kini tengah merundingkan sesuatu bersama dengan si kembar Nathania dan Nathalie. Awalnya sungguh sangat malas Nathania dan Nathalie menyetujui pertemuan ini. Tapi mau bagaimana lagi? alasan persahabatan lah, segala di bawa-bawa oleh Keenan. Mau tidak mau Nathalie dan Nathania menyetujui ajakan mereka berdua untuk bertemu di sebuah kafe.


Keenan yang menyebalkan itu terus tersenyum menatap Nathalie seolah begitu terpesona. Tentu saja ini membuat Nathalie begitu risih. Bahkan, tangannya juga sudah gatal ingin mensleding wajah sialan yang penuh dengan khayalan fantasi bagian kewanitaan. Tapi untunglah, saat ini banyak sekali orang di sana. Cih? kalau tidak, habislah wajah sialan itu. batin Nathalie menggerutu kesal.


Lain dari Zadet. Pria itu nampak dingin tapi matanya terus saja mencuri pandang saat Nathania sedang tak memperhatikannya. Nathania memang tak melihatnya karena dia sama sekali tidak perduli dengan dua pria yang mengaku sahabat tapi memiliki niat terselubung bagaikan udang di balik bakwan.


" Jadi, bagaimana kalau kami saja yang membantu kalian berdua? "


" Uhuk! Uhuk! " Nathania dan Nathalie kompak tersedak es kopi yang dengan kompak mereka minum. Entah setan apa juga yang masuk ke dalam tubuh kedua pria dihadapannya, mereka hari ini benar-benar sangat perhatian. Dengan kompak mereka menyodorkan tisu untuk menyeka es kopi yang berantakan di mulut dan juga tangan mereka.


Dengan cepat mereka mengambil tisu itu dan menyeka baberapa bagian yang terkena es kopi. Setelah selesai dengan kegiatan itu, Nathania dan Nathalie kompak menatap Zadet dan Keenan dengan tatapan tajam tapi tentu saja mereka sama sekali tidak paham dengan apa arti tatapan itu.


" Kalian sadar apa yang kalian katakan? " Tanya Nathania seolah mewakili apa yang akan di tanyakan oleh Nathalie.


" Tentu saja kami tahu. Kami juga sudah merundingkan tentang hal ini. Lagi pula, dari pada kalian mengaku di hamili oleh kakak kedua, bukannya lebih masuk akal kalau mengaku kepada empat tetua kalian bahwa kami yang menghamili kalian? benar kan? " Keenan tersenyum percaya diri. Zadet memang jarang sekali bicara sedari kecil. Dia hanya mengandalkan Keenan saat ingin berbicara panjang lebar.


Nathalie menghela nafasnya.


" Lalu, boleh aku tanya sesuatu? " Nathalie menatap kedua pria itu bergantian dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


" Tanya saja. " Ujar Keenan dan langsung di angguki oleh Zadet tanda bahwa dia juga tidak keberatan.


" Baiklah, aku akan memulainya dari Zadet. " Nathalie menatap Zadet tegas dan menyelidik mencari kesungguhan dari jawaban yang akan keluar dari mulut Zadet nantinya. Tangannya juga tergeletak dengan posisi mengepal entah apa yang akan di lakukan Nathalie. Zadet juga hanya mengangguk sekali lagi dengan tatapan yang seolah-ilah dia akan mengatakan yang sesungguhnya.


" Di antara kami berdua, siapa yang akan kau tolong? "


Zadet menelan salivanya sembari terdiam sesaat. Tidak tahu mengapa, rasanya pertanyaan dari Nathalie ini mirip dengan desak kan untuk menyatakan cinta. Gugup, dan juga tidak percaya diri tiba-tiba Zadet rasakan. Mencoba merilekskan tubuhnya juga rasanya sangat sulit. Tangannya perlahan mulai mengepal mencari kekuatan yang bisa mendatangkan kekuatan untuknya.


" ah,! terlalu lama. Kau di diskualifikasi. " Tegas Nathalie yang memang terkenal tidak sabaran seperti Ayahnya. Kini tatapan menyelidik Nathalie berarah kepada Keenan.


" Tunggu! aku akan menjawab sekarang. " Sela Zadet saat Nathalie akan mulia mengajukan pertanyaan kepada Keenan.


" Kau, sudah di diskualifikasi." Kesal Nathalie.


" Tidak bisa! " Tegas Zadet.


" Bisa! "


Nathania bengong begitu kalimat yang di ucapkan Zadet selesai. Sungguh sangat mencengangkan bukan? kalau di pikir-pikir, saat kecil mereka tumbuh bersama. Mandi di kolam renang bersama, makan bersama, menangis sampai keluar ingus bersama, jatuh ke lumpur juga bersama, rasanya begitu banyak memalukan yang terjadi bersama. Menikah? hah?! apa-apaan?!!


" Zadet, lebih baik kau tarik lagi kata-katamu. Aku tidak mau menikah dengan mu yang alam salju. Dekat dengan mu saja, aku berasa terkena badai salju. Ya ampun, menikah? bisa-bisa aku mati berdiri di altar pernikahan karena beku nantinya. " Kilah Nathania. Tentu lah saja dia tidak mau mengatakan yang sebenarnya meski menikah dengan Zadet bukan hal buruk untuk menghindari perjodohan.


" Aku akan mencoba menjadi pria yang hangat untuk mu. " Ujar Zadet tanpa ekspresi.


Nathania dan Nathalie menatap Zadet heran. Mereka juga kompak mengusap tengkuk dan lengan mereka karena bergidik mendengar serta melihat wajah Zadet saat mengatakan itu.


" Kata-kata mu memang sangat manis, Zadet. " Ucap Nathania yang masih terlihat bengong. Zadet tersenyum tipis mendengar pujian dari Nathania.


" Tapi ekspresi wajah mu saat mengatakan itu, kenapa terdengar seperti sedang mengancam seorang maling?! " Hilang sudah senyum tipis di bibir Zadet. Bahkan rasa bahagia yang seolah membuat dirinya menari-nari di dalan angan-angan langsung berterbangan hilang tanpa jejak.


" Maaf, Nana. Tapi aku sungguh-sungguh ingin membantumu. " Zadet menatap Nathania dengan kepercayaan diri yang begitu memancar. Sejujurnya cara Zadet mengatakan itu cukup membuat hati Nathania tersentuh. Haih...! kalau saja dulu mereka tidak pernah bertelanjang saat kecil, mungkin Nathania tidak akan menolak Zadet.


" Baiklah, nanti itu akan di putuskan oleh Nana. Sekarang, aku akan bertanya padamu, Keenan. Pilihan mu hanya tinggal aku. Tapi, aku tidak akan meminta mu memilih ku karena aku juga tidak sudi. Sekarang, katakan kepada kami. Kau ingin membantu Nana tau kau akan membantu ku? "


Keenan tersenyum lalu dengan percaya diri menatap Nathalie.


" Tentu saja, aku akan membantu mu my bolo-bolo. "


Nathalie memejamkan mata lalu menarik nafas dalam-dalam agar membuang kekesalan setelah mendengar ucapan Keenan.


" Keenan, lebih baik kau jangan bercanda. "


" Tidak, aku serius kok. "


Nathalie menatap Nathania lalu menggenggam tangannya erat. Pandangannya juga terfokuskan kepada dua bola mata cantik milik Nathania.


" Nathania, saudara kembar ku uang paling aku cintai. Tolong, masukkan Keenan ke dalam daftar mu. Sekarang pilihlah di antara mereka berdua, siapa yang akan kau nikahi. "


Zadet menatap Nathalie kesal. Begitu juga dengan Keenan. Sungguh, rasa di hatinya untuk Nathalie itu sudah ada semenjak usia mereka enam belas tahun. Tapi karena otaknya selalu mengingatkan jika Nathalie adalah anak dari Sabahat Ayahnya dan sudah di anggap keluarga oleh orang tuanya. Maka dari situlah Keenan mencoba mengubur perasaan itu dengan mengencani banyak gadis dan berusaha sangat keras untuk melupakan Nathalie. Tapi apa boleh buat, setiap hari rasa itu semakin tak terkendali. Apalagi saat dia mendengar Nathalie akan di jodohkan, dia semakin tidak bisa menahan diri lagi.


" Jadi Nathania sayang, pilih lah sekarang. Kau mau Zadet atau Keenan? "


To Be Continued.