
Nathan dan Ivi masih berada di tatapan satu jarak lurus saling menatap. Sejujurnya, Nathan tidak ingin bergerak lebih dulu, tapi saat melihat Ivi begitu menggemaskan dengan tingkah polah nya, ditambah lagi mulut cerewet yang selalu saja bergerundel kesana kemari tidak jelas. Mulanya Nathan pikir, mengancam Ivi dengan tatapan aneh itu akan membuat mulut Ivi berhenti mengoceh, iya memang sih berhenti, tapi berhentinya ocehan Ivi membuat mereka berdua dalam keadaan aneh yang tidak bisa mereka ungkapkan melakui kata-kata.
Debaran jantung yang saling menyahut, tatapan mata ya g begitu intens antara satu sama lain, hangat kulit mereka saat bersentuhan juga menimbulkan sensasi tersendiri. Entah itu terkejut hingga tidak bisa berkata-kata, ataukah ini yang namanya terpesona?
" Nathan? " Panggil Ivi pelan, tatapannya juga masih tertuju ke arah manik mata Nathan.
" Nathan,.. " Panggil lagi Ivi. Sejujurnya, tentulah Nathan bisa dengan jelas mendengar Ivi memanggilnya. Tapi entah mengapa, melihat wajah Ivi sedekat itu membuat Nathan lebih tertarik untuk menatapnya intens. Tak berhenti menatap, Nathan menyusuri wajah Ivi menggunakan tatapannya. Mulai dari manik mata hitam yang menatapnya lekat, dahinya, pipinya, hidungnya, dan bibir tipis yang terlihat begitu menggoda.
Nathan semakin tak bisa lepas pandang dari bibir Ivi. Perlahan, dia semakin mendekatkan wajahnya. Dan entah apa juga yang terjadi dengan Ivi, dia dengan pasrahnya menutup mata menyambut bibir Nathan yang sedikit lagi akan berlabuh di bibirnya. Tidak tahulah! mungkin ini karena pengaruh dari Ibu mertuanya yang sangat mesum itu.
Cup....!
Memang tak sebuas ciuman seperti yang dijelaskan oleh internet. Tapi Nathan dan Ivi terasa begitu menikmati sentuhan bibir mereka meski tak ada pergerakan yang menuntut. Nathan menjauhkan wajahnya lalu menempelkan dahinya dengan dahi Ivi. Manik mata mereka terbuka dan kompak saling menatap.
" Mari kita coba! " Ucap Nathan tanpa menjauhkan wajah mereka.
" Co coba apa? " Tanya Ivi gugup.
" Membuat anak. Aku juga tidak memiliki pengalaman, tapi kita kan bisa mencobanya bersama. "
Ivi masih menatap Nathan dengan tatapan kaget. Memnag benar, ini lah ya g sedari tadi ia pikirkan. Tapi tidak tahu, rasanya sangat aneh dan begitu membuat gugup. Sebelumnya juga mereka belum pernah dekat. Tiba-tiba menikah, dan harus segera memiliki bayi.
" Ta tapi, "
" Aku tahu kau gugup. Aku juga gugup. Tapi kita kan suami istri, kalau bukan dengan mu, aku tidak mungkin melakukan ini. "
Ivi menatap intens manik mata Nathan. Lama dia mencari kebenaran dari ucapan pria ya g sudah menjadi suaminya itu. Benar, tatapan penuh keyakinan itu, seolah meyakinkan Ivi bahwa apa yang dikatakan Nathan adalah yang sebenarnya.
" Nathan? "
" Em? " Jawab Nathan, sesungguhnya pria itu benar-benar sudah tidak tahan lagi. Tapi mau bagaimana? dekat terus menerus dengan Ivi membuat dirinya kehilangan kontrol. Selama di dalam kamar mandi tadi, Nathan sudah memikirkannya dengan sangat matang. Gengsinya memang perlu ia binasah kan agar semuanya lancar. Nathan berpikir, jika kedua manusia yang memiliki jarak tapi masih diam di tempat, bagaimana mereka bisa dekat? entah bagaimana perasaan Ivi, tapi menurut Nathan, dia harus segera melangkah agar jarak di antara mereka terkikis.
" Tapi, Nathan. Kita kan belum sedekat itu? kita juga tidak berpacaran seperti kebanyakan pasangan suami istri yang sebenarnya kan? "
" Tentu saja. Maka dari itu kita harus membiasakan diri untuk dekat. "
" Begitu ya? " Tanya lagi Ivi untuk memastikan.
" Kenapa kau menatapku seperti itu? apa arti dari tatapan mu itu? " Tanya. Nathan dengan nada ketus.
Tadinya, Ivi ingin sekali mencekik leher Nathan, lalu membungkam mulutnya dengan menyumpal nya dengan sendal jepit. Sayang, sekarang ini dia tidak sedang memakai sendal jepit. Dan tidak mungkinkan dia menyumpal mulut Nathan menggunakan busa bra nya?
" Tidak bisakah jangan menghina dia? dia tidak membuat kesalahan, tapi kau selalu saja menghinanya. "
Nathan berdehem sembari mengalihkan pandangan ke arah lain. Memang iya sih, tapi kalau mengingat Ivi yang selaku mrmuja-muja pria itu, rasa kesal selalu saja dirasakannya.
" Kenapa arah pembicaraan kita lama kelamaan jadi tidak jelas kemana arahnya? " Protes Nathan yang sudah tidak mau lagi membahas tentang pria yang dikagumi oleh Ivi.
Ivi menghela nafasnya. Matanya kembali menatap Nathan yang masih menatap ke arah lain. Entah dari mana perasaan kagum itu tiba, bibir Ivi tanpa di sadari kini tengah tersenyum. Jujur, dia tengah memperhatikan susunan wajah Nathan yang baru ia sadari jika Nathan adalah pria yang tampan. Meski jarang sekali Nathan tersenyum, tapi tiba-tiba Ivi teringat saat melihat Nathan tersenyum. Benar, Ivi baru menyadari jika Nathan memang sangat mempesona saat dia tersenyum.
" Nathan? " Panggil Ivi.
" Em? " Nathan kembali menatap Ivi.
" Sepertinya, malam ini kau lebih tampan dari biasanya ya? " Jujur Ivi entah dari mana keberanian itu berasal.
Nathan sebenarnya ingin sekali tersenyum, tapi melihat tatapan Ivi yang terus memperhatikannya, dia hanya bisa menahan diri seolah sudah terbiasa mendengar pujian seperti itu. Tapi lain, bahkan sangat lain apa yang ada di dalam hatinya. Saat ini wajahnya penuh dengan simbol hati dan di penuhi bintang serta efek warna warni yang menggambarkan kebahagian. Dia juga berlarian kesana kemari merayakan kebahagiaannya.
" Sudah biasa. " Ujar Nathan.
Ivi menjebikkan bibir lalu tersenyum setelahnya. Entahlah, apakah jarak mereka sudah semakin dekat? apakah mereka bisa menjalani kehidupan sebagai mana suami istri lainya? apakah mereka bisa saling mencintai seperti seharusnya? Ivi memang terlalu bodoh karena tidak bisa memahami perasaannya sendiri. Sementara Nathan, pria itu menyadari jika memiliki rasa yang tidak biasa kepada Seorang Ivi. Tapi gengsi yang begitu besar, rasa itu akhirnya tertutupi dan semakin tidak terbaca oleh Ivi.
" Apa kita tidak jadi belajar membuat anaknya? " Tanya lagi Ivi. Sebenarnya memanglah ada rasa malu, tapi dia juga akan mendapatkan banyak keuntungan kalau sudah punya bayi kan?
Nathan menelan salivanya sebelum menatap manik mata Ivi. Sial! keberaniannya sudah menghilang.
" Kau serius? " Tanya Nathan yang tak berani menatap manik mata Ivi.
Ivi mengangguk cepat. Belajar kan? batinnya bertanya. Belajar, yang dimaksud Ivi hanya mempelajari teknisnya dulu, prakteknya bisa nanti kan?
Nathan perlahan-lahan memberanikan diri menatap Ivi. Bibir yang tersenyum itu benar-benar membuat Nathan gugup. Tapi saat pandangannya turun ke bawah, cepat dia kembali memiliki gairah. Perlahan dia meraih pundak Ivi. Mendekatkan tubuh mereka, perlahan tapi pasti, Nathan mulai kembali mencium bibir Ivi lembut. Tapi tidak tahu siapa yang memulai, lama kelamaan ciuman itu semakin mengganas dan menuntut. Nathan juga tidak tahu dari mana ilmu itu berasal, dia hanya mengikuti instingnya saja. Dengan beberapa kali gerakan, Nathan sudah membawa Ivi ke tempat tidur, dan menjatuhkan tubuh mereka disana tanpa melepas bibir mereka.
To Be Continued.