Touch Me!

Touch Me!
Jebakan



" Cantik. " Ucap Ergen saat melihat Vanya duduk berseberangan dengannya.


Vanya tersenyum. Jujur saja, dia sengaja menggunakan dress pemberian Nath. Dress selutut berwarna Dark grey yang dihiasi dengan beberapa Swarovski di bagian lehernya. Dress ini secara khusus di rancang hanya untuk Vanya seorang. Yang berarti, hanya Vanya yang memilikinya.


" Terimakasih. "


Sementara di sudut ruangan yang tak jauh dari mereka, sepasang mata tengah memperhatikan segala gerak gerik mereka. Siapa lagi kalau bukan Nath. Kehadirannya juga disadari oleh Vanya. Bagaimana tidak? Nath sudah menunggu diparkiran apartemen Vanya, bahkan sebelum Vanya mandi.


Nath kini menggunakan topi hitam. Jaket kulit berwarna hitam dan tidak lupa, memakai kaca mata hitam. Kenapa memakai kaca mata hitam? tentu saja untuk menyembunyikan matanya yang selalu memperhatikan Vanya dan Ergen.


" Vanya, apa yang ingin kau makan? " Tanya Ergen sembari menyerahkan menu makanan.


Vanya menerimanya dengan anggun. Sejenak dia melihat menu makanan.


" Baiklah, aku mau Gyoza dan lemon tea. Sepertinya ini enak. " Pinta Vanya.


" Pilihan yang sederhana tapi enak. " Ujar Ergen sembari menutup buku menunya.


" Aku juga mau. " Timpal Ergen.


Setelah beberapa saat, makanan yang mereka pesan akhirnya datang.


" Makanlah, Vanya. " Ergen tersenyum melihat Vanya yang juga tengah tersenyum menatapnya.


Sialan! kenapa Vanya terus-tetusan tersenyum sih?! murah senyum itu bagus. Tapi kalau kemurahan ya tidak baik juga kan?! Gumam Nath didalam hati.


" Terimakasih. "


Cih! mengucapkan terimakasih saja, harus dengan wajah manis begitu ya? dasar wanita! apa tidak bisa fokus dengan satu pria?! kenapa disana di sini hanya menggoda pria! membuatku repot harus mengikuti kan?! Gumam Nath yang masih tajam menatap Vanya.


" Vanya, kau sudah memiliki kekasih? " Tanya Ergen setelah mereka menghabiskan makam malamnya.


Deg......!


Entahlah, Nath menjadi begitu takut mendengarnya. Ada perasaan campur aduk yang tidak bisa ia jelaskan hanya dengan kata-kata. Tapi yang pasti bisa ia rasakan, adalah harapan, harapan bahwa dia adalah orang yang itu. Meski kini ia mulai menyadari. Jika ada Gaby yang sudah menjadi tunangannya. Tapi, entah bagaimana caranya, ia begitu tidak perduli. Rasanya, segala hal tentang Vanya begitu penting.


Vanya terdiam untuk sesaat. Dia tahu benar, Nath pasti mendengarnya. Tapi, sebisa mungkin ia tersenyum di depan Ergen.


" Aku bahkan sudah memiliki anak. " Akhirnya, Vanya memilih untuk mengatakan yang sebenarnya. Kenapa? karena dia yakin. Yakin akan cinta yang Nath miliki tidak akan bisa dipengaruhi oleh hipnotis atau apapun itu.


" Apa?! " Ergen benar-benar terkejut. Rasanya tidak mungkin sekali kalau Vanya memiliki anak dengan tubuh seramping itu?


" Kau begitu terkejut ya? " Tanya Vanya yang begitu tidak enak saat melihat wajah Ergen. Vanya sadar benar, kini ia tengah mempermainkan perasaan seseorang. Tapi, bukankah dari awal dia hanya ingin meminta maaf dengan benar? jadi bukan salahnya kan? huh...! akhirnya dia tidak perlu merasa tidak enak lagi.


" I,iya. Kalau begitu, apa suami mu tidak marah kau pergi ke sini? " Tanyanya lagi.


" Tidak. Dia tidak mengingat kami. Dia melupakan kami. " Ucap Vanya dengan wajah sendu.


Nath mengalihkan pandangannya. Tidak tahu harus apa. Air mata juga tiba-tiba jatuh di pipinya.


Anak? jadi dia sudah punya anak? dan suami? apa maksud suaminya melupakannya dan anak mereka? kenapa? kenapa hatiku yang sakit?


" Apa maksudnya, Vanya? " Tanya Ergen.


" Karena sesuatu, dia melupakan kami. Aku dan Nathan kecilku, selalu menunggunya. Menunggu untuk dia kembali. Menunggunya memenuhi janjinya untuk kembali. " Tak terasa, air mata lolos membasahi pipinya.


" Nama anakmu, Nathan? " Tanya Ergen lagi.


Vanya tersenyum mengangguk sembari menghapus air matanya.


" Maaf, Vanya. Aku tidak bermaksud membuatmu menangis.


" Tidak. Tidak apa-apa. Ini bukan karena mu. Ini karena aku sangat merindukannya.


Nathan! kenapa nama anaknya sama dengan namaku?sebenarnya ada apa? kenapa begini? kenapa pikiranku jadi kacau? kenapa sebenarnya.


Merasa tidak kuat lagi, Nath bangkit dari posisinya dan pergi meninggalkan Vanya dan Ergen. Dia mengambil kunci mobilnya lalu langsung mengendari mobilnya.


" Kenapa?! kenapa aku yang begitu sedih? apa karena aku menyadari? jika Vanya sudah memiliki anak dan suami? kenapa hatiku sedih? aku bahkan, merasa sangat sakit saat melihat Vanya menangis.


Nath mencengkram kemudinya sekuat tenaga. Benci! dia benar-benar membenci dirinya sendiri. Dia membenci keadaan yang membuatnya menjadi gila seperti ini. Dia bahkan hampir tidak perduli dengan tunangannya sendiri.


Dia juga kesal, karena semenjak kembali ke indonesia, dia merasa di mata-matai. Entah siapa yang akan disalahkan sekarang ini. Nath menghentikan mobilnya karena merasa sudah tidak konsentrasi lagi. Dia mencoba mengatur nafasnya yang tidak beraturan karena Manahan gejolak dihatinya.


" Lexi! aku harus menanyakan kepada Lexi. Untuk detailnya, Kevin pasti tau dengan jelas. Sayang sekali, Dokter sok keren itu sedang bertugas malam ini.


Nath mengatur nafasnya dan mencoba menenangkan dirinya. Sebentar dia menyenderkan tubuhnya. Wajah manis Vanya saat tersenyum, membuatnya perlahan melupakan kegundahan dihatinya.


" Vanya,.... bagaimana aku bisa segila ini? " Gumam Nath lalu kembali menekan starter mobilnya dan melanjutkan perjalanan menuju kediaman Lexi.


Sesampainya disana.


" Eh, Nath? kau juga datang? kau tahu tentang ini? kenapa kalian merahasiakan ini dari Bibi? kau datang sendiri? dimana nak Kevin? tumben sekali kalian tidak datang bersamaan? " Tanya Ibunya Lexi yang langsung menghujani Nath dengan banyak pertanyaan.


" Eh? " Nath hanya bisa kebingungan menanggapi pertanyaan yang entah apa maksudnya.


" Ayo masuk Nath. " Ibunya Lexi langsung meraih lengan Nath dan menuntunnya untuk ikut masuk kedalam.


Jeng....! jeng.....!


Nath membeku melihat banyaknya orang yang tengah berkumpul. Seperti sedang merundingkan sesuatu. Nath beralih menatap wajah Lexi yang nampak kusut tak berekspresi. Padahal, biasanya, dia akan memasang wajah sengut saat berada di rumahnya.


" Ayo duduk, Nath. " Ajak Ibunya Lexi.


Nath hanya bisa diam dengan tatapan penuh tanya menatap Lexi.


Lexi hanya bisa menunjukkan wajah sedihnya. Itu terlihat, dari dua alis yang saling berdekatan dan turun ke bawah. Nath hanya bisa menghela nafas dan diam. Mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi.


" Jadi, kapan pernikahan anak-anak kita akan dilangsungkan? " Tanya Ibunya Lexi dengan begitu antusias.


Nath mengerutkan dahinya bingung. Dia hanya bisa membatin tanpa ekspresi.


Menikah? dengan siapa? Lexi kan tidak pernah memiliki hubungan asmara. Dengan siapa? apa kali ini Lexi menyetujui perjodohan? tapi, kalau dari wajah Lexi, kelihatannya dia keberatan.


" Lebih baik sesegera mungkin, Nyonya. " Balas Wanita paruh baya itu tak kalah antusias.


" Bagaimana, kalau lusa? " Ibunya Lexi memberikan usulan yang hampir mencekik mati leher putranya sendiri.


" Apa?! lusa?! tidak! jangan Ibu! " Lexi benar-benar masih tidak bisa menerima kenyataan ini.


Ya tuhan,... apa salahku? kenapa aku harus menikahi mulut kubangan itu? kenapa juga Ibunya si mulut kubangan bisa tahu dimana aku dan orang tuaku tinggal?


" Menikah? " Tanya Nath yang masih kebingungan.


" Iya. Ngomong-ngomong, terimakasih ya Nath. Karena kau merekrut Devi sebagai asisten mu, dengan begitu mereka akan saling bersama Sepanjang waktu.


" Hah? Devi? Lexi akan menikah dengan Devi?


" Iya.


Nath menatap Lexi yang semakin lesu. Dia tersenyum mengingat betapa mereka tidak akur. Bahkan, tidak jarang mereka saling melempar cacian dan tatapan sinis. Nath semakin senang mengingatnya. Kira-kira, akan jadi seperti apa kalau mereka menikah?


Nath kembali melirik ke arah Lexi yang juga menatapnya dengan tatapan memohon.


" Ah,.. pantas saja. Mereka begitu mesra. " Ujar Nath sembari manggut-manggut. Dia benar-benar ingin melihat Lexi menikahi Devi.


Duar......!!


Makin tersiksa rupanya Lexi. Bukanya mendapat bantuan dari Nath, pria yang dia anggap sahabat sejatinya justru menjerumuskannya ke dalam lubang kesengsaraan.


Sungguh, dia ingin sekali memcabik-cabik wajah polos Nath saat berbohong itu.


" Benarkah? " Nampak Ibunya Lexi dan Ibunya Devi antusias untuk memastikan kebenaran dari ucapan Nath.


" Iya. Mereka saling membantu setiap saat. Mereka juga begitu perduli satu sama lain. Mereka begitu kompak. Bahkan, dalam hal makanan pun, mereka tidak pernah membiarkan salah satu dari mereka kelaparan.


Lexi semakin terperangah tidak percaya.


Kompak? begitu perduli? Sialan!!! tentu saja kami kompak! kalau tidak, semua pekerjaan akan terbengkalai!!! makan pun terpaksa harus bergantung satu sama lain. karena waktu untuk makan sangat terbatas! dasar sialan!.


" Ya ampun,... mereka benar-benar pasangan sejati. " Ujar Ibunya Devi.


" Iya, Bibi. Aku juga iri. Kenapa mereka begitu saling mencintai. " Timpal Nath.


Sialan! brengsek kau Nath! tutup mulutmu! andai saja tidak ada orang tua ku, aku pasti akan menyumpal mulut busuk mu itu dengan kaos kaki ku yang tidak aku cuci satu bulan.


" Kami benar-benar tidak sabar untuk melihat mereka menikah. " Ujar Ibunya Lexi yang kini sangat kegirangan.


" Iya, aku juga Bibi. Padahal, Lexi pernah mengatakan ingin segera menikah. Saat ini, dia pasti sangat bahagia sampai lupa caranya mengekspresikan rasa bahagianya. " Ucap Nath sembari menatap Lexi. Bibir Nath benar-benar tidak bisa berhenti tersenyum.


Sialan! apa-apan orang ini?! dia ini temanku atau musuhku? atau teman rasa musuh? cih! aku bersumpah Nath. Di malam kau dan Vanya bersatu kembali, aku tidak akan membiarkan kalian menghabiskan malam dengan indah.


" Baiklah, Fix! lusa, Lexi akan menikahi Devi. " Ibunya Lexi membulatkan niatnya.


Ibunya Devi tersenyum sembari menganggukkan kepalanya beberapa kali.


Ah, calon mantu idaman. Selamat datang.... akhirnya, aku berhasil menjebak si ganteng nan pintar ini. Ah, melihat Nath dan Lexi, sebenarnya aku agak bimbang. Dua-duanya benar-benar bibit unggul. Tapi ya sudahlah,.. Lexi terlihat lebih cocok untuk si anak sialan yang suka membantah itu. Heh,... lihat kan? Ibumu ini selalu berhasil dalam hal apapun. Haha.....


To Be Continued.