Touch Me!

Touch Me!
S2- Penasaran



Ivi mengemudikan sepeda motornya dengan perasaan sebal. Ini sudah malam tapi dia harus berada di perjalanan. Membayangkan akan kena semprot Ibunya saja sudah membuat jantungnya berdebar tidak jelas. Lalu bagaimana kalau Ayahnya juga ikut memarahinya?


" Ah dasar sialan! ini gara-gara Upin dan Ipin yang hobi sekali memesan ayam! gara-gara kalian aku harus bekerja sampai malam seperti ini. Untung saja aku memakai helm, kalau tidak pasti jutaan pria sudah memuji kecantikan ku dan merebutkan ku. "


Ivi terkekeh sendiri dengan apa yang dia ucapkan. Sebenarnya dia memang tidak yakin kalau dia itu cantik. Orang tua dan Bos nya sudah sering menasehati untuk memanjangkan rambut, tapi karena dia merasa risih, dia selalu memangkas rambutnya menjadi pendek. Sebenarnya rambut sebahunya yang sekarang sudah cukup panjang baginya. Biasanya dia akan menggunakan model laki-laki, tapi karena sering di marahi oleh Bosnya terpaksa dia menahan diri. Ditambah lagi dia ingin menjadi seperti tipenya Bien.


" Hahaha.... membayangkan wajah kakak Bien benar-benar membuat ku bahagia. Rasa lelahku juga sirna seketika. Oh kakak Bien, I lopek you!!!! aku cinta kakak Bien......!!! " Teriak Ivi tanpa perduli banyaknya para pengendara sepeda motor lain yang menggeleng keheranan.


Sesampainya dirumah, Ivi berjalan dengan kaki berjinjit agar tak mengeluarkan suara. Maklum saja, Ibunya sangat tidak suka kalau Ivi tidak pulang tepat waktu. Ivi bisa bernafas lega karena lampu ruang tengah sudah padam, itu berarti semua orang sudah tertidur. Ivi mengelus dadanya dengan batin yang terus bersabar.


Klak....


Lampu tiba-tiba menyala, dan tiga jin penunggu rumah sudah berbaris dengan wajah menyelidik dan ditambah lagi tangan mereka yang tengah bertolak pinggang.


Ivi memaksakan Bibirnya untuk tersenyum dan menyapa kedua orang tua serta kakak laki-lakinya.


" I Ibu, Ayah, kakak. Ke kenapa kalian bertiktok ria? ini kan sudah malam. "


Kakak laki-laki Ivi menyeringai jahat. Sudah tahu jika dalam bahaya, Ivi menelan salivanya, was-was dengan rencana jahat bujang busuk itu. Maklum saja, dua hari yang lalu, saat kakak laki-lakinya yang bernama Dodi itu pulang terlambat, dia dengan semangat membara seolah tengah merayakan hari kemerdekaan, terus saja mengompori Ayah dan Ibunya untuk menghukum kakaknya. Dan itu berhasil, kakaknya dihukum tidur di teras rumah tanpa menggunakan lotion anti nyamuk.


" Ibu, anak gadis Ibu dan Ayah sudah melakukan kesalahan. Kira-kira hukuman apa yang paling cocok? "


Tanya Dodi lalu kembali menyeringai jahat.


" Suruh dia berdiri dengan satu kaki, kedua tangannya harus memegangi telinganya. " Jawab Ayah dengan wajah datar.


Ivi kini mulai berwajah sedih agar Ayah yang selalu memanjakannya luluh dan tidak memberinya hukuman.


" Aku malah ingin menggunduli rambutnya. " Ujar Ibu bersiap dengan menaikkan kedua lengan dasternya. Ivi memegangi rambutnya takut. Kalau saja dia tidak mengenal Bien, tentu saja dia dengan senang hati akan membiarkan Ibunya melakukan itu. Tapi kalau dia gundul sekarang, bisa-bisa Bien lari terbirit-birit saat melihatnya.


" Bagaimana kalau kita biarkan dia mencuci kamar mandi dan WC? bukankah itu lebih berguna? " Usul Dodi dengan senyum yang membuat buku kuduk Ivi bangkit.


" Iya kan adikku sayang? "


Ivi menggerakkan bibirnya tanpa suara menatap kakak laki-laki nya.


Adikku sayang kepalamu pitak! dasar kakak durhaka, jahanam,.lihat saja kalau kau sampai membuat kesalahan, aku akan membuat mendapatkan hukuman yang berat. Seperti, membangun rumah di tepian mangkuk!


Dido meraih kedua lengan Ayah dan Ibu dengan wajah yang di buat ketakutan.


" Ibu, Ayah. Lihatlah mata Ivi. Dia pasti sedang merencanakan hal jahat padaku. "


" Ivi! cepat jalani hukuman mu! "


Ivi berjalan menuju kamar mandi dengan wajah yang dia buat sesedih mungkin di depan Ayahnya. Tapi sayang sekali, Ayah nya terlihat tidak perduli dan mengacuhkannya begitu saja.


Tamatlah riwayat ku. Ayah tidak luluh dengan wajah sedihku.


Ivi menarik nafas untuk mengumpulkan segala kekuatannya. Tapi di lain sisi, Ayah kini tengah terduduk menangisi putri kesayangannya tang sedang membersihkan kamar mandi.


" Huhuhu... putriku malang sekali hukuman mu nak? maafkan Ayah yang tidak bisa membantumu. " Rintih Ayah sembari melirik ke arah Ibu yang hanya menggeleng dengan tatapan kesal.


" Setiap hari aku memasak, membersihkan rumah, mencuci bajumu dan anak-anak mu, aku juga harus menyiapkan bekal dan keperluan lain untuk kalian bertiga. Demi mengerjakan itu semua aku harus bangun pukul empat pagi. Kenapa kau tidak menangisi ku dan mengatakan istriku yang malang, dan meminta maaf seperti ini? " Kesal Ibu.


" I itu karena- "


" Ada apa?! " Tanya mereka kompak.


Ivi yang terlihat lelah dan penyedot WC ditangan kanannya menatap tajam manik mata orang tua dan kakak nya.


" Siapa yang baru saja membuang air besar?! "


Ayah dan Ibu kompak menoleh ke arah Dodi. Tentu saja laki-laki itu hanya meringis malu.


" Dasar sialan! apa kau makan limbah? kenapa tidak mendaftarkan ukuran kotoran mu ke rekor muri?! setiap kali kau BAB selalu mampet begini! aku akan membunuh mu! " Ivi mengejar Dodi dan siap menghantamkan penyedot WC kepada Kakaknya. Ibu dan Ayah mencoba melerai mereka. Cukup lama itu terjadi dan berhenti saat mereka merasa lelah. Akhirnya, mereka memutuskan untuk membersihkan kamar mandi bersama-sama dengan bercanda ria.


Setelah selesai dengan kegiatannya, Ivi kini tengah merebahkan tubuhnya di tempat tidur minimalis kesayangannya. Dia kembali membayangkan senyum Bien yang akan merekah saat bersamanya. Kedua sisi bibirnya terus tertarik saat otaknya mengingat nama Bien. Lelah dengan Bien yang ada di otaknya, lama kelamaan Ivi mulai tertidur dengan perasaan yang berbunga-bunga.


***


Ke esokkan paginya, seperti biasa, kini dia sudah standby di kios Hot Chicken untuk mengantar pesanan. Karena belum juga ada tugas, Ivi memutuskan untuk membantu dua pegawai yang bertugas mengantarkan makanan ke meja pelanggan.


" Ivi, antar ini ke meja nol delapan ya? " Pinta Ira.


" Ok Bos! "


Dengan semangat kaki Ivi melangkah menuju meja yang memesan dua menu breakfast itu. Tapi langkahnya tiba-tiba terhenti saat dua orang yang ia sebut pemakan ayam goreng, alias Upin Ipin tengah duduk dengan santainya. Satu pria gila itu juga melambaikan tangan dan tersenyum manis. (Sammy )


Dasar kutilang buntung!


Ivi tanpa mengatakan apapun langsung menyerahkan dua menu sarapan dan segelas susu disana.


" Silahkan dan selamat menikmati. " Ucap Ivi.


Nathan yang sedari tadi diam tak bergeming, sebenarnya dia terus melirik ke arah gadis itu. Itulah kenapa dia memakai kaca mata hitam dan enggan melepasnya.


Jadi sebenarnya yang mana namanya kakak Bien itu? perempuan ini benar-benar membuat ku tidak bisa tidur semalaman.


" Kaka Bien! " Teriak Ivi histeris.


Nathan dan Sammy kompak menoleh ke arah yang sama.


Jadi ini yang dia anggap bermiliar-miliar lebih tampan dariku? apanya yang tampan.


Tiba-tiba mode analisa otomatis Nathan mendeteksi.


Tingginya hanya sekitar seratus enam puluhan, matanya kecil seperti orang teler, ih! bibirnya sangat tebal setebal alisnya yang seperti ulat bulu menempel. Hidungnya juga tidak semancung hidungku. Kulitnya juga lebih mulus aku. Ya ampun, sebelah mana yang tampan? wanita itu buta atau apa sih? Pokoknya Nathan adalah yang paling tampan.


To Be Continued.


Hallo kesayangan? apa kabar? semoga kita dalam keadaan baik dan sehat ya?


Aku mau tanya nih, gimana pendapat kalian setelah di Bab 3 season 2?


Jangan lupa kasih komentar dan beri saran agar aku bisa memperbaiki kekurangan dari season 2 ini ya?..


Salam sayang, dan sehat selalu ya kesayangan.... by by