Touch Me!

Touch Me!
Terancam



Vanya masih kebingungan dengan sikap Nath yang sama sekali tidak terlihat marah. Sesekali, dia melirik untuk memastikan wajah Nath yang berekspresi. Jadi, dia mampu memprediksi marah atau tidaknya Nathan.


Didalam hati Vanya terus menebak-nebak. Apa begitu kesalnya Nath hingga tidak tahu bagaimana caranya untuk marah? tapi dia berterimakasih, jadi marah atau tidak? Vanya hanya bisa menebak tanpa ujung. Bagaimana tidak? Setiap kali Vanya melirik alias mencuri pandang ke arah Nath, laki-laki itu justru selalu terlihat tersenyum seolah tidak memiliki beban.


Vanya kembali melihat ke arah Nath, jiah....!!! lagi-lagi dia tersenyum. Semakin sering Vanya menoleh ke arah Nath, semakin kesal pula dia jadinya. Bukan karena Nath yang terlihat seperti orang bodoh, tapi dia kesal karena tidak tahu apa maksut ekspresi Nath yang begitu ambigu.


Sialan! dia sedang apa sih?!!!! kenapa dari tadi hanya menatapku dan tersenyum? dia ini bodoh atau apa sih?! kalau aku jadi dia, aku pasti sudah mengumpat hingga mulut ku kram. Apa ini sejenis hukuman ya? menatap dan tersenyum begitu, malah membuatku ingin gantung diri.


" Nath, apa tidak ada yang ingin kau bicarakan? " Akhirnya, Vanya mengawali pembicaraan dari pada terus melihat Nath tersenyum tanpa henti. Benar-benar lebih menakutkan dari orang murka. Batin Vanya.


" Ada. " Nath masih tersenyum.


" Ka, kalau begitu, ke,kenapa tidak bicara. " Lagi-lagi harus melihat senyum itu. Lama kelamaan malah membuat diabetes. Bisa-bisa jadi cepat mati. Batin Vanya bergumam.


" Tunggu saat kau keluar dari rumah sakit. " Senyum yang sedari tadi terlihat dibibir Nath, kini semakin mengembang sempurna. Ah,... rasa-rasanya, silau matahari bahkan tidak secerah senyum Nath. Bayangkan saja, mata hari saja sangat silau hingga tidak ada mata yang mampu menatapnya. Jadi, jangan mengharap bisa kuat melihat senyumnya Nath ya,...🤭🤭🤭


Me,menakutkan sekali. Ya Tuhan,... seandainya saja asal muasal mu adalah dari bulan, tolong! tolong bawa aku kembali ke bulan. Aku biasanya akan terpesona melihat senyumnya Nath, tapi senyum kali ini, membuatku merinding. Malah, sepertinya, bulu di sekujur tubuhku sedang berdiri hormat. Atau sedang upacara?


" Ke, kenapa harus menunggu keluar dari rumah sakit? sekarang saja. " Rumah sakit adalah pilihan tepat untuk berbicara sekarang ini. Nanti kalau sudah dirumah, seandainya kemarahan Nath yang sedari tadi ditahan memuncak, tiba-tiba Nath mencekik Vanya dan menguburnya hidup-hidup bagaimana? dirumah kan tidak seramai dirumah sakit. Setidaknya, Vanya bisa berteriak meminta tolong disini kan?


Nath menyentuh pipi Vanya. " Karena, " Nath mendekatkan bibirnya di telinga Vanya. " Aku akan melakukan hal yang ekstrim kepadamu.


Vanya terperangah mendengar kata-kata yang Nath ucapkan. Ekstrim? ekstrim?


Bagaimana ini? apa dia mau mengamputasi tubuhku? atau dia mau mengawetkan tubuhku lalu membuka museum pribadi? atau jangan-jangan, dia mau mengambil seluruh organ ku dan menjualnya?!


Nath kini terkekeh geli melihat ekspresi Vanya yang jelas sedang memikirkan hal yang tidak-tidak.


Berpikirlah sesukamu calon Istriku.


Beberapa saat kemudian, seorang suster mengetuk pintu sembari membawa nampan yang berisi semangkuk bubur dengan beberapa buah segar didekatnya.


" Makanlah,... kau harus banyak makan agar energi mu terisi penuh. " Nath menyodorkan sesendok bubur di depan bibir Vanya.


Vanya mengeryit bingung. Dia meraih sendok dari tangan Nath. Bagaiman bisa dia makan dari tangan yang seolah akan menghabisinya kapanpun dan di manapun.


" Vanya! " Panggil Nath yang merasa kaget melihat apa yang Vanya lakukan.


Vanya menoleh untuk menatap Nath yang juga menatapnya bingung. " Kenapa?


" Itu, kau salah mengarahkan sendok. Tadi kau menyuapi hidungmu bukan mulutmu.


Vanya terkesiap menatap sendok dan menyentuh hidungnya. Ya ampun! sialan! gara-gara terus memikirkan hal lain, aku sampai lupa letak mulutku.


Vanya menundukkan kepala sembari menatap bubur yang terlihat begitu menyebalkan dimatanya. Dia juga tak henti-hentinya mengutuk dirinya sendiri. Dia terus saja berpikir keras hingga tidak bisa berkonsentrasi lagi. Rasanya, jika Vanya melihat Larva, dia pasti akan menenggaknya tanpa perduli apapun lagi.


Vanya, janganlah berpikir buruk tentangku. Eh tapi, tidak apa-apalah. Melihatmu begini, lucu juga. Sekarang lupa dimana mulut. Besok apa lagi yang akan kau lupakan?


Setelah Vanya selesai memakan buburnya, Vanya kembali memulai pembicaraan. Dia masih saja kekeh tidak mau bicara saat berada dirumah.


" Nath, aku tahu kau sangat marah saat ini. Tapi aku ingatkan sesuatu ya? membunuh itu dosa loh ya.


Pft....! dia pikir aku akan membunuhnya? hahahaha


" Memukul wanita juga tidak boleh. " Vanya menimpali ucapannya.


Nath menatap Vanya yang masih ingin terus berbicara tentang kekerasan.


" Sayang, aku lebih suka menyiksa bukan membunuh.


Rugi sekali kalau membunuhmu.


" Apa?! " Vanya menatap Nath karena terkejut. " Menyiksa?! bagaimana kau tiba-tiba menjadi jahat begini?


" Bukankah itu yang sedari tadi kau pikirkan tentangku?


Eh? dia tahu ya? jadi dia benar-benar berniat jahat ya?


Meski kata-kata itu terdengar mengancam, entah mengapa Vanya merasa malu hingga rona merah menghiasi pipinya. Mungkinkah karena hembusan nafas Nath yang begitu hangat menyembur ke kulitnya?


yang jelas, Vanya kini sibuk merutuki dirinya yang seolah tidak tahu malu.


" Nath, bisakah kita bicarakan dulu disini? " Pinta Vanya dengan tatapan yang begitu memohon.


" Tidak mau.


" Tapi, Nath.


Nath merogoh saku untuk mengeluarkan ponselnya. " Bantu aku mengurus semua yang dibutuhkan. Hari ini aku akan membawa pulang Vanya.


Nath kembali menatap Vanya dengan seringai diwajahnya.


Matilah...... kenapa aku merasa terancam lagi sih?... hua hua hua


***


" Kenapa kau sangat menjengkelkan Nath?! urusan cinta pun aku harus membantu. Memang kau tidak bisa mengurus sendiri wanita mu?! kenapa selalu melibatkan ku? mau pamer begitu maksutnya? Cih! lihat saja nanti. Kalau aku sudah punya kekasih, aku akan memamerkan kemesraan setiap waktu dihadapan mu. Bila perlu, digigit nyamuk saja akan aku bawa ke dokter. " Lexi bergumam setelah panggilan telepon itu berakhir. Iya, memang siapa lagi yang begitu tersiksa karena kejombloannya kalau bukan Lexi?


Setelah beberapa saat. Nath sudah membawa Vanya pulang kerumahnya.


" Nath, kenapa kita pulang kerumah mu? tidak bisakah pulang ke apartemenku saja? Nathan pasti menungguku. " Pinta Vanya yang entah mengapa dia semakin gugup.


" Anak kita baik-baik saja. Sherin menjaganya dengan baik. " Ucap Nath sembari membukakan sabuk pengaman.


Kaki Vanya gemetar saat melangkah masuk kedalam rumah Nath. Oh, bukan hanya kaki. Tapi seluruh tubuhnya. Hingga rasanya, menuju ke kamar Nath saja, sudah seperti menuju ke neraka.


Vanya berdiri dengan jemari yang saling meremas.


" Kau selalu berpikir buruk tentangku. " Nath meraih dagu Vanya membuat manik mata mereka bertemu.


Meskipun aku benci mengakuinya, iya. Yang kau katakan memang benar. Tapi, jarak kita yang begitu dekat, membuatku malah berpikir lain.


" Karena memang begitu, maka aku akan..


" Akan apa? " Tanya Vanya yang begitu penasaran saat Nath tidak melanjutkan kalimatnya.


" Menjadi seperti yang kau pikirkan. Pertama, aku akan mengambil Nathan.


" Tidak! mana boleh begitu?! aku akan membunuhmu jika kau melakukannya.


Nath tersenyum dingin menanggapi ancaman Vanya. Mengatakan aku ingin membunuhmu saja, seluruh tubuhnya terlihat semakin gemetar.


" Seharusnya, kau memohon padaku untuk memaafkan mu kan? dengan begitu, tidak akan ada yang memisahkan mu dengan Nathan.


Vanya menelan salivanya. Benar, kenapa dia lupa akan hal itu?


" Baiklah,.. aku minta maaf atas semua kesalahanku Nath. " Vanya menatap Nath dengan tulus.


" Tidak semudah itu. Ada beberapa syarat yang harus kau penuhi.


" Apa?


" Beri tahu aku, caranya kau membuat ku ereksi disaat aku koma. " Bisik Nath.


Vanya menatap Nath dengan bibir terbuka karena terkejut.


" Aku kan sudah menceritakan semuanya. " Protes Vanya.


" Aku mau cerita itu di jelaskan memalui tindakan.


To Be Continued.