
Jika aku dan Lexi tidak ada di hidup Nath?
Kevin semakin erat mengepalkan tangan.
" Kenapa?! kenapa harus putraku?! kenapa tidak kalian saja yang sekarat?! " Ibunya Nath semakin kehilangan kendali.
Putramu sekarat karena ulah mu! aku tidak bisa melawan mu dan membantah ucapan mu. Tapi suatu hari nanti, kalian tidak akan berani mengatakan hal buruk lagi tentangku, maupun tentang Lexi.
" Maaf.. Tuan, Nyonya, jika kalian ingin mempercepat kematian Putra kalian, berteriak lah sekuat tenaga. "
" Kau! " Ayah Nath mengacungkan tangannya dengan maksut mengancam. Tapi, dia tidak lagi melanjutkan kata-katanya karena merasa jika ucapan Kevin ada benarnya.
" Aku akan membuat mu dipecat dari rumah sakit ini. " Ancamnya dengan nada yang sudah merendah.
Heh.....! lakukan saja! ini Rumah sakit ku. Mana bisa kalian memecat ku?
" Pasien mengalami pendarahan otak karena benturan yang sangat kuat. Pasien juga mengalami kerusakan syaraf.
Maaf Nath.
" Saya sarankan, agar memberikan ketenangan bagi pasien. Dan berdoalah agar mukjizat datang kepada pasien. " Ujar Kevin lalu bergegas pergi meninggalkan Kedua orang tua Nath.
Kevin menyeringai setelah jarak mereka cukup jauh.
Kevin kembali ke ruangannya untuk mengamati kembali hasil Ronsen Nath dan beberapa hasil pemeriksaannya.
Nath, bermimpi dan istirahatkan tubuhmu dua bulan ini.
Kevin mengeluarkan obat yang beberapa waktu lalu ia ciptakan. Sejenis obat tidur yang membawa efek rileks dengan jangka panjang. Awalnya, dia menciptakan obat itu untuk salah satu pasien yang mengalami depresi hebat. Dia memohon untuk di berikan obat tidur yang mengandung penenang dengan jangka panjang. Tapi, untuk efek sampingnya, Kevin sudah memastikan ke amannannya.
Tok....! Tok.....!
" Masuk! " Saut Kevin sembari memasukkan obat itu ke kantongnya.
" Selamat sore Dok, " Sapa seorang perawat setelah membuka pintu.
" Iya. Sore.
" Seseorang datang ingin bertemu.
Kevin sempat bingung, tapi dia hanya bisa mengangguk setuju. Siapa tahu itu pasiennya batin Kevin.
Suster itu mengangguk mengerti lalu pergi meninggalkan ruangan Kevin.
" Vin? " Sapa seorang gadis yang matanya sembab bahkan, masih ada genangan air mata di wajahnya.
Kevin menatapnya sedikit kaget. " Mage?
Kevin bangkit dari duduknya. Mage berjalan dengan cepat ke arah Kevin dan Bruk......!
Dia menjatuhkan tubuhnya seraya memegangi kedua sepatu Kevin. Mage juga mulai menangis sejadi-jadinya.
" Apa yang kau lakukan?! bangunlah! " Kevin meraih lengan Mage dan menuntunnya untuk duduk di sofa.
" Tolong, tolong izinkan aku menemui Nath, tolong Vin. Aku mohon..." Mage mengatupkan kedua telapak tangannya untuk memohon. Wajahnya juga tidak luput dari basahnya air mata.
" Kenapa kau memohon untuk bertemu setelah meninggalkannya?! " Tanya Kevin dengan nada membentak.
" Maaf....
" Maaf mu tidak ada artinya, Mage. " Ujar Kevin acuh.
Kevin menatap Mage dengan tatapan menyelidik. " Sejauh apa?
" Katakan terlebih dulu, apa Nath baik-baik saja? " Nampak ke khawatiran yang begitu jelas di wajah gadis cantik itu.
" Iya. Dia baik-baik saja. " Kevin tidak perlu ragu-ragu untuk berbicara, karena ruangannya kedap suara.
Mage menghapus air matanya, dia tersenyum mengetahui kabar Nath yang baik-baik saja. Dia mulai menenangkan dirinya dan bersiap menceritakan segalanya.
" Awalnya, Perusahaan Ayah dinyatakan bangkrut dengan waktu yang begitu tiba-tiba. Dua hari setelah itu, Ayah drop. Kami semua membawa Ayah kerumah sakit. Tapi, Ayah dinyatakan mengidap Kangker paru-paru stadium akhir. Meski kami tahu, Ayah sakit, tapi kami tidak menyangka jika akan separah itu. Karena keadaan keuangan yang begitu sulit, aku dan Ibuku meminjam kesana kemari. Tapi tidak ada satupun yang mau membantu kami. Aku ingin mengubungi kalian, tapi tidak ada satupun nomor kalian yang bisa dihubungi.
Kevin terdiam sembari mengingat. Ia, itu pernah terjadi memang. Tiba-tiba ponselnya kehilangan signal selama dua hari full.
" Lalu, orang tua Nath datang padaku. Dia menawarkan uangnya. Saat itu, dia tidak menyebutkan embel-embel apapun. Tanpa pikir panjang, aku mengambil uang itu. Tapi sialnya, aku dirampok di perjalanan menuju rumah sakit. Aku semakin tidak bisa menahan diri untuk membenci diriku sendiri. Yang lebih menyakitkan lagi, Ibuku menghubungi ku dan mengatakan, jika Ayahku sudah pergi. Pergi ke surga. " Mage mulai kembali terisak. Tapi, dia tetap menguatkan dirinya untuk melanjutkan ceritanya.
" Dua hari setelah itu, orang tua Nath datang ke rumahku. Dia meminta uangnya kembali dengan alasan, uang yang kemarin ia pinjamkan tidak jadi di gunakan karena Ayahku meninggal terlebih dulu. Aku sudah menjelaskan segalanya. Tapi dia tetap tidak mau mengerti. Dia menyita rumah yang hanya tinggal satu-satunya harta kami. Dan, meminta sisanya hari itu juga. Aku sudah memohon, tapi tidak ada dari mereka yang perduli. Lalu, mereka memberikan syarat kepadaku. Aku harus pergi meninggalkan Nath dan menikah dengan anak dari kenalannya. Aku tahu, dia sengaja menikahkan aku dengan orang lain, agar aku tidak memiliki kesempatan untuk kembali kepada Nath. Dia juga berjanji, akan membatalkan niatnya menyita rumahku. Aku masih coba memohon, tapi Ibuku. Ibu kandungku menampar ku. Dia memakiku. Dia mengatakan jika, semua karena ku. Semua kesialan terjadi karena aku. Dia menjambak rambutku dan memaksaku menyetujui persyaratan itu. Aku tidak bisa lagi memikirkan cintaku Vin. " Mage kembali menangis sejadinya.
Kevin memeluk gadis itu. Dia juga menyesal. Menyesal karena tidak bisa membantu disaat sulit itu. Tapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Sekarang, tidak ada lagi yang bisa Kevin lakukan. Karena Mage, juga tidak memiliki alasan mundur.
" Maaf, Mage. Kami tidak ada disaat tersulit mu. " Kevin menepuk punggung gadis cantik itu. Dia hanya mengangguk karena bibirnya tak kuat lagi berbicara.
" Kau, baik-baik saja karena tidak jadi berangkat hari ini?
" Aku harus tetap pergi Vin. " Jawabnya lirih.
" Tidak apa-apa. Ini bukan kesalahanmu. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Nath baik-baik saja. Aku hanya akan membuatnya banyak bermimpi mulai sekarang.
Meski kurang paham, Mage tersenyum sembari mengangguk. Yang terpenting adalah, Nath baik-baik saja.
" Boleh aku menemuinya, Vin?
" Tidak sekarang, ada orang tua Nath.
" Baiklah, aku akan menunggu sampai mereka pergi.
" Bukankah kau bilang, harus pergi?
Mage mengangguk. " Maka tolong, beri aku kesempatan untuk bertemu Nath.
" Mage, tidak untuk beberapa waktu ini. Pergilah dulu. Pergilah tanpa beban. Suatu hari, aku akan menjemput mu untuk menemui Nath. " Kevin menatap Mage dengan serius.
" Kau janji?
Kevin mengangguk. " Tentu.
" Baiklah, katakan padanya, hiduplah dengan baik. Jangan berhenti untuk membenciku. Karena dengan membenci ku, dia akan lebih baik. Dia pantas bahagia. Aku berdoa, suatu hari nanti, akan ada wanita yang akan kuat berjuang bersama dengannya. Wanita yang akan melakukan apapun demi dirinya. Wanita tangguh dengan kekuatan besar yang tidak mudah di goyahkan. Dan, jangan pernah lagi, menjadi alat pemuas orang tuanya.
" Akan ku sampaikan.
" Satu lagi, " Mage menatap Kevin lekat.
" Apa? " Tanya Kevin yang merasa janggal dengan tatapan Mage.
" Entah kau percaya atau tidak, tapi, jauhkan Gaby dari Nath. Dia tidak selugu yang kita ketahui selama ini.
" Gaby?
Mage mengangguk.
To Be Continued.