
Ayah dengan mata yang berkaca-kaca kini tengah mengatupkan kedua telapak tangannya. Matanya yang biasa menatap Nathan kesal, kini berubah menjadi tatapan sendu dan memohon. Ditambah lagi kedua tangan itu gemetar entah apa sebabnya.
" Nathan,... " Panggil Ayah nya Ivi dengan posisi yang sama. Nathan yang terkejut langsung meraih tangan Ayah yang mengatup memohon itu agar jangan melakukan itu di hadapannya.
" Tidak! dengarkan aku. Aku ingin meminta tolong padamu. Aku tahu aku adalah Ayah mertua yang menyebalkan. Tapi percayalah, rasanya sangat sakit saat aku tahu kalian akan menikah. Aku memang kesal kepada mu karena telah mengambil putriku. Tapi, untuk kali ini tolong penuhi permintaan ku. Tolong jaga Ivi dengan baik. Tolong hibur lah dia saat dia terlihat murung. Putri ku adalah gadis yang kuat. Tapi saat dia bertemu dengan seseorang yang mengingatkan masa lalunya, dia akan menjadi murung.
Nathan yang masih kurang paham hanya bisa menatap sang Ayah mertua dengan tatapan penuh tanya sembari mengingat-ingat.
" Nathan, putriku memang terlihat kuat dan manja. Tapi percayalah, dia adalah gadis yang sangat rapuh. Dia sudah banyak mengalami hal menyakitkan. Tolong jangan sakiti putriku dan bahagiakan dia. Jaga dia baik-baik. Aku hanya bisa memohon padamu. Tolong bantu aku menjaga putriku. " Ucap Ayah yang kini sudah meneteskan air mata. Sungguh Nathan masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan Ivi di masa lalu.
Nathan mencengkram tangan Ayah yang mengatup dan perlahan menurunkannya.
" Ayah mertua, aku janji akan memenuhi tugas ku sebagai suami. Mungkin aku tidak bisa menggantikan kesempurnaan kasih sayang mu untuk Ivi. Tapi aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga Ivi. "
Ayah mengangguk dengan bibir yang sudah bisa tersenyum. Entah dari mana perasaan yakin disaat mendengar janji Nathan, tapi Ayah benar-benar merasa begitu memercayai menantu yang selama ini menjadi musuh karena telah mencuri perhatian dari istrinya.
" Ayah mertua, kalau boleh tahu apa yang terjadi dengan Ivi di masa lalu? " Tanya Nathan karena merasa tidak tahan lagi untuk tahu apa yang terjadi dengan masa lalu Ivi.
Ayah terdiam sesaat seraya berpikir.
" Nathan, bukanya aku tidak ingin memberi tahu mu. Tapi tentang ini, tolong jangan terlalu berharap. Aku memang adalah Ayahnya. Tapi detailnya aku bahkan tidak tahu. Jangan tanya lagi mengenai masalah ini ya? bukan hanya untuk Ivi, Untuk kami sekeluarga juga sangat sakit untuk mengorek luka lama itu. "
Nathan mengangguk. Sepertinya masa lalu Ivi benar-benar menyakitkan hingga Ayahnya sendiri pun tidak bisa menceritakan apa yang terjadi. Sebenarnya memang benar dia adalah suaminya Ivi. Tapi kalau dia terlalu egois dan memaksa untuk tahu, hal ini juga akan membuat Ivi tidak nyaman. Lagi pula dari pada memikirkan masa lalu yang menyakitkan, bukankah lebih baik menciptakan masa depan yang indah? hah?! indah? semoga saja dengan kepribadian mereka itu, mereka akan bahagia.
Dari balik pintu bangsal ternyata Ivi mendengar semua yang Nathan dan Ayahnya ucapkan. Sebenarnya sangat sesak menyimpan luka itu sendirian. Tapi mau bagaimana lagi? dia tidak mau membuat Ayah nya merasa bersalah dan juga membuat Ibu dan kakaknya sedih. Sudah cukup melihat langsung beberapa hal yang menyedihkan terjadi padanya. Sementara yang lainya, akan ia simpan sampai sesuatu yang mendesaknya untuk bicara, maka jika tidak ada pilihan, dia kan bicara semua nya tanpa ada satu pun yang terlewati.
" Apa yang sedang kalian bicarakan? " Tanya Ivi dengan wajah riang dan juga terlihat sedikit penasaran. Iya, inilah cara nya menyembunyikan dalamnya luka yang tidak semua manusia bisa melewatinya sebaik Ivi.
" Tidak ada. " Jawab Nathan
Setelah selesai menemui Ayahnya, seperti yang sudah di jadwalkan, mereka akan mengunjungi rumah kedua orang tua Ivi. Dan beruntungnya Ivi karena saat datang kerumah sakit tadi, Ibu baru saja pulang ke rumah untuk memasak makan siang. Empat puluh menit diperjalanan, akhirnya sampailah mereka di rumah kedua orang tua Ivi. Ivi buru-buru keluar dari mobil dan langsung menghirup udara rumahnya. Sungguh sangat segar dan menyenangkan karena bisa kembali ke rumah kecil milik orang tuanya.
" Ini rumah mu? " Tanya Nathan yang merasa heran. Maaf saja, selain sangat kecil, bangunannya juga sudah mulai terlihat rapuh. Memang sih terlihat bersih dan terawat. Tapi sepertinya sangat tidak nyaman tinggal disana.
" Iya. Kenapa? " Tanya Ivi.
" Ti tidak apa-apa. " Bukanya merasa jijik atau pun terlihat menghina, hanya saja dia merasa sedih karena istrinya dulu tinggal di rumah seperti itu.
" Tidak! aku sama sekali tidak menghina mu. "
" Terserah lah, ayo kita masuk. " Ivi meraih tangan Nathan tanpa sadar lalu menggandengnya.
" Ya ampun! " Ucap Ivi karena kaget melihat barang belanjaan Nathan yang menggunung di ruang tamu.
" Ibu! kakak! tuan putri kalian mau lewat! tolong singkirkan barang-barang ini. "
Tak berapa lama Ibu dan Dodi keluar dari kamar Ivi.
" Kalian datang? " Tanya Ibu terlihat bahagia. Sementara Dodi memindahkan beberapa barang belanjaan Nathan ke dapur. Maklum saja, tempatnya terlalu ramping.
" Ayo silahkan duduk, menantu. " Ibu memisahkan tangan Nathan dan Ivi lalu menggandengnya untuk membawa Nathan duduk. Ivi menaikkan sebelah bibirnya karena kesal dan heran dengan apa yang dilakukan Ibunya.
" Ibu, aku ini adalah putri mu loh. Ibu, kita sudah hampir satu bulan tidak bertemu. Ibu, apa Ibu mendengar ku? "
Sayang sekali, yang dipanggil kini malah sibuk menanyai Nathan ini itu dan lupa dengan putrinya sendiri.
" Nathan kau sudah makan? mau minum apa? ya ampun, parfum mu wangi sekali. Lihat ini, lengan mu sangat keras dan kekar ya? wajah mu juga semakin tampan. Lihatlah, gaya rambut mu benar-benar sangat kekinian. " Setiap memuji, Ibu selalu menyentuh bagian yang ia puji. Mulai dari menyentuh wajah, kepala, lengan, bahkan Ibu juga mengendus tubuh Nathan. Gila! apakah ini takdir? kenapa Ibu mertua dan Ibunya sendiri begitu blak-blakkan? kenapa mereka sangat mesum?
Dodi yang baru kembali dari dapur hanya bisa menggelengkan kepala heran seraya berjalan mendekati Ivi.
" Aku benar-benar malu dengan kelakuan Ibu mu. " Ujar Dodi.
" Kak, kakak kan anak pertama. Ibu untuk mu saja. Ayah adalah milikku. " Jawab Ivi yang masih menatap heran ke arah Ibunya.
" Dengan berat hati. Coba lihat, wajah Nathan terlihat sangat tidak rela di sentuh oleh Ibu. "
Ivi menahan tawanya karena memang benar apa yang di ucapkan kakak nya. Nathan memaksakan senyum meski selaku menjauhkan tangan Ibu pelan agar tak menyentuh tubuhnya.
Dodi menatap Ivi karena ada ha yang ingin sekali dia tanyakan.
" Ivi, apa kau dan Nathan sudah melakukan itu? "
To Be Continued.