Touch Me!

Touch Me!
S2- Mencurahkan Isi Hati



Vanya memeluk tubuh Sammy yang gemetar dengan erat. Ini sungguh pertama kalinya dia melihat Sammy begitu tidak biasa. Mungkin, pelukan dari Nathan saat di pesta pernikahan Berly dan Dodi tadi membuat nya terharu hingga membandingkan kehidupannya sekarang dan dahulu.


" Relakan hal yang menyakitkan itu sebagai kenangan masa lalu, jangan lagi memikirkan sakitnya. Hanya ingat satu hal. Sekarang kau bahagia, sekarang kau punya kami sebagai orang tua mu. Kau punya Nathan, Nathalie dan Nathania sebagai saudara mu. Kau juga memiliki banyak teman yang menyayangi mu kan? " Sammy mengangguk tanpa kata. Sungguh pelukan dari Vanya benar-benar membuatnya begitu nyaman hingga dia sama sekali tidak ingin melepaskannya.


" Ibu, aku sangat menyayangi mu. " Hanya ini lah kata-kata yang bisa Sammy ucapkan.


" Ibu tahu. Ibu juga menyayangi mu. "


Tak jauh dari mereka, Nathan kini tengah menahan tubuh Ayahnya yang terlihat kesal melihat Sammy memeluk tubuh istrinya begitu lama. Apalagi saat dia mendengar Sammy mengatakan cinta dan sayang kepada istrinya, rasanya dia ingin sekali masuk kedalam kamar dan mencubit telinga Sammy sampai putus.


" Dasar sialan! padahal aku baru saja membrinya hadiah, tapi dia malah menusukku dari belakang. Berani-beraninya dia mencintai istriku. " Nath terus saja ingin masuk kedalam kamar dan Nathan juga terpaksa juga harus menahan nya. Padahal, niat awalnya hanyalah untuk megambil minum karena Ivi merasa haus. Tapi tidak sengaja dia melihat Ayah nya tengah mengintip Ibunya dan Sammy yang tengah saling memeluk dan menangis. Bisa disimpulkan sih, sepertinya keharuan di acara pernikahan pernikahan Berly masih berlanjut sampai ke rumah.


" Ayah, Sammy mencintai dan menyayangi Ibu, tentu saja sebagai seorang Ibu. " Nathan mencoba menenangkan Ayahnya karena Sammy terlihat tidak baik sekarang.


" Tapi caranya mengatakan itu sangat mesra. "


" Dasar tukang cemburu! " Nathan melepaskan tangannya karena merasa kesal. Rasanya percuma saja memberi tahu Ayahnya kalau sudah cemburu sangat susah di beri tahu.


" Diam kau! "


" Cih! "


Kembali ke Sammy dan Vanya. Setelah beberapa saat, Sammy juga sudah mulai tenang dan tidak lagi terlihat seperti beberapa saat sebelumnya.


" Apa yang membuat mu menjadi seperti ini? " Tanya Vanya lembut.


Sammy terdiam sesaat. Mungkin inilah saatnya untuk menceritakan semuanya yang selama ini mengganjal di hatinya.


" Ibu, hari ini Ayah memberi ku perusahaan ritel yang Ayah dan Ibu bangun dengan susah payah. Ayah juga memberiku tabungan yang begitu banyak angkanya. Semua kebaikan yang Ayah dan Ibu berikan sudah sangat banyak sampai-sampai aku mengingat masa lalu dan membandingkan hidup ku. Tapi bu, saat aku mengingatnya, rasanya dadaku begitu sesak dan sakit. Aku jadi sadar akan sesuatu. Aku tidak perlu lagi terperangkap oleh luka lama itu. "


Vanya tersenyum lalu mengusap lembut pucuk kepala Sammy. Sungguh dia tahu benar bagaimana rasanya melalui masa lalu yang menyakitkan. Tapi berkat kesungguhannya untuk berdamai dengan kenangan pahit, kini semua berjalan dengan baik dan terasa membahagiakan setiap saat.


" Nak, mungkin rasanya memang sakit. Tapi saat kau mencoba untuk terus melepaskan rasa sakit itu dengan memaafkan nya, semua yang membuat mu sakit itu tidak akan terasa menyakitkan lagi meski kau ingat dengan benar bagaimana mereka menyakiti mu. "


" Aku sudah mencobanya, Bu. Tapi sangat sulit untuk melakukanya. Apalagi saat melihat dia tertawa dengan begitu bahagia, aku justru semakin membenci mereka. "


Vanya mengeryit menatap Sammy penuh tanya.


" Jadi kau sudah bertemu dengan orang tuamu? "


" Beberapa kali, aku selalu menyempatkan diri untuk melihat wanita itu. ( Ibu kandung Sammy ) Dia terlihat sangat bahagia dan tidak terlihat menderita sedikit pun. Sungguh aku membenci wajah bahagia itu setiap kali aku melihatnya dari jauh. Meskipun banyak informasi yang mengatakan jika dia tidak memiliki anak dari pernikahan keduanya, dan mengalami keguguran hingga berkali-kali dan hampir kehilangan nyawa, aku tetap saja ingin dia lebih menderita. " Sammy mengepalkan kedua tangannya. Iya, benar-benar dia membenci Ibu kandungnya yang terlihat bahagia saat bermain bersama dengan cucu tirinya. Dia marah, kecewa, dan banyak lagi perasaan terluka karena Ibunya sama sekali tidak pernah mencarinya sekalipun. Bahkan saat dia tak sengaja menabrak Sammy, dia tersenyum lalu meminta maaf dan sama sekali tidak mengenali siapa Sammy sebenarnya.


" Temui dia, tanyakan padanya apa yang membuatnya melakukan itu semua. Sammy, semua perbuatan jahat seseorang pasti memiliki alasan. Jika kau ingin membenci nya, coba lah untuk mengetahui apa alasan tang sesungguhnya terlebih dulu. "


Sammy menatap Vanya dengan tatapan pilu.


" Ibu, hanya melihat wajahnya dari jauh saja, aku begitu ingin menjauh. Bagaimana mungkin aku menemui dia dan mengatakan siapa aku? "


Vanya meraih tangan Sammy dan menggenggamnya erat. Seperti inilah dirinya saat membenci Ayah nya dulu. Semua begitu amat menyakiti dirinya hingga dia sama sekali tidak memikirkan apapun selain kebencian. Tapi setelah mengetahui segala kebenarannya, cara berpikirnya juga berubah dan tanpa dia sadari, hatinya menjadi lebih damai dari sebelumnya.


" Dengar, Ibu juga pernah membenci kakek Rudi. Tidak, mungkin lebih dari kata benci. Tapi setelah aku mendengarkan alasan yang sesungguhnya, tanpa Ibu sadari hati Ibu perlahan-lahan mulai membaik dan sudah tidak merasakan sakit lagi. Ibu harap, kau juga bisa merasakan yang sama. "


Sammy menunduk menatap genggaman tangannya dan juga tangan Vanya. Dihatinya juga berharap, andai saja Ibu kandungnya memegang tangannya seperti ini saat kecil, andai saja Ibunya bisa selembut Vanya, andai saja cara Ibunya menatap dirinya seperti Vanya menatapnya, mungkin tidak disinilah dia berada. Apapun itu, karena perbuatan jahat Ibu kandungnya dan Ayah beserta keluarganya lah yang mengantarkan nya kepada Vanya dan Nath. Sammy tersenyum lalu mengangguk. Benar, dia harus berterimakasih kepada Ibunya yang tidak menerimanya dan memberinya banyak luka sehingga dia bisa menjadi putra dari Vanya dan Nath.


" Ibu, besok aku akan menemui dia." Vanya tersenyum lalu mengusap wajah Sammy dengan sebelah tangannya dengan lembut.


" Ayah juga ikut! " Nath berjalan cepat mendekati Vanya dan Sammy yang duduk di pinggiran tempat tidur. Melepaskan tangan Sammy dan Vanya yang saling menggenggam, menjauhkan tubuh keduanya dan duduk ditengah-tengah mereka. Tentu saja Sammy dan Vanya kebingungan dengan sikap aneh Nath.


" Ayah, kenapa Ayah mengganggu kami yang sedang saling mencurahkan isi hati? " Protes Sammy.


" Memang kenapa? memang Ayah tidak berhak ikut? atau kau ingin lebih lama menghabiskan waktu dengan istriku? " Nath menatap tajam Sammy.


Sammy menelan salivanya karena ekspresi seperti itu tentu aja dia paham apa artinya.


" Ayah, apa Ayah sedang cemburu? "


" Siapa yang cemburu? " Nath semakin menajamkan matanya.


" Sayang, kau ini tidak waras ya? " Tanya Vanya.


" Sayang, itu bukan salah ku! salah siapa kalian saling mengungkapkan sayang, cinta? apa kalian anggap aku sudah mati? dengar ya, aku akan hidup seribu tahun lagi. Jadi, jangan harap kau akan memiliki kesempatan untuk memiliki pria idaman lain. "


Vanya menatap Nath marah.


" Nath, tutup mulut mu sebelum aku kehilangan kesabaran ku dan membuatmu tidak bisa bicara lagi. "


To Be Continued.