Touch Me!

Touch Me!
Tentang Kevin



Vanya, Nath dan Nathan kembali ke apartemen. Bukan tanpa alasan, Nath memutuskan untuk tinggal di apartemen Vanya, karena Kevin dan Lexi yang memintanya. Ada banyak mata-mata yang akan siap melaporkannya kepada orang tua Nath. Dan Nathan, adalah satu-satunya yang sangat perlu dilindungi. Bukan berarti orang tua Nath akan menyakitinya, tapi jika sampai orang tua Nath tahu adanya Nathan, sudah bisa dipastikan, jika Nathan pasti akan direbut dari Ibunya.


" Vin, sampai kapan kita akan menutupi ini? " Tanya Lexi kepada Kevin yang sedang sibuk mengemudi.


" Belum Tahu. Kita hanya bisa berusaha sekuat tenaga. Orang tua Nath, bukan orang yang bisa terang-terangan kita lawan. Bertindaklah di area gelap. Dan jangan meninggalkan jejak. " Ujar Kevin.


Lexi menghela nafasnya. " Nath selalu melakukan apa yang orang tuanya inginkan. Bahkan juga istri. Apa mereka menganggap Nath itu boneka?


" Mungkin.


" Jujur saja, aku sangat membenci sifat orang tua Nath.


Kevin menghela nafas panjangnya. Jika membicarakan orang tua Nath, hanya akan membuatnya sakit kepala terus menerus.


" Nath sudah memutuskan masa depannya. Kita hanya bisa mendukung dan melindunginya. " Kevin berucap sembari mengingat peristiwa lima belas tahun lalu.


FLASH BACK ON.


Kevin menangis sesegukan sembari memegangi sebuah piala. Orang mungkin akan mengira, jika ia sedang menangis bahagia. Tapi pada nyatanya. Ia menangis karena merasa sangat hampa dan menyedihkan. Beberapa tahun sebelumnya, Ayah dan Ibu Kevin terus saja bertengkar karena ulah Kevin yang nakal dan hobi menyiksa murid lain di sekolahnya. Ayah Kevin sering memukulinya. Tapi di kala itu, Ibu selalu datang ke kamar Kevin sembari membawa kotak P3K. Dia menangis sembari mengobati luka Kevin.


" Nak, berusahalah menjadi lebih baik. Jangan seperti ini. Ibu tidak akan ada selalu bersamamu untuk mengobati lukamu. Belajarlah dengan giat. Tunjukkan pada Ayahmu. Kau pantas untuk dihargai. Kau pantas untuk dibanggakan. Ibu menunggu saat-saat itu.


Kevin semakin terisak mengingat kata-kata Ibunya. Sebuah nasehat yang tidak ia sangka, akan menjadi nasehat yang terakhir kalinya. Itu juga kali terakhir, Ibunya mengobati lukanya sembari menangis. Karena dua minggu setelah itu, Ibu Kevin meninggal dunia akibat kanker otak. Sejak saat itulah, Kevin mati-matian belajar dan berusaha menjadi yang terbaik. Dia berharap, satu-satu nya orang yang ia miliki, Ayah. Akan merasa bangga.


Tapi sayang, segala yang Kevin lakukan masih belum bisa dibilang membanggakan bagi Ayahnya. Hingga suatu hari, Kevin memenangkan sebuah kompetisi pencetus obat kangker. Bukan bahagia, Kevin justru semakin membenci dirinya sendiri. Apapun yang ia lakukan, tidak akan pernah ada yang menyukainya. Dia benar-benar merasa tidak mempunyai alasan untuk hidup.


" Kau baik-baik saja? " Seorang remaja laki-laki menepuk pundaknya dan langsung duduk disampingnya.


Kevin menoleh ke arahnya. Remaja laki-laki yang bisa ia tebak jika umur mereka tidak jauh berbeda. Mungkin juga seumuran. Kevin mengerutkan dahinya. Bagaimana bisa, seseorang bertanya tanpa ekspresi?


" Aku bertanya, apa kau baik-baik saja?


Kevin menghapus air matanya dan mengangguk.


" Kau seperti bayi yang sedang dimarahi.


" Kau tidak mengerti apapun. " Jawab Kevin tanpa menatap lawan bicaranya.


" Apa ini? " Remaja laki-laki itu meraih piala yang tengah Kevin pegang. " Wuah! kau? pencetus obat kangker?


Remaja laki-laki itu terperangah. Agak kaget memang, saat melihat wajah yang tadinya sangat dingin tiba-tiba berubah menjadi seperti itu.


" Kenapa? apa kau merasa itu tidak penting?


Remaja itu bangkit dari posisinya. " Kau hebat sekali. Aku tidak menyangka akan bertemu seorang jenius sepertiku.


Narsis sekali.


Kevin tersenyum. Ini adalah kali pertama, seseorang begitu memujinya. Apalagi, wajahnya itu terlihat sangat jujur.


" Kenalkan, Namaku Nathan Chloe. Kau bisa memanggilku Nath. Siapa namamu?


Kevin menatap uluran tangan Nath. Dia bahagia. Bahagia sekali. Entah apa yang membuatnya begitu bahagia. Apa karena Nath datang disaat dia sedang sangat terpuruk? atau karena pujian yang ia dapatkan?


" Kevin. " Jawabnya singkat.


" Baiklah Kevin, kita berteman ya. Aku tidak memiliki banyak teman. Tadinya aku hanya punya Lexi, tapi sekarang, aku punya dua sahabat. Yaitu kau. " Nath kini dengan mudah bisa tersenyum. Tidak seperti saat baru pertama kali ia datang.


" Aku belum menyetujui.


" Ayolah, kau tidak akan menyesal berteman denganku.


" Tidak mau!


" Jangan jual mahal!


" Pokoknya, kita berteman.


" Tidak.


" Kau, tidak bisa membantah ku. " Nath tersenyum. Dia benar-benat terlihat senang.


Kevin tersenyum. Dasar bodoh! kenapa kau sesenang itu? Kemana tampang sok dingin mu itu?


Setelah Itu, Kevin, Nath, dan Lexi selalu bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Mereka selalu berbagi suka dan duka. Mereka saling bahu membahu ketika dalam kesulitan.


Nath, adalah sosok sahabat yang paling loyalitas.


Dia akan mementingkan perasaan sahabat-sahabatnya dulu, baru yang lain. Seiring berjalannya waktu, Kevin mampu bangkit dari keterpurukkannya.


Lexi, adalah sosok yang sedikit ceroboh. Dia paling suka mengatakan secara langsung apa yang ia pikirkan. Ia juga sahabat yang selalu bertentangan dengan Nath. Yang paling menyebalkan, dia itu selalu memamerkan ketampanannya.


Kevin, dia adalah yang paling bisa bertindak dewasa. Dia selalu menjadi penengah saat Nath dan Lexi bertengkar. Bagi Kevin, Lexi dan Nath, adalah keluarganya. Bahkan, Kevin sering lupa. Jika ia masih memiliki seorang Ayah. Ayah yang sama sekali tidak pernah menoleh kepadanya. Ayah yang langsung membawa wanita dan seorang anak setelah kematian Ibunya. Ayah yang dengan terang-terangan mengatakan.


" Ini adalah Ibu barumu. Dan ini, adalah saudara mu. Dia juga anak ku. " Ucap Ayah Kevin sembari melingkarkan lengannya kepada wanita dan seorang anak laki-laki yang bahkan usianya lebih tua darinya.


Benci. Sungguh hati Kevin sangat dipenuhi kebencian. Hingga ia tak mau lagi menyebut nama maupun kata Ayah dari mulutnya lagi. Tepat diusia Kevin tujuh belas tahun, dia memutuskan untuk hidup mandiri dan tidak pernah sekalipun ia kembali.


FLASHBACK OFF


" Vin!


Kevin tersentak lalu menatap Lexi sesaat dan kembali fokus pada jalanan.


" Kau berani-beraninya mengabaikan ku! aku memanggilmu sampai mulutku keseleo!


Kevin tersenyum. " Kau benar-benar tidak berubah.


" Eh? " Lexi bingung. Kenapa si orang ini? apa mabuk jus jeruk tadi?


" Kau masih sama. Cerewet.


" Kau! " Lexi menahan ucapannya karena kesal.


" Diam dan biarkan aku fokus mengemudi.


***


Malam ini, Nath dan Vanya tidur berhadapan. Tapi, ada Nathan ditengah-tengah mereka. Nath dan Vanya kompak memeluk Nathan.


Nathan tersenyum memandangi Ibu dan Ayahnya bergantian. Rasanya bahagia sekali. Jika ini mimpi, Nathan pasti tidak akan pernah memilih untuk bangun dari mimpi indah ini.


Nath dan Vanya kompak membuka mata saat Nathan benar-benar sudah tertidur. Mereka saling melempar senyum.


" I Love you. " Nath.


" Me to. " Vanya.


Tubuh mereka sedikit terangkat agar mereka bisa saling berciuman di atas tubuh Nathan yang kini tengah tertidur pulas.


" Selamat tidur sayang. " Ucap Nath saat ciuman mereka berakhir.


" Selamat tidur juga, suamiku.


Nath tersenyum bahagia. Dan mereka, kembali ke posisi awal untuk segera menuju alam mimpi.


To Be Continued.