Touch Me!

Touch Me!
Cemburu?



Devi menggeliat ke kanan dan ke kiri, sungguh nikmat memang bangun lebih siang dari biasanya, karena hari ini adalah hari minggu. Devi menatap ruang kosong ditempat tidurnya. Dia menghela nafas lalu mengusap wajahnya. Apa dia menemui Gaby? batinnya. Tak mau lagi banyak berpikir, dia bangkit dari posisinya dan menuju kamar mandi. Mungkin saja dengan mandi akan membuat tubuhnya lebih segar dan kepalnya tidak lagi berpikir yang tidak-tidak. Gadis itu keluar kamar mandi dan kembali mendapati dirinya kecewa karena tidak menemukan suaminya.


" Ah! gila atau apa sih?! kenapa kepalaku isinya pria homo itu?! " Devi mengacak-ngacak kesal rambut basahnya.


Dengan cepat dia merah satu set pakaian untuk ia kenakan. Karena ini hari minggu, dia memutuskan untuk menemui para sahabatnya dari pada terus kesal karena suaminya menemui wanita lain. Devi bangkit untuk meraih tas Selempang nya. Ah, lagi-lagi matanya tak sengaja melihat photo pernikahan mereka yang tergantung di dinding. Devi berjalan mendekati photo itu dengan tatapan kesalnya.


" Kau! dasar homo! berani-berani menemui wanita lain! lihat saja, kalau sampai kalian melakukan hal yang tidak senonoh, akan ku pastikan kepala kalian licin tanpa rambut, dan aku akan memasukkan gagang cangkul di goa mu, dasar perempuan gatal! " Devi menarik nafas panjangnya, umpatannya tadi benar-benar ia ucapkan hanya dengan satu nafas saja.


" Cih! memang apa sih yang menarik dari wanita itu? " Debi mengingat wajah Gaby yang memang cantik, dada dan bokongnya begitu berisi, tubuh yang tinggi, rambut panjang tergerai indah, suaranya yang lembut dan seolah membuktikan bahwa dirinya adalah pribadi yang baik dan mendekati sempurna.


Devi menggeser tubuhnya lalu menatap dirinya di cermin. " Ah! Sialan!


Dia meraba bagian dadanya yang hampir rata lalu memutar tubuhnya untuk melihat bokongnya, dia hanya bisa menelan salivanya sendiri. Selain dia tidak secantik Gaby, dia ternyata juga tidak memiliki aset seperti Gaby.


" Sialan! aku bahkan sulit mempercayai diriku sendiri. Bagaimana bisa, tubuh gadis begitu kerempeng seperti ini? "


Devi yang tidak mau merutuki tubuhnya, memilih untuk kembali menyambar tasnya dan beranjak pergi meninggalkan kamarnya.


Empat puluh menit kemudian, Devi memencet bel pintu unit Sherin.


" Kenapa lama sekali? " Tanya Devi setelah hampir sepuluh menit menunggu Sherin membuka pintu.


" Maaf, " Jawabnya lirih. Devi yang berniat ingin memaki sahabatnya itu, tiba-tiba terhenti saat melihat wajahnya yang sembab.


" Kau baik-baik saja? " Tanya Devi yang kini merasa khawatir. Sherin menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, gadis itu mencari kekuatan untuk menguatkan dirinya saat ini.


" iya. Masuklah, "


Devi dan Sherin berjalan masuk menuju ruang keluarga. Devi sempat mencari keberadaan Berly, namun anak ketus itu tak juga muncul. Padahal, biasanya dia akan sangat senang saat dia datang ke apartemennya.


" Berly dimana? " Tanya Devi yang tak bisa lagi menahan rasa penasarannya.


Sherin terdiam sesaat lagi tersenyum menatap Devi. " Ibuku membawanya pergi. "


" Apa?! jadi, Ibumu sudah insaf? " Devi duduk disamping Sherin karena merasa penasaran.


" Entahlah. " Balas Sherin yang masih enggan membicarakan perihal Ibunya. Devi yang paham akan hal itu, dia memilih untuk mengalihkan topik dengan menceritakan hal-hal yang menyenangkan. Dia juga tidak lupa menghubungi Vanya agar lebih seru nantinya.


Beberapa saat kemudian, Vanya datang dan ikut bergabung bersama mereka. Entah bagaimana awalnya pembicaraan itu bermula, pada akhirnya Devi menceritakan apa yang sedang terjadi dengan dia dan Lexi.


" Jadi kau membiarkan nya?! " Tanya Vanya yang kesal karena kebodohan Devi.


" Kau bodoh atau apa sih?! kau mau cari kemana laki-laki seperti Lexi? dia itu tampan dan gagah, meskipun dia hanya sekretaris, tapi dia mampu membuat hidupmu mewah, aku tahu berapa nominal gaji Lexi. Mungkin kau tidak percaya, tapi suamiku bilang, tidak rugi memberi gaji Lexi berkali lipat karena kecerdikan dan kegesitannya. Apa kau akan melepas Lexi lalu memilih preman jalanan seperti mantan calon pacarmu?! " Kesal Vanya yang tak tertahankan lagi.


" Dasar mulut cobra! kalau kau tidak mau, berikan saja padaku, " Ujar Sherin sembari menatap Devi kesal.


" Kalian ini kenapa sih?! kenapa juga ada istilah mantan calon pacar? membingungkan sekali. " Gerutu Devi yang merasa tidak terima mendengar makian para sahabatnya.


Vanya mendesah sebal, iya benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dipikirkan gadis bermulut cobra itu. Sudah benar mendapat suami yang sempurna, masih saja menyia-nyiakan kesempatan. Kalau saja itu Vanya, hah! sudah pasti tidak akan membuat celah untuk orang ketiga masuk kedalam rumah tangganya. Baru saja ada ada bau orang ketiga, dia sudah pasang badan dengan pedang dan celurit ditangannya.


" Devi, apa kau tidak cemburu? apa kau begitu rela jika gadis itu merebut suamimu? apa kau tidak takut kehilangan satu-satunya orang yang walaupun dengan terpaksa mau menikah mu? apa kau akan membiarkan pria setampan Lexi anu anu dengan wanita lain? bagaimana kalau sampai dia hamil? tidak bisa dipungkiri kan? jika kau tidak bertindak, lama kelamaan mereka akan merasa nyaman dan sering melakukan itu. Dan saat di hamil, kau akan ditentang seperti bola sampah sampai ke kubangan, dan setelah itu kau hanya akan menjadi bola sampah yang berlumuran lumpur kotor. " Tanya Sherin yang begitu geram dengan ketidak pedulian Devi.


" Diam!!!!! " Dengan nafas yang menderu kesal, Devi menatap Sherin dan Vanya bergantian.


" Kalian ini tidak tahu perasaanku dan malah membuatku semakin kacau! tentu saja aku marah! aku tidak rela dia menemui wanita parasit itu! tapi aku bisa apa?! dia tidak mencintaiku! kami menikah bukan karena cinta! memang dia akan mendengarkan mulutku saat aku melarangnya?! kalau dia tanya apa hak ku melarangnya?! apa yang akan aku jawab! aku juga kecewa dan kesal sampai ingin membunuh orang! aku datang kesini karena butuh kalian hibur! bukan minta untuk dimaki! huhuhu......" Devi mengakhiri ucapannya dengan tangis.


Sherin dan Vanya saling menatap bingung. Mereka tidak menyangka, jika seorang Devi akan menangis.


" Ck ck ck " Vanya menggeleng sembari tersenyum.


" Sudah tumbuh rasa rupanya, meski ini begitu cepat, setidaknya ini lebih baik dari pada terlalu lama menyadarinya. "


" Iya, orang ini bisa jatuh cinta juga ya? " Heran Sherin.


" Jadi, kau masih tidak ingin menyusul suamimu? " Tanya Vanya.


" Mau, tapi aku tidak enak kalau tiba-tiba muncul. Memang aku apa pentingnya? lagi pula, Gaby sudah tau semuanya." Ujar Devi.


" Kalau begitu, kau harus menaklukan Lexi dulu baru bisa sesumbar. " Usul Vanya sembari mengusap hidungnya bangga.


Sherin dan Devi menatap Vanya bingung penuh tanya.


" Bagaimana memang caranya? " Tanya Sherin yang mewakili sahabatnya itu.


Vanya tersenyum menatap keduanya.


" Tentu saja menjinakkan tongkat ajaibnya, Lexi. "


" Apa?! " Sherin dan Devi berucap serempak karena terkejut.


To Be Continued.