Touch Me!

Touch Me!
Fighting



Devi menatap intens gadis cantik diseberang mejanya itu. Sungguh, dia benar-benar sangat cantik. Bahkan, Devi saja yang perempuan, sulit untuk mengalihkan pandangan. Sayang, sungguh sayang. Gadis secantik Gaby menjadi sosok jahat. Kalau saja Devi di berikan wajah secantik dia, sudah pasti dia akan memanfaatkannya dengan sangat baik.


Lexi masih menatap Devi bingung. Kenapa si mulut kubangan ada disini juga? bukanya sudah dia bilang untuk menunggu?


Devi tersenyum sembari mengambil posisi duduk disamping Lexi yang masih menatapnya bingung. Dia melingkarkan lengannya di lengan Lexi. Dia mulai bergelayut manja di lengan kekar suaminya itu. Ini benar-benar terasa aneh baginya. Tapi, rasanya tidak buruk juga batinnya. Devi kembali mengangkat kepalanya dan menatap suaminya yang masih saja memasang wajah bingung.


" Sayang, maaf ya.. Tadinya aku tidak mau ikut. Tapi, tiba-tiba aku merasa lapar. Tidak apa-apa kan kalau aku ikut bergabung? " Tanyanya dengan tatapan manja. Bahkan, dengan akting sempurnanya, ia kembali bergelayut manja.


Mulut kubangan ini kenapa sih? tadi dia memanggilku sayang? maksudnya? tapi, tidak buruk juga sih. Bagus juga kalau mulutnya semanis ini.


" Sayang? " Tanya Devi lagi karena tak kunjung mendapat jawaban dari pemilik lengan kekar tempat dia bergelayut manja.


Devi mencubit lengan Lexi karena merasa habis kesabarannya. Sudah mau kram rasanya mulut memanggilnya, Sayang. Bukanya menjawab malah seperti lalat mabuk yang tidak bisa bersuara.


" Aw!! " Pekiknya sembari meringis menatap Devi dengan tatapan kesal.


" Sayang, apa kau marah? apa aku tidak boleh bergabung? " Tanya Devi lagi. Lexi semakin tak kuasa membuka mulutnya karena terkejut saat Devi mengedipkan sebelah matanya beberapa kali dengan senyum manjanya.


Marah sih, tidak. Tapi, kalau kau berakting manja seperti ini saat menikah, bukankah lebih bagus? Aku kan jadi tidak perlu merasa takut, dengan pendapat orang yang pasti menyangka, aku memaksamu untuk menikah dengan ku.


" Iya. Tidak apa-apa. " Jawabnya dengan wajah yang masih kaget.


" Terimakasih, Sayang." Devi mengalihkan pandangan ke depan. Tepat dimana Gaby menatapnya tajam. Devi menyunggingkan senyum sejenak, lalu dengan cepat dia mengubah mimik wajahnya. Hah,..! disaat seperti inilah, seorang Devi merasa bahagia. Kenapa? tentu saja dia merasa, akan mendapatkan lawan bicara yang seimbang.


" Hai Nona Gaby yang cantik rupawan? " Sapanya dengan wajah riang. Dia juga menggerakkan tangannya, melambai.


Gaby tersenyum sinis. Tentu dia tahu kenapa Lexi dan gadis ketus itu menikah. Tidak ada yang tidak Gaby cari tahu tentang Lexi. Jujur saja, melihat Lexi menikah, memang sedikit membuatnya kesal. Ada perasaan tak terima mengetahui orang yang selama bertahun-tahun mencintainya, kini tiba-tiba menikah dengan orang lain. Terbesit dipikirannya ingin membuat mereka berpisah setelah melihat Devi dengan manjanya bergelayut di lengan Lexi.


" Ternyata, anda suka berpura-pura ya, Nona Devi. " Sinis. Itulah yang ditampilkan wajah Gaby. Entahlah, kali ini dia benar-benar merasa kesal dengan Devi. Dia yang biasanya mahir berpura-pura, kini tidak bisa menyembunyikan kejengkelannya.


" Pft...... " Devi menahan tawanya. Diam, itulah yang Lexi lakukan saat ini. Dia hanya sibuk memperhatikan Devi berbicara. Tidak ada rasa kesal karena mengganggu pertemuannya. Lexi juga diuntungkan dengan melihat langsung wajah Gaby yang sebenarnya.


" Sebenarnya, aku tidak suka berpura-pura. Hanya saja, saat ada dihadapan mu, aku jadi mahir berakting. Mungkin, karena dekat dengan bintang Akting. " Devi mengakhiri ucapannya dengan cengirannya.


" Benarkah? apa kau sedang menuduhku tukang akting? " Tanya Gaby dengan tatapan sinis.


" Tidak, maksudku, ya suamiku ini lah. " Devi menatap Lexi sembari tersenyum manis.


" Sayang, berapa lama lagi makanannya tiba? aku sudah lapar. " Devi menatap Lexi dengan tatapan melas.


Lexi melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. " Seharusnya lima belas menit lagi.


Devi kembali menatap Gaby setelah mengangguki ucapan Lexi. Gadis itu masih saja memasang wajah masamnya.


" Oh iya, nona Gaby, kalian berdua bertemu seperti ini, memang tidak merasa bersalah terhadapku ya? "


Gaby mengerutkan dahinya. Dia sudah mencoba sebisa mungkin untuk tidak terpancing ucapan Devi. Tapi, gadis itu justru memprovokasinya degan sunggingan sinis yang tiada henti.


" Kau pikir, aku tidak tahu? kau dan Lexi menikah karena paksaan kan? berhentilah bersikap seolah-olah kau istri yang dicintai. Lexi, tidak akan mencintai gadis sepertimu. " Sarkas nya Sembari menatap sinis Devi yang tak henti-hentinya tersenyum tapi terlihat mengejek.


" Wuah, aku baru tahu. Ternyata, nona Gaby sangat perhatian ya? "


" Ralat. Aku tidak suka memperhatikan mu. Aku hanya memperhatikan Lexi.


" Terlalu percaya diri sekali. " Ujar Gaby sembari tersenyum tapi dengan maksud menghina.


Devi menghela nafas marahnya. Dia menatap Gaby tajam. Hilang sudah kesabarannya. Cukup! mulutnya sudah hampir kejang karena terlalu lama berakting.


" Dasar perempuan sinting! " Devi menatap marah wajah Gaby. Akhirnya, dia tidak perlu berpura-pura.


" Apa kau bilang?! " Tanya Gaby yang tak kalah nanar.


" Tunggu! kalian apa-apaan sih?! " Cegah Lexi yang paham kalau Devi sudah tidak bisa menahan diri.


" Diam! " Bentak Gaby dan Devi bersamaan. Lexi hanya bisa menelan salivanya. Diam sajalah dari pada kena imbasnya. Batin Lexi.


" Dengarnya perwanda, aku tidak suka melihatmu menemui suamiku dibelakang ku! " Ucap Devi dengan suara lantangnya.


Meski sadar jika beberapa orang melihat ke arah mereka, tapi emosi yang kadung memuncak membuatnya tak perduli lagi.


" Kau sebut apa? perwanda? kau pikir, nama kampung itu cocok untukku? " Tanya Gaby bingung mengartikan kata itu.


" Heh! perwanda itu artinya, perempuan wajah ganda. " Devi nyengir setelah mengatakan itu.


" Kau! " Gaby menunjuk Devi geram.


" Apa? mau apa? kenapa memelototiku? mau kirim orang untuk mengeksekusi ku? kirim saja yang banyak. Aku tidak takut. Ada juga, orang suruhan mu yang akan aku cincang menjadi lima ratus bagian.


Gaby menurunkan tangannya. Sejenak dia berpikir, kenapa Devi bisa mengatakan itu? apa dia sudah mengetahui semuanya? dia kan sudah melakukannya dengan hati-hati.


" Kau pikir, aku sejahat itu? " Tanya Gaby dengan nada yang mulai merendah. Walau bagaimana pun, dia harus menjaga kerahasiaannya dari Lexi.


" Heh? ayolah, jangan pura-pura. Kau ini mau aku teluh sampai muntah kapak baru mengaku?


" Sebenarnya, apa yang kau katakan? aku tidak pernah menyakiti seseorang sampai seperti itu. Kenapa kau tega sekali berkata hal itu? " Air mata Gaby mulai memenuhi pelupuk matanya. Sungguh, dia berakting dengan sangat baik.


Devi terperangah melihatnya. Gila ya? air mata saja sampai menurut sekali. " Ah,..! kau ini. Lagi-lagi berakting. Kenapa tidak jadi pemeran sinetron azab saja sih?! " Kesal Devi.


" Apa kau pernah menonton sinetron itu? orang yang matinya sangat susah? seluruh tubuhnya busuk. lalu, saat dia meninggoi, eh maksudku, meninggal. Mayatnya tercebur ke kubangan. Setelah itu, kerandanya lari karena tidak mau membopong tubuh mayat itu. Dan kuburannya, tiba-tiba mengeluarkan suara seperti ini, jangan taruh mayat menjijikan itu disini. Saat malam hari, mayat itu berkelana mencari tempat yang mau menampungnya. Dan kau tahu?


" Hentikan! " Bentak Gaby dan langsung bangkit dari duduknya.


" Selamat siang, ini pesanannya. " Ucap pelayan sembari membawa makanan yang sudah dipesan tadi.


" Tidak perlu! buang saja! " Gaby langsung berjalan keluar tanpa menghiraukan mulut Devi yang terus memanggilnya karena ingin melanjutkan ceritanya yang sudah sangat tanggung itu.


" Cih! dasar penakut! " Cibir Devi seraya memandangi punggung Gaby yang semakin menjauh dari pandangannya.


" Kau gila. " Ucap Lexi yang menggeleng keheranan.


" Jika aku waras, aku tidak mungkin menikahi mu. "


Lexi langsung terdiam. Sabar saja. Dia tidak akan memancing emosi gadis itu lagi. Saat ini, dia hanya ingin makan dengan tenang.


To Be Continued.