
Setelah berbicara dengan Nath, Sany kembali ke kamarnya dengan wajah yang tidak bisa di artikan. Tangannya memegang erat amplop coklat yang tadi di berikan oleh Nath. Bahkan Vanya yang ingin menyapa Sammy pun ia urungkan karena wajah Sammy yang tidak biasa. Tanpa melihat ke arah lain, Sammy akhirnya masuk ke dalam kamar. Tubuhnya yang terlihat begitu aneh juga sampai tak menyadari jika pintunya tak tertutup dengan benar.
Bruk.....!
Sammy menjatuhkan tubuhnya di lantai. Punggungnya menyender di pinggiran tempat tidur. Tatapannya terlihat banyak ekspresi hingga ia tidak tahu harus melakukan apa selain menangis. Sedih? arau terharu? sungguh dia tidak tahu yang mana yang lebih menonjol saat ini. Setelah dia mendapatkan begitu banyak kasih sayang dari Nath dan Vanya, rasanya hari ini dia semakin merasa begitu berhutang Budi dengan sepasang suami istri itu. Pikirannya melayang hingga membawanya kembali ke puluhan tahun yang dengan susah payah ia coba untuk lupakan.
Dasar anak pembawa sial! dasar anak bodoh! anak tidak berguna! anak haram!
Semua kata-kata itu tiba-tiba berkelebatan di otaknya. Selama ini Sammy menutup rapat masa lalunya dan tidak menceritakan kepada siapapun tentang itu. Bahkan, dia juga tidak menceritakan kepada Nath dan Vanya. Bukan bermaksud ingin berbohong, hanya saja rasa itu begitu sakit dan memalukan. Selama ini memang ada beberapa gosip yang beredar tentang Sammy. Mulai dari orang tuanya kecelakaan lalu meninggal, ada yang mengatakan jika Sammy berasal dari panti asuhan, ada pula yang mengatakan jika Sammy dulunya adalah anak pelayan Vanya dan Nath. Dan masih ada beberapa gosip lain yang sama sekali tidak pernah mendapatkan konfirmasi langsung dari Sammy.
" Ayah, Ibu, Nathan, dan juga si kembar yang manja. Kadang aku sering ketakutan saat akan tidur. Aku takut bahwa kalian hanya ada di dalam mimpi ku saja. Bahkan, setiap bangun tidur juga aku selalu berusaha memastikan bahwa kalian adalah nyata. " Sammy meraih photo keluarga yang terletak di meja lampu tidur di dekatnya. Di usapnya satu persatu wajah mereka dengan mata yang bercucuran air mata.
" Kalian tahu? setiap hari aku selalu menatap wajah kalian satu persatu dan berterimakasih di dalam hati karena telah ada di hidupku. Aku selaku mengingat dengan jelas bagaimana kalian tertawa, bagaimana kalian ketika sedang marah, bagaimana kalian sedang sedih, dan ketika kalian saling menghina saat sebal. Aku benar-benar bersyukur untuk semua momen yang aku habiskan bersama kalian. " Sammy memeluk photo itu erat.
" Berkat kalian, aku tidak lagi mendengar makian-makian menyakitkan itu lagi. "
#Saat itu.#
Bugh....!
" Dasar bodoh! sudah Ibu bilang jangan datang kemari! pergi sana ke rumah Ayah mu! " Sammy tersungkur ke tanah sembari menangis. Lutut dan telapak tangannya juga berdarah karena dorongan kuat dari Ibunya.
" Ibu, Ayah sudah meninggal. Aku tidak mau tinggal bersama Nenek. Nenek tidak menginginkan ku. " Pinta Sammy sembari menangis.
" Tapi aku ingin tinggal bersama Ibu. "
Karena terus merengek dan memohon, Ibunya Sammy terpaksa menerima Sammy ke rumah suami barunya. Sammy adalah anak dari korban perceraian. Ada banyak sekali drama yang terjadi di dalam hidup Ibu dan Ayahnya sehingga si kecil Sammy lah yang harus menerima segala akibat dari apa tang dilakukan oleh orang tuanya. Dulu, Ibu dan Ayahnya Sammy menikah karena dijodohkan oleh kedua orang tua mereka. Awalnya semua berjalan baik sampai lahirlah Sammy. Tapi sayang, semua itu berubah saat Ayahnya kedapatan berselingkuh dan di susul oleh Ibunya yang juga diketahui sudah lama berselingkuh di belakang suaminya. Cekcok hingga perang fisik harus disaksikan oleh Sammy setiap hari saat mereka berada di rumah. Bahkan karena itu, Ayahnya Sammy jadi meragukan darah siapa yang mengalir di tubuhnya. Hari terus berlanjut hingga akhirnya kedua orang tuanya memilih untuk bercerai. Sejak saat itulah Sammy mulai di oper ke sana kemari karena tidak ada yang menginginkannya. Ibunya yang menganggap Sammy anak pembawa sial, Ayahnya yang menganggap Sammy anak haram, dan Nenek dari Ayahnya juga tidak mau merawat karena beranggapan jika Sammy bukanlah cucunya.
Penderitaan masih berlanjut, Sammy yang saat itu sudah berusia sembilan tahun semakin tak terurus. Tubuhnya kurus kering ditambah lagi banyak sekali bekas pukulan. Iya, pukulan itu berasal dari Ayahnya saat pulang dalam keadaan mabuk. Tapi saat dalam keadaan sadar, Ayahnya akan bersikap dingin dan seperti tidak menganggap adanya Sammy disana. Tpat di usianya yang kesepuluh tahun, Ayah Sammy meninggal karena overdosis obat-obatan terlarang. Tepat di hari itu juga, dia memutuskan untuk datang kerumah Ibunya dan memohon untuk diterima. Memang diterima setelah cukup lama memohon kepada Ibunya. Tapi saudara tirinya sama sekali tida menyukainya dan dengan terang-terangan memukul, menghina, bahkan Sammy juga beberapa kali di ludahi oleh kakak tirinya. Merasa sudah tidak sanggup lagi, akhirnya Samy mengadukan apa yang dilakukan kakak tirinya terhadap nya. Tapi sayang, Ibu kandungnya lebih memilih untuk mengkhawatirkan anak tirinya. Tentu saja karena dia ingin menyelamatkan posisi sebagai Nyonya dirumah itu.
Dengan langkah yang putus asa, Sammy yang saat itu berusia sepuluh tahun keluar dari rumah Ibunya. Dia terus berjalan sembari terisak pilu mengasihani nasibnya yang begitu menyakitkan. Berjalan jauh tanpa alas kaki, ditambah lagi hujan deras yang mengguyur tubuhnya. Perih, rasanya sangat perih saat semua luka ditubuhnya terkena air hujan. Tapi mau bagaimana lagi? sudah tidak ada tempat lagi untuknya menitipkan diri sehingga bocah sepuluh tahun itu berdoa di setiap langkahnya agar Tuhan segera mencabut nyawanya. Tapi, tiba-tiba sepasang suami istri datang menghampirinya, mengulurkan tangan dengan senyum yang begitu tulus. Sentuhan tangan mereka begitu terasa sampai ke hati dan membuat jiwa yang meronta untuk mati itu kembali damai. Iya, mereka adalah sepasang manusia dibalik jiwa malaikat yang kini ia panggil, Ayah dan Ibu.
# Now #
" Ayah, Ibu. " Panggilnya lirih dan membiarkan saja air matanya lolos dari matanya.
" Apa Ayah memarahi mu? "
Sammy tersentak lalu menatap seorang wanita cantik yang tak lain adalah Vanya. Dia menyeka air matanya lalu berjalan mendekati Sammy yang membeku di sana.
" Katakan pada Ibu. Apa Ayah memarahi mu? " Lagi, Sammy malah semakin tersedu-sedu lalu bangkit dan memeluk Vanya erat. Sungguh dia tidak bisa mengatakan apapun lagi. Sedangkan Vanya, wanita yang sudah dua puluh tahun menjadi Ibunya juga sama sekali tidak bisa menahan air matanya. Sebenarnya sedari tadi dia mendengar apa yang Sammy ucapkan. Dia dan Nath memutuskan untuk tidak mencari tahu masa lalu Sammy karena dia pikir Sammy tidak akan menyukainya. Jadi mereka hanya fokus untuk mencintai Sammy saja dan menjadikan sosok Sammy terbentuk karena kebahagian dan tidak ada lagi Sammy yang dulu.
" Ibu, aku mencintai Ibu. " Ucap Sammy.
To Be Continued.