
Tidak ada keuntungan apapun dari perdebatan yang baru saja terjadi antara dia dan dua wanita pembuat onar itu.
" Huh...... " Lexi terus saja menghela nafasnya. Matanya menatap langit-langit di kamarnya.
Entah bagaimana caranya bisa menghindar dari Devi dan Ibunya. lexi memiringkan tubuhnya karena merasa bosan dengan kangit-langit yang seakan aktif mengingatkan nya dengan kejadian beberapa saat lalu.
Pikirannya kembali menerawang ke masa depan. Tiba-tiba, tanpa aba-aba, dia membayangkan bagaimana jika hidup bersama Devi. Apa dia kan ditindas setiap hari? apa dia akan menerima pukulan dan cacian? apakah dia harus mengerjakan pekerjaan rumah dan pekerjaan kantor? apakah saat memiliki anak, dia akan membawa anaknya ke kantor sambil bekerja? apakah dia akan terjaga saat malam untuk menyusui dan mengganti popok bayinya?
" Gila! gila! apa-apaan otakku ini?! berani-beraninya memikirkan si mulut kubangan itu! " Maki Lexi kepada dirinya sendiri. Lancang sekali otaknya! batinnya kesal.
Lexi kembali menghela nafasnya.
" Padahal, besok adalah hari ulang tahun ku, tapi kenapa aku begitu sial tahun ini? kenapa? apa tidak ada hadiah yang lebih baik? kenapa aku dipaksa menikahi mulut kubangan itu? " Keluh Lexi sembari memeluk erat bantal guling nya.
Pagi harinya.
Lexi sudah datang pagi sekali hari ini. Iya, sangking paginya, sampai-sampai Devi keheranan saat melihat Lexi sudah duduk di mejanya. Padahal, ini kan baru pukul tujuh.
Devi menatap Lexi aneh. " Kenapa dia tidak memaki? biasanya dia kan pasti memaki kalau aku datang lebih lambat dari dia. " Gumam Devi sembari berjalan menuju meja kerjanya.
Sial! apa mulut kubangan ini tidak tahu kalau aku ulang tahun? apa tidak berniat mengucapkan selamat ulang tahun padaku?
Devi fokus dan mulai mengerjakan tugasnya. Tak sedikitpun niatan untuk melirik Lexi yang selalu mencuri pandang padanya. Bukan Lexi memperhatikan wajah cantik Devi, tapi dia belum mendapatkan satupun ucapan selamat ulang tahun. Entah mengapa, dia merasa berharap dengan si mulut kubangan itu. Berharap, mulutnya akan tersenyum manis sembari mengucapkan, Selamat ulang tahun sekretaris Lexi.
Mimpi! itu hanya akan terjadi dalam mimpi. Faktanya, gadis itu malah melotot tajam ke arah Lexi saat tak sengaja matanya memergoki Lexi yang mencuri pandang dirinya.
Dasar gila! kenapa menatapku begitu? sekaki lagi mencuri pandang padaku, akan ku colok matamu menggunakan pena mahal ini.
Devi memainkan penanya sembari menatap Lexi tajam.
Dia hanya menatapku begitu? tidak mau bilang, happy birthday?
***
Kevin tersenyum mengingat tanggal berapa hari ini.
" Nath, kau ingat tanggal ini kan? " Tanya Kevin yang secara sengaja menemui Nath di kantornya.
" Tentu. Ulang tahun Lexi kan? " Jawab Nath.
Kevin tersenyum sembari mengangguk.
" Ayo ke tempat biasa nanti malam. " Ajak Kevin.
" Ok.
***
Kevin mengirim pesan melalui chat group yang ia buat beberapa waktu lalu.
* Info! datanglah ke Club biasa kami bertiga kumpul ya?
* Untuk apa? * Vanya.
* Aku hadir! gratis kan? 😬 * Devi.
* As you want girl!@Devi. * Kevin.
* No! * Sherin.
* Please🥺@Sherin. * Kevin.
* Untuk merayakan hari ulang tahun Lexi. * Kevin.
* Suamiku hadir kan?😁 * Vanya.
* Of course! @Vanya. * Kevin.
* Ok! * Vanya.
* Dengan berat hati. * Sherin.
* Thank you, My girl! * Kevin.
* Shut up! Im not! Never! * Sherin.
* 🤭 * Vanya.
* 🤔 * Devi.
Malam.
Kevin, Nath dan Lexi sudah berada diruangan khusus. Tempat Dimana mereka menghabiskan waktu bersama.
" Nath? " Panggil Kevin sembari merogoh s
saku jas Nath. Setelah mendapatkan sebuah barang berukuran kecil, dia mengangkatnya ke atas agar terlihat oleh Nath dan Lexi.
" Apa itu? " Tanya Lexi.
Dengan cekatan, Kevin langsung membungkam mulut Lexi.
" Jangan mengatakan apapun. " Kevin mengingatkan.
Nath menatap Kevin penuh tanya. Kevin menganggukkan kepala beberapa kali. Dia berjalan menuju ujung ruangan sembari membawa ponselnya disana.
" Apa yang kau lakukan? dan, benda apa tadi? " Tanya Lexi yang seolah mewakili Nath yang juga tak kalah penasaran. Dia sama sekali tidak menyadari adanya benda itu di saku jas nya.
" Alat penyadap. Orang yang meletakkan itu diam-diam di jas mu, pasti ingin mendengar apa yang kita bicarakan.
" Apa?! " Nath terkejut. Tapi tidak dengan Kevin dan Lexi. Dia tahu benar, siapa di balik ini semua.
" Hai,...! kami datang " Ucap Vanya yang memasukkan kepalanya lebih dulu.
Lexi dan Kevin tersenyum mengangguk. Dan Nath, dia ingin sekali tersenyum. Tapi, akan aneh kan? jadi, dia lebih memilih diam tak berkata apapun atau bereaksi apapun.
" Hei... Suami! kenapa kau langsung diam? kau terusik dengan adanya kami? " Tanya Vanya sembari memandangi wajah suaminya yang sangat ia rindukan itu.
Nath terdiam seolah tak ingin merespon sapaan Vanya. Tapi jauh di lubuk hatinya, dia merasa bahagia dengan hadirnya Vanya.
" Sayang, kau cantik sekali malam ini. " Ujar Kevin yang sedari tadi, matanya lekat menatap Sherin.
Sialan! memang biasanya aku jelek?!
" Oh, terimakasih pujiannya Dokter Kevin. " malas sekali Sherin menjawab Kevin rasanya.
" Hei! mulut kubangan! mana hadiah untukku? " Lexi menyodorkan tangannya mengadah dengan tatapan menuntut.
" Baiklah, ingat ya?! kau sudah janji!
" Sherin? mana hadiah untukku? " Lexi kini mengadah kepada Sherin.
Sherin tak mengatakan apapun, tapi dia langsung mengeluarkan kotak berukuran kecil dari tasnya.
" Terimakasih. " Lexi tersenyum senang.
" Dan kau! mana hadiah untukku? " Lexi kini menuntut Vanya yang sedari tadi hanya menggaruk tengkuknya sendiri.
" Itu, anu. Besok saja ya? aku terlalu antusias, jadi aku lupa dengan hadiah mu.
" Tidak mau! kenapa kalian menggampangkan hadiah ulang tahun ku?! " Protes Lexi. Dari sekian banyak orang, hanya Sherin yang ingat tentang hadiah nya.
" Apa hadiah begitu penting?! apa kau begitu miskin hingga mengemis hadiah? " Sindir Devi yang jengah.
" Diam kau mulut kubangan! ini hari ulang tahunku. Tidak ada hubungannya dengan kaya atau miskin!.
" Oh, baiklah baiklah. Kau mau hadiah dariku sekarang? " Tanya Vanya sembari tersenyum menatap Lexi.
" Kau sudah akan menyiapkannya? " Tanya Lexi antusias.
Vanya manggut-manggut sembari tersenyum.
" Mana? berikan padaku!
" Aku hanya punya tubuh ku saat ini. " Ujar Vanya.
Ucapan Vanya, sontak membuat semua mata membelalak ke arahnya. Terlebih, Nath. Tidak tahu kenapa, rasanya dia sangat marah mendengar ucapan Vanya.
Lexi tak kalah syok nya. Bagaimana tidak? ucapan Vanya ini sama saja mengantarkannya ke lubang neraka jahanam. Lexi tidak bisa berkata apapun lagi. Dia hanya bisa menelan salivanya yang seakan menelan pasir rasanya.
" Aku bisa memberikan mu ciuman mesra. Atau, kau mau yang lain? atau kau mau ku temani malam ini? Ah, aku sangat baik hati dan tidak sombong. Aku tidak keberatan kok, menemani laki-laki tampan sepertimu.
Duar.........!
Lexi sudah seperti tersambar rajanya petir. Dia hingga terperangah tak bergeming mendengar ucapan Vanya yang begitu mengerikan. Andai, itu laki-laki lain, mungkin akan merasa bahagia. Tapi masalahnya, meskipun tidak ingat apapun tentang Vanya, laki-laki super dingin yang tak lain sahabat plus Bosnya itu, tetap jatuh cinta dengan Vanya. Lalu bagaimana bisa dia bahagia?!
Menemani malam ini? bermalam dengan Lexi? tidak masuk akal! apa tubuh bisa dijadikan hadiah?! dia bilang aku suaminya kan?! laku kenapa menggoda pria lain di hadapanku?!
Nath semakin mengepalkan tangannya kuat. Matanya tajam menatap Vanya yang berceloteh tanpa beban. Tapi, lebih tajam dan mengerikan lagi saat menatap Lexi.
Kevin tersenyum. Kau benar-benar tahu, bagaimana menangani Nath.
" Va, Vanya! jangan omong kosong! aku sudah tidak mau hadiah darimu lagi! " Tegas Lexi yang semakin tidak kuat melihat tatapan tajam Nath yang seolah mencolok matanya. Ah, bukan menusuk hatinya.
" Kenapa?
" Tidak mau! pokoknya tidak mau! " Lagi, Lexi dengan tegas menolak.
Vanya tersenyum. Dia menyentuh tangan Lexi yang kini terletak dimeja. Dia menempelkan jari telunjuknya, lalu menggerakkannya ke arah pergelangan tangan Lexi dengan wajah menggodanya.
" Jangan menolak...! meskipun aku tidak memiliki dada dan bokong yang besar, akan ku pastikan kau akan,.
Brak.....!
Ucapan Vanya terhenti saat Nath menggebrak meja.
Matilah aku! batin Lexi yang kini sudah dirundung ketakutan.
Berhasil! Batin Vanya girang.
Bagus, Vanya. Batin Kevin.
Murahan sekali! apa dia lupa? kalau dia sekarang pewaris tunggal KBR?! Batin Sherin dan Devi.
" Hentikan pembicaraan ini. Aku sudah sangat haus. " Ucap Nath lirih. Dia benar-benar merasa malu. Kenapa juga dia menggebrak meja batinnya.
" Baiklah, aku akan menghubungimu nanti. " Ucap Vanya kepada Lexi sembari mengedipkan matanya genit.
Hentikan Vanya! tolong hentikan!
" Lexi! " Panggil Nath.
Tuh kan? aku kan yang akan kena dampaknya.
" I, iya Nath?
" Kau tahu kegunaan ponsel mu, kan? " Nath menekan kata Kan, dengan tatapan tajamnya.
" Ta, tau Nath! aku hanya akan menggunakannya untuk pekerjaan dan menghubungi mu seorang. No more, again!
" Baiklah, kita lanjutkan pembicaraan yang tadi setelah ini selesai. Bagaimana? " Tanya Vanya.
Vanya! hentikan! sialan!
" Lexi,.. " Panggil Nath kembali.
Sialan! situasi macam apa ini?!!!!
" I, iya Nath?
" kau tahu harus kemana kan setelah ini? " Tanya Nath masih dengan tatapan tajamnya.
" iya. Membantumu menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.
" Bagus. " Ujar Nath sembari tersenyum menang.
" Baiklah, kita bertemu di kain waktu saja. Atau, aku akan menunggumu besok pagi di mini cafe ya?
To Be Continued.
Maaf jika masih banyak typo.... mata othor kaya setengah sadar pas mau baca ulang😁
Pokoknya, happy reading. Semoga menghibur dan, jangan lupa! komen yak Komen! 😂😂
Ada lagi!
Maaf juga yang komen tapi othor ga bales. Ini dikarenakan waktu othor buat online sangat terbatas. Tapi othor udah bacain satu per satu komennya kok. Makasih banyak yang udah kasih komen like, vote dan gift nya. Pokoknya ya thankyou lah.
Salam sayang dari othor.....
Tetap jaga kesehatan ya kesayangan...❤️❤️❤️❤️