Touch Me!

Touch Me!
S2- Merindukan



Disebuah ruangan rumah sakit yang kini sudah seperti tempat untuk bergosip. Ibunya Ivi ( Marlina/Lina ) begitu sibuk bergosip dengan Sammy yang sudah pasti Nathan adalah bahan perbincangan mereka. Bahkan, dengan sengaja mereka sesekali melirik ke arah Nathan, mentertawakan, terkejut bersama, dan entah masih banyak lagi ekspresi aneh yang mereka lakukan.


Nathan dan Ayahnya Ivi ( Heru ) masih saja dalam taraf kecanggungan yang belum menghilang. Entah sudah berapa ratus kalimat manis yang ia ucapkan untuk menyanjung Ayah Heru, tapi laki-laki itu justru semakin mengokohkan dinding pembatas diantara mereka.


" Calon Ayah mertua, ngomong-ngomong, apa calon Ayah mertua ingin memakan buah? " Tanya Nathan sopan. Bukanya menjawab, Ayah Heru justru mencebik malas lalu membuang wajahnya.


Dasar calon Ayah mertua tidak punya perasaan! kau pikir lidah ku dan mulut ku ini tidak pegal apa? sedari tadi aku hanya merayu mu tapi kau acuh begini! kalau saja kau karyawan di kantor ku, aku pasti akan menggiling daging mu dan menjadikan mu makanan untuk cicak dirumah ku.


" Bagaimana kalau aku pijat? " Tanya Nathan lagi lalu perlahan menyentuh kaki Ayah Heru dan mulai memijitnya pelan. Sembari memijit, Nathan tak henti-hentinya menggerutu kesal yang sudah pasti tengah merutuki tindakannya ini.


Gila ya?! Nathan, pria tampan dengan kemampuan serta kekuasan tinggi, sekarang sedang memijat kaki si tua bangka yang sombong nya setengah mampus. Huh..... sabar, dan maaf ya calon Ayah mertua. Aku memaki mu didalam hati karena kau begitu menyebalkan sih.


" Ah! " Ayah Heru menepis tangan Nathan lalu menatapnya tajam.


" Ada apa, calon Ayah mertua? " Tanya Nathan bingung.


" Kau mau mematahkan kaki ku ya?! "


Nathan mengeryit lalu dengan cepat menggeleng untuk membantah tuduhan Ayah Heru.


" Tidak, kok. Aku hanya memijit. "


" Memijit katamu? kau ini lupa ya? aku adalah pasien. Kau memijit ku dengan tidak rela. Hatimu pasti menggerutu dan memaki ku. Iya kan? ayo mengaku saja! "


Nathan menelan salivanya tak berani menatap manik mata Ayah Heru. Meskipun memang begitu, tapi kan dia tidak senagaja kalau pijitannya terlalu kuat. Salahkan saja hatinya yang terus memaki kesal.


" Maaf, calon Ayah mertua. Tangan ku terbiasa memegang pena dan kertas. Aku belum pernah memegang kaki beruang. " Nathan melotot kaget karena ucapannya sendiri begitupun Ayah Heru yang menatapnya kesal.


" Bukan! maksud ku, kaki calon Ayah mertua yang berotot dan kekar ini. " Nathan tersenyum lalu kembali mengusap lembut kaki Ayah Heru.


Sialan! aku ini cuma mau menikahi gadis ayam goreng itu. Kenapa rasanya seperti ingin menikahi artis Mega bintang? aku bahkan harus menyentuh kaki Ayahnya segala. Padahal kaki ayah ku saja tidak pernah aku sentuh selembut ini.


Nathan mengingat kembali momen bersama Ayahnya yang kadang menjengkelkan tapi juga kini ia rindukan. Cara Ayahnya memaki, cara Ayahnya meminta perhatian, cara Ayahnya menyampaikan rasa sayangnya.


Hei raja iblis! sudah Ayah bilang jangan terlalu ketus terhadap para gadis yang menyapamu. Kau ini tuli ya? apa perlu ku ajarkan caranya merayu gadis?


Nathan tersenyum mengingat betapa bahagianya mereka saat bersama meski lebih sering memaki satu sama lain.


Huh....! Si tua Nath itu apa kabar ya? dia terlalu mesum saat bersama Ibu. Pasti dia tidak sedang merindukan ku kan?


Tanpa Nathan sadari, Ayah Heru mulai memperhatikan wajah Nathan yang tengah tersenyum tipis. Mungkin inilah naluri seorang Ayah. Entah mengapa Ayah Heru seolah tahu apa yang tengah dipikirkan Nathan saat ini.


Sialan! sebenarnya aku benci wajah dan tubuh serta kemampuan finansial nya, tapi melihat dia yang seperti ini, kenapa aku malah ingin memeluknya sih? ih jangan sampai aku kelepasan dan memeluknya tiba-tiba.


" Nathan, sepertinya kita harus kembali ke kantor. Pukul sebelas nanti kita ada meeting dengan salah satu klien dari dari luar kota. " Ucap Sammy setelah melihat jam tangan yang menunjukkan pukul sepuluh. Beruntunglah Sammy karena selalu memasang alarm di ponselnya sehingga jadwalnya tertata dengan rapih.


Nathan mengangguk. Dia mulai bangkit dari posisinya, merapihkan penampilannya lalu meraih jas yang ia letakkan di sofa.


" Calon mertua, kami pergi dulu ya? " Izin Nathan menatap Ayah Heru dan Ibu Lina bergantian untuk memohon izin. Ibu Lina mengangguk dengan wajah yang terlihat nyata mengagumi Nathan. Sementara Ayahnya Ivi mengangguk tapi tak berani menatap Nathan.


" Ya ampun... Calon menantuku tampan dan keren sekali ya? " Ibu memegangi wajahnya yang tengah bersemu merah.


" Kalau kau seperti ini terus menerus, aku tidak akan memberikan restu ku kepada pria tengik itu. "


Ibu Lina langsung merubah ekspresi menjadi sebal. Dia berjalan mendekati suaminya yang masih tak berubah sedikitpun, bawel dan tukang cemburuan.


" Memang kenapa? kapan lagi kita bisa memiliki menantu yang sempurna seperti Nathan? aku bahkan berpikir, semua keberuntungan ini pasti karena di kehidupan sebelumnya, kita sudah menyelamatkan galaxi bima sakti. Lalu sekarang, kita tengah menikmati buah dari kebaikan yang kita lakukan. "


Ayah Heru menghela nafas panjangnya. Bukanya masalah menantu yang sempurna, tapi dia cemburu setiap kali istrinya begitu memperhatikan Nathan. Dulu, Ayah Heru adalah satu-satunya pria yang ia cubit pipinya dengan wajah yang lucu. Tapi semenjak ada Nathan, istrinya bahkan sudah mencubit pipi Nathan sebanyak dua kali. Coba lihat dia sekarang, dia hanya bisa berbaring dan mengomel kesal. Kesal karena calon menantunya begitu sempurna baik fisik maupun isi dompetnya. Seolah semua berbanding terbalik darinya.


" Bu, apa aku sudah tidak di hatimu lagi? kau begitu mengagumi bocah sialan itu. Kau selalu mengabaikan ku begitu dia datang. Kalau seperti ini terus, aku bisa cepat mati karena darah tinggi. "


" Dengar ya, dia adalah calon menantu kita. Kita kan harus memperlakukan dia dengan baik layaknya anak sendiri. " Ujar Ibu Lina sembari membantu Ayah untuk membasuh tubuhnya.


" Tapi kau tidak begitu dengan anak-anak kita. Kau kan suka memaki mereka, kenapa tidak memaki dia juga? "


Ibu menghela nafas kasarnya. Sebenarnya ingin sekali mulutnya memaki pria yang sudah dua pulih lima tahun hidup bersamanya, tapi karena pria itu tengah sakit, dia hanya bisa membaliknya di dalam hati dan melampiaskannya kepada cermin saat dirumah nanti.


***


" Sayang! suamiku! " Panggil Vanya setelah menerima panggilan dari salah satu putrinya.


Nath yang saat itu tengah mandi berjalan dengan cepat tapi juga hati-hati saat melangkah.


" Ada apa, Sayang? " Tanya Nath panik. Karena takut dan khawatir dia bahkan tidak memperdulikan banyaknya busa yang masih menutupi rambutnya.


Vanya berjalan cepat lalu memeluk tubuh Nath yang masih basah dan hanya dilapisi handuk yang melilit pinggangnya.


" Nathan, Sayang. "


Nath menghela nafas sebalnya.


" Apa yang dilakukan raja iblis terkutuk itu? " Tanya Nathan dengan wajah kesal.


Vanya menjauhkan tubuhnya lalu menatap Nath sebal.


" Dia adalah anak kita. Jangan terus memakinya seperti itu. "


" Iya maaf. "


" Sayang, apa kau tahu? Nathan sudah mau menikah loh. "


Nath mengeryit bingung. Dia tahu benar bagaimana anak laki-lakinya yang selalu membantahnya itu.


" Gadis malang mana yang akan dia nikahi? "


" Dia seorang pengantar ayam goreng."


" Ya ampun, hidupnya pasti akan semakin sulit karena menikahi bajingan tengik itu. " Nath menggeleng seolah masih merasa aneh dengan kabar ini.


To Be Continued.