
Masih di kediaman utama Chloe. Pesta yang katanya hanya akan di hadiri oleh keluarga inti saja, nyatanya berbeda dari apa yang di rencanakan. Nenek masih saja menyanjung Nyonya Marhen beserta kedua anaknya. Yaitu, Salied dan Salia. Dua orang kakak beradik itu nampak begitu rupawan dengan penampilannya yang begitu elegan malam ini. Tidak banyak yang berbicara, hanya Nenek, Nyonya Marhen dan Salia yang selalu saja mengobrol seolah mereka adalah kerabat dekat. Dan ini adalah kali pertama bagi Ivi melihat Ibu mertuanya diam seolah menahan sesuatu. Dia sama sekali tidak mau menatap ke arah Nenek dan fokus saja dengan apa yang sedang ia lakukan. Tapi sesekali Ivi juga bisa melihat ketidak nyamanan yang dirasakan Ibu mertuanya saat Nyonya Marhen dan kedua anaknya berada disana.
" Ivi, aku akan membicarakan sesuatu dengan kakek, kau mau ikut? kalau tida mau, kau bergabung saja dengan Ibu dan Ayah ku ya? Nana dan Lili sedang dalam perjalanan juga. Jadi sebentar lagi kau akan memiliki banyak teman. " Ucap Nathan. Ivi tersenyum lalu mengangguk.
" Pergi saja, aku baik-baik saja kok. "
" Kau yakin? " Ivi kembali mengangguk.
Nathan yang masih ragu kembali bertanya kepada Ivi untuk memastikan.
" Kau yakin? " Lebih baik kalau kau merengek lalu meminta ku untuk tunggal.
" Iya, pergilah sana! "
Dasar! tidak tahu caranya menjadi gadis manja apa?
" Baiklah, aku pergi. "
" Iya. "
" Aku benar-benar akan pergi. "
" Aku tahu! "
" Aku pergi sekarang. "
Ivi yang kesal akhirnya memuntahkan juga emosinya.
" Pergi ya pergi saja sana! sekali lagi kau mengatakan akan pergi, aku benar-benar akan menendang pantat mu sampai tulang ekor mu patah. "
Nathan mendengus kesal lalu pergi meninggalkan Ivi dengan mulut yang bergerundel kesal.
" Dasar wanita menyebalkan! seharusnya kau kan bersikap manja seperti gadis lain yang maunya menempel terus menerus dengan pria nya. "
Ivi menghela nafas panjangnya setelah Nathan pergi. Penat benar-benar terasa di kepalanya. Menyesal juga tidak ada gunanya, mau tidak mau, hanya inilah pilihan yang harus ia pilih untuk beberapa alasan. Entah akan seperti apa masa depannya, tapi hatinya mempercayai Nathan. Aneh memang, tapi itulah yang Ivi rasakan. Benar, mulut Nathan memang menyebalkan. Tapi pria itu memiliki sesuatu di dalam dirinya yang membuat Ivi merasa yakin dengan Nathan.
" Wah, lihat siapa ini? " Ivi memutar tubuhnya menatap si pemilik suara.
" Salia? "
Salia tersenyum mengejek lalu berjalan mendekati Ivi.
" Jangan berani-beraninya memanggil namaku dengan mulut murahan mu itu. "
Ivi terdiam tapi tatapannya tak pernah lepas dari Salia.
" Apa kau tahu? kau hanyalah alat yang digunakan Nathan untuk menghindari perjodohan kami. Jadi, cepat atau lambat, kau akan di pastikan terbuang dari keluarga ini. "
Ivi tersenyum mengejek laku berdecih setelahnya.
" Sombong sekali. "
" Karena aku, memiliki banyak kelebihan yang bisa di sombongkan. Sementara kau? kau hanyalah sampah yang sudah pasti akan kembali ke tempat sampah. "
Ivi kembali tersenyum dengan maksud menghina.
" Jangan menghina, karena kau juga sampah. "
Salia menatap Ivi marah. Dia benar-benar tidak menyangka kalau gadis rendahan seperti Ivi begitu tidak tahu malu.
" Kau sadar siapa yang kau bicarakan? aku, adalah Salia Marhen. Putri satu-satunya dari keluarga Marhen. Sementara kau? kau siapa? asal usul mu saja tidak jelas. "
" Tentu saja aku sadar. Saat berbicara dengan mu, aku sangat sadar. Tapi tetap saja, kau bahkan lebih buruk dari sampah di mataku. Tidak perduli keluarga Marhen yang kau bicarakan itu. Tapi yang aku lihat, keluarga Marhen yang kau sebut itu, adalah sebuah keluarga gila dan menjijikkan. " Ivi menyeringai setelah mengakhiri kalimatnya.
Plak......!
" Jaga mulut mu!! " Bentak Salia yang tentu saja merasa kesal karena seorang gadis yang rendahan di matanya dengan mudah menghina nama keluarga nya.
Ivi kembali menatap Salia lalu menyeringai setelahnya.
" Kau akan membayar mahal tamparan mu ini. "
Plak......!
" Lihatlah dirimu yang menjijikkan itu, Nona Salia Marhen. Kau, dan seluruh anggota keluarga mu, adalah sampah busuk di mataku. Selamanya akan seperti itu. "
" Kau! " Salia yang masih saja terprovokasi akhirnya kembali mengangkat tangannya tinggi untuk memberi tamparan lagi kepada Ivi.
" Hentikan! " Vanya yang saat itu tidak sengaja melintas akhirnya melihat Salia yang hendak memukul Ivi.
" Nyo, Nyonya Chloe. " Salia nampak gugup dan takut saat melihat Vanya berjalan ke arahnya dengan tatapan marah.
" Kau pikir kau siapa? hah?! kau berani sekali ingin memukul menantuku. "
" Dia yang sudah kurang ajar, Nyonya. "
" Ibu, tidak apa-apa. Ini semua salah ku. Jangan memarahi Nona Salia, Ibu. " Ivi terisak-isak seolah begitu merasa bersalah. Tentu saja Salia terperangah kaget. Padahal, beberapa detik lalu dia nampak sangat berani dan tidak tahu malu. Lalu bagaimana bisa dia berakting seperti itu.
" Tidak, nak. Memukul adalah tindakan yang salah. " Ucap Vanya sembari menangkup wajah Ivi dan membuat wajah yang menunduk itu menjadi tegak di depan wajahnya.
Vanya membulatkan matanya karena terkejut melihat pipi Ivi yang begitu merah, ditambah lagi sudut bibirnya juga mengeluarkan darah.
" Kau?! "
Vanya kini menatap Salia dengan tatapan yang sangat tajam dan penuh kekesalan.
" Sebelum aku datang kesini, sudah berapa kali kau memukul menantuku?! "
" Nyonya, aku tidak bermaksud seperti itu. Dia yang memulai nya terlebih dulu. Dia terlalu kurang ajar, dan aku hanya menjaga martabat keluarga ku. "
" Ibu, ini semua adalah salah ku. Jangan memarahi Nona Salia, Ibu. Aku hanya tidak sengaja jatuh tadi. "
" Lihat! lihatlah menantuku yang baik hati ini. Kau jelas-jelas memukulnya, tapi dia masih saja melindungi mu. Kau pikir, aku orang bodoh yang akan mempercayai mu begitu saja?! "
Salia menggeleng lalu mencoba meraih kedua tangan Vanya.
" Nyonya, dia hanya berakting. Dia itu licik. Dia dengan jelas menghina keluarga ku. Dia bilang, keluarga ku adalah sampah busuk yang menjijikkan. Bagaimana aku bisa menahan hinaan yang seperti itu, Nyonya? "
Vanya menepis kedua tangan Salia yang erat memegang kedua tangannya.
" Menantuku yang baik hati ini tidak akan pernah menghina keluarga mu sampai seperti itu. Apa kau pikir, gadis imut nan mempesona dengan bibir manis ini bisa dengan tega mengatakan itu? "
" Nyonya, aku bersumpah. Semua yang aku katakan tadi adalah benar. " Salia mengatupkan kedua telapak tangannya dan menggosok dengan tatapan memohon agar di percayai.
" Ada apa ini? " Nyonya besar Chloe dan keluarga Marhen yang mendengar keributan akhirnya memutuskan untuk mendatangi balkon yang dimana Vanya, Ivi dan Salia berada.
" Salia? " Nyonya Marhen dengan cepat berjalan untuk memeriksa keadaan putrinya yang terlihat tertekan. Sementara Salied, pria itu justru terus menatap Ivi dan lupa dengan adiknya.
" Lihat lah, Nyonya Marhen. Putri mu sudah memukul menantuku hingga seperti inilah keadaannya. " Vanya menunjukkan wajah Ivi kepada semua yang datang ke sana. Nathan yang baru saja tiba juga tak kalah kagetnya melihat pipi Ivi yang sedikit bengkak dan noda darah di sisi bibirnya.
" Apa yang terjadi padamu?! " Tanya Nathan lalu memeriksa wajah Ivi dengan seksama.
" Aku tidak apa-apa. " Jawab Ivi.
" Kau ini idiot atau apa?! hah?! wajah mu seperti ini, dan kau bilang tidak apa-apa?! katakan padaku, siapa yang sudah memukul mu! "
" Tidak, aku hanya tidak sengaja terjatuh. " Kilah Ivi.
" Bohong! Gadis ini yang sudah memukulnya. " Tunjuk Vanya kepada Salia.
Nathan beralih menatap Salia dengan tatapan marah.
" Kalau saja kau bukan wanita, aku pasti akan menghabisi mu sekarang juga. "
Nathan kembali menatap Ivi. Meraih tangannya dan membawanya pergi.
" Ayo kita pergi, ke teras belakang. " Vanya juga ikut bersama anak dan menantunya. Dan di saat itu, Ivi menoleh kebelakang, lalu menyunggingkan senyum liciknya kepada Salia dan dengan jelas bisa di lihat oleh Nyonya Marhen juga.
To Be Continued.