
" Buaya buntung ada di mana-mana rupanya. " Gumam gadis pengantar ayam goreng mentega itu sembari berjalan meninggalkan gedung megah yang membuat mood nya memburuk.
Gadis itu kembali mengendarai sepeda motor matic dan mulai melanjutkan pekerjaannya yang sudah tertunda cukup lama. Waktu terus berlalu. Malam juga mulai datang dan gadis pengantar Ayam mentega itu baru kembali ke kios penjualan Ayam goreng mentega.
" Ivi! Kau dari mana saja? kenapa lama sekali?! " Tanya Bos nya yang bernama Ira.
" Tentu saja menyelesaikan tugas ku, Bos. " Ivi meletakkan tas kecil yang melilit pinggangnya dan ponsel yang ia gunakan untuk menerima tanda tangan dari setiap penerima pesanan Ayam dari toko itu.
" Apa kau tahu? telepon toko hampir meledak karena menerima panggilan dari pelanggan yang mengeluhkan mu. " Protes Ira.
" Jangan menghiperbola kan keadaan, Bos. Teleponnya baik-baik saja sekarang kan? " Ira memegangi tengkuknya yang sakit. Iya sakit setiap kali berdebat dengan Ivi yang selalu saja membuat tekanan darahnya naik.
Tak mau banyak bosa-basi lagi, Ira langsung mengambil satu boks berisi paket ayam goreng.
" Kirim ini ke alamat ini! " Ira menempelkan alamat ke boks yang berisi ayam goreng.
Ivi mendesah sebal karena ini sudah mulai malam.
" Bos, apa orang yang memesan ini Ibu hamil? "
" Tidak tahu. Kenapa? "
" Bisa bilang padanya untuk memesannya besok saja? "
" Kenapa? " Tanya Ira sinis.
" Ini sudah malam, Bos. Tidak baik anak gadis sepertiku berada di jalanan saat malam. "
Ira berdecih menatap Ivi dari ujung kaki ke ujung kepala. Dia juga menghela nafas kasarnya setelah itu.
" Anak gadis? nyamuk saja bisa tertawa mendengar ucapan mu barusan. Mana ada anak gadis yang tidak suka memanjangkan rambut? apalagi dada mu, tidak ada bedanya dengan anak-anak yang bersekolah di sekolah dasar. " Ejek Ira.
Ivi terperangah tak percaya mendengar ucapan yang begitu nyata dari mulut Bosnya itu. Dia juga memegangi bagian dadanya yang hampir rata itu.
Sialan! apa ini alasannya kakak Bien tidak menyukai ku?
" Pergilah sekarang, atau aku akan membatalkan janjiku untuk mendekat kan mu dengan adikku, Bien. " Ancam Ira yang tak lain adalah kakak dari Bien.
Ivi langsung memakai kembali tas kecilnya dan beberapa perlengkapan lainya.
" Kakak ipar, aku berangkat dulu ya? " Ivi benar-benar seperti akan mendapatkan sebongkah berlian hanya dengan mendengar nama Bien.
Kakak Bien, jangankan mengantar paket, berenang di kubangan aku juga rela. Ah, bahkan jika harus menguras lautan juga akan aku lakukan.
Dengan perasaan semangat dan bahagia, Ivi sampai dengan selamat ke tempat tujuan. Sejenak Ivi mengeryit bingung melihat google map dan alamat yang ada di kertas.
" Gila! orang kaya rupanya yang memesan ayam goreng. " Ivi berjalan mendekati gerbang dan memberikan boks ayam gorengnya kepada penjaga, tapi anehnya, penjaga itu justru menyuruhnya untuk masuk ke dalam dan memberikannya langsung kepada si pemilik rumah.
Dengan perasaan was-was Ivi. melangkah kan kaki. Matanya menelusur ke kanan dan ke kiri untuk mencari letak bahaya yang bisa-bisa saja datang padanya. Maklum saja, ini baru pertama kali dia ada orang kaya yang mempersilahkan dia masuk untuk memberikannya langsung.
Bos, kalau aku kenapa-kenapa dan mati muda. Aku akan menghantui mu kemanapun kau berada. Menyedihkan sekali memikirkan akan tiba-tiba mati. Padahal aku masih muda dan belum pernah pacaran. Rasanya sungguh malu saat mati dengan keadaan jomblo. Kalau saja aku memajangkan rambutku, aku bisa menggoda banyak pria dan bersenang-senang kan? ah! pokoknya kalau sampai aku keluar dari rumah ini dengan keadaan selamat, aku akan menyambung rambutku agar menjadi panjang sembari menunggu rambut asli ku panjang.
Dengan sedikit gemetar, Ivi memencet tombol pintu beberapa kali karena belum juga di buka. Karena semakin kesal, Ivi memencet bel terus menerus degan wajah kesalnya. Lalu dia berhenti saat pintu sudah terbuka.
" Apa anda dari hot chicken? " Tanya wanita paruh baya yang tentu saja Ivi tidak tahu itu siapa.
" Iya, bibi. Ini ayamnya. " Ivi menyerahkan boks makanan itu kepada wanita paruh baya yang masih berdiri di depan pintu.
" Maaf, Nona. Tuan meminta anda untuk mengantar langsung kepada Tuan. "
Lagi-lagi begini?
" baik. "
" Wellcome...." Sapa seorang pria yang tak lain adalah Sammy. Ivi diam dengan tatapan malas dan kesal. Entah ini hari apa yang membuatnya begitu sial bertemu degan pria berjas tapi miskin itu.
" Selamat malam, Tuan. Saya dari Hot Chicken, ini pesanan anda. " Ivi menyodorkan ke hadapan Sammy yang berdiri melipat lengannya ke dada.
Dasar sialan! kenapa kalian semua mengoper ku seperti bola?! akan aku sumpahi kalian semua yang memakan ayam ini akan menjadi babi air!
Mau tidak mau Ivi melangkahkan kaki mengikuti kaki Sammy melangkah. Kali ini dia benar-benar sudah mengambil ancang-ancang untuk menendang pantat Sammy sampai tulang ekornya patah kalau sampai berani macam-macam padanya.
" Hello bro! " Sammy menyapa seseorang dan langsung mengajak Ivi untuk masuk kedalam ruangan yang bisa Ivi tebak jika itu sejenis ruangan khusus baca atau mungkin untuk bekerja.
Pria yang tak lain adalah Nathan, sedang membaca buku lalu mengangkat kepalanya untuk menatap Sammy yang menyapanya. Tapi tiba-tiba matanya tertuju pada seorang gadis pengantar ayam yang tadi siang mengantar pesanan ayam goreng milik Sammy.
" Ada apa? " kenapa kau membawa gadis pengantar ayam ini kemari?
Nathan menatap Sammy dengan tatapan tajam yang menuntut jawaban dari apa yang terjadi. Tentu saja Sammy sangat tahu maksud tatapan itu. Sebenarnya ini adalah akal-akalan Sammy agar bisa mendekatkan gadis pengantar ayam goreng itu kepada Nathan. Karena hanya dia satu-satunya wanita yang dengan jelas tidak tertarik dengan Nathan, dan itu berarti gadis pengantar itu adalah tipenya Nathan kan?
" Dia datang mengantar ayam untukmu. " Sammy tersenyum.
" Ayam? untukku? "
Sialan! apa yang direncanakan oleh Sammy si maniak gila ini?!
Ivi yang sudah menahan dirinya agar tetap sabar, hanya bisa menggerutu didalam hati.
Dasar Upin dan Ipin! sampai kapan kalian akan bertingkah bodoh dihadapan ku.
" Ngomong-ngomong siapa namamu? " Tanya Sammy.
" Kenapa saya harus menjawab? " Tanya Ivi dengan wajah sebal.
" Aku akan memberikan tips untukmu kalau kau memberi tahu nama mu. "
" Tadi siang anda kesulitan untuk membayar pesanan anda. Sekarang ingin memberi tips? gaya anda sudah seperti nasi padang. "
" Nasi Padang? "
" Perak! "
Sammy menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan perlahan untuk menambah kadar kesabaran. Jika saja kalau dia tidak sedang membutuhkan gadis itu, mungkin sudah Sammy sleding mulut ketus itu.
" Apa kau sudah menikah? " Tanya Sammy lagi.
Ivi terperangah mendengar ucapan Sammy. Tentu saja dia kesal karena pertanyaan yang lebih terasa menghinanya.
" Dengar ya Tuan, usiaku baru dua puluh tiga tahun. Memang aku sudah tua ditanya menikah segala?! "
" Aku kan hanya bertanya. " Sammy sedikit menjauh dari gadis yang terlihat tempramen itu.
" Lebih baik tolong terima pesanan anda dan berikan tanda tangan. Saya buru-buru untuk menemui calon pacarku yang paling tampan seangkasa raya. "
" Pft ....! "
Ivi menatap Sammy sebal yang dengan jelas ingin tertawa mendengar ucapannya tadi.
" Anda sedang mengejek ku? " Sammy menggeleng dengan cepat karena tak mau membuat Ivi semakin kesal.
" Calon pacar mu pasti tidak setampan pria itu kan? " Tunjuk Sammy ke arah Nathan yang sedari tadi hanya mengeryit melihat pertengkaran mereka.
Ivi melirik sesaat lalu kembali menatap Sammy. " Sudah ku bilang kan? calon pacarku paling tampan seangkasa raya. Di bumi dan di dunia lain dia paling tampan! Kakak Bien ku seribu, oh tidak! sejuta? bukan! tapi seratus miliar lebih tampan dari Upin dan Ipin seperti kalian ini. "
" Ipin Upin? " Sammy bingung.
Baik Sammy dan Nathan menatap Ivi kaget. Ini pertama kalinya mereka mendengar pernyataan gadis yang seolah meremehkan ketampanan Nathan yang masih belum menemukan bandingannya.
Sialan! sebenarnya setampan apa calon pacarnya itu? tidak bisa dibiarkan. Aku harus melihat seperti apa bajingan yang dia bilang bermiliar-miliar lebih tampan dariku.
To Be Continued