Touch Me!

Touch Me!
S2- Hari Penyesalan



Seorang pria tampan berwajah blasteran dengan tubuh lunglai kini berjalan menelusuri lorong menuju pintu apartemennya. Salied, atau kakak kandung dari Silvia Marhen. Semenjak mengetahui kebenaran tentang Ivi, dia sama sekali tidak memiliki energi untuk hidup. Sungguh dia sangat tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Mendengar setiap kata yang ia dengar dari Ivi saat di pesta ulang tahun Nathania dan Nathalie, dia bisa dengan jelas melihat rasa sakit itu lebih dari pada yang dia ucapkan. meski bibirnya terus tertarik untuk tersenyum, tapi dia bisa dengan jelas melihat duka serta luka yang amat dalam. Tatapan penuh kebencian yang selalu terpancar dari mata Ivi, jelas sekali menunjukkan bahwa dia tidak akan memberi kan maaf kepadanya.


" Kenapa seperti ini? " Salied langsung memerosotkan tubuh nya saat sudah berada di dalam apartemennya. Menyesal sudah pasti ia rasakan. Menyesal karena tida dapat menemukan adiknya, menyesal karena membiarkan adiknyaemgalami banyak kesakitan, menyesal karena gagal menjadi kakak yamg baik, dan hal yang sangat ia sesalkan adalah saat meninggalkan Ivi, dia terus menahan diri untuk tidak menoleh. Padahal jelas dia mendengar Ivi menangis dan memberontak karena meminta untuk di bawa serta.


Ibu, kakak Sali, Kakak Salied, jangan pergi! bawa aku! jangan tinggalkan aku!


Salied kembali menangis mengingat suara Ivi saat itu. Sebenarnya dia juga ingin menoleh dan mengatakan bahwa dia kan kembali untuk menjemputnya. Tapi tidak tahu apa alasannya, Ibu nya melarang Salied dan memintanya untuk jangan menoleh. Padahal, saat itu dengan jelas ia bisa melihat banyak nya air mata yang jatuh ke pipi Ibunya. Tangan yang menggandeng nya pergi juga gemetar dan dingin. Lalu mengapa Ibu melarang nya untuk melihat ke arah Ivi sebelum pergi?


" Bodoh! bodoh sekali. Kau kehilangan banyak hal karena kebodohan mu, Salied. Kau kehilangan senyum Silvia yang manis, suara manja nya juga. Tatapannya yang selalu lembut dan manis, semua momen bahagia itu telah berganti dengan luka yang bahkan belum tentu kau sanggup menghadapinya. "


Salied memukuli kepalanya karena merasa kesal kepada dirinya sendiri. Apalagi saat melihat Dodi memeluk Ivi dan menangkannya, semua itu menjadi pukulan yang amat menyakitkan baginya. Seharusnya dia yang memeluk Ivi dan menghiburnya. Tapi lihatlah apa yang terjadi sekarang. Dia bahkan tidak memiliki keberanian untuk menatap Ivi lagi. Dia merasa bersalah juga rasa benci kepada dirinya sendiri.


" Sivia, jika kakak di berikan lima menit saja untuk bertemu dengan mu, maka kakak akan meminta mu untuk menghukum kakak. Bahkan jika kau ingin kakak mati, kakak akan dengan senang hati melakukannya. "


***


Di kediaman Marhen juga sama. Salia juga tak kalah sedih. Gadis cantik itu selalu terngiang-ngiang ucapan Ivi yang begitu menyakitkan. Dia juga sama sekali tidak bisa menghilangkan memori saat dia memukul wajah adik nya sendiri hingga berulang kali. Makian yang juga ia ucapkan masih saja membuat nya tak mampu untuk menahan kesedihannya. Jujur, selama ini Salia terlalu nyaman dengan posisi nya sebagai adik perempuan satu-satunya di kediaman Marhen. Itu salah satu ha yang membuatnya lupa jika ia memiliki adik perempuan yang sudah lama tidak ia temui. Memang pada awalnya dia merasa sangat sedih setelah beberapa hati terpisah, tapi karena ke istimewaan yang ia peroleh sebagai anak perempuan satu-satunya membuatnya tak lagi perduli.


Salia terus memandangi langit malam yang begitu gelap karena mendung. Iya, sama seperti hatinya yang mendung tanpa adanya sinar disana. Dia mengingat kembali saat dia berada di sebuah pusat belanja. Dia tidak sengaja melihat Ivi berlari ke arahnya dengan berlari. Tapi karena takut kasih sayang Ibunya akan terbagi, dia dengan cepat meraih tangan Ibunya dan mengajaknya untuk segera meninggalkan pusat belanja dengan alasan sakit perut.


Menyesal? tentu saja dia menyesal. Di dalam hatinya terus saja mengingat segala ucapan Ivi yang menceritakan mas lalu menyakitkan nya itu.


" Seandainya aku tidak egois, seandainya aku merangkulnya juga, seandainya aku tidak memiliki sifat buruk saat itu, mungkin semua tidak akan seperti ini. Mungkin kita akan hidup bahagia bersama-sama. "


***


Nyonya Marhen juga masih sama. Satu pekan ini dia habiskan dengan mengurung diri di kamar sembari memegangi semua benda-benda Ivi yang terus ia pandangi. Mulai dari baju, kalung, anting-anting, dan juga sepatu yang sudah ia siapkan untuk menyambut nya saat ia datang kesana. Hari berlalu, bahkan tahun pin berlalu, putri bungsunya tida juga kunjung datang. Bahkan kabar pun juga sudah lama tidak ia dapatkan. Setelah mengetahui bahwa gadis yang coba ia pisahkan dari cucu Nyonya besar Chloe itu adalah putrinya, dia selalu memandangi barang-barang itu dan terus saja menangis. Duka hati seorang Ibu yang merindukan anak nya tentu saja menyiksanya. Dia juga sudah mencoba untuk menemui Ivi di rumah Nath dan Vanya, tapi tidak ada. Menunggu Nathan di kantor juga tidak bertemu. Sungguh ada hak yang harus ia sampaikan kepada anak bungsunya itu.


Nyonya Marhen memegangi dadanya yang terus saja terasa sakit. Tidak tahu kapan Ivi bersedia menemuinya, tapi setidaknya dia tidak akan lelah untuk menunggu. Jika ada satu kesempatan berharga yang Tuhan berikan, dia hanya ingin memeluk Ivi lalu berkata, Ibu menyayangi mu, nak. Tidak tahu itu akan terjadi atau tidak, tapi kalau memang tidak, maka cukup selalu melihat Ivi bahagia itu sudah cukup baginya.


Pagi harinya. Nyonya Marhen kembali datang untuk menemui Sammy. Entah mengapa, dia ingin memohon sekali lagi kepada pria itu. Rasanya memang seperti tidak tahu diri, tapi mau bagaimana lagi, hati yang gundah tidak mudah untuk dibuat mengerti hanya dengan sebuah janji.


Setelah menemui resepsionis, tidak lama dia bisa menemui Sammy di ruangannya. Nyonya Marhen menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. Dia sungguh berharap bisa menghubungi Ivi jika memang tidak bisa bertemu langsung. Sebenarnya tubuhnya sangat lemas beberapa hari terakhir ini, tapi karena tekat di hatinya yang begitu membara, Nyonya Marhen mengesampingkan apa yang kini dirasakan tubuhnya.


" Silahkan duduk, Nyonya. " Ucap Sammy sopan.


Nyonya Marhen perlahan bergerak mengambil posisi untuk duduk.


" Nyonya, anda terlihat pucat. Apa anda sakit? " Tanya Sammy.


" Tidak, Nak. Aku baik- baik saja. "


" Kalau begitu, ada yang bisa saya bantu, Nyonya? "


Nyonya Marhen terdiam sesaat. Dia meraih tangan Sammy lalu memegangnya erat.


" Tolong Nak Sammy, pertemukan ku dengan putriku. Aku tidak bisa menahan diri lebih lama lagi. "


" Nyonya, saya tahu. Tapi masalahnya Nathan tidak mau ada yang mengganggu nya. Nyonya, anggap saja Ivi sedang menenangkan diri. Jadi mohon Nyonya bersabar ya? "


Nyonya Marhen kini pasrah karena sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk bicara. Dia mulai bangkit untuk berdiri, tapi tubuh yang sudah sangat drop itu tida mampu lagi mendukung niatnya dan pingsan di sana.


To Be Continued.