
Setelah kepergian Nathan dan Ivi, semua keadaan kini justru sangat hening. Baik di kediaman Vanya dan Nath, di kediaman orang tua Ivi, bagitupun di kediaman Tuan dan Nyonya besar Chloe. Wanita tangguh yang di kenal dengan sebutan Nyonya besar Chloe, kini terduduk di balkon rumah perasaan yang kelu. Jujur, beberapa hari terakhir terasa begitu berat baginya. Gunjingan orang tentang dirinya juga semakin gencar menyerbu. Sebenarnya dari awak Tuan besar Chloe sudah menyarankan untuk tida ikut campur dalam masalah pernikahan Nathan. Tapi wanita itu masih lah sangat keras kepala dan meyakini dengan kuat apa yang dia percayai. Ditambah lagi, sedari dulu keluarga Chloe sangatlah mementingkan status setiap kali akan menikahkan keturunannya. Awalnya dua tidak terlalu keberatan dengan status Ivi, tapi banyaknya masukkan-masukkan dari Salia dan Nyonya Marhen yang menyudutkan Ivi, serta pengakuan Ivi yang dia dengar melalui rekaman suara, semuanya membuat dia tida mau lagi berpikir panjang. Jika tahu kejadiannya akan seperti ini, tentulah dia tidak akan degan mudah mengiyakan saran dari Ibu dan anak itu.
" Huh....! kepala ku sakit sekali memikirkan ini. Bagaimana aku akan menghadapi orang banyak mulai dari sekarang? mereka yang membuat ulah, aku juga yang kena. " Gumam Nyonya muda Chloe sembari memijat keningnya.
Tuan besar Chloe juga hanya bisa menghela nafas nya. Dia dengan jelas bisa melihat tatapan benci dari para tamu yang seolah menyalahkan istrinya juga. Tapi mau bagaimana lagi? semua orang mempunyai pemikirannya sendiri. Sekeras apapun mencoba membuat orang mengerti, tentu saja akan tidak mungkin.
" Cobalah datangi keluarga gadis itu. Kita sudah tua, janganlah terus membuat para anak muda menjadi kesal. Lihatlah putra kita. Dia terlihat sangat marah meski mencoba untuk tidak melampiaskan padamu. Nath dan Vanya hanya ingin cucu sulung kita bahagia. " Saran Tuan besar Chloe seraya melangkah kan kaki mendekat ke arah Nyonya muda Chloe.
Nyonya muda mendesah sebal.
" Kau tidak ingat bagaimana Ibunya perempuan itu? mulutnya sangat tajam dan berbisa. Kalau aku muncul di hadapannya, bisa-bisa dia langsung mengoceh tidak jelas dan memaki ku bagaimana? "
" Sudah resiko juga kan? " Ujar Tuan besar Chloe.
Nyonya besar Chloe menatap suaminya dengan tatapan sebal
Perlahan dia bangkit dari kursinya lalu berjala meninggalkan suaminya sendiri. Di dalam hatinya masih lah bergerundel. Bagaimana mungkin seorang Nyonya besar Chloe meminta maaf kepada rakyat jelata?
***
Nathan dan Ivi juga semakin lengket. Sudah dua hari ini mereka semakin akur dan mulai saling memahami.
" Nathan, kenapa kita harus berbelanja bahan makanan sih? kan tinggal pesan antar saja lebih gampang. " Gerutu Ivi sembari mengikuti langkah kaki Nathan yang tengah mencari beberapa bahan makanan untuk mereka masak.
" Kita coba memasaknya sendiri saja. Kalau restauran terlalu jauh dari tempat yang kita tinggali. Sampai di rumah, makanan pasti sudah dingin. Kalau di hangatkan juga jadi tidak enak. "
Ivi mendesah sebal. Bukanya tidak mau mengerti apa yang di inginkan Nathan, hanya saja dia kan tidak bisa membantu apa-apa. Yang dia bisa hanya memasak mie instan dan mendidihkan air. Lain dari itu dia tidak bisa melakukan apapun. Bahkan menggoreng telur saja dia tidak bisa. Apalagi memasak dengan bahan yang berlimpah ruah. Namanya saja Ivi tidak semua tahu.
Ditengah-tengah kesibukan berbelanja mereka, Nathan dan Ivi di buat heran dengan tatapan banyak orang kepadanya. Entah berbisik apa juga tidak jelas.
" Nathan, mereka kenapa? " Ivi mendekatkan tubuh nya lalu memeluk lengan Nathan.
" Tidak tahu. Biarkan saja, fokus belanja lebih penting. " Ujar Nathan lalu mengajak Ivi untuk kembali melihat-lihat lagi apa yang harus mereka beli.
" Kasihan sekali ya? benar-benar sangat menyedihkan hidupnya. " Bisik beberapa orang yang terus memperhatikan Ivi dan Nathan.
Ivi melihat beberapa orang yang sepertinya memang sedang menjadikannya sebagai bahan untuk bergosip.
" Nona, apa anda gadis yang ada di beberapa berita ini? " Seorang wanita paruh baya menyodorkan ponselnya dan menunjukkan cuplikan video Ivi saat di acara ulang tahun Nathania dan Nathalie.
Ivi terdiam setelah melihat apa yang ditunjukkan oleh wanita tadi. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba suasana hatinya berubah menjadi tidak baik. Rasanya dia begitu menyesali apa yang terjadi di hari ulang tahun adik iparnya itu. Ditambah lagi, tatapan orang-orang yang seolah mengasihaninya begitu membuatnya tidak nyaman. Sungguh bukan ini yang dia inginkan. Dia sama sekali tidak suka melihat tatapan iba seperti itu. Dia hanya ingin membuat orang-orang yang menyakitinya tahu apa yang dia rasakan. Tapi dia sama sekali tidak memikirkan kalau pengakuannya telah di rekam bahkan dijadikan sebagai berita terpanas saat ini.
" Maaf, anda salah orang. " Ucap Nathan lalu meraih tangan Ivi dan membawanya menjauh. Nathan langsung membawa keranjang belanjanya ke meja kasir.
Setelah membayar barang belanjaannya, Nathan kembali meraih tangan Ivi dan menggandengnya untuk meninggalkan super market segera.
" Nathan, kenapa semua orang mengasihani ku? aku kan tidak menginginkannya. "
Nathan menghela nafasnya lalu menatap Ivi tegas.
" Kalau begitu, jangan perduli kan. Kalau kau merasa risih melihat mereka, lihat saja aku terus menerus. "
Ivi menaikkan sebelah sisi bibirnya.
" Terimakasih banyak. Tapi akan lebih baik lagi kalau aku melihat wajah, "
" Wajah siapa?! " Kesal Nathan.
" Jangan bilang wajah curut mabuk itu. "
Ivi memalingkan wajah lalu tersenyum. Sungguh dia sama sekali tidak mengingat Kakak Bien saat itu. Dia hanya menginginkan wajah idolanya yang tak lain adalah aktor Hollywood kesukaannya. Tapi, kalau tidak ada ya Kakak Bien juga boleh.
" Kau benar-benar masih memikirkan dia?! "
" Ih! kau ini kenapa marah-marah sih?! aku ini sedang sedih tahu tidak?! seharusnya kau menghiburku. "
Nathan mengedipkan matanya karena merasa malu. Iya memang benar sih. Tapi siapa suruh dia memancing emosinya duluan. Mendesah bersamanya tapi masih memikirkan curut mabuk sialan itu.
" Baiklah, ayo beli es krim. " Ajak Nathan karena kebetulan sekali mereka berada tak jauh dari counter es krim.
Ivi menatap sebal Nathan yang malah menawarinya es krim.
" Kau ini, memang kau pikir aku anak-anak apa? "
" Ck! ya sudah kalau tidak mau. " Ujar Nathan lalu berjalan meninggalkan Ivi.
" Vanila choco chip! aku mau vanila choco chip! jangan lupa bilang, tambah banyak-banyak choco chip nya ya? " Ivi nyengir lalu mengedipkan matanya beberapa kali.
" Dasar aneh! " Nathan berjalan menuju penjual es krim dan membeli sesuai dengan apa yang diminta Ivi.
Ivi dari kejauhan tersenyum melihat Nathan. Wajah cemberut itu benar-benar sangat lucu. Batin Ivi. Tapi sepertinya senyum itu tidak bertahan lama karena ada dua gadis cantik yang mendekati Nathan. Sepertinya dua gadis itu berpura-pura membeli es krim untuk mendekati Nathan.
" Dasar perempuan licik! biarpun kalian berdua dan aku sendiri, aku tidak akan takut dengan kalian. Dan kau Nathan, kalau sampai kau melayani dua wanita genit itu, akan ku sentil keluar satu biji telur mu! "
To Be Continued.