
Seperti yang sudah di sepakati, mulai dari hari ini Nathan dan Ivi berubah menjadi sepasang suami yang romantis. Heh?! anggap saja begitu karena menurut mereka, mereka ini sudah bertindak romantis pada porsinya. Seperti pagi ini, Ivi dengan wajah sok anggun melayani Nathan dengan mengambilkan sarapan untuknya. Memang apa yang dia lakukan ini adalah hal yang wajar bagi seorang istri. Tapi yang tidak wajar adalah porsi makanan yang di tuangkan ke piring Nathan.
" Sayang, makan lah yang banyak ya? " Ivi dengan senyum di bibirnya menyendok kan nasi goreng hingga membentuk gunung di piring Nathan. Sebenarnya bukan Ivi kesal lalu sengaja memberikan banyak nasi untuk Nathan. Tapi Ivi berpikir, memberikan banyak makan untuk Nathan akan membuat tubuh nya sehat.
" Ivi apa kau sedang menghukum ku. " Tanya Nathan yang hanya bisa menatap syok nasi di piringnya.
" Tidak. Kau kan perlu banyak makan agar selalu sehat. Anggap saja, ini keinginan anak mu ya? "
Sebenarnya bukan hanya sekali dua kali Ivi melakukan hal aneh. Tapi hampir setiap waktu saat bersama dengan Nathan. Mulai memeriksa detak jantung nya, memeriksa mulut nya agar memastikan tida ada kotoran dan kuman, memeriksa bagian-bagian inti lainnya karena tidak mau terjadi sesuatu dengan Nathan. Sejujurnya alasan di balik sikap konyol Ivi itu membuat Nathan bahagia, tapi kalau soal makan, Nathan benar-benar menyerah. Satu minggu terakhir ini dia di paksa untuk memakan sayuran dan buah yang berlebihan. Lagi-lagi alasannya adalah untuk kesehatan Nathan. Belun lagi ngidam Ivi yang membuatnya pusing.
" Sayang, mau makan bakso yang ada di ujung jalan rumah Ayah dan Ibuku. Sayang, mau makan rujak buah yang Langung dari China. Sayang, mau makan asinan Bangkok ( jam dua dini hari. ) Sayang, mau makan permen yang di jual toserba di dekat rumah kaca pinggir pantai. Sayang, mau makan biskuit rasa ati ayam. Sayang, mau makan mangga yang warnanya merah muda. Sayang, sayang, sayang. "
Dor!
Itu baru satu minggu, dan Nathan hampir berpisah dari nyawanya. Saat berada di kantor, dia hanya bisa menahan kantuk dan tidak fokus. Tapi kalau dia gunakan untuk tidur, yang ada pekerjaannya akan semakin menumpuk dan akan membuat waktu bekerjanya lebih lama.
Tring..
Satu pesan masuk ke dalan ponsel Nathan. Tidak perlu penasaran siapa yang mengirimnya pesan, karena sudah pasti itu adalah istrinya.
Sayang, jangan lupa makan ya? jangan terlalu lelah.
Nathan tersenyum setelah membaca pesan dari Ivi. Rupanya Ivi benar-benar berubah semejak menyebut namanya dan melarangnya pergi saat tertidur. Entah apa yang di mimpikan Ivi, setidaknya dia perlu berterimakasih kepada dewa mimpi.
*S*ayang, aku ingin pergi ke Hot Chicken ya? aku merindukan Bos Ira.
Nathan menghela nafas panjangnya. Aebenarnya, bukan dia tidak mengizinkan Ivi keluar rumah, hanya saja dia begitu khawatir entah apa alasannya.
" Tunggu aku saja ya? aku akan menemani mu ke sana. " Ucap Nathan setelah panggilan suara nya terhubung. Tidak lagi memikirkan pekerjaannya, dia pergi begitu saja dan mengirim pesan untuk Sammy. Iya, lagi-lagi pria itu harus menyerahkan semua waktu senggangnya untuk menyelesaikan pekerjaan Nathan. Padahal, dia berniat mengajak Ele untuk menonton film di bioskop.
Setelah pulang ke rumah untuk menjemput Ivi, Nathan dengan sigap membuka kan pintu agar Ivi lebih leluasa masuk ke dalam mobil. Barulah setelah itu dia mengantar Ivi ke tempat bekerja nya dulu. Mungkin, Nathan maupun Ivi tidak paham jika perlakuan Nathan selama ini terbilang manis meski di selingi celaan dan makian. Hampir satu jam menempuh perjalanan, akhirnya sampailah Ivi di tempat kerjanya dulu.
" Ok, sayang. " Ivi tersenyum lalu memeluk lengan Nathan seraya kaki mereka melangkah.
" Bos! " Panggil Ivi dengan semangat melambaikan tangan setinggi mungkin. Bos Ira yang terkejut dengan kedatangan Ivi buru-buru dia berjalan cepat lalu memeluk si gadis tomboi yang sekarang terlihat cantik. Tak lupa, mereka juga saling menempelkan pipi kanan dan kiri bergantian. Luar biasa! Nathan sampai keheranan melihat dua orang itu. Padahal sudah memeluk istrinya begitu lama, apa perlunya menempelkan pipi begitu? tahu sendiri kan dia tadi sedang mengurus ayam goreng. Kalau kumannya berpindah ke Ivi bagiamana? terus, kalau terkena bayi mereka bagiamana? Nathan yang ngeri memikirkan itu akhirnya menarik Ivi agar segera menjauh dari Bos Ira.
" Ada apa? " Tanya Ivi bingung yang merasa tiba-tiba ditarik jauh menuju nya.
" Jangan terlalu aktif. Nanti kalau kau menyakiti bayi kita bagiamana? " Baiklah, setidaknya alasan ini adalah alasan yang paling logis.
'' Bayi? " Tanya Bos Ira lalu menatap Ivi meminta penjelasan.
Ivi tersenyum lalu mengangguk.
" Iya, Bos. Sekarang aku sedang hamil. "
Deg...!
Pria yang dulu begitu menahan diri untuk tidak buru-buru mendekati Ivi kini tengah berdiri di belakang punggung dan juga Nathan. Iya, dia adalah Bien. Pria berparas manis itu terpaksa menahan diri selama satu tahun terakhir karena saran dari kakaknya. Alasannya cukup masuk akal saat itu, jadi Bien memilih untuk mengikuti apa yang di sarankan kakaknya. Berharap Ivi akan menjadi gadis yang tidak lagi tomboi, dan lembut. Tapi sepertinya semua itu hanyalah penantian yang semakin jelas kenyataannya bahwa Ivi, justru pergi menjauh dan menjadi seorang istri dari pria yang begitu memiliki nama baik di kalangan bisnis. Menyesal? tentu saja dia menyesal karena mendengarkan saran kakak nya dengan dalih kalau Ivi memiliki rasa yang sama seperti yang dia rasakan. Bahkan kakaknya juga dengan begitu meyakinkannya jika Ivi tidak akan mungkin menyukai laki-laki lain. Lalu sekarang? Ivi justru terlibat begitu bahagia.
Ira hanya bisa menatap Bien pilu. Yah, dia sadar benar semua ini terjadi karena ulahnya. Seandainya saja dia tidak melarang Bien saat itu, mungkin Bien dan Ivi akan bahagia sekarang ini. Sebenarnya Bien memang pernah menceritakan tentang terakhir kali bertemu Ivi dan Ivi sudah menikah. Tapi keyakinannya kepada rasa yang di miliki Ivi membuatnya tidak percaya.
" Bien? " Panggil Ira perlahan karena merasa bersalah akan hal ini. Nathan dan Ivi menoleh ke belakang untuk memastikan sosok yang dipanggil namanya oleh Ira.
" Kakak Bien? apa kabar? " Ivi tersenyum ramah setelah menanyakan kabar Bien. Semenatara Nathan, dia begitu bisa menebak apa yang tengah di pikirkan pria yang terlihat kecewa itu. Tapi jauh di dalam lubuk hatinya, dia kini merasa bahagia karena menang dari curut mabuk sialan itu.
" Ivi, selamat atas kehamilan mu. " Ucap Bien yang dengan jelas terlihat memaksakan senyumannya.
" Terimakasih. Ini adalah sebuah kebahagiaan serta hasil dari kerja keras kami pagi, siang dan malam. Iya kan sayang? " Nathan menyahut. Jemarinya juga sedikit menekan lengan Ivi agar mengiyakan ucapannya.
To Be Continued.