Touch Me!

Touch Me!
Ganti Ayah



Dua bulan kemudian.


Vanya dan Nathan kini tengah menyelesaikan beberapa pekerjaan yang harus mereka dirampungkan, sebelum mereka pergi ke Maldives.


Nath dan Lexi mengadakan rapat hingga tiga kali hari ini. Maklum saja, besok adalah hari keberangkatan mereka menuju Maldives. Sungguh melelahkan hari ini. Lelah bercampur kesal yang Nath rasakan. Kenapa? tentu saja karena Lexi dan Devi yang tak henti-henti nya saling menggoda dan memberi semangat satu sama lain di hadapannya. Sedangkan dia, seharian dia menunggu istrinya telepon atau sekedar membalas pesan darinya. Nath yang iri melihat kemesraan Lexi dan Devi, tentu saja dengan kesalnya dia mencoba memisahkan mereka saat di kantor, Terlebih di hadapannya. Tapi tetap saja, mereka mlah asik bercengkrama lewat ponsel. Sungguh hari buruk sedunia batin Nath.


" Sayang, apa disana banyak pria tampan? apa kau lupa kalau aku adalah suamimu? sayang, aku sangat merindukan mu loh,... "


Nath menatap ponselnya yang masih saja tak mendapat pesan satu pun dari istrinya. Dia bahkan mengetuk-ngetukkan ponselnya karena mengira ponselnya sudah rusak. Lalu dia mengangkat tinggi-tinggi ponselnya menggoyangkan ke kanan dan ke kiri. Mungkin saja sinyal di ponselnya sudah gila atau iri, sehingga tidak membiarkan pesan dari istrinya sampai kepadanya. Hampir lima belas menit, Nath menghabiskan waktu untuk bergelut dengan ponselnya. Tetap saja tidak ada pesan yang ia terima dari istrinya.


" Sialan! ini semua gara-gara KBR Group dan Dirgantara! mereka semua membuat istriku melupakan ku. " Umpat Nath sembari memukul angin dan hendak membanting ponselnya. Tapi untungnya, ada panggilan masuk dari seseorang dan membuat Nath mengurungkan Niatnya.


" Sayang? "


' Sayang kepalamu! '


Nath menjauhkan ponsel dari telinganya untuk melihat nama dari orang yang menghubunginya.


" Dasar bajingan tengik! kenapa kau menghubungiku?! "


' Heh! apa Vanya meminta cerai? ' Tanya Pria itu yang tak lain adalah Kevin.


" Sialan! dasar monyet botak! kalau saja kau dekat denganku, akan ku cabut semua bulu hidungmu! "


' Ck ck...! mulutmu lembut sekali, ya? aku hanya ingin menyerahkan hasil pemeriksaan kesehatan mu. '


" Tidak perlu! aku tidak memiliki penyakit serius, itu yang paling penting. "


' Hah! baiklah, ya sudah kalau begitu, aku dan istriku akan pergi membeli beberapa barang yang terlupakan untuk besok. Sampai jumpa! '


Nath semakin ingin membanting Ponselnya. Tapi dia takut melewatkan pesan dari Vanya. Akhirnya dia meletakkan kembali ponsel itu dimeja nya dan terus memandanginya dengan jari telunjuk yang terus e


mengetuk-ngetuk meja.


Pukul sembilan belas malam. Nath hanya bisa diam dengan wajah sedihnya. Lagi-lagi ia harus bersama sepasang suami istri sialan yang terus bermesraan, bahkan tak segan-segan mereka saling melemparkan kecupan dihadapannya. Hari ini, Lexi benar-benar seperti sedang balas dendam. Dia mengajak Nath makan siang bersama. Tapi dengan tidak punya hati ya, dia mengajak Devi dan saling menyuapi. Ah! rasanya Nath benar-benar kesal sampai terus menggerutu didalam hatinya. Semoga saja sendok itu tertelan oleh mereka dan mati mengenaskan ditempat.


" Honey, mau makan apa malam ini? " Tanya Lexi yang sedang mengemudi dan Devi, gadis itu duduk disamping Lexi. Nath berada di kursi penumpang bagian belakang.


" Apa saja, Honey. Saat makan bersamamu, apapun terasa nikmat. " Balasnya lembut.


Sialan! honey? kalian pikir, kalian semanis madu? berkacalah kalian! mana ada madu yang sepahit dan angker seperti wajah kalian! dibandingkan dengan makan kuno ditengah belantara, wajah kalian lebih angker dari itu. Aku saja merinding terus saat dekat dengan kalian.


Nath yang merasa sangat kesal, dia memajukan tubuhnya, lalu dengan sengaja memisahkan tangan Lexi dan Devi dengan alasan tidak sengaja karena ingin mendengar musik. Lexi dan Devi hanya bisa diam mendengus saat Nath selalu menghancurkan momen mesra mereka. Padahal, dia kan tinggal meminta Lexi atau Devi memutar musik untuknya kan? dan yang anehnya, setelah Nath kembali ke posisi awal, Lexi kembali meraih tangan Devi. Dan Nath, kembali memisahkan tangan mereka, dengan alasan ingin mematikan musiknya. Pusing dan tidak enak di dengar! itulah yang kini menjadi alasan Nath.


Devi yang paham jika Presdirnya sedang iri, dia hanya diam dengan wajah kesal. Begitu juga dengan Lexi. Pria itu benar-benar ingin menjitak lalu mensleding sahabat kurang ajarnya itu. Sudah tak mau bersuara lagi, Lexi lebih memilih untuk fokus mengemudi. Dan Devi, dia memilih menatap jalanan malam yang sedikit macet hari ini.


Nath tersenyum penuh kemenangan. Tidak perduli lagi apa yang akan dipikirkan Lexi dan istrinya. Masa bodoh jika akan dianggap seperti anak kecil. Toh, wajar-wajar saja kan? cinta kan bisa membuat orang pintar menjadi bodoh, dan bodoh menjadi pintar. Jadi jangan salahkan Nath. Salahkan saja cinta diantara Lexi dan Devi yang begitu menggebu-gebu akhir-akhir ini.


Sesampainya di apartemen.


Nath berjalan cepat setelah keluar dari lift untuk menuju unitnya. Apalagi kalau bukan untuk menemui istrinya tercinta? dia sudah membayangkan akan memeluk istrinya sampai pagi karena begitu rindu seharian ini. Menghirup aroma tubuh istrinya lalu saat pagi, ia akan mandi bersama seperti biasanya.


" Sayang! " Panggil Nath saat membuka pintu.


Nath terdiam karena terkejut, karena melihat ramainya orang di apartemen nya. Ada orang tuanya, orang tua Vanya, Bibinya Vanya, Sherin dan juga.


" Ada apa ini? " Tanya Nath bingung.


" Happy birthday " Ucap Vanya dan Nathan yang berjalan membawa sebuah cake ditangannya. Semua orang kompak mengikuti ucapan Vanya sembari bertepuk tangan. Vanya nampak cantik dengan gaun berwarna ice blue, Nathan juga menggunakan kemeja yang selaras dengan Ibunya. Nath mengingat kembali, dan ternyata benar. Ini adalah hari ulang tahunnya. Nath menghela nafas lega lalu berlari menuju Vanya. Dia meraih kue itu memindahkannya ke tangan Kevin dan langsung memeluk Vanya erat. Setelah cukup lama, barulah dia berpindah menatap Nathan yang kini sedang merengut menatapnya. Iya, Nathan selalu di nomor duakan oleh Ayahnya sendiri. Apapun dia selalu mengutamakan Ibunya, barulah dia.


" Ayah, sebenarnya aku ini anakmu atau bukan? "


Tanya Nathan yang masih terlihat sebal. Nath mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh putranya. " Tentu saja kau anakku. Wajah kita kan sangat mirip. "


Nathan menghela nafasnya dan sesekali melirik sinis kepada Ayahnya.


" Ada apa? kenapa kau kesal di hari ulang tahun Ayah? "


" Itu karena Ayah terlalu lama memeluk Ibu. Jangan bilang, seharian Ayah hanya merindukan Ibu dan lupa merindukan ku?! "


Nath menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Memang iya sih, seharian ini memang Vanya lah yang memenuhi otaknya. Dia terlalu sibuk menebak-nebak apa yang dilakukan istrinya, hingga ia lupa kalau harus merindukan anaknya yang beberapa hari ini terus memprotes dirinya yang tak adil membagi cinta, antara dia dan Ibunya.


" Tebakan ku benar rupanya! ah dasar Ayah jahat! aku jadi memiliki niat untuk menggeser posisi mu sebagai Ayahku. " Nathan menatap Ibunya lalu menggenggam jemari Ibunya.


" Ibu, carilah Ayah yang baru! aku sudah tidak mau Ayah yang ini. " Nathan menunjuk Nath yang mendelik sebal.


Dasar iblis kecil menyebalkan!


To Be Continued.