
Pertemuan pagi ini benar-benar terasa menyenangkan bagi Sammy. Bagaimana tidak? pagi ini dengan jelas dia bisa melihat kecemburuan dari seorang Nathan yang baru kali ini dia saksikan secara langsung. Nathan yang dengan jelas menyembunyikan kecemburuannya di balik sikap sok jua mahal padahal murah itu. Semetara Ivi, gadis polos yang bahkan tidak bisa menyadari rasa tertarik Nathan kepada dirinya. Karena bagi seorang Ivi, satu-satunya pria yang ia dambakan adalah kakak Biennya. Seorang pria yang membuat hati Ivi terpesona semenjak tiga tahun lalu, tepat di jari pertama kali Ivi tak sengaja bertemu Bien.
Percakapan yang menggelak tawa kini semakin renyah saja. Kata tiap kata yang keluar dari ketiganya seolah tak ada habisnya untuk saling membantah dan menyudutkan.
" Ivi, apa kau suka menonton film? " Tanya Sammy setelah beberapa kalimat sebelumya sebagai sapaan bosa-basi.
" Aku tidak punya waktu untuk nonton film. " Ivi menghela nafas setelahnya lalu meraih gelas yang berisi jus sirsak kesukaannya.
Nathan menghela nafas kasarnya lalu menenggak habis segelas susu hangat.
" Lalu apa yang kau sukai? " Tanya Sammy lagi yang seolah tak menghiraukan adanya Nathan.
Ivi tersenyum lalu mendekatkan wajahnya kepada Sammy yang terbatasi oleh meja.
" Aku suka uang. "
Sammy berpura-pura terkejut lalu ikut mendekatkan wajahnya hingga begitu banyak jarak yang terkikis diantara mereka.
" Kau benar-benar gadis yang transparan ya? "
Ivi yang tidak merasa gugup karena tidak memiliki rasa, tentulah dia berani menatap mata Sammy tanpa rasa canggung sedikitpun.
" Memang harusnya seorang hadis bertingkah seperti apa? "
Sammy tersenyum lalu memangku wajahnya dengan sebelah tangannya.
" Seharusnya kau bertingkah anggun dan berpura-pura polos terlebih dulu. "
" Aku tidak memiliki kemampuan sehebat itu. Kalau pun bisa, aku pasti akan menggunakannya untuk memikat kakak Bien. "
Jika tadi Sammy memangku wajahnya dengan sebelah tangannya, kini kedua tangan itu ia gunakan untuk melakukanya. Dia tersenyum manis seolah-olah tengah mengagumi Ivi yang masih asik menjawab kata yang keluar dari bibir Sammy.
" Memang apa kelebihan dari kakak Bien mu itu? "
Ivi mulai tersipu malu, pipinya juga bersemu merah mengingat betapa keren dan tampan kakak Bien nya itu. Apalagi saat pertama kali bertemu, saat itu Bien tengah bermain basket bersama dengan teman-temannya. Betapa mempesonanya Kakak Bien yang tengah bermain basket dengan keringat yang membasahi wajahnya. Tubuhnya yang kekar benar-benar semakin membuat Ivi terpesona akut hingga sulit untuk berpaling dari kakak Bien.
" Dia itu, " Belum juga selesai bicara, Nathan yang sedari tadi mencengkram kuat gelasnya menahan marah, kini tidak bisa lagi menahan diri. Nathan meletakkan telapak tangannya di dahi Sammy dan Ivi bersamaan lalu menjauhkan jarak mereka yang begitu intens dan menyebalkan baginya.
" Kalian ini lupa kalau masih ada aku ya?! "
" Ups, sorry. Aku lupa. " Ujar Sammy lalu tersenyum.
" Oh, maaf ya Upin. Aku memang lupa sih, lagi pula kau diam saja. Jadi aku pikir, kau sedang fokus menahan kentut. "
Nathan menghela nafas memaksa Sammy untuk bertukar posisi. Tentulah Sammy hanya bisa menuruti kemauan Nathan. Karena kalau tidak, Nathan pasti akan menggigitnya seperti anjing gila nanti. Melihat dari wajahnya, Nathan memang benar-benar kesal melihat bagaimana cara Sammy dan Ivi berbicara dengan begitu dekat.
" Yang akan menikah dengan mu itu, aku. Lebih baik fokus dengan urusan itu dan jangan membicarakan hal tidak penting. Apalagi tentang curut mabuk satu itu. "
" Dengar ya, Upin. Mulai hari ini kau tidak boleh menyamakan kakak Bien ku dengan curut mabuk yang sebenarnya lebih cocok untukmu. "
" Aku? curut mabuk? apa kau tidak tahu betapa jeleknya curut mabuk itu? "
" Tidak tahu dan tidak mau tahu. "
Nathan menarik nafas dan menghembuskan perlahan. Mencari kesabaran agar bisa lebih lama menghadapi gadis ayam goreng yang super menyebalkan itu.
" Sekarang begini saja, mari lupakan curut mabuk dan bangsanya. Kita bahas soal pernikahan kita bagaimana? "
Ivi menelan salivanya dengan susah payah. Sungguh aneh, gara-gara mendengar ucapan Nathan, rasanya sulit sekali menelan ludahnya sendiri yang bagai menelan pasir.
" Me menikah? ke kenapa tiba-tiba? kan ki kita baru bertemu beberapa kali? itu saja kita terus bertengkar seperti anjing dan kucing. "
" Baiklah, kau anjingnya dan aku kucingnya. "
" Tentu saja aku kucing dan kau anjingnya. " Bantah Ivi.
" Baiklah, biarkan aku yang anjing. Kalian berdua kucingnya. Bagaimana? " Usul Sammy yang merasa kesal karena mendengar pertengkaran yang tidak jelas itu.
" Baiklah, Kau butuh uang kan? dan aku butuh perisai. Jadi seimbang. Tenang saja, aku hanya membutuhkan istri agar tidak lagi harus menemui gadis-gadis yang di jodohkan dengan ku. "
Ivi terdiam sesaat mengingat rasa cinta dihatinya yang kini masihlah milik Bien. Jika saja tidak membutuhkan banyak uang, dia pasti akan menunggu Bien bersedia menjadi pasangannya. Tapi dibandingkan Bien, tentulah Ayahnya jauh lebih penting.
" Jadi, kapan kita harus menikah? " Ivi bertanya dengan wajah yang begitu sedih dan sangat jelas kalau dia merasa begitu keberatan.
Sialan! ekspresi nya menyebalkan sekali. Memang rugi ya kalau menikah dengan ku? apa yang kurang dariku? aku kan tampan, kaya, cerdas, dan masih perjaka. Aku juga bersih dari skandal tentang wanita.
" Tunggu aku mengenalkan mu terlebih dulu dengan keluarga ku. Dan aku juga harus mengenal keluarga mu. "
" Kenapa harus mengenal keluarga? lagi pula nanti kita bercerai juga kan? lebih baik diam-diam begitu dan seperti kebanyakan pernikahan simbiosis mutualisme yang memakai surat kontrak begitu. Iya kan? "
Enak saja! siapa juga yang mau menikah kontrak? lagi pula aku menikahi mu hanya untuk melatih otot-otot diwajah ku agar tidak mengkerut karena jarang berekspresi.
" Akan kita lakukan nanti. Sekarang yang paling penting kau menyetujuinya. Dan akan ku beri tahu apa peraturan yang akan aku berikan. "
" Bisa beri tahu sekarang? " Pinta Ivi yamg sudah sangat penasaran.
" Baiklah, akan ku beri tahu. Ini bukan penawaran. Kau tidak boleh merasa keberatan apalagi membantah. Kau mengerti? " Ivi mengangguk.
" Pertama, kau tidak boleh bertindak tanpa izin dariku. Kedua, kau tidak boleh mengagumi pria lain demi reputasi ku. Ketiga, kau tidak boleh menyebut nama curut mabuk itu. Ke empat, kau harus bertingkah manja dan mesra saat berada di tempat umum. Ke lima, jika ada yang bertanya bagaimana perasaan mu menikah dengan ku, kau harus mengatakan bahwa kau sangat bahagia. Alasannya karena aku pria yang paling tampan, pintar, baik hati, cerdas, bijaksana dan pengertian. Kau paham? "
" Mengerikan sekali. " Ivi masih ternganga membayangkan dirinya menjalani semua peraturan yang diberikan Nathan.
To Be Continued.