Touch Me!

Touch Me!
Tingkah Gila Lexi



" Siapa Namanya?


Pertanyaan ini, membuat Vanya begitu bingung. Benar, sebaik-baiknya bangkai disimpan, bau busuknya tidak akan bisa dihilangkan. Vanya terdiam tanpa memperdulikan pertanyaan yang lain.


" Vanya? " Nath menjentikkan jarinya. Dia jadi bingung, kenapa Vanya malah melamun?


" Iya. " Jawab Vanya yang tersadar dari lamunannya.


" Kenapa kau diam?


" Tidak, bukan apa-apa. Oh, iya. Bagaimana dengan putramu?


Nath tersenyum mengingat obrolannya dengan Nathan semalam melalui sambungan telepon. " Dia, anak yang cerdas. Dia sangat tampan.


Anakku juga tampan. Maksutnya, anak kita. Dia juga sangat tampan. Dia sangat mirip denganmu.


" Benarkah? berapa usianya? " Tanya Vanya kembali. Ia mulai tertarik untuk mengetahui tentang Anaknya Nath.


" Iya. Dia tampan karena mirip denganku. Usianya empat tahun. " Jawab Nath dengan senyum yang terus terlihat dibibirnya.


Iya, Anakku juga sangat mirip denganmu. Usianya juga empat tahun. Ternyata, selain aku, ada juga yang mengandung anakmu diperiode yang sama.


" Kau beruntung sekali Nath. " Ujar Vanya ya g tidak tahu lagi ingin membicarakan apa. Rasanya, ada sedikit rasa sakit yang menusuk kehatinya. Membayangkan Nath memiliki dua anak kandung dari Ibu yang berbeda. Dua anak kandung yang usianya bahkan sepantaran? lagi-lagi, Vanya hanya bisa menahan rasa kecewanya. Ia sadar betul. Jika ia tak melakukan kebodohan waktu itu, mungkin dia tidak akan merasa tak berdaya seperti sekarang ini.


" Iya. Aku semakin beruntung karena kau juga mau menerima putraku. " Nath menggenggam erat tangan Vanya.


Aku tidak memiliki pilihan.


" Apa, dia anakmu dengan Nona Gaby? " Tanya Vanya. Ia tak berani melihat ke arah Nath ia lebih memilih untuk menundukkan wajahnya sembari menatap kedua kaki jenjangnya.


Nath menghela nafasnya. " Bukan.


Vanya menatap Nath bingung. " Lalu?


Vanya, apa yang kau pikirkan, jika aku mengatakan yang sebenarnya? apa aku harus mengatakan padamu jika aku tidak mengetahui Ibu dari anakku? bukankah aku akan terkesan brengsek?


" Seseorang dari masa lalu. " Jawab Nath tanpa berani menatap Vanya. Untunglah, Vanya kembali menunduk dan tak melihat bagaimana Nath bereaksi tadi.


Jadi, dia gadis yang pernah Nath ceritakan dulu? huh....! ya sudahlah. Aku tidak bisa apa-apa. Lagi pula, dia sangat baik padaku. Meskipun, kadang-kadang aku merasa kalau perjalanan cinta kami terlalu mudah.


" Kenapa kau diam? " Tanya Nath sembari memeluk pinggang ramping Vanya. Dia menjatuhkan wajahnya dipundak gadis itu.


" Kau mau aku bereaksi seperti apa? " Vanya menoleh ditempat Nath meletakkan wajahnya.


" Jangan menggodaku, Vanya. " Nath tersenyum saat manik mata mereka bertemu.


Vanya kembali mengalihkan pandangannya. Membuat wajah mereka tak lagi berdekatan. " Maaf, Presdir Nath. Sepertinya kau terlalu percaya diri.


" Pft.....! maaf, Sayang. " Nath mengeratkan pelukannya.


" Uhuk...! uhuk......! " Lexi melintas sembari terbatuk-batuk.


Vanya dan Nath sempat menoleh dan menatap Lexi. Mereka saling memandang penuh tanya. Lalu kembali fokus dengan obrolan mereka.


" Nath, apa kau tidak akan menyesal karena memilihku? " Vanya memutar tubuhnya. Kini mereka berdiri saling menatap.


Nath mengecup pucuk kepala Vanya dan kembali menatap gadis pujaannya itu. " Tidak. Aku yakin dengan diriku. Aku lebih mengerti apa yang aku butuhkan didalam hidup. Ketika aku bertindak, sudah pasti aku lakukan dengan tulus dan penuh pertimbangan. Entah percaya atau tidak, aku lebih memahami diriku. Aku tidak suka memilih jika terpaksa. Karena aku, tidak suka dipaksa.


Vanya tersenyum. Dia benar-benar merasa beruntung. Jika saja, Tristan juga memiliki sifat yang sama seperti Nath, Vanya pasti akan mati karena klepek-klepek saat itu.


" Nath, terimakasih. Kau begitu baik. " Vanya memeluk Nath erat. Iya, keberanian Vanya bertambah setiap harinya. Tidak ada lagi gugup seperti dulu. Kini ia merasa aman dan bahagia saat bersama Nath.


" Terimakasih juga Sayangku. Kau sudah memberiku kesempatan untuk bersamamu. Aku akan berjuang sekuat tenaga agar kita tetap bersama selamanya.


" Bersama selamanya? " Vanya terdiam. Kata-kata itu mengingatkannya tentang Tristan.


" Jangan berani-beraninya memikirkan pria lain saat bersamaku. " Nath mencium bibir Vanya sesaat.


Eh? dia tahu ya?


Nath tersenyum sembari memegang wajah Vanya dengan kedua telapak tangannya. " Aku tidak akan lupa. Tapi,


" Tapi apa?


" Jika aku benar-benar lupa karena suatu hal. Maka, kau harus berjuang mengingatkanku. Kau harus berjuang untuk membawaku kembali padamu.


Vanya tersenyum. " Semoga cinta kita tidak berakhir menyedihkan. " Ujar Vanya.


" Jika cinta yang kau rasakan terasa menyedihkan, Itu berarti, kau salah memilih orang untuk jatuh cinta. " Ujar Nath tersenyum menatap Vanya.


Ya ampun....! mungkin, tidak akan ada yang percaya jika aku menceritakan ini kepada orang lain. Presdir Nath bisa berubah seperti penyair cinta.


Pandangan mereka bertemu setelah itu. Bibir yang saling tersenyum dengan artian penuh cinta. Perlahan, wajah mereka mulai mendekat. Berniat untuk menautkan bibir mereka.


' Plak....!! plak......!!


Lexi melintas sembari menepuk-nepuk udara. " Ah...! dasar kurang ajar! di manapun aku berada, nyamuk ini brnar-benar mengikuti ku.


Nath menatap Lexi kesal. Rasanya, ingin sekali dia meninju wajah kurang ajar itu. Mana ada nyamuk di rumahnya?


" Ya ampun....! kalian masih disini? " Tanya Lexi yang berpura-pura terkejut. Dia berjalan beberapa langkah untuk mendekati Nath dan Vanya.


" I, iya. " Jawab Vanya sedikit gugup. Untunglah, posisi wajah mereka reflek menjauh saat suara Lexi mulai terdengar.


Nath terus menatapnya tajam. Bibirnya juga ikut gemetar karena kesal. Lexi yang menyadari itu, dia tidak berani lagi untuk melanjutkan langkahnya.


" Emm, Ok lah. Aku ke kamar dulu. " Lexi membalikkan tubuhnya hendak menuju kamar.


Disaat itu juga. Nath kembali memposisikan wajahnya untuk melanjutkan lagi kegiatan yang tadi tertunda.


" Nath! " Panggil Lexi yang membuat Nath dan Vanya kembali menjauh.


Nath menatap Lexi seolah bertanya ADA APA LAGI?!!!


" Bolehkah aku memakai shampo mu? aku ingin mandi terlebih dulu.


Matilah saja!


" Ambil saja.


Lexi mengangguk sembari membalikkan tubuhnya.


Nath dengan cepat, dia memposisikan wajahnya untuk kembali mencium bibir Vanya.


" Nath!


Sialan! Lexi benar-benar menguji kesabaran ku. Lihatlah nanti. Akan ku buat kau tidak bisa menelan nasi selama satu minggu.


" Apa?! " Jawab Nath kesal Sembari memiringkan tubuhnya untuk sekilas menatap Lexi yang berada dibalik punggungnya.


" Boleh pakai baju tidur mu?


Nath mendesah kesal. " Pakai ya pakai saja! sejak kapan kau begitu sopan?!


" Oh ya ampun Nath. Maaf, jika kau marah. Baiklah,.. aku akan pergi.


Lexi kembali membalikkan tubuhnya. Baru beberapa langkah, dia kembali bersuara dan kembali pula menatap Nath dan Vanya.


" Nath?..." Panggilnya lirih.


" Dasar sialan!! kau tidak ada kerjaan lain apa?! kau pikir aku tidak tahu apa maksutmu?! dasar kolot. Sudah tua tapi belum punya pacar. Sayang sekali jika tongkatmu itu tidak digunakan. Apa mau ku belikan boneka untuk kau pakai? " Ejek Nath yang sudah tidak tahan lagi dengan tingkah Lexi.


" Nath, aku minta maaf. " Lexi tertunduk malu.


" Baiklah, ini yang terakhir aku menganggu. Tapi, bisakah aku memakai ****** ***** milikmu?


........................