
Ivi menggerakkan bola matanya ke kanan dan ke kiri menatap dua gadis yang super cantik dan serupa itu. Entah bagaimana Ivi bisa mengartikan tatapan aneh kedua gadis cantik itu. Bahkan si Upin atau Sammy itu hanya bisa berdiri di sudut sofa sembari memijat pelipisnya. Ivi sebenarnya tidak tahu apa yang sebenarnya di inginkan dari dua gadis cantik yang kini menatapnya aneh. Begitu ia datang, dia langsung disambut di depan pintu dan di gandeng menuju tempat duduk. Pada akhirnya disinilah Ivi sekarang. Duduk sembari memeluk boks ayam goreng mentega yang berukuran sedang.
" Siapa namamu? " Tanya Nathalie.
" Si Silvi. " Nathalie dan Nathania mengangguk bersamaan.
" Jadi pekerjaan mu adalah kurir ayam goreng ya? "
" Iya. " Kali ini Ivi merasa sedikit kesal dengan pertanyaan salah satu dari gadis kembar itu. Biasanya dia hanya akan mendapat hinaan dan direndahkan karena profesinya. Tapi ini adalah satu-satunya pekerjaan yang bisa ia jalani karena dia hanya tamatan sekolah menengah atas tanpa prestasi yang menonjol.
" Berapa usia mu? "
" Dua puluh tiga. " Jawab Ivi singkat.
" Kau punya pacar? "
Rasanya ingin sekali Ivi memaki kedua wanita cantik yang terus bergantian mengajukan pertanyaan kepadanya. Tapi karena memikirkan Ayahnya, mau tidak mau dia hanya bisa bersabar dan mencoba tersenyum meski dia tidak rela membuang tenaga hanya untuk tersenyum tidak penting.
" Tidak punya. "
Nathalie dan Nathania saling menatap tapi tak terlihat mengekspresikan wajahnya untuk menyampaikan isi hatinya. Apa mungkin gadis kembar itu bisa ber telepati? batin Ivi.
" Kau mau jadi teman kami? " Tanya Nathalie dan Nathania bersamaan. Mereka juga langsung mengubah ekspresi menjadi ramah.
" Uh! bukan teman, Lili. Tapi kakak ipar! "
" Eh?! " Ivi menaikkan sisi bibirnya dengan tatapan bingung.
Nathania dan Nathalie kompak tertawa lalu mengangguk setelahnya.
" Jadi kakak ipar, kapan kau dan kakak pertama akan menikah? "
" Nona sedang bertanya kepada ku? " Ivi menunjuk dirinya sendiri dengan wajah yang masih bingung.
" Iyalah. Kau kan sebentar lagi akan jadi kakak ipar kami. " Ujar Nathania yang semakin membuat Ivi bingung.
Kakak ipar apa sih? siapa yang mau menikahi kakak kalian? se enaknya saja menyebut ku kakak ipar! aku ini pacaran saja belum pernah, mana mungkin tiba-tiba menikah? bisa-bisa ayah Ibu dan kakak ku kejang-kejang karena keheranan.
" Kakak ipar, perkenalkan. Namaku Nathania, dan ini adik kembar ku Nathalie. " Kedua gadis kembar itu tersenyum ramah menatap Ivi. Tapi Ivi justru keheranan melihat gadis kembar itu yang tidak seperti anak orang kaya lainya.
Mata mereka ini konslet atau bagaimana sih? memang mereka tidak jijik ya melihat gadis sepertiku ini? biasanya orang kaya kan suka memaki dan gila kebersihan. Aku yang bau ayam goreng apa tidak terhendus di hidung mereka?
Setelah terus berbosa-basi, akhirnya Nathalie dan Nathania berhasil mendapatkan nomor ponsel milik Ivi. Meski sebenarnya gadis itu masih tidak mengerti maksud dan tujuan gadis kembar itu. Tapi karena tatapan manja dan rengekan Nathania dan Nathalie, Ivi menjadi risih dan terpaksa memberikan nomor teleponnya.
" Kakak ipar, bagaimana kalau minggu besok kita jalan-jalan? atau kita berbelanja bersama, bagaimana? " Tanya Nathania yang di angguki oleh Nathalie.
Belanja? kalian ini dari tadi mendekati ku hanya untuk memeras ku ya?! berani-beraninya kalian memeras kurir ayam yang bertampang gembel ini!
" Aku harus bekerja. Maaf ya? " Elak Ivi dari pada rugi bandar nantinya.
" Ayolah kakak ipar,... " Nathalie dan Nathania merengek lagi sembari menggoyang-goyangka lengan Ivi. Ivi tentu hanya diam dengan tubuh yang bergoyang ke kanan dan ke kiri.
" Kalian ini tidak kasihan ya? aku kan cuma seorang pengantar ayam goreng mentega. Gaji ku saja tidak cukup untuk membeli skincare kalian. Bagaimana bisa aku membelanjakan kalian? " Ivi masih bisa meredam emosinya jadi dia masih bisa berbicara dengan sopan.
Nathalie dan Nathania terdiam sesaat sembari saling menatap lalu tertawa terbahak-bahak setelahnya.
" Kakak ipar, kau tenang saja. Aku tidak akan meminta mu membelanjakan kami. Bagaimana kalau kami yang membelanjakan kakak ipar? "
Jika saja pada kenyataan ada filter, maka saat ini pasti bola mata Ivi sudah berbentuk Rp.
" Bagiamana kakak ipar? "
" Begini Nona Lili dan Nona Nana. Bagaimana kalau memanggil nama ku saja? aku kan bukan kakak ipar kalian? lagi pula aku lebih muda loh dari kalian. Memang tidak terlihat kah tampang imut ku? "
" Haha..... iya kakak ipar memang imut kok. Lalu bagaimana kalau memanggil kami Nana dan Lili saja? tidak perlu memakai Nona. "
" Oh? ok! "
Bruk!
Nathan dengan tampang kusutnya duduk sembari memijat pelipisnya hingga tak menyadari adanya Ivi disana.
" Hei hei kakak pertama! bisa tidak perbaiki wajah mu yang aneh itu? kau tidak malu ya dengan calon istrimu? "
Nathan sontak menatap Nathalie begitu juga dengan Ivi. Nathan kemudian melihat ke arah samping Nathalie yang tak lain adalah Ivi. Mereka tanpa sengaja saling menatap lalu kompak memalingkan wajah setelahnya.
" Siapa yang kau maksud kakak ipar? " Tanya Nathan tanpa ekspresi.
" Tentu ini. " Nathalie memeluk lengan Ivi.
" Aku? " Tanya Ivi dan langsung di angguki Nathalie dan Nathania.
" Omong kosong! " Ucap Nathan.
" Cih! siapa juga yang mau menikah dengan Ipin. " Gumam Ivi yang masih bisa terdengar jelas.
" Jangan asal mengganti nama! namaku Nathan! ingat! jangan sembarangan mengubah nama. "
" Tidak tanya tuh. Nathan kek, Nothan kek, memang siapa juga yang butuh nama jelas mu. Kesannya malah seperti mengenalkan diri. " Gumamnya lagi dengan suara yang jelas terdengar.
" Aku hanya tidak suka dipanggil Ipin. Siapa juga yang mau berkenalan dengan mu? dasar aneh! "
" Aku juga tidak mau kok. " Jawab Ivi.
" Kau ini dasar aneh ya?! lagi pula kenapa kau muncul terus menerus didepan ku?! memang kau tidak sadar kalau wajah mu membosankan? "
" Tidak tuh. Ayah ku bilang, aku ini sangat manis dan tidak akan bosan dipandang mata. Ibuku juga bilang, aku adalah gadis tercantik di dunia. Baik dunia nyata ataupun dunia lain. "
Nathan berdecih tapi tak terlihat ingin mengacuhkan tiap kata yang keluar dari mulut Ivi.
" Orang tuamu pasti jago sekali berbohong ya? "
Ivi menyeringai kesal menatap Nathan.
" Ih! dasar jelek! sombong! cerewet! kalau kau jelek jangan sombong! kalau kau sombong mana ada gadis yang mau menjadi pacar mu? "
Nathan terperangah mendengar tiap hinaan yang bagaikan anak panah satu persatu melesat kedada nya.
Jelek Sombong cerewet?
" Kau ini buta ya?! mana ada wajah sepertiku jelek?! yang ada seleramu yang aneh! "
" Apanya yang aneh? "
" Laki-laki yang kau bilang lebih tampan bermiliar-miliar kali lipat dariku, kenapa tidak sesuai kenyataan? bulu hidungnya saja menyembul keluar. Matanya besar seperti ondel-ondel. Bibirnya juga sangat tebal seperti ikan koi. Apalagi hidungnya juga tidak mancung. Apalagi saat dia tersenyum, giginya sangat kuning. Memang kau tidak jijik saat akan menciumnya nanti? "
To Be Continued.