
Satu tahun telah berlalu. Tidak ada lagi drama-drama ibu hamil lagi sekarang. Nath yang sudah benar-benar trauma menghadapi Vanya saat hamil, memutuskan untuk tidak memiliki anak lagi. Sementara Lexi dan Kevin, mereka tidak berani bersuara untuk mengatakan tidak mau kepada istrinya. Devi yang galak dan tegas adalah alasan bagi Lexi untuk menerima segala keputusannya mengenai berapa anak yang di inginkan istrinya. Yah, meskipun itu sedikit menyisakan trauma baginya. Sementara Kevin, pria itu juga dengan terpaksa menerima keputusan istrinya. Sherin yang gampang menangis dan merajuk, adalah alasannya untuk tetap mengikuti apa yang istrinya inginkan.
Pagi hari yang cerah secerah hati Nathan. Pemandangan serta suasana rumah yang heboh membuatnya begitu nyaman berada di apartemen orang tuanya. Nathan sering kali tertawa bahagia saat Ayahnya menggerutu sembari menggendong adik-adiknya. Apalagi saat tengah malam, adiknya akan kompak menangis. Tahu alasannya apa? karena hampir setiap malam Nathan memasang alarm untuk mengganggu tidur adiknya dan membuat bayi kembar itu terbiasa bangun ditengah malam. Dan nyatanya, itu berhasil. Ditambah lagi kedua adiknya hanya mau berada di gendongan sang Ayah saat tengah malam. Nathan semakin damai tinggal di apartemen yang begitu ramah dengan gerutuan dan makian sang Ayah.
" Nath! Nathalie pup! "
Nath yang sudah kelelahan menjaga kedua putrinya semalam, dengan berat hati bangun dari tidurnya dan mulai membersihkan Nathalie. Ini adalah kegiatan rutin seorang Nath. Memandikan Nathalie dan Nathania yang hanya lebih senang menghabiskan waktu bersama Ayahnya. Meski kadang-kadang, Nath ingin sekali menjitak kepala kedua anaknya yang selalu saja membuatnya tak punya waktu untuk istirahat. Nyatanya, Nathalie dan Nathania seakan tak mengenal takut. Kedua bayi itu justru akan terkekeh melihat sang Ayah yang sedang bergumam kesal. Mata yang melotot dengan bibir yang bergerak sembari mengumpat, malah dianggap lelucon oleh mereka. Sangat berbeda jauhkan dari sosok Ayah yang ada di beberapa Drama, Novel, dan komik? tapi inilah Nath. Meski jauh di lubuk hatinya sangat menyayangi kedua putrinya, tapi ada Vanya yang tidak bisa dia abaikan. Vanya memang tidak sesibuk sebelum mengandung Nathalie dan Nathania, tapi kelahiran kedua putri yang kini Nath juluki Ratu iblis, membuat Nath dan Vanya kesusahan menghabiskan waktu untuk bersama. Kenapa tidak memakai jasa Baby sitter? Oh, sungguh itu sudah Nath lakukan. Tapi apa hasilnya? kedua putrinya itu menolak untuk di asuh oleh kedua Baby sitter dan terus mengulurkan tangan kepadanya.
" Diamlah kalian! dengar ya, Nathalie dan Nathania. Kalau kalian mengganggu Ayah dan Ibu lagi, Ayah akan me,- "
" Sayang mereka sudah tidur? " Tanya Vanya yang merasa sudah cukup lama Nath berada di kamar dua putri kembarnya itu.
" Sudah, sayang. " Nath sesaat menatap Vanya sembari tersenyum lembut lalu kembali menatap kedua putrinya dengan tatapan mengancam.
Jangan mengganggu Ayah dan Ibu! kalau masih saja mengganggu, akan ayah kirim kalian ke Antartika!
Nath bangkit dari posisinya. Berjalan ke arah Vanya dan menggandeng tangannya untuk menuju kamar mereka. Nath langsung memeluk tubuh Vanya saat pintu kamar mereka sudah tertutup.
" Sayang, aku sangat merindukan mu. " Ucap Nath setengah berbisik ditelinga Vanya.
" Aku juga merindukan mu. " Vanya melingkarkan lengannya di leher Nath dan mulai menikmati bibir indah suaminya itu. Nath dengan rakusnya mulai membalas ciuman mesra istrinya menjadi ciuman penuh gairah. Maklum saja, setelah adanya Nathalie dan Nathania, mereka benar-benar tidak bisa leluasa seperti dulu lagi. Waktu untuk bercinta pun, hanya bisa ia lakukan dengan buru-buru. Tentu saja alasannya masih sama. Nathalie dan Nathania akan menangis saat menyadari Ayah mereka tidak ada di dekat mereka.
Suara desahan mulai terdengar mengisi kamar sunyi mereka. Vanya dan Nath yang sudah masuk kedalam jurang kenikmatan yang mulai menguasai tubuh mereka.
" Oek..... "
Satu suara putrinya terdengar. Tapi karena kegiatan yang begitu tanggung, Nath tidak mau mengindahkannya dan fokus dengan apa yang sedang mereka lakukan. Vanya yang merasa khawatir, mencoba menghentikan kegiatan itu sementara. Tapi Nath yang merasa tanggung, tidak mau menggubrisnya. Dan lama kelamaan, suara putrinya yang satu lagi menyusul dan membuat mereka kehilangan konsentrasi.
" Sialan! " Umpat Nath kesal. Dia bangkit lalu meraih celana pendeknya dan berjalan setengah berlari ke arah kamar putri kembar mereka. Vanya menghela nafasnya dalam-dalam sembari menatap langit-langit. Dia mau membantu menenangkan anak-anaknya juga percuma. Tidak ada satupun putrinya yang mau ditenangkan saat terbangun dimalam hari selain dengan Ayahnya. Bukan hanya sekali dua kali Vanya mencoba, tapi hampir setiap malam dan hasilnya sama. Suara tangis Putrinya semakin lantang saat ada di gendongan Vanya.
" Nath, kau pasti kelelahan. " Gumam Vanya. Dia meraih dress tidurnya lalu berjalan ke arah kamar putri kembarnya. Dia membuka pintu perlahan agar tak menimbulkan suara. Matanya berair melihat Nath yang begitu sibuk mengurus kedua putrinya. Satu tangannya memegangi botol susu untuk Nathalie yang hampir saja tertidur. Tangan satunya lagi menggendong Nathania sembari menggoyang-goyangkan perlahan agar dia tertidur. Cukup lama Vanya berdiri di ambang pintu menyaksikan Nath menidurkan kedua putrinya.
" Sayang? " Ucap Nath saat membalikkan tubuhnya untuk kembali ke kamar.
Vanya tersenyum lalu memeluk tubuh Nath. Dia benar-benar tidak tega melihat suaminya begitu sibuk mengurus kedua putri mereka. Sedangkan Vanya, dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengurus putra satu-satunya yaitu Nathan.
" Maaf, pasti kau sangat lelah. "
Nath mencium kepala istrinya lembut. Dia tahu benar, Vanya selalu merasa tidak berguna karena tidak bisa membantu menenangkan kedua putrinya yang setiap malam akan terbangun untuk mencari Ayahnya.
" Sayang, dari pada menghabiskan waktu untuk begini, bukanya lebih baik melanjutkan yang tadi? "
" Tapi, memang kau tidak lelah? "
Nath menghela nafasnya. Meraih tangan Vanya dan meletakkannya di bagian tongkat ajaibnya yang masih tegak. Vanya tersenyum lalu mengangguk.
Kau ini begitu baik, Nath. Mana bisa aku menolak mu? lagi pula, siapa juga yang tidak mau melakukan itu dengan pria tampan sepertimu.
***
" Berhentilah memakinya! "
Lexi membeku mendengar suara lantang sang istri yang seolah menggelegar hingga ke antariksa.
Tak jauh dari nasib Nath. Pria itu nampak sebal tiap kali putranya Zadet menangis, dia pasti akan salahkan karenanya. Itulah mengapa jika Zadet menangis Lexi akan langsung memelototinya. Padahal tujuannya hanya untuk sekedar menakut-nakuti saja agar berhenti menangis. Kalau masih tidak mau diam, Lexi akan sedikit mengancamnya dengan kata-kata. Maklum saja, dia pria yang belum memiliki pengalaman mengurus anak sebelumnya. Tapi tetap saja Lexi mengaggap Zadet terlalu manja karena ulah istri dan orang tuanya yang selalu manjakan Zadet. Bahkan saat ada bekas gigitan nyamuk, Lexi adalah orang pertama yang akan di maki dan disalahkan oleh orang tuanya sendiri.
" Uh,..Zadet anak Ibu. Kau pasti sangat tertekan karena Ayahmu ya? " Devi melirik tajam ke arah Lexi yang kini merasa kebingungan. Lagi-lagi dia yang disalahkan. Batinnya menggerutu.
" Honey, apa kau tidak merasa kasihan padaku? kenapa setiap kali Zadet menangis aku selalu disalahkan? apa aku ini sudah tidak dibutuhkan lagi oleh mu? kenapa sekarang aku merasa sangat dibenci oleh mu? "
Lexi mengerucutkan bibirnya dengan tatapan sendu. Berharap agar istrinya sedikit lunak dan mengasihaninya yang selalu berada dalam posisi yang malang.
" Honey, jika kau tidak membutuhkan aku lagi, maka aku akan- "
" Tidak! kau tidak boleh kemana-mana. "
Lexi tersenyum lalu bangkit untuk memeluk istri dan anaknya bersamaan. " Terimakasih, Honey. Aku tahu kau masih sangat mencintai ku. "
" Iya. Itu memang benar. Tapi, "
" Tapi apa? "
" Aku lebih mencintai benih mu. Aku masih membutuhkan benih mu untuk adik-adiknya Zadet. "
Lexi terperangah mendengar ucapan sang istri yang begitu menusuk telinganya. Benih? yang benar saja!
" Kenapa hanya benih? aku juga perlu kau cintai! " Protes Lexi.
" Aku tentu saja mencintaimu. Tapi aku mencintai benih mu lebih dari cintaku padamu. Jika bukan benih darimu, Zadet pasti tidak akan setampan ini. "
Rasanya ingin protes, tapi tidak mungkin juga ia lakukan. Walau bagaimanapun, itu juga sebuah kebanggaan kan? Lexi hanya bisa menghela nafas dan tersenyum sesudahnya. Dia mencium bibir Devi lalu kembali memeluknya. Biarlah hidup berjalan apa adanya. Kebahagian dan kesedihan pasti akan datang dalan sebuah hubungan. Hanya perlu menikmati apapun kondisinya dan berusaha yang terbaik untuk tetap kuat menjalani bersama pahit manisnya kehidupan.
***
" Sayangku, Kenan sudah selesai diberi makan. " Ucap Kevin seraya meyerahkan Putranya yang bernama Kenan kepada istrinya. Kevin adalah salah satu Ayah yang juga begitu telaten mengurus putranya. Oh tunggu! tentu saja itu karena titah sang istri. Kenapa? karena saat ini Sherin kembali mengandung. Usia kandungannya memang baru empat minggu, tapi Kevin yang begitu melindungi istrinya tak membiarkan istrinya kesusahan sedikitpun.
" Kenan pintar sekali? " Goda Sherin sembari mencium kepala sang putra yang kini tengah berada di pangkuannya.
Kevin tersenyum melihat anak dan istrinya. Ini terasa seperti mimpi indah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Memiliki istri yang cantik, anak yang tampan, dan sebentar lagi akan menambah jumlah anggota keluarganya lagi. Rasanya baru kemarin dia sering menggerutu kesal karena ngidam istrinya. Tapi itu tidak akan terjadi lagi pada kehamilan ini. Dia sudah benar-benar berjanji kepada dirinya sendiri. Untuk selalu sabar dan menuruti apa yang di inginkan oleh anak dan istrinya nanti. Pengalaman pahit yang ia rasakan saat kecil hingga remaja, cukup memberinya pelajaran berharga yang tidak akan dia wariskan untuk anak-anaknya. Dia akan memberikan sebanyak-banyaknya kasih sayang yang tidak terbatas untuk anak maupun istrinya. Dan yang paling penting, dia akan menjadikan Sherin satu-satunya wanita di dalam rumah tangganya. Dia benar-benar tidak akan pernah menjadi seperti Ayah kandungnya yang tak tahu bagaimana kabarnya saat ini.
Author pov.
Ini adalah akhir dari kisah " Touch Me! " . Tapi, kehidupan mereka akan terus berlanjut. Bertengkar, marah, kecewa, menangis, dan bahagia yang paling penting. Akan terus terjadi di antara mereka.
Ini adalah akhir cerita dari sosok Vanya yang berawal dari sebuah sentuhan. Sentuhan yang membawanya ke dalam takdir kehidupan. Sebuah kegilaan yang mungkin tidak terpikirkan oleh manusia normal yang lainya.
Dan inilah akhir cerita dari ketiga pasang anak manusia degan berbagai masalah yang terlihat rumit tapi begitu mudah saat dihadapi.
End.
Sampai jumpa di Novel Author yang lain ya kesayangan.....
Terimakasih untuk segala bentuk dukungan dari kalian. Ini novel pertama ku yang lumayan banyak pembacanya. Dan aku benar-benar bahagia karena kalian sudi membaca novel remahan semacam ini.
Aku tunggu di Novelku yang baru ya kesayangan.....