
Vanya dan dan Ayahnya, kini sedang berada diruang kerja Ayahnya Vanya. Bukan tanpa alasan, mereka sedang ingin membicarakan sesuatu yang sensitif, itulah mengapa mereka mencari tempat untuk bicara. Ayah hanya bisa memandangi putri kandungnya yang masih terlihat membatasi diri. Sedih, itulah yang dia rasakan. Dia ingin memeluk dam mencurahkan kasih sayang, tapi sepertinya tidak akan mudah bagi Vanya untuk menerimanya. Dia paham benar, Vanya datang kerumah itu hanya untuk meluruskan sesuatu yang masih mengganjal dihatinya.
" Aku tahu ini sudah berlalu, tapi aku masih tetap ingin tahu. Kenapa kau melakukan itu padaku dan pada Ibuku? " Vanya menatap wajah Ayah yang mulai terlihat pilu. Dia tahu ini adalah luka lama yang ia sayat kembali. Tapi walau bagaimanapun, dia membutuhkan jawaban ini untuk tahu bagaimana dia akan bersikap kepada Ayahnya kelak.
Ayah menyatukan jemarinya seolah mencari kekuatan dari sana. Sebagai seorang Ayah dan Suami, benar dia memang gagal. Gagal melindungi istri yang paling dia cintai, gagal dalam mengerti dan memahami putrinya. Tapi sungguh, dia tidak pernah mengira bahwa akan sefatal ini akibatnya. Bukan hanya istrinya yang mengorbankan nyawanya, dia bahkan mengorbankan dirinya untuk hidup dalam kebencian, iya. Kebencian kepada dirinya sendiri. Seandainya tidak ada Vanya, mungkin dia juga memilih untuk mati bersama istrinya.
" Karena, Ayah yang bodoh dan tidak memiliki akal sehat. "
Vanya mengepalkan kedua tangannya. Akal sehat? bahkan semua orang tidak memiliki akal sehat saat itu. Ibu yang memilih mengakhiri hidupnya dengan konyol dari pada memperjuangkan cinta, Kakek dan Nenek KBR Group yang begitu Egois, Ayah yang begitu sembrono dalam mengambil langkah, apa semua tidak memiliki akal sehat? Vanya menatap tajam sosok Ayah yang saat kecil begitu ia cintai.
" Apakah kalian sadar? siapa yang paling menderita karena ulah kalian? " Vanya bertanya dengan suara yang bergetar seolah menahan tangis.
Ayah mengusap wajahnya sembari menatap Vanya yang mulai terlihat sedih. Tentu saja dia tahu, Vanya adalah yang paling menderita karena ke egoisan mereka. Vanya yang harus kehilangan Ibu karena pemikiran konyol Ibunya, Ayah yang salah mendidiknya hingga membuatnya membenci Ayahnya, KBR Group yang membuat kekacauan, dan mati-matian ingin merebut anak dan istrinya, tapi tiba-tiba menghilang saat berita meninggal putri mereka disiarkan. Siapa yang harus disalahkan? tapi sepertinya, mereka semua bersalah. Mereka semua mengambil adil untuk penderitaan yang Vanya alami.
" Maaf.... " Satu kalimat inilah yang akhirnya terdengar dari bibir sang Ayah. Meski ia tahu, sejuta maaf pun tidak akan bisa menyembuhkan, atau bahkan hanya sekedar meringankan rasa sakit yang dialami putrinya itu.
" Seandainya, ada diantara kalian yang tidak egois, mungkin aku masih memiliki ibu. "
Ayah semakin tertunduk tak berdaya mendengar ucapan Vanya. Iya itu memang benar. Bahkan kegilaan seorang Rudi Dirgantara tak berhenti di situ, setelah kematian istrinya, dia benar-benar seperti orang gila. Dia mengganti pasangan wanitanya setiap saat. Bahkan, teman sekolah menengah putrinya juga ia jadikan mainannya. Dia sama sekali tidak memperdulikan istri baru yang ia miliki. Karena dia sibuk mencari sosok yang mampu mengisi kekosongan hatinya. Sayang, bahkan sampai saat ini pun, hatinya masih saja terasa kosong dan hampa.
" Itu semua salah ayah, Vanya. Ayah pikir, jika Ibu mu kembali ke keluarganya, Ayah akan bisa melihatnya setiap saat. Ayah hanya berpikir, tempat yang paling cocok untuk Ibumu adalah KBR Group. Hanya saja, kebodohan Ayah membuatnya hilang akal. Jangan membenci Ibumu, Vanya. Salahkan saja Ayah. Karena semua yang terjadi adalah karena Ayah. Jika saja Ayah tidak memaksanya untuk menikah, mungkin tidak akan begini. Jika saja Ayah bisa menahan perasaan cinta Ayah waktu itu, mungkin semua akan baik-baik saja. "
Vanya menahan tangisnya dengan menghembuskan nafas. " Bagaimanpun terimakasih, Ayah. Karena semua yang terjadi ini, membawaku kepada Nathan Chloe. Aku diberikan kebahagiaan lain setelah semua sakit itu. Aku memiliki putra yang membuatku bahagia setiap waktu. Aku memiliki suami yang begitu mencintaiku. Aku memiliki KBR Group dan keluarga Chloe yang mendukungku. Aku baik-baik saja sekarang. "
Rudi menatap putrinya sedih. Kenapa tidak ada namanya dalam daftar tersebut? apakah Vanya masih begitu membencinya? dia mati-matian mengembangkan Dirgantara Foundation hanya untuk Vanya, jika Vanya masih tak menganggapnya, apa gunanya semua yang di lakukan?
" Dan, karena Ayah juga mendukungku kan? " Pertanyaan ini sukses membuat Ayahnya terkejut bahagia. Dia hanya bisa mengangguk dengan linangan air mata yang mulai berjatuhan di pipinya.
Vanya membalasnya dengan senyum. Mungkin benar apa yang Nath katakan. Mereka sudah hidup dengan menghukum diri mereka sendiri. Sekarang Vanya hanya perlu membawa hidupnya ke jalan damai dan melepaskan semua beban yang tersimpan. Tidak ada lagi yang bisa menyakitinya dan membuatnya sedih. Vanya harus tetap menjadi Vanya yang seperti biasa. Kuat dan tidak mudah di tindas. Vanya bangkit dari posisinya untuk memeluk Ayahnya. Ini adalah momen langka bagi keduanya. Setelah bertahun-tahun, akhirnya mereka berpelukan dengan perasaan saling menyayangi.
Setelah obrolan itu berakhir, Vanya dan Ayahnya bergandengan tangan untuk menuju ke ruang keluarga. Nath dan semua orang menatapnya bahagia dengan apa yang mereka lihat. Oh, tunggu! tidak dengan Rina ya? wanita itu masih asik menatap kesal pada Vanya. Bagaimana tidak? dia hanya mendapat sepuluh persen warisan dari Dirgantara Foundation. Tentu saja ia merasa iri, kenapa harus diserahkan kepada Vanya delapan puluh persennya? padahal Vanya sudah sangat kaya hanya dengan KBR Group. Bahkan, keuangan Chloe juga sudah pasti mendukungnya kan? Vanya tidak melakukan apapun tapi bisa begitu beruntung, dia yang sudah bekerja di perusahaan Ayahnya hanya dapat segitu? tidak masuk akal! batinnya.
" Bagaimana, sayang? " Tanya Nath sembari mengulurkan tangan menyambut istrinya.
" Ibu! " Nathan berlari ke arah Nath dan Vanya. Dengan sigap Nath meraih tubuh mungil putranya itu dan memangkunya.
" Kau sudah besar, jangan meminta Ibu untuk memangku lagi ya? kau sudah berat. " Nath mengacak rambut putranya lalu memberikan kecupan di pipinya.
Rina semakin menatapnya kesal. Kenapa begitu berbeda dengan Tristan? pria itu bahkan tidak tanggap saat ia lelah karena menggendong putrinya saat sakit.
" Aku bukan ingin meminta Ibu memangku ku, Ayah. " Ujar Nathan.
Nathan mendekatkan bibirnya ditelinga sang Ayah. " Aku melihat mata Ibu sembab. Apa kakek ini membuat Ibu menangis? apa kakek ini memukul Ibu? "
Nath tersenyum sembari mengelus kepala bocah kecil yang membuat hatinya semakin berwarna. " Tidak. Ibu terlalu bahagia bertemu kakek sampai menangis. "
" Benarkah? " Nath mengangguk.
" Apa yang kalian bisikkan? " Tanya Vanya dengan kening yang mengeryit.
Nath dan Nathan kompak tersenyum sembari menggeleng. " Tidak ada, kami hanya sangat mengagumi Ibu. " Ucap Nath dan Nathan bersamaan.
" Jangan berbohong! " Ancam Vanya.
" Kami kan tidak berani berbohong. " Ucap Nath dan Nathan dengan ekspresi yang sama.
To Be Continued.
Hallo kesayangan.....
Untuk bab selanjutnya, kemungkinan akan up setelah maghrib ya.....
Jangan lupa dan komen! 🤭
Jangan lupa juga untuk bahagia dan sehat selalu ❤️