
Ivi duduk dengan wajah yang tentu saja terlihat keberatan. Tapi mau bagaimana lagi? salah satu perjanjian kan harus mengikuti apa yang diperintahkan pria yang masih ia anggap kotoran lalat itu. Apalagi tadi Ibunya menghubungi bahwa Nathan sudah membayar semua tagihan rumah sakit bahkan menyisakan biaya untuk perawatan Ayahnya sampai sembu total.
Sementara Nathan, entah mengapa juga dia begitu gugup hingga mau mengigit ayam saja dia begitu malu. Apalagi sedari tadi Ivi terus saja melihat ke arahnya. Dia dengan bodohnya begitu menjaga image dan memakan ayamnya layaknya seorang gadis keturunan kaisar. Gigitan yang begitu kecil dan menguyah dengan pelan. Satu potong ayam goreng saja, sudah hampir sepuluh menit baru habis. Untunglah pikiran Ivi sedang melalang buana hingga ke kahyangan yang tidak tahu ada di negara entah berantah.
Sialan! aku memang lapar sih, tapi kalau matanya menatap ku terus, aku tidak bisa menggigit paha ayam ini dengan sekali gerak seperti biasanya kan? ah! sialan.
Tiba-tiba ponsel Ivi berdering dan membuatnya fokus kepada ponselnya. Dan inilah saatnya Nathan beraksi. Secepat kilat dia menggerogoti daging ayam itu sebelum Ivi kembali menatapnya. Dia bahkan sampai menundukkan kepalanya sampai sejajar dengan meja agar tak terlihat oleh Ivi.
" Apa yang sedang kau lakukan? "
" Uhuk..uhuk...uhuk..." Nathan tersedak lalu mencari-caru keberadaan air nya tapi sayang, dia lupa belum menyiapkan air saat akan makan tadi. Dia yang sudah kesakitan meminta Ivi untuk mengambilkan air dengan menunjuk-nunjuk mulutnya. Tapi sayang, gadis bodoh nan polos itu terlalu serampangan saat berpikir. Dia kira bahwa Nathan memintanya untuk menyuapi makan. Tidak pikir panjang lagi, Ivi mengambil satu potong ayam goreng lagi lalu dicocol ke saus pedas.
" Ini. " Ivi menyodorkan ayam itu dengan semangat meski Nathan mendelik dan menggerakkan satu tangannya untuk memberitahu Ivi kalau bukan itu maksudnya.
" Tidak perlu malu-malu. Anggap saja aku ini adikmu yang menggemaskan, cantik, manis, dan baik hati. Aku juga suka menabung loh. Ayo buka mulutmu. " Pinta Ivi dengan semangat. Sayang sekali, meski Nathan sudah mencoba untuk bangkit, tapi tangan Ivi kembali menekan bahu Nathan dan membuatnya kembali duduk.
" Anggap saja ini hadiah dariku karena kau sudah membayar tagihan rumah sakit Ayah ku. A.... "
Nathan masih tetap menggeleng, tapi Ivi malah menekan kedua sisi pipi Nathan dan membuatnya terbuka. Tentu saja secepat kilat Ivi memasukkan ayam goreng yang sudah dilumuri saus pedas tadi.
" Bagaimana? enakkan? "
Tidak menjawab apapun, Nathan langsung berlari menuju dapur. Dengan cepat dia membuka lemari es dan meraih sebotol air mineral lalu menenggaknya hingga habis tak tersisa. Sudah hilang sakit karena tersedak, sekarang giliran rasa pedas yang seakan membakar mulut Nathan mulai terasa tak tertahankan.
" Ah!!! mulutku! kenapa meminum air dingin jadi lebih parah? " Gerutu Nathan lalu kembali meraih satu botol air mineral lagi.
" Jadi kau tidak suka pedas ya? "
Nathan langsung membalikkan tubuhnya, disanalah Ivi berdiri entah sejak kapan dan sudah jelas kalau dia pasti memperhatikan Nathan.
" Padahal, laki-laki yang suka pedas itu sangat macho loh, tapi itu sih menurutku. " Ucap Ivi yang masih saja melihat Nathan tanpa ekspresi. Tapi wajahnya sangat basah seperti baru saja berolah raga.
" A aku tidak takut pedas kok. Aku hanya merasa kalau AC rumah ini pasti rusak. Lihat nih! " Nathan memamerkan wajahnya serta lehernya yang terlihat basah.
" Aku berkeringat karena sangat panas berada di dalam. " Nathan berpura-pura menutup lemari es dan sudah pasti posisi itu membuatnya membelakangi Ivi. Disaat itu dia terus menjulurkan lidah menahan sensasi terbakar yang begitu menyiksanya.
" Kenapa aku malah merasa kedinginan ya berada disini? " Ujar Ivi sembari melihat ke atap yang terpasang AC disana.
" tidak kok! panas! panas sekali. Aku tidak tahan karena disini terlalu panas. " Nathan mengguyurkan sebotol air dingin itu kepalanya. Meski tidak semua, tapi lumayan juga mengurangi kobaran api yang kini terasa di mulutnya.
" Oh? begitu ya? " Ivi manggut-manggut karena memang bocah itu tidak perduli.
" Ayo kita kembali ke depan. " Nathan dan Ivi sudah berada didepan lagi. Nathan terus mencoba menutup mulutnya agar terlihat baik-baik saja. Dia bahkan kembali membasahi wajahnya dengan keringat. Matanya mulai menyipit menahan diri yang ingin sekali membuka mulutnya untuk memberikan udara disana. Tapi Ivi yang kini tengah menatapnya bingung justru membuatnya semakin harus menahan diri.
" Apa masih mau lagi? mau ku suapi lagi? "
Nathan melotot dan menggeleng cepat. Lagi? bahkan diberi sebongkah berlian saja tidak akan sudi Nathan lakukan.
" Baiklah, aku pulang dulu ya? besok pagi-pagi aku harus ke rumah sakit menjenguk Ayah. "
Nathan kembali mengangguk. Setelah itu Ivi bengkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Nathan sengaja berjalan dibelakang Ivi sembari menjulurkan lidah dan mengipas nya dengan telapak tangannya.
Baru saja beberapa detik dia merasakan sedikit kelegaan, Ivi kembali membalikkan tubuhnya menghadap Nathan. Dan tentu saja, Nathan kembali memasukkan lidahnya lalu tersenyum seperti tadi.
" Besok jangan memintaku mengantar ayam ya? " Nathan mengangguk cepat.
Ivi kembali memutar tubuhnya lalu memajukan langkahnya. Dan Nathan, dia harus mengantar Ivi sampai pintu utama kan? jadi mau tidak mau dia hanya bisa berjalan dibelakang gadis itu sembari kembali menjulurkan lidah untuk dia dinginkan dengan kipasan dari tangannya.
Lagi, Ivi seolah tengah mengerjai Nathan. Gadis itu juga kembali membalikan tubuh dan mau tidak ma Nathan harus menghentikan kegiatannya tadi.
" Ingat ya? tidak boleh meminta ku mengantar ayam untukmu. Besok aku libur kerja. Kau paham? " Nathan kembali mengangguk cepat.
Sialan! pergi sana! cepat pergi! aku tidak tahan lagi!
Kegiatan seperti itu terus berlangsung hingga sampailah mereka di pintu utama.
" Baiklah, aku pamit pulang dulu. Katakan kepada Lili, terimakasih tips nya. " Nathan kembali mengangguk. Tapi wajahnya benar-benar merah saat ini.
Ivi sudah akan melangkahkan kaki, tapi dia kembali lagi ke hadapan Nathan.
" Ingat pesanku tadi ya? " Nathan kembali mengangguk, tapi tidak tersenyum melainkan seperti tengah menahan tangis.
Ivi kembali melangkahkan kaki, tapi baru saja tiga langkah, dia mengingat sesuatu yang seharusnya dia sampaikan sedari tadi. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali kehadapan Nathan.
" Oh iya, "
Belum juga sempat Ivi berbicara, Nathan langsung menutup pintunya kuat. Tentu saja Ivi terperangah kesal melihatnya.
" Hei kotoran lalat! aku hanya mau mengucapkan terimakasih karena sudah membantu keluargaku! " Ivi memukul pintu itu dengan wajah sebal.
" Cih! dasar kotoran lalat tidak punya perasaan! walaupun aku calon istri bohong-bohongan, apa tidak bisa dia berpura-pura khawatir dan mengantar ku pulang? kalau aku diculik pria tampan bagaimana? dunia ini pasti akan berkabung kalau aku menghilang kan? "
To Be Continued.