Touch Me!

Touch Me!
S2- Ayo menikah secepatnya



Nathan terus saja membuang pandangan karena tak mau menatap Ivi yang terus menatap tajam kepadanya. Benar, dia sungguh sangat malu saat mengatakan Ivi adalah gadis yang cemburuan, bla bla masih banyak hal lain juga yang membuatnya tabah malu. Sementara Nathalie dan Nathania serta Sammy, mereka sedari tadi sibuk menatap sepasang makhluk langka yang sepertinya masih belum berniat untuk bicara.


" Sepertinya kakak pertama gugup ya? " Gumam Nathalie.


" Iya tentu saja. Memang tidak lihat? pipi merona seperti anak remaja yang tengah malu di depan wanita yang dia sukai. " Ujar Nathania.


" Yang jelas, aku kesal melihat mereka seperti itu. Tadi saat duduk bersama Salia Marhen yang cantik jelita, kakak pertama seperti cacing yang disiram minyak tanah. Sekarang coba lihat dia. Cih! sudah seperti Kukang jantan yang menunggu Kukang betina menghampirinya. Sungguh luar binasah. " Gerutu Sammy.


" Kalau tidak ada yang perlu dilakukan, aku pergi saja deh. " Ucap Ivi lalu bangkit dari duduknya.


Jangan! batin Sammy, Nathalie dan Nathania.


" Tunggu! " Cegah Nathan yang membuat ketiga manusia penghitung durasi penentu keberuntungan itu tersenyum lega.


" Duduklah. " Pinta Nathan dan langsung dilakukan oleh Ivi.


" Kenapa kau tiba-tiba ada disini? "


" Nathalie dan Nathania yang meminta ku datang. Katanya Ibumu ingin bertemu dengan ku. Tapi ternyata ada beberapa hal yang harus dilakukan mendadak. Jadi sepertinya aku harus menunggu Ibumu beberapa saat lagi. "


" Ibuku? " Tanya Nathan bingung.


" Iya. "


Nathan menatap Ivi mencari tahu apakah Ivi sama gugupnya dengan dia saat ingin bertemu orang tuanya Ivi atau tidak. Tapi semakin lama mengamati, Nathan jadi salah fokus dan malah sibuk menatap susunan wajah Ivi yang terlihat manis dan tidak bosan dipandang mata.


" Kenapa melihat ku begitu? apa kau sedang mengagumi wajahku yang cantik? " Tanya Ivi sembari memegangi wajahnya dengan mata yang mengerling beberapa kali.


Nathan tentu saja langsung mendapati kesadarannya dan berusaha untuk terus mengelak apa yang dituduhkan padanya.


" Mana mungkin aku mengagumi wajah mu yang seperti pantat babi itu. "


Ivi terperangah kesal. Bagaimana mungkin wajah cantik dan manisnya disamakan dengan pantat babi? gerutunya di dalam hati.


" Dasar jahat! kata-kata mu itu tidak bisa sedikit saja di kontrol apa? bisa-bisanya membandingkan wajahku dengan pantat babi. "


Maaf! tadi aku salah bicara. Kau manis kok. tapi aku tidak mau mengatakannya secara langsung.


Hening sesaat.


" Ivi? " Panggil Nathan yang beberapa kali melirik ke arah Ivi untuk menanyakan hal yang ingin sekali dia tanyakan sedari tadi.


" Apa? " Tanya Ivi yang terlihat cuek dan sepertinya sudah tidak memiliki niat untuk sekedar berbicara lagi dengan Nathan.


" Apa kau gugup saat tahu kalau Ibuku ingin bertemu dengan mu? "


Ivi sinis melihat ke arah Nathan. Sungguh dia tidak paham dengan maksud dari pertanyaan Nathan barusan.


" Kenapa aku harus gugup? "


" Kau tidak gugup? " Tanya Nathan heran. Iya, tentu saja dia heran. Karena saat ingin menemui keluarga Ivi pertama kali, jantungnya sama sekali tidak berhenti berdetak cepat. Lalu bagaimana bisa Ivi yang hanya seorang gadis kecil begitu terlihat tenang. Dia menjadi penasaran, apakah Ivi sedang berakting atau memang dia benar-benar tidak gugup.


" Tidak. " Jawaban singkat ini benar-benar membuat Nathan mengeryit heran. Sungguh, dia benar-benar heran. Bagaimana bisa dia setenang ini?


" Sungguhan? " Tanya Nathan lagi karena masih merasa belum yakin.


" Iya. "


Nathan menatap manik mata Ivi yang menunjukkan bahwa sama sekali tidak ada rasa gugup pada dirinya.


" Bagaimana kau bisa setenang ini? apa kau tidak takut Ibu ku akan menolak mu? "


Ivi menghela nafasnya lalu menatap Nathan.


" Tidak. "


" Dengar ya, kau harus mengganti uang ku kalau Ibu ku menolak mu. "


Ivi menatap Nathan sebal.


" Mana bisa begitu? kan Ibu mu yang menolak ku. Lagi pula, kenapa sih kau malah mau menikah dengan wanita yang baru saja kau samakan dengan pantat babi? "


Nathan terdiam sesaat dengan tatapan yang kurang fokus. Entah bagaimana menyampaikan sesuatu yang aneh di dalam hatinya. Tahu, dia sangat tahu jika Salia Marhen lebih unggul dari beberapa bidang. Seperti fisik, latar belakang, status pendidikan, dan masih ada beberapa hal lain. Tapi entah apa maunya hati, Nathan merasa lebih leluasa dan nyaman saat bersama Ivi. Rasanya dia bisa menjadi diri sendiri tanpa harus memikirkan tentang Image nya atau apapun itu namanya.


" Itu karena, karena, " Nathan masih saja berpikir keras mencari alasan yang masuk akal. Tentu saja dia tidak mau mengatakan hal yang bisa membuta Ivi semakin percaya diri tentunya.


" Karena aku cantik, manis, baik dan baik hati kan? iya kan? " Lagi-lagi Ivi bertanya dengan ekspresi yang begitu menggemaskan. Kedua tangannya memegangi kedua pipi dan mata mengerling beberapa kali.


Iya, semua itu mungkin saja. Karena aku sendiri tidak tahu alasan apa yang membuat ku nyaman bersama mu.


Tapi Nathan tetaplah Nathan. Tentu saja dia tidak akan membiarkan Ivi merasa bangga diri terlalu lama. Ivi boleh terbang ke atas oleh pujian untuk dirinya sendiri. Tapi Nathan akan membuatnya jatuh ke bawah dengan sebuah olokan yang terlihat seperti sebuah fakta.


" Jangan terlalu percaya diri. Aku mau menikahi mu karena tampang menyebalkan mu itu. "


Ivi yang tadinya tengah tersenyum tiba-tiba menjadi sebal dibuat Nathan.


" Jangan begitu jujur, Nathan. Apa kau tidak bisa berbohong demi kebaikan? "


" Kebaikan apa yang kau maksud? "


" Seharusnya kau biarkan aku bahagia dan jangan mengatakan fakta yang menyakitkan itu. " Protes Ivi.


" Memang begitu kenyataanya. "


" Cih! kalau begitu, seharusnya kau menikah saja dengan wanita yang tadi. Dia kan terlihat cantik, gemoy, kaya, dan juga terlihat sangat berpendidikan tinggi. "


Nathan menghela nafas nya. Jujur dia sama sekali tidak merasa kesal dengan pembicaraan ini. Justru dia malah ingin semakin lama mengobrol santai seperti ini. Rasanya begitu betah hingga dia tidak ingin membuat Ivi marah dan pergi dari sana.


" Wanita itu, maksudnya, Salia Marhen bukanlah tipe ku. "


Ivi menatap Nathan dengan tatapan terkejutnya.


" Si siapa kau bilang? "


" Siapa? siapa apa maksud mu? " Tanya Nathan kepada Ivi karena bingung apa maksud Ivi.


" Nama lengkap wanita tadi. "


" Oh, Salia Marhen. "


Ivi mencengkram kuat mini bag yang tengah berada di pangkuannya. Entah apa yang tengah dipikirkan oleh gadis manis itu. Matanya tiba-tiba memerah dengan tatapan yang menunjukkan sebuah kemarahan tapi tidak tahu apa yang membuatnya marah. Ivi kembali menatap Nathan dengan tegas dan berani.


" Nathan, ayo kita menikah secepatnya. "


" Apa?! " Nathan tentu saja terkejut.


" Ayo menikah secepatnya. Aku akan berperilaku baik kepada orang tuamu, aku akan membuat mereka menyukai ku. Aku akan berusaha sebaik mungkin. "


Nathan mengerjapkan matanya beberapa kali karena masih merasa tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


" Kau, apa yang membuatmu mengatakan ini? " Tanya Nathan.


" Oh, baiklah calon menantu, tidak perlu berusaha sepayah itu. Kami sudah setuju kok. " Entah kapan juga, Tuan dan Nyonya Chloe sudah bergabung bersama Sammy, Nathalie dan Nathania untuk ikut menonton Nathan dan Ivi.


To Be Continued.