Touch Me!

Touch Me!
S2- Terimakasih Atas Lukanya



Hari ini adalah hari dimana Sammy, Vanya, dan Nath akan menemui Ibu kandung Sammy. Sebenarnya Nath merasa sudah tidak penting lagi menemui Ibunya Sammy, hanya saja Vanya terus menyarankan hal itu karena tidak ingin Sammy terbebani dengan masa lalunya. Setelah selesai sarapan, mereka langsung berangkat semenatara Ivi dan Nathan juga berangkat ke kantor. Heh! jangan tanya kenapa Ivi juga ikut. Karena semenjak mengungkapkan perasaan satu sama lain, mereka berdua benar-benar menempel seperti magnet.


Selama di perjalanan, Sammy sama sekali tidak bersuara sedikit pun. Entah apa yang dia pikirkan, tapi setidaknya dia harus melewati masa ini agar bisa menjalani masa depannya tanpa terbebani dengan masa lalu.


" Sammy, kenapa kau diam seperti ingin menemui pembunuh saja? " Ledek Nath agar Sammy tak terus menerus diam saja. Karena Sammy yang pendiam benar-benar tidak cocok dengan karakter biasanya.


" Lalu, bolehkan aku menyender pada Ibu? sebenarnya aku ini sedang butuh pelukan loh. " Jawab Sammy yang jelas tengah menggoda Nath.


Nath menatap Sammy sebal. Buru-buru dia menempelkan tubuhnya ke Sammy.


" Kalau kau membutuhkan pelukan, cukup saja peluk Ayah. "


" Ah! tidak mau! "


" Dasar anak durhaka. "


Vanya yang mendengarnya hanya bisa menghela nafas tanpa mau ikut bicara. Dia juga memikirkan bagiamana perasaan Sammy harus mengenalkan diri kepada Ibu kandungnya nanti. Diliriknya Sammy yang kembali diam dan memilih untuk menatap ke arah jendela kaca. Matanya terlihat kosong dan sama sekaki tak menunjukkan ekspresi apapun. Tapi biarlah, mungkin setelah ini semua akan berlalu.


" Sammy, kalau kau menjadi pendiam seperti ini, bagaimana saat kau akan datang mengenalkan diri sebagai Presdir baru besok? apa kau akan bicara menggunakan bahasa tubuh? " Tanya Nath yang benar-benar tidak tahan dengan Sammy yang menjadi pendiam.


" Ayah, sebenarnya aku ini sedang galau loh. Apa Ayah tidak bisa menepuk punggung ku, mencium ku, lalu mengatakan dengan perasaan penuh cinta, Sammy, kau adalah anak yang baik. " Vanya tersenyum lucu. Sementara Nath, pria itu justru bergidik ngeri.


Satu jam lebih di perjalanan menuju rumah Ibu kandung Sammy, akhirnya mereka tiba disana. Lumayan juga rumah itu, meskipun tidak terlalu besar, tapi terlihat jelas kalau penghuninya termasuk orang yang berpenghasilan lumayan. Sammy terdiam saat melihat pintu gerbang rumah itu. Otaknya kembali mengingat bagaimana dia di dorong keluar dari rumah itu. Bahkan, siksaan yang dilakukan oleh Saudara tirinya juga kembali terlintas di pikirannya. Sejenak Sammy mencoba untuk mengontrol dirinya agar tak lagi memikirkan hal yang akan membuatnya marah nanti. Walau bagaimana pun, dia tidak boleh sampai mempermalukan Ibu dan Ayah yang selama ini telah mendidiknya dengan baik.


" Selamat siang? " Sapa Nath kepada security yang berjaga di sana.


" Selamat siang, ingin bertemu siapa pak? " Jawab security itu.


" Pemilik rumah ini ada? "


" Ada. Anda siapa ya? "


" Saya Nathan Chloe. " Ucap Nath.


Setelah mendengar siapa nama Nath, security itu meminta untuk Nath menunggu sebentar sembari dia mengabari Tuannya agar bisa memberinya izin untuk masuk. Tentu saja sang pemilik rumah tidak percaya begitu saja kalau ada seorang pembisnis besar yang mendatangi rumahnya. Untuk memastikan, dia dan istrinya bergegas keluar untuk melihat apakah benar yang diucapkan security rumahnya. Sesampainya mereka di sana, tentulah mereka terperangah karena masih tak percaya jika benar seorang Nathan Chloe datang kerumahnya.


" Anda benar-benar Nathan Chloe? " Ucap suami dari Ibu kandung Sammy yang juga ikut menatap tidak percaya.


" Apa butuh tanda pengenal? " Tanya Nath.


" Tidak. Tidak perlu, Tuan. Si silahkan masuk. " Ucap pria itu gugup.


" Kalau boleh tahu, apa tujuan Tuan Nath, dan keluarga kerumah kecil ini? " Tanya Tuan Ozi dengan kalimat dan mimik wajah, serta suara yang terkesan takut kalau salah bicara dan membuat Nath tersinggung.


" Aku menemani putraku karena ingin membahas sesuatu. " Jawab Nath.


Sepertinya mereka salah paham, karena anehnya putri mereka tiba-tiba tersenyum malu hingga pipinya sedikit merona. Sementara Sammy masih diam dan belum melepas kaca matanya.


" Apakah ini tentang anak-anak kita? "


" Eh? " Vanya jadi bingung sendiri. Tapi akhirnya dia paham kalau ada kesalah pahaman di sini.


" Maaf, Tuan Ozi. Kami kesini untuk membahas sesuatu antara putra kami dan istri anda. " Ucap Vanya yang sontak membuat rona merah di pipi anak gadis mereka menghilang.


" Maksud anda bagaimana ya? "


Sammy membuka kaca matanya setelah menghela nafas. Ditatapnya wajah Tuan Ozi dan Ibu kandungnya bergantian. Dan gadis yang duduk di dekat mereka begitu terpesona saat Sammy membuka kaca matanya. Memang wajahnya tidak sama seperti di televisi, tapi tetap tampan juga.


" Apakah, ini Nathan Rezef Chloe yang ada di televisi beberapa waktu lalu? " Tanya Tuan Ozi.


" Bukan, dia adalah putra kedua kami. Namanya, Sammy Rezef Chloe. " Jawab Nathan cepat dan jelas.


" Oh, saya juga dengar nama putra kedua anda tapi tidak pernah melihatnya di televisi. " Ujar Tuan Oxi.


" Jadi, ada urusan apa ya dengan istri saya? " Tanya lagi Tuan Ozi. Sementara istrinya terus menatap Sammy karena merasa bahwa Sammy tidaklah asing. Tapi dia segera menampiknya pemikiran itu. Sudahlah, mungkin hanya karena namanya sama dengan putranya dulu.


" Sammy, apa yang ingin kau katakan? " Tanya Vanya sembari meraih jemari Sammy dan menggenggamnya erat.


Sammy nampak terdiam sesaat. Sungguh dia ingin sekali memaki wanita yang sedari hanya tersenyum dan mengamati seolah sama sekali tidak mengenalnya. Kembali Sammy menguatkan dirinya dan perlahan mengangkat pandangannya menatap bola mata Ibu kandungnya. Dan di saat itulah, Ibu kandung Sammy bisa melihat tatapan mata Sammy kecilnya.


" Nyonya, " Sammy mengeratkan genggaman tangan Vanya. Mencari kekuatan dari tangan penuh kasih dan hangat itu.


" Nyonya, terimakasih karena telah membuat ku menjadi kuat. Terimakasih untuk semua luka yang anda berikan. Karena rasa sakit yang anda berikan dulu, sekarang aku tumbuh menjadi putra yang disayangi oleh Ayah dan Ibu ku. Aku bahkan sampai lupa kalau anda adalah Ibu yang sudah melahirkan ku. " Sammy menatap bola mata Ibu kandungnya yang sudah lebih dulu meneteskan air mata.


" Dan untuk anda, Tuan Ozi. Terimakasih karena telah memiliki putra seperti Rehan yang suka sekali memukuli ku sehingga aku tidak lagi sanggup berada di tempat ini lalu bertemu dengan Ayah dan Ibuku. "


" Kau? Kau Sammy Irawan? " Tuan Ozi tercengang menatap tak percaya jika anak yang terlihat gagah dan cerdas itu adalah anak tirinya yang dulu tidak diterima dengan baik oleh keluarganya.


" Bukan. Aku adalah Sammy Rezef Chloe. "


To Be Continued.