
Vanya terdiam dengan linangan air mata yang seolah enggan untuk berhenti, rasa sesak juga begitu terasa di dadanya. Vanya tak bisa menahan perasaan yang tak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata. Apapun faktanya dia tetap saja tidak bisa menahan rasa sakit yang seolah tak tertahankan.
Beberapa saat yang lalu.
Bibi menatap Vanya dengan tatapan sendu. Berat memang menceritakan yang sesungguhnya, perasaan tak tega selalu melanda hatinya. Tapi mau bagaimana lagi? kenyataan adalah kenyataan yang tidak akan bisa di manipulasi apapun caranya. Bibi menarik nafas dan menghembuskan perlahan, dia mengumpulkan keberanian untuk mengatakan segalanya kepada keponakan satu-satunya itu.
" Bibi, kenapa masih diam? " Tanya Vanya yang sudah lumayan lama menunggu jawaban dari pertanyaannya. Dia hanya dibuat bingung melihat ekspresi Bibinya yang terlihat khawatir dan gugup.
" Vanya, berjanjilah pada Bibi, apapun yang terjadi tolong relakan dan maafkan. " Bibi menyentuh punggung tangan Vanya dengan tatapan sendu.
Vanya mengangguk meski dia sendiri bingung mendengar ucapan Bibinya itu.
" Vanya, Ayahmu tidak sepenuhnya bersalah, karena Kakek dan Nenekmu lah yang paling banyak melakukan kesalahan. " Ucap Bibi yang terlihat gemetar, pelupuk matanya juga sudah di penuhi oleh air mata.
Vanya menatap bingung mencari apa maksud ucapan Bibinya itu.
" Maksud, Bibi? "
Bibi kembali menarik nafas untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu.
" Ibumu menikah dengan Ayahmu setelah dia lulus sekolah menengah atas. Kakek dan Nenekmu tidak setuju dengan itu, dia mencoba berbagai cara untuk membuat Ibumu mengerti, bukannya mengerti, Ibumu justru semakin menjadi. Dia melarikan diri dan menikah secara diam-diam dengan Ayahmu. Nenek dan Kakek mu begitu marah. Ayahmu adalah orang dari kalangan menengah, sedangkan Ibumu? dia berasal dari KBR Group. Ibumu adalah wanita yang begitu lembut dan naif, dia juga bodoh. Nenek dan Kakek mu yang merasa murka, membuat usaha kecil yang dirintis oleh Ayahmu hancur, mereka berharap Ibumu akan meninggalkan Ayahmu karena itu, tapi semua di luar dugaan mereka. Ibumu tetap bersama Ayahmu bahkan saat keadaanya sangat menyedihkan. Ayahmu terus mendapat ancaman hingga kau lahir dan kau tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik. Nenek dan Kakek mu semakin berhasrat untuk merebut kalian dengan cara mereka. Bibi tidak bisa membantu karena Bibi dikirim ke luar negeri. " Bibi menjeda ceritanya sembari mengusap air matanya yang jatuh ke pipinya.
" Ayahmu berpura-pura berselingkuh untuk membuat Ibumu meninggalkannya dan kembali kepada KBR Group, Ayahmu mungkin benar-benar tidak tahan lagi dengan tekanan yang diberikan oleh Kakek dan Nenekmu. Mereka begitu egois hingga mereka buta, mereka tanpa sadar telah menyiksa anak dan cucu mereka sendiri. Hingga tragedi menyakitkan itu terjadi, hari dimana Ibumu mengakhiri hidupnya. " Bibi menggenggam tangan Vanya yang sudah tak terhitung lagi berapa banyak air mata yang menetes di pipinya.
" Vanya, jangan menyalahkan dirimu lagi. Ibumu sudah mengetahui semunya sebelum hari itu, dia hanya ingin membuktikan kepada Ayahmu, jika dia lebih memilih mati untukmu dan Ayahmu dari pada kembali kepada KBR Group. Semua salah kami, Vanya. Maafkan Bibi, Kakek dan Nenekmu. Mereka juga sudah menghukum diri mereka, Nenek dan Kakek mu begitu hancur dan terpuruk setelah itu. Nenek mu meninggal karena serangan jantung beberapa hari setelah kepergian Ibumu. Sementara Kakek mu, dia tidak pernah lagi berbicara, dia tidak lagi mau keluar dari kamar, dia hanya memandangi Photo Ibumu yang sedang menggendong mu dan juga photo Nenekmu.
Vanya semakin tak bisa menahan tangisnya, dia menangis sejadi-jadinya. Tidak ada lagi Vanya yang kuat dan ceria hari ini. Vanya memukuli dadanya yang semakin sesak dan sakit.
" Kenapa kalian semua begitu jahat dan egois? kenapa kalian membuatku begitu menderita? Ibu, Ayah, Kakek dan Nenek. Kenapa? apa kalian semua tidak berpikir? akibat dari semua ini adalah aku, apa kalian tahu? bagaimana aku menjalani hidupku selama ini? " Dengan tubuh yang gemetar, Vanya bangkit dari posisinya berniat untuk meninggalkan tempat itu. Tempat yang membuat Ibunya enggan untuk kembali dan memilih untuk mati dengan egoisnya.
" Vanya! " Bibi bangkit dan menahan pergelangan tangan Vanya.
Vanya melepas tangan Bibi dengan tenaga yang tersisa.
" Tolong, Bibi. Biarkan aku menenangkan diri dulu. Tolong,... "
Bibi diam dan tak lagi mau mencegah, Vanya memang membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya dulu. Bibi hanya bisa mendoakan yang terbaik dan semoga keponakannya bisa tabah dan kuat menghadapi kenyataan pahit ini.
Vanya melangkah meninggalkan ruangan Bibi. Tentu saja para pengawal sigap mengikuti Tuannya, Vanya tak menghiraukan apapun lagi. Dia berjalan kembali ke mobil dan meminta sopirnya untuk mengantarnya ke Chloe Corporation.
Betapa bodohnya kau, Ibu? kau begitu mencintai Ayah hingga gila. Walaupun kenyataanya Ayah tidak berselingkuh, tetap saja Ayah menikah dengan wanita itu kan? itu tidak akan merubah apapun. Ibu, maaf.... hari ini aku sungguh membencimu Kakek Nenek dan Ayah, aku benar-benar membenci kalian, Ku benci ke egoisan kalian.
Vanya merogoh ponselnya, dia menghubungi suaminya. Saat ini pelukan dari Nath pasti akan membuatnya tenang.
' Sayang? ' Nath.
" Sebentar lagi aku sampai disana, bisa turun dan menjemput ku? " Dengar suara yang dibarengi dengan isak tangis.
Nath yang sedang rapat langsung mengangkat telapak tangannya untuk menghentikan rapat sementara, tentu saja untuk mendengarkan suara istrinya.
Jantung Nath berdegup kencang saat mendengar suara istrinya yang parau dan terdengar menahan tangis, dia mengeryit bingung juga khawatir.
" Sayang, apa yang terjadi? kau baik-baik saja? "
' Jemput aku! aku sudah sampai. ' Vanya.
Nath langsung memutuskan sambungan teleponnya dan berlari keluar meninggalkan rapat yang sedang berlangsung. Tentu saja itu menjadi tugas Lexi, untung saja sudah ada Devi yang membantunya. Lexi hanya bisa menggeleng dan menghela nafas, apalagi kalau bukan Vanya masalahnya.
Dasar budak cinta! Vanya di gigit semut saja, kau sudah kelimpungan. Heh! aku benar-benar sebal melihatnya, cinta ya cinta, tapi tidak perlu berlebihan begitu juga kan?
Nath berlari menuju lobby utama setelah pintu lift terbuka, dilihatnya Vanya berjalan keluar dari mobil dengan mata sembab. Nath menjadi kesal karena ada yang membuat istrinya menangis. Dia berjalan setengah berlari menghampiri Istrinya dan langsung memeluknya. Nath menatap tajam satu persatu pengawal yang berada dibelakang punggung istrinya itu, tentu saja untuk mencari tahu alasan istrinya menangis. Vanya adalah sosok kuat yang tidak mudah menangis, jika kali ini dia sampai menangis, maka masalahnya begitu besar hingga Vanya tidak bisa menghadapinya.
" Sayang, tenanglah. Ayo kita pulang. " Nath mengurai pelukannya. Menangkup wajah istrinya dan menghapus air matanya.
Nath membawa istrinya masuk kedalam mobil dan mengajaknya untuk pulang. Masa bodoh dengan urusan kantor, karena itulah salah satu gunanya Lexi ada disana.
Nath mengajak istrinya duduk diranjang dan mengusap wajahnya. Melihat istrinya menangis seperti ini, hatinya benar-benar sangat hancur dan marah, tapi dia juga harus menahan kemarahannya untuk fokus kepada istrinya.
" Sayang, minumlah. " Nath memberikan segelas air untuk Vanya. Tak menjawab, Vanya langsung meminumnya.
" Ada apa? " Tanya Nath lembut, dia berharap istrinya baik-baik saja apapun yang terjadi.
Vanya menatap Nath lalu kembali terisak. Nath yang tak tega memeluknya dan mengusap punggung istrinya, berharap hal itu bisa membuat istrinya membaik suasana hatinya. Vanya yamg sudah mulai tenang setelah perlakuan lembut suaminya, kini sedikit demi sedikit menceritakan segalanya meski dibarengi tangisan yang lolos dari mata dan bibirnya.
Nath kembali mendekap tubuh istrinya. " Sayang, semua sudah terjadi. Jangan membenci siapapun lagi, hiduplah dengan damai agar kau semakin bahagia. Maafkan mereka, aku tahu itu berat. Kakek mu masih hidup, dan dia menjalani hidupnya dengan begitu menyedihkan, dia sudah menghukum dirinya sendiri, dia bahkan tidak berani menemui mu, Itu menandakan betapa besar rasa bersalah yang ia rasakan. Kau juga harus ingat, bagaimanpun Kakek mu adalah Ayah dari anak yang mengakhiri hidup karena dirinya. Dia sudah cukup membenci dirinya sendiri, jangan tambah lagi kebencian untuknya. Istriku adalah orang baik, iya kan? "
Vanya mengangkat wajahnya untuk menatap suaminya. Iya, apa yang Nath ucapkan benar, dia tidak perlu membenci siapapun lagi. Dia hanya perlu memaafkan dan hidup bahagia.
" Terimakasih, Suamiku. " Vanya tersenyum meski masih ada air mata yang tersisa di matanya.
Nath tersenyum dan mengecup kedua mata sembab istrinya itu. " Berterimakasih lah dengan tindakan yang membuat nikmat. "
Vanya menatap Nath sebal. " Kau masih bisa menggodaku? "
Dengan senyum di bibirnya, Nath menghela nafasnya. " Baiklah kalau tidak mau ya tidak apa-apa. "
Vanya memukul pelan dada suaminya. " Aku kan tidak bilang, tidak mau. "
Nath terkekeh. " Aku tahu, siapa yang lebih memahami mu kalau bukan aku? "
Dan, mereka akhirnya anu anu ya.......
To Be Continued.