Touch Me!

Touch Me!
S2- Mirip Siapa?



Sammy semakin menekan kuat genggaman tangannya setelah menyebutkan namanya. Takut? iya. Itu adalah rasa yang sangat tidak ingin ia hadapi. Ketakutan, takut akan mendengar alasan yang menyakitkan, atau bisa jadi takut kalau alasan yang akan dikatakan Ibu kandungnya malah akan membuat hatinya goyah.


" Semua akan baik-baik saja, Nak. " Vanya menyentuh punggung tangan Sammy yang menekan sebelah tangannya kuat. Sakit memang, tapi sepertinya Sammy sangat membutuhkan dukungan kekuatan jadi tentu saja dia akan menahannya untuk Sammy.


Ibu kandung Sammy ya h sedari tadi sudah meneteskan air mata kini semakin tertunduk tak berdaya. Menyesal? tentu saja menyesal dan merasa bersalah. Tapi mau bagaimana lagi? semua itu sudah berlalu begitu lama, dan tentulah dia tidak akan bisa mencegah hal yang sudah terjadi.


" Nyonya, putraku begitu murung dua hari terakhir ini, dan itu semua karena dia mengingat masa lalunya yang masih saja menjeratnya. Kami datang kesini hanya ingin mendengar alasan Nyonya tidak menerima putraku meski dia adalah anak kandung mu. Tolong, beritahu saja apa yang sebenarnya dan jangan menyembunyikan apapun. Sammy adalah anak yang kuat dan cerdas, setelah mendengar alasan Nyonya, dia pasti akan tahu bagaimana dia harus bersikap untuk hidupnya. " Ucap Vanya mewakili Sammy dan juga suaminya yang tentu saja memiliki satu maksud.


Tuan Ozi selaku suami hanya bisa terdiam sembari menatap istrinya agar tak asal bicara. Masalahnya karena Nathan, Vanya, bahkan anak kandung yang tidak di kehendaki oleh istrinya juga adalah orang penting saat ini. Akan sangat bagus kalau mereka sampai mereka memiliki hubungan baik bagi usaha mereka. Sementara putri Tuan Ozi kini tengah menatap Sammy gak percaya. Padahal saat dulu datang kerumahnya, dia begitu kurus, dan sama sekali tidak menarik karena tidak terurus dengan baik. Siapa sangka, sekarang anak laki-laki yang dulu dia panggil tengkorak berjalan itu berubah menjadi pria yang sangat tampan.


" Nyonya, tolong jawablah pertanyaan kami. Sangat penting bagi kami membebaskan putra kami dari jeratan masa lalu. Sebentar lagi dia akan memiliki tanggung jawab besar, dan harapan kami sebagai orang tua tentu saja ingin dia fokus untuk bekerja dan bagaimana Sammy bisa bahagia. " Pinta Vanya dengan tatapan memohon. Sungguh dia hanya ingin Sammy terbebas dari ini semua dan hidup dengan bahagia setelahnya.


" Aku, " Ibu kandung Sammy yang tertunduk nampak mencengkram kain bajunya. Mungkin untuk mencari kekuatan, atau mungkin untuk meyakinkan dirinya agar bisa mengatakan segalanya.


" Katakan saja, Nyonya. Kami tidak akan marah. Kami hanya membutuhkan alasan agar bisa mengambil tindakan agar putra kami tidak terikat lagi dengan masa lalu pahitnya. "


" Aku tidak sanggup kalau harus melihat wajahnya saat itu. " Ibu kandung Sammy menyeka air matanya tapi tak berani mengangkat wajahnya dan masih saja menunduk.


" Apa yang membuat anda tidak sanggup melihat wajah ku? " Tanya Sammy. Pria itu kini mulai terbawa suasana hingga membuatnya tak lagi merasa takut. Bahkan tatapannya juga terlihat begitu berani dan tegas.


" Karena, karena, "


" Karena apa? " Tanya lagi Sammy.


" Karena aku tidak yakin siapa Ayah kandung mu. " Jawab Ibunya Sammy. Meski tak terlihat bagaimana ekspresi wajahnya, bisa dengan jelas di lihat jika ia tengah menangis. Bahu yang bergetar tentu saja menjelaskan situasinya.


Sammy mengeraskan rahangnya. Dengan jelas dia mengingat bahwa dulu dia selalu membela Ibunya agar tidak di tindas oleh Ayahnya yang selalu meragukan darah siapa yang mengalir di tubuhnya. Dia bahkan harus menerima tamparan beberapa kali dari Pria yang ia panggil Ayah. Tidak sampai di situ, nenek kandung dari Ayahnya juga tak kalah sadis. Hampir setiap hari Sammy di pukuli dengan gagang sapu, di beri makanan basi, minum air mentah, tidur di pelataran rumah, dan belum lagi paman serta bibinya yang juga tidak menyukainya. Konyol! dengan polosnya dia melindungi wanita yang sama sekali tidak memiliki sifat keibuan sedikitpun.


" Iya. Aku tahu aku salah dan tidak layak disebut Ibu. Tapi aku juga tersiksa harus melihat wajahnya. Bayangan-bayangan pria yang telah menodai ku selalu berkelebatan di ingatan ku dan membuat ku tidak tahan. " Ibunya Sammy memegangi dadanya yang terasa sesak dan ngilu.


" Maksud anda, anda diperkosa? " Tanya Nathan terus terang.


" Iya. Dua bulan setelah aku menikah dengan mantan suamiku, dia pulang dan membawa dua sahabat nya untuk menginap. Saat itu usiaku baru delapan belas tahun dan sama sekali tidak memiliki kecurigaan sedikitpun. Saat suamiku pergi untuk membeli bahan makanan, mereka berdua memberi ku obat dan menggilir ku. Awalnya aku ingin memberi tahu mantan suamiku, tapi ancaman mereka berdua membuat ku ketakutan. Satu bulan mereka menginap disana, satu bulan juga mereka menggilirku saat ada kesempatan. Lalu saat aku tahu aku hamil, aku kebingungan karena tidak tahu anak siapa yang aku kandung. Karena aku takut dan malu, aku selaku berusaha untuk mengugurkan kandungan dengan banyak mengkonsumsi obat-obatan. Tapi siapa sangka kalau kandungan ku begitu kuat dan hanya menimbulkan efek mulas saja. "


Semua orang terdiam. Termasuk juga Tuan Ozi yang sudah mengetahui cerita ini dari istrinya langsung. Sejujurnya Vanya merasa kasihan dengan apa yang menimpa Ibu kandungnya Sammy, tapi menelantarkan anak bukanlah hal yang bisa dimaklumi apa lagi di benarkan.


" Jadi, anda juga sudah berniat membunuh ku saat aku berada di dalam kandungan? " Sammy tersenyum miring dengan tatapan pilu. Menyedihkan bukan? dia mendengar secara langsung dari wanita yang melahirkan nya bahwa wanita itu sudah melakukan banyak cara untuk membunuh nya sebelum dilahirkan.


Vanya dan Nath menatap Sammy dengan perasaan iba. Sungguh tidak tega melihat Sammy harus mendengar ini dari mulut Ibu kandungnya sendiri.


" Iya. Aku tahu apa yang aku lakukan salah. Tapi aku adalah seorang wanita yatim piatu yang bertahan sendirian dengan banyak hinaan dan di rendahkan orang lain. Bagaimana bisa aku menambah beban ku dengan adanya bayi yang tidak jelas siapa Ayah nya? jika bayi itu lahir dan tidak mirip dengan suamiku saat itu, bukankan secara tidak langsung aku membenarkan kepada semua orang tentang gosip buruk di luaran sana? "


Dengan suara bergetar, Sammy menanyakan hal yang mutlak saat ini.


" Sekarang lihat aku, Nyonya. Lihat dan perhatikan wajah ku dengan seksama. Katakan, mirip siapa wajah ku? "


Ibunya Sammy perlahan mengangkat wajahnya menatap wajah Sammy. Anak laki-laki yang dulu membuatnya tak tahan untuk menatapnya. Wajah yang dulu membuatnya takut dan merasakan sakit.


" Kau, "


" Jangan terburu-buru, Nyonya. Lihat dan perhatikan dengan jelas. Lalu katakan, dengan siapa wajah ku mirip? "


To Be Continued.