
Setelah pulang dari restauran lokal, Ivi dan Nathan kembali ke hotel sembari menenteng alat uji kehamilan. Sebenarnya ini juga agak membuat Ivi kesal hingga hampir saja menepak kepala Nathan yang katanya cerdas itu. Padahal sudah di beri pesan bahwa hanya perlu membeli dua saja, tapi Nathan membawa sekantong penuh alat uji kehamilan dengan berbagai merek. Alasannya tentu saja karena dia bingung mau beli yang mana. Jadilah dia membeli semua alat uji kehamilan yang di sediakan apotik itu. Berbeda dari Ivi, Nathan malah tidak memperdulikan apapun selain bagaimana hasilnya nanti. Sebenarnya dia belum memikirkan ingin segera memiliki anak karena satu alasan. Yah, alasannya adalah dia masih ingin menghabiskan banyak waktu berduaan saja dengan Ivi. Tapi kalau memang di beri anak secepat ini, apa boleh buat. Sesaat Nathan mulai berpikir lalu membayangkan adanya bayi, dia tanpa sadar tersenyum bahagia. Iya, dia tidak perlu lagi memikirkan akan ada pria yang menggoda istrinya saat perut istrinya membesar kan?
" Sudah belum? " Tanya Nathan.
" Ini sudah berapa menit? " Tanya lagi Ivi.
Tahu apa yang sedang mereka lakukan? mereka tengah memejamkan mata bersamaan saat alat penguji kehamilan itu di masukkan kedalam wadah penampung air seni. Tentu saja mereka benar-benar deg-degan untuk mengetahui hasilnya.
" Ivi, apa ini masih belum? " Tanya lagi Nathan yang masih enggan membuka mata.
" Coba kau buka matamu terlebih dulu. " Titah Ivi yang juga masih tidak sanggup membuka matanya.
" Bagaimana kalau kita buka mata bersama-sama? " Ajak Nathan yang tentu lah dia tidak mau melihatnya sendirian meski dia antusias. Entah mengapa, rasa takut akan kecewa melanda hatinya yang saat ini tengah mengharapkan kehamilan Ivi sungguh terjadi.
" Baiklah, hitungan ke tiga kita buka mata bersama-sama ya? "
" Ok. " Jawab Nathan lali bersiap dengan tubuhnya yang ia benahi.
" Satu, dua, dua seperempat, dua setengah, dua tiga perempat, "
" Ivi, kau ini bodoh ya? kau ini pernah sekolah atau tidak sih? " Kesal Nathan.
" Nathan, saat aku benar-benar hamil nanti, kau harus berjanji ya? "
Nathan menghela nafas dengan mata yang masih tertutup.
" Baiklah. Janji apa? "
" Pertama, kau tidak boleh memaki ku, tapi aku boleh memaki mu. Kedua, kau harus memanggil ku yang mulia. Ketiga, kau harus menuruti apa yang aku mau. Bagaimana? " Ivi nyengir bahagia karena sebenarnya, dia sudah membuka mata saat berhitung tadi. Jujur dia juga merasa bahagia. Tapi tentu dia harus mendapatkan banyak keuntungan dari Nathan dulu kan? lagi pula Nathan adalah orang yang menghamilinya, tentu saja dia harus mengiyakan apa yang seharusnya di lakukan oleh para suami lainnya kan.
" Ivi, lebih baik kau cekik saja aku sampai mati. "
" Eh? " Ivi menatap Nathan yang masih memejamkan mata dengan tatapan bingung.
" Jadi kau tidak mau memenuhi tugas mu sebagai pria yang menghamili ku? "
Sudah merasa tidak sabar lagi, Nathan membuka matanya dan sontak menatap Ivi.
"Bukan aku yang menghamili mu. Sel telur mu saja yang begitu ganjen. "
" Nathan, aku benar-benar ingin mencekik mu. " Kesal Ivi yang tak kalah tajamnya dari tatapan Nathan.
" Bukan begitu juga. " Nathan mulai terlihat melunak dan sudah tak lagi menatap Ivi dengan tatapan tajam dan kesal. Kini bola matanya agak menunduk karena merasa menyesal membantah ucapan Ivi.
" Ivi, coba kau pikirkan lagi. Memanggil mu yang mulia itu sungguh sangat aneh. Selain dari itu, kau bebas melakukan apapun. " Ucap Nathan agar membuat Ivi berhenti terlihat kesal padanya.
" Iya. " Hah! sialan! batin Nathan kesal. Dia sama sekali tidak memiliki keberanian untuk membantah Ivi sekarang. Entah mengapa, melihat wajah Kesal Ivi sangat tidak membuatnya nyaman.
Ivi tersenyum bahagia.
" Kalau begitu, lihat hasil dari alat penguji kehamilan. " Ucap Ivi.
Nathan yang sempat melupakan apa yang sedang ia lakukan karena percekcokan kecil yang terjadi barusan akhirnya mengubah arah pandangannya dan menatap hasil uji kehamilan.
Garis dua!
Nathan yang tentu saja sudah membaca keterangan cara penggunaan dan membaca hasil nya tentu saja langsung paham apa hasil yang ditunjukkan dari alat uji kehamilan itu.
" Hamil? " Nathan menatap Ivi karena masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
" Iya. " Jawab Ivi. Sebenarnya ini juga di rasa terlalu cepat baginya. Tapi Ovi merasa yakin kalau akan banyak orang yang memperdulikan dan mendukungnya selama masa kehamilan. Ada Ibu mertuanya dan juga orang tuanya yang sangat pengertian. Ada Salied yang pasti akan ikut menjaganya, ada Dodi dan tentunya ada Nathan yang akan selalu bersamanya. Membayangkan mereka semua, tiba-tiba Ivi merasa terharu dan mulai menangis.
" Ivi, kenapa kau menangis? apa kau tidak bahagia? kan kalau kau hamil, kau bisa memaki ku sesuka mu. Apa yang membuat mu sedih? "
Ivi menatap Nathan yang terlihat khawatir saat menatapnya.
" Dasar bodoh! aku ini tidak sedih. Aku ini sangat bahagia hingga menangis terharu. "
Nathan tersenyum lalu membawa tubuh Ivi untuk ia peluk. Dia memang tidak tahu bagaimana caranya menyatakan cinta. Dia tidak tahu bagaimana caranya menjadi romantis, tapi setidaknya di bisa menjadi suami yang Ivi inginkan mulai saat ini. Terserah saja kalau mau memakinya selama hamil. Oh, ngomong-ngomong soal hamil, Nathan mulai memikirkan berbagai rencana setelah melahirkan. Yang pasti, dia akan menitipkan anak nya kepada orang tuanya. Lalu dia akan memiliki banyak waktu lagi kan setelah itu. Hah! sungguh sangat licik otak siluman kera itu. Semoga saja kelicikannya tidak akan ia gunakan saat menghadapi kehamilan Ivi sembilan bulan mendatang.
***
Semenjak pertemuan pertama Sammy dan Ele, mereka kini menjadi dekat sebagai seorang sahabat. Iya, tentu saja Sammy berguru terlebih dahulu kepada si playboy cap garpu yaitu, Keenan si sulung dari keluarga Kevin. Sammy memang agak canggung saat berdekatan dengan Ele, tapi sepertinya gadis itu nampak tak mempermasalahkan. Dia selalu tersenyum manis melebihi biang gula. Tutur katanya juga sangat sopan. Memang aneh sih berteman dengan lawan jenis, tapi Ele sendiri merasa cocok berteman dengan Sammy. Bagi gadis cantik itu Sammy adalah pria yamg lucu dan naif. Cara dia menatap tak berani, tentu saja Ele paham kalau Sammy memiliki rasa terhadapnya. Tapi, ada sesuatu hal yang lebih penting saat ini dari pada memikirkan perasaan semacam itu.
" Sammy, kau tinggal dengan siapa? kemarin kau bilang, bahwa kau adalah seorang yatim piatu. " Tanya Ele sopan meski mereka sudah sepakat untuk memanggil nama saja meski Sammy lebih tua beberapa tahun darinya.
" Aku tinggal bersama sepasang suami istri yang baik hati. " Jawab Sammy lalu tersenyum setelahnya.
" Syukurlah. Kalau boleh tahu, bagaimana kehidupan mu dan keluarga yang merawat mu? "
" Em, mereka adalah pasangan romantis sepanjang masa. Mereka selalu kompak dan terlihat bahagia. "
" Syukurlah. " Ucap Ele spontan.
" Apa yang syukurlah? " Tanya Sammy.
" Eh, tidak ada. "
To Be Continued.