
" Selamat pagi? " Sapa Vanya kepada pengunjung yang mulai berdatangan.
Vanya tersenyum menyambut hangat para pelanggan yang sudah mulai rame dan memenuhi beberapa kursi.
" Nyonya, biar saya saja yang melakukannya. " Ucap pegawai mini cafe itu. Nampak jelas sekali perasaan tidak enak membiarkan Bos barunya ikut melayani Customer.
Vanya tersenyum sembari menepuk pundak gadis itu beberapa kali.
" Jangan memanggilku Nyonya. Panggil saja Kakak. Aku kan lebih tua dari mu. " Ujar Vanya.
" Tapi, " Ucapnya ragu-ragu.
" Tidak apa-apa. Panggil saja Kakak. Dan, bersikaplah normal. Anggap aku sebagai rekan kerja saja. Kau mengerti?
" Baik. " Gadis itu mengangguk mengerti.
" Siapa Namamu tadi? aku lupa.
" Riska, Nyo, maksudnya, Kak Vanya.
Vanya tersenyum. " Baiklah Riska. Ayo fokus bekerja.
Dan aku, fokus menunggu suami tampan ku datang.
***
" Nath, apa kau ingin membeli kopi terlebih dulu? " Tanya Lexi yang kebetulan hari ini dia berangkat bersama dengan Nath.
" Iya. " Jawab Nath singkat.
" Baiklah,. Ayo kita mampir ke mini cafe. " Ajak Lexi. Benar saja, Dia memang sengaja mengajak Nath kesana. Apalagi kalau bukan untuk memenuhi titah Vanya.
" Terserah saja. " Jawab Nath singkat.
Setelah beberapa saat. Nath dan Lexi memasuki pintu mini cafe. Semua pasang mata menatap ke arahnya. Para pengunjung yang lain langsung berbisik mengagumi kedua pria tampan yang baru saja masuk ke mini cafe itu.
" Selamat pagi? " Sapa Lexi untuk memanggil pelayan mini cafe yang sedang sibuk menyiapkan pesanan pelanggan dengan posisi memunggunginya.
" Ah, iya. " Jawab Vanya sembari memutar tubuhnya agar menghadap ke arah sumber suara.
Vanya tersenyum menatap kedua pria yang kini tengah menatapnya.
" Hallo Sekretaris tampan? dan, hai... Suamiku? " Vanya sengaja menyapa Lexi terlebih dulu. Laku melambaikan tangan untuk menyapa Nath.
Nath mengerutkan dahinya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencari sosok lain yang ada didekatnya. Nihil! tidak ada orang lain disana selain dia.
Kenapa gadis ini terus memanggil ku Suami? apa dia suka bercanda? apa aku mirip suaminya? apa, dia mengalami gangguan jiwa? dan salah mengenaliku sebagai suaminya? tapi, Lexi nampak dekat dengan gadis itu. Lexi tidak mungkin dekat dengan gadis gila kan?
" Ck! jangan begitu bingung, Suami. Ini kopi mu. " Ucap Vanya sembari menyerahkan dua gelas cup yang berisi kopi. Datu milik Nath dan satu lagi milik Lexi. Lexi berjalan untuk memilih duduk lebih dulu.
Tanpa berkata apapun lagi, Nath melangkahkan kaki untuk maju dan mengambil kopinya. Dia menghirup aroma kopi yang keluar melalui celah Cupnya.
" Dari mana kau tahu? kalau aku menyukai, Americano? " Tanyanya bingung.
Vanya tersenyum. " Tentu saja. Selain itu, kau juga menyukai, latte dan Espreso.
Nath semakin bingung jadinya.
Bagaimana mungkin wanita itu mengetahuinya?
" Bingung kenapa aku bisa tahu? " Tanya Vanya yang bisa mengartikan apa yang sedang dipikirkan Nath melalui ekspresinya.
" Jawabannya adalah, karena aku adalah Istrimu. " Lagi-lagi Vanya tersenyum manis dihadapan Nath yang kini malah menatapnya jengah.
Nath akhirnya memutuskan untuk duduk di samping Lexi yang sudah sejak tadi disana.
" Bolehkah aku bergabung? " Tanya Vanya kepada Lexi dan Nath yang terlihat asik menikmati kopinya.
" Duduklah, Vanya. " Lexi mempersilahkan tanpa perduli dengan wajah Nath yang terlihat agak keberatan.
Vanya dengan senang mengambil posisi duduk disamping Lexi. Dia sengaja berada di samping Lexi agar bisa berhadapan dengan Nath. Ah,...! rasanya dia benar-benar merindukan Nath nya.
" Suamiku, kenapa kau diam saja? apa terganggu dengan kehadiran ku? " Tanya Vanya yang melihat Nath tak lagi bicara semenjak ia ikut duduk.
" Nona, apa kau tidak salah mengenali orang? " Tanya Nath penasaran.
" Tidak. Aku bukan wanita yang mudah dibodohi hingga melupakan seseorang yang penting bagiku. " Balas Vanya tapi dengan bibir yang tersenyum.
" Apa yang kau katakan?
" Fakta.
" Apa?
" Suatu hari, kau akan mengingatku kembali. Suamiku. " Vanya tersenyum lalu menatap sinis pengawal Nath yang kini sudah berada tak jauh dari Nath. Dia juga menatap Vanya sinis. Seolah, ada ancaman mematikan yang terpancar dari matanya.
" Aku rasa, kau memiliki sedikit masalah mental. " Ujar Nath yang kini, justru menatap Vanya dengan tatapan iba.
Vanya tertawa terbahak-bahak untuk beberapa saat.
" Tidak. Bukan aku, Nath. Bukan aku yang mengalaminya. Tapi kau! Iya kan pak pengawal? " Tanya Vanya yang kini mengalihkan tatapan matanya kepada pengawal yang sedari tadi menatapnya tajam.
Deg......!
Entah apa yang kini terjadi dengan Nath. Ia merasa, begitu sakit mendengar bantahan Vanya. Sialnya, dia bahkan tidak bisa lagi mengatakan apapun untuk membela dirinya dan mengatakan bahwa ia tidak memiliki masalah pada mentalnya.
" Tuan, ini sudah lumayan menguras waktu. Saya sarankan, agar segera menuju ke kantor. " Ucap pengawal itu dengan sopan kepada Nath.
Nath menatap Lexi lalu mengajaknya pergi. Lexi hanya bisa mengangguk tanpa kata.
Lexi menatap Vanya sesaat sebelum berjalan kekuar meninggalkan cafe bersama Nath.
Kerja bagus!
Vanya tersenyum.
Pengawal itu sengaja membiarkan Nath dan Lexi keluar lebih dulu agar dia bisa berbicara kepada Vanya.
" Saya tidak akan berbosa basi. Menjauhlah dari Tuan kami! " Titahnya dengan tatapan tajam yang seolah mencekik dan membuat nafas menjadi sesak.
Vanya terkekeh. Maaf saja, dia sekarang kan sudah kaya dan terlindungi dari segala arah. Mana mungkin dia akan takut dengan kotoran lalat seperti itu. Waktunya sombong! batin Vanya.
" Aduh pak pengawal. Jangan sok menakut-nakuti ku! aku tidak takut padamu! dan satu lagi, jangan melotot saat melihat ku! atau, akan ku congkel kedua bola matamu dan menaruhnya di mangkok bakso untuk sarapan mu besok. " Vanya mengakhiri kalimatnya dengan senyum sinis di bibirnya.
" Aku sudah mengingatkan mu! dan bersiaplah akan mengalami banyak masalah mulai dari hari ini. " Ancamnya lagi.
" Oh? aku malah takut kalau kau tidak bisa keluar hidup-hidup dari sini.
" Banyak omong! " Bentaknya tapi dengan nada lirih.
" Lihatlah di sekelilingmu mu, pak kumis ikan arwana. " Ucap Vanya yang sejujurnya agar terganggu dengan penjaga Nath yang memiliki kumis layaknya ikan arwana. Image seramnya jadi tidak terpancar kan kalau begitu?
Pria itu terdiam sembari mengarahkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Pria itu menyadari, jika banyak sekali orang yang juga memperhatikan Vanya dan dia. Beberapa pria berwajah tinggi besar ada di setiap sudut ruangan. Dan bisa dia pastikan, mereka adakah orang-orang yang menjaga Vanya.
" Pergilah, pak kumis ikan arwana. Ah, atau aku akan menyingkatnya menjadi, pak Miskana. " Ucap Vanya sembari mengibas-ngibaskan telapak tangan untuk mengusir si Miskana dari hadapannya.
Tidak ada pilihan kain, penjaga itu akhirnya memilih pergi tanpa mengatakan apapun lagi.
" Dah da, Miskana! senang bertemu dengan mu.
Sialan! Nona Gaby, Tuan dan Nyonya kenapa tidak mengakan jika, wanita itu adalah orang yang memiliki kekuasan tinggi? membuat nyaliku menciut saja. Mana sekarang aku dipanggil Miskana. Ya ampun!!! kumis ikan arwana? apa gadis itu tidak tahu? kumis ini adalah kumis pembawa keberuntungan?
***
Nath kini tengah termangu mengingat tiap kata yang keluar dari mulut Vanya.
' Tidak! bukan aku yang mengalaminya. Tapi kau.'
" Apa yang terjadi dengan gadis itu? atau bahkan, seharusnya aku bertanya pada diriku sendiri? apa yng terjadi dengan diriku? kenapa aku tidak pernah merasa bahagia akhir-akhir ini? kenapa wajah gadis itu menghantui pikiranku? semenjak bertemu dengannya, aku selalu memikirkannya. Sebenarnya kenapa? bukankah seharusnya aku bahagia bersama dengan tunangan ku? tapi kenapa hati ku merasa aneh. apa mungkin? apa mungkin aku jatuh cinta kepada gadis itu pada pandangan pertama?
Nath menyenderkan tubuhnya disenderan kursi. Matanya menatap langit-langit yang seolah dipenuhi oleh wajah Vanya hingga tak terasa, bibir Nath kini tersenyum mengingat wajah Vanya.
Vanya? apa kau sudah memiliki pasangan? apa kalimat yang mengatakan aku suamimu itu candaan? jika benar, alangkah bagusnya.
To Be Continued.