Touch Me!

Touch Me!
S2- Oh?



Setelah dibawa kerumah sakit, akhirnya Nyonya Marhen bisa kembali sadar meski masih terlihat sangat lemas. Iya, tidak bisa di ingkari, sedari pertama kali datang ke kantor wajahnya memang sudah sangat pucat dan terlihat lemah. Sebenarnya Sammy juga bukan dengan sengaja mempermainkan orang tua, hanya saja dia juga berada di posisi yang sulit. Dia sangat tahu bagaimana Nathan. Dia paling tidak suka kalau ada orang asing yang menghubungi nya. Bahkan nomor yang disimpan di ponsel Nathan hanyalah nomor Ayah, Ibu, adik, Tuan dan Nyonya besar Chloe, dan dia. Dan sudah pasti sekarang ada nomor Ivi di urutan yang pertama. Selain nomor yang ada di ponselnya, dia sama sekali tidak akan menerima panggilan telepon itu. Bahkan Keenan dan Zadet saja selalu menghubungi Sammy jika ada perlu dengan Nathan. Arau kalau tidak, mereka akan mengirim Nathan pesan singkat melakui media sosialnya. Tapi walau begitu, bahkan mereka tidak pernah mendapatkan balasan. Kadang-kadang Sammy juga heran. Satu tahun memiliki akun media sosial tapi yang dia unggah hanya tiga photo saja. Pertama, photo dinding, kedua photo tirai, ketiga barulah photonya saja. Dan yang membuat Sammy terheran-heran adalah banyaknya orang yang memberikan like di photo aneh itu. Padahal, dia yang sudah sebagus mungkin mengambil gambar dirinya, masih saja sepi penggemar.


" Nyonya Marhen, nanti saya akan menyampaikan ini deh. Saya janji. Lekas sembuh ya? " Ucap Sammy sebelum meninggalkan ruang rawat Nyonya Marhen.


Tak mau membuang waktu, Sammy langsung kembali ke perusahaan karena pekerjaan sudah menumpuk sedari pagi. Tapi sebelum itu, dia menghubungi Nathan terlebih dulu untuk menyampaikan apa yang terjadi.


Satu menit, tidak boleh lebih.


Ucap Nathan setelah menerima panggilan dari Sammy.


" Gila ya? satu menit buat mangap saja masih kurang. " Gerutu Sammy.


Ada apa?


" Bisa bicara dengan kakak ipar? "


Bicaralah. Dia juga mendengarkan.


" Sudah beberapa hari ini, Nyonya Marhen tang ke kantor terus menerus untuk bertemu dengan mu atau pun dengan kakak ipar. Aku sudah mencegahnya dengan alasan kalian sedang menenangkan diri. Tapi hari ini dia datang dalam keadaan sakit. Tadi dia pingsan disini. "


Nathan dan Ivi kompak terdiam.


" Halo? apa kalian masih hidup? "


Lalu?


" Begini, Nyonya Marhen meminta sedikit saja waktu untuk berbicara dengan kakak ipar. Oh iya, kemarin juga Nyonya Marhen menitipkan gelang anak-anak. Di sana juga ada tulisan Silvia Marhen. Nyonya Marhen bilang, dia selalu menyayangi kaka ipar dan juga selalu merindukan kaka ipar. "


Lalu?


Sammy menghela nafas kasar nya.


Gila! sudah seperti koran pagi aku berceloteh, dia hanya bilang lalu? lalu? dasar siluman kera! lalu lalu kepalamu pitak!


" Jadi bagaimana tanggapan kakak ipar? apakah kakak ipar yang katanya cantik sejagad raya di dunia nyata maupun dunia halu. Tolong berikan lah tanggapan dari pertanyaan ku, wahai siluman kera betina. "


Jangan kurang ajar! mana mungkin gadis sepertiku cocok disebut siluman kera betina. Protes Ivi.


" Oh, maaf. Kakak ipar. Lalu bagaimana tanggapan kakak ipar yang cantik? "


Sialan! mulut ku kram rasanya harus memuji siluman kera betina itu berkali-kali.


" Halo? apa kalian tergulung ombak? kalau memang iya, syukurlah. "


Jaga mulut sialan mu! saut Nathan.


" Jadi bagaimana? kalian ini sebenarnya bagaimana sih? menjawab satu pertanyaan saja sampai membuat ku naik darah. Kalai darah ku lebih tunggi dari pada tinggi tubuh ku bagaimana? mau kalian bertanggung jawab? " Kesal Sammy.


Oh? jawab Nathan.


Sammy yang merasa kesal hanya bisa mengangkat tunggi-tinggi ponselnya lalu memberikan pukulan kepada angin.


Oh? hanya Oh? demi Tuhan! aku akan menyumpahi kalian berdua. Kalau kalian punya anak nanti, kalian akan merasakan apa yang aku rasakan. Kalian akan di tindas siang malam oleh anak kalian sendiri. Ingat! sumpah orang yang teraniaya sangatlah mujarab.


Tunggu kabar dari ku nanti. Jawab Nathan.


" What the f*ck! " Maki Sammy saat panggilan teleponnya sudah terputus. Tidak tahu lagi lah harus bagaimana menghadapi orang itu. Sebantar-sebentar seperti anak-anak, lalu seperti pria yang sok keren dan irit bicara. Sangat menyebalkan! kesal Sammy.


***


Setelah mendapat telepon dari Sammy Ivi hanya diam tak terlihat ingin membahasnya. Bukanya tidak perduli, karena mau bagaimana pun, Nyonya Marhen juga mertuanya. Tapi melihat Ivi yang cuek dan tak mau mengatakan apapun, Nathan juga tidak bisa apapun. Dia memang bukan orang yang mengalami segala duka nya, tapi hanya dengan mendengar dari mulut Ivi saja sudah terasa sakit. Lalu bagaimana bisa membahas ini.


" Jangan melihat ku seperti itu. " Ucap Ivi yang tak sebagai beberapa kali melihat Nathan tengah menatapnya Oba.


Nathan berdehem lalu langsung mengalihkan pandangan.


" Itu karena aku sedang berpikir. "


" Apa yang sedang kau pikirkan? " Tanya Ivi.


" Bagaimana cara nya memperbaiki wajah jelek mu itu. "


Ivi menatap kesal wajah datar Nathan saat menghinanya.


" Dasar tidak punya perasaan! kalau kau begitu terganggu dengan wajah ku, lebih baik kau ceraikan aku saja! biar aku mencari laki-laki yang tulus mencintaiku tanpa terganggu dengan wajah ku. " Kesal Ivi.


Nathan menghela nafasnya.


" Yang mau menikahi mu hanya aku. Jangan coba-coba mencari pria lain apalagi membicarakan tentang cerai. Kau tidak tahu kata cerai itu sangat tabu. "


Ivi tersenyum manis lalu mencolek dagu Nathan.


" Bilang saja kalau kau tidak rela. Lagi pula, yang bisa bertahan dengan mu hanya aku saja kok. Kalau gadis lain, dia pasti sudah kari di malam pertama. Kalau pun di paksakan, setiap malam pasti dia akan mimpi ditindih setan. Alias repreppan. "


" Oh, benarkah? coba saja letakkan aku di pinggir jalan. Aku yakin, wanita cantik akan berbaris untuk memungut ku. " Nathan tersenyum bangga.


" Kau ini kenapa tidak mau mengalah sama sekali sih?! kau kan bisa hanya mengiyakan saja saat aku memaki mu. Apa kau tidak tahu? menyenangkan istri adalah tugas suami? kalau aku sedih, berarti kau gagal menjadi suami. "


Nathan mengeryit bingung lalu terdiam sembari mencerna kata-kata Ivi barusan.


" Menyenangkan istri adalah tugas suami? lalu suami? apa hanya bertugas menyenangkan istri saja? "


" Iya! "


" Kalau begitu, siapa yang bertugas menyenangkan suami? " Tanya Nathan.


" Kalau istri senang dan bahagia, suami pasti akan ikut merasakannya. Maka dari itu, cukup saja membuat ku senang. " Ucap Ivi merasa yakin dengan ucapannya sendiri.


" Logika macam apa itu? " Tanya Nathan dengan sorot mata yang terlihat ingin memprotes karena merasa tidak terima.


" Logika macam apa? " Ivi menghela nafas lalu melipat kedua lengannya.


" Dengar, kalau istrimu senang, saat kau mau kikuk kikuk pasti istrimu akan melakukanya dengan bahagia dan suka rela. Wajah mu juga akan terlihat seperti Leonardo Dicaprio baginya. Coba saja kalau istrimu sedang pusing dan kesal, melihat wajah mu saja sudah seperti melihat pantat babi. "


To Be Continued.