Touch Me!

Touch Me!
S2- Berjuang



Ivi melangkah maju menuju stand es krim yang sudah mulai ramai antri dengan tiba-tiba. Tidak tahu kenapa bisa begitu ramai, tapi anehnya banyak sekali gadis yang ikut mengantri dan terus melihat ke arah Nathan. Bukan tatapan biasa, tatapan itu seperti kucing yang sedang main petak umpet dengan tikus.


" Permisi.....! " Ucap Ivi dengan nada suara yang begitu lantang. Tentu saja dia sengaja. Bagaimana tidak? banyak dari para gadis yang berpura-pura mengantri dan berdiri di samping Nathan lalu meminta sahabatnya mengambil gambar mereka dari jarak jauh. Sungguh sangat licik sekali. Dia tidak tahu apa? kalau yang memiliki wajah Nathan sekarang bukan hanya Nathan saja. Ivi juga berhak atas wajah tampannya Nathan.


" Permisi.......! " Ucap lagi Ivi karena para gadis itu benar-benar membuat Ivi tidak bisa mendekati Nathan. merasa sudah cukup kesal karena ucapannya tidak juga di indahkan, Ivi memegang lengan dua gadis dihadapannya lalu membuat tubuh mereka saling menjauh agar dia bisa melangkah maju ke depan.


" Aw....! " Pekik dua gadis itu kompak lalu menatap Ivi marah.


" Aku kan sudah bilang permisi. Malah sudah dua kali loh. Kalian ini cantik tapi kok bolot. "


Dua gadis itu tadinya sudah bersiap ingin membalas, tapi Ivi lebih duku berakting karena malas menghadapi dua gadis siluman itu.


" Ah,..! sayang. " Pekik Ivi sembari memegangi perutnya. Nathan yang mendengar suara Ivi mengeluh sakit sontak menatap ke arahnya.


" Ada apa? " Tanya Nathan khawatir. Dia bahkan ikut memegangi perut Ivi karena tidak tahu harus melakukan apa?


" Sayang, sepertinya anak kita menendang terlalu kuat. Aku sampai kesakitan. " Ucap Ivi lalu bergelayut manja di lengan Nathan.


" Anak? anak apa? " Tanya Nathan bingung.


Ivi menghela nafas kesalnya karena Nathan sama sekali tidak paham kalau dia sedang berpura-pura.


Anak siluman kera!


" Anak kita, sayang. "


Nathan masih mengeryit bingung. Tapi saat melihat mata Ivi yang melotot akhirnya dia hanya memilih untuk diam saja dan mengiyakan semua yang dikatakan Ivi.


" Sayang, jangan dekat-dekat dengan mereka ya? aku takut anak kita akan mirip mereka. "


Para gadis itu hanya bisa melirik sinis dan juga heran. Iya tentu saja heran. Biasanya para pria tampan yang kaya seperti Nathan kan pasti seleranya sangat tidak biasa. Mereka juga berpikir kalau gosip yang beredar hanyalah sensasi saja karena Nathan adalah tokoh pembisnis yang lumayan terkenal.


***


Berly masih saja terus mendatangi Dodi. Baik di tempat kerja atau pun di rumah orang tua Ivi. Memang sih saat mendatangi Dodi dia memakai kaca mata hitam dan juga masker wajah. Tapi tetap saja akan terlihat mencolok meski wajahnya tertutupi. Sebenarnya Dodi agak risih dengan apa yang dilakukan oleh Berly. Walau bagaimanapun, dia adalah seorang artis dan model yang bahkan sudah sampai ke luar negeri. Lalu bagaimana bisa dia sama sekali tidak merasa jijik datang ke tempat kerjanya yang berada di lokasi pasar tradisional.


" Dodi, gadis itu menunggu mu diparkiran. " Ucap salah satu teman Dodi.


" Iya, aku tahu. " Jawab Dodi. Sungguh ini sudah sangat biasa selama tiga hari terakhir ini. Berly akan menunggunya sampai dengan Dodi pulang kerja. Lalu seharian juga dia mengobrol dengan Ibunya di rumah, kadang juga pergi ke rumah sakit menemani Ayahnya. Tentu saja Ibunya saat senang karena dekat dengan orang terkenal. Bahkan hampir setiap momen Ibu mengajak Berly untuk berphoto agar bisa memastikannya kepada teman dan tetangganya. Tapi entahlah, Dodi justru merasa rendah diri dan merasa amat jauh dari segi ekonomi. Bukanya tidak tahu maksud Berly, hanya saja itu terlaku tidak mungkin bagi dirinya. Ditambah lagi apa yang terjadi di pesta ulang tahun Nathania dan Nathalie, dia semakin ingin menjauhi orang-orang kaya.


Setelah semua pekerjaannya selesai, Dodi berjalan ke tempat biasa untuk mendatangi Berly yang sedari pagi ini menunggunya di dalam mobil. Berly tersenyum saat Dodi terlihat berjalan menuju mobilnya. Dengan cepat dia membuka pintu kaca dan mempersilahkan Dodi untuk masuk.


" Jam kerja mu lebih cepat dari kemarin. " Ujar Berly.


" Iya. Karena ini adalah hari terakhir ku bekerja disana. "


Berly mengeryit lalu menatap Dodi penuh tanya.


" Kenapa? "


" Oh, ngomong-ngomong, bagaimana kalau kita makan siang dulu? " Ajak Berly.


Dodi terdiam sesaat dengan wajah menunduk. Benar, ini lah saat nya dia menyampaikan maksud hatinya. Karena jika terlalu lama, dia takut akan menyukai Berly nantinya.


" Nona, bisakah anda berhenti mendatangi ku? " Tanya Dodi dengan perasaan bersalah dan juga tidak enak. Jujur saja, di dalam hatinya sedang memaki dirinya sendiri karena merasa sok tampan. Sudah miskin, pakai acara mengusir gadis cantik lagi.


" Tidak mau. " Jawab Berly manja.


Eh?! gadis ini kenapa malah berekspresi begitu? bukanya seharusnya dia kesal?


" No Nona Berly, orang seperti saya ini tidak lah pantas menjadi teman anda. "


" Siapa juga yang mau berteman dengan mu. " Jawab Berly.


Tuh kan, ternyata ngambek. Sudah lah, dimana-mana memang orang kaya itu tidak bisa di logika kan dengan logika orang kismin seperti ku.


" Aku mau nya kan pacaran dengan mu. Setelah itu kita langsung menikah. Tidak usah pacaran dan langsung menikah juga boleh. "


" Eh? " Dodi menatap Berly penuh tanya.


Di ini sinting atau bagai mana sih? apa dia ini sedang mabuk?


" Iya. Aku tidak mau berteman dengan mu. Aku mau nya jadi pacar mu. Bagaimana? " Berly mengerlingkan matanya beberapa kali setelah berucap manja kepada Dodi.


Dodi menelan salivanya sembari menatap Berly heran.


Gila ya?! kalau aku jadi dirimu, tentu saja aku akan membariskan pria tampan dan kaya untuk diseleksi. Ah! aku jadi takut sekarang.


" Bagaimana? mau ya? " Tanya lagi Berly dan kini sudah memeluk lengan Dodi dengan manja.


Meskipun kau cantik dan sangat menggoda, kau juga banyak uang, tapi aku sekarang jadi takut. Bagai mana bisa gadis cantik sepertimu begitu transparan sekali saat berbicara.


" No Nona. Di luar sana banyak sekali pria tampan dan kaya. Pria yang menginginkan Nona juga pasti lah sangat banyak. Nona, penghasilan ku satu tahun saja bisa disamakan dengan penghasilan mu per satu jam. " Kilah Dodi.


" Maka dari itu, menikah saja dengan ku. Kalau sudah jadi suami ku, kau tidak akan ku biarkan kesusahan lagi. "


Apa-apaan ini?!!! ini kan seharusnya laki-laki yang mengatakan ini.


" No Nona, bagaimana kalau anda pulang dulu sekarang, laku anda mandi tujuh kali. Setelah itu, coba pikirkan baik-baik kata-kata Nona. " Dodi sedikit menggeser duduknya karena Berly terus saja menempel padanya. Memang sudah cukup renggang, tapi hanya bertahan beberapa detik karena Berly kembali menempel padanya.


" Dodi, aku tidak bohong kok. Kalau kau mau jadi suamiku, aku akan menanggung biaya hidup mu. Aku juga tidak keberatan degan Ayah Ibu mu. "


Ya ampun! aku rasa, perempuan ini memakan penyedap rasa satu kilogram setiap harinya.


To Be Continued.