Touch Me!

Touch Me!
Permohonan Maaf



Hari senin, hari berakhirnya akhir pekan. Semua berkutat dengan pekerjaan mereka. Seperti Vanya dan Nath. Mereka kembali disibukkan dengan pekerjaan di kantor.


Pagi ini, Nath menghela nafas panjang setelah memasuki ruangan kerjanya. Tumpukkan dokumen sudah bertengger dimeja dengan rapihnya.


Nath melepaskan jas nya dan menggantungnya disebuah gantungan khusus jas.


" Huh....! baiklah, saatnya bekerja dengan serius. Jangan sampai lembur. Aku tidak mau kehilangan kesempatan untuk mengantar Vanya pulang. " Gumam Nath sembari mengambil posisi duduk untuk memulai pekerjaan.


Terdengar suara ketukan pintu.


" Nath, " Panggil Lexi yang membuyarkan konsentrasi Nath.


" Kau sangat menganggu! bukan hanya semalam. Tapi, sekarang pun masih sama. Masih suka menganggu. Pergilah... aku akan memperhitungkan hukuman untukmu nanti. Sekarang aku sibuk. " Ucap Nath yang sama sekali tak sedikitpun menatap Lexi.


" Iya akan ku terima itu nanti. Tapi Nath, ada hal yang lebih penting yang harus kau ketahui.


Nath menghela nafasnya. Tapi tatapannya, tetap pada dokumen yang ada di mejanya. " Katakan.


" Dia kembali Nath.


Nath mengerutkan dahinya lalu menatap Lexi. " Apa maksutmu? siapa yang kau maksut?


" Mage. Dia kembali. Dia sudah berada diruang tunggu. Dia ingin bertemu denganmu.


Hening.....


Nath tak menunjukkan ekspresi apapun. Dan Lexi, dia hanya bisa menebak-nebak tapi belum juga mendapatkan kepastian untuk dia bertindak.


" Nath, kau akan menemuinya atau tidak? " Lexi kembali mengajukan pertanyaan ini. Ya iyalah... Kakinya kan pegal juga kalau harus berdiri terlalu lama. Dia harus menghemat energinya agar tidak mudah lelah dan mempercepat proses penuaan batinnya.


" Suruh dia masuk. " Jawab Nath sedikit bergetar suaranya.


Lexi menatap Nath sesaat. Sebenarnya, dia ingin memberikan saran. Tapi, melihat Nath yang seolah ingin menemui Mage, Lexi mengurungkan niatnya.


Nath, aku harap kau baik-baik saja. Kenapa kau memilih untuk menemuinya? padahal, kau terlihat gemetar. Nath, jika sampai kau kembali dekat dengannya, demi Tuhan. Aku adalah orang pertama yang akan menghancurkan hubungan kalian. Kau memiliki Vanya dan putra kalian. Jika kau kehilangan kontrol, aku akan dengan senang hati menghentikan permainan Kevin dan langsung memberitahumu.


" Nath, " Panggil seorang wanita dengan nada lirih. Matanya berkaca-kaca. Seolah memendam kerinduan yang teramat dalam. Tubuhnya juga gemetar. Seperti terlihat menahan diri untuk tidak berlari dan berhambur di pelukan Nath.


Nath masih diam menatap wanita yang pernah ada di hidupnya. Wanita yang meninggalkannya begitu saja. Wanita yang ia kejar hingga harus berakhir koma dirumah sakit.


" Nath, aku sudah kembali. " Ucapnya lirih sembari mengusap air matanya yang terjatuh.


Masih diam. Nath masih bingung. Bagaimana dia akan memperlakukan wanita di hadapanya itu? berlaku baik setelah apa yang dia lakukan? atau melampiaskan kekesalannya dan memakinya? atau memukulnya? tapi, kenapa rasanya Nath tidak ingin melakukan apapun? bibirnya terasa berat dan terkunci hanya untuk sekedar mengucapkan kata Hai....


" Nath, apa kau begitu marah? kenapa ka diam saja. " Air mata Mage semakin deras terjatuh. Langkahnya juga semakin dekat dengan Nath.


" Untuk apa kau datang? " Akhirnya, Nath mengatakan sesuatu setelah menyadari jarak mereka yang mulai berdekatan. Rasanya, dia hanya ingin membatasi dirinya dari wanita yang berdiri di hadapnnya itu.


" Untuk kembali, Nath. Untuk meminta maaf. Untuk memohon ampun darimu.


" Maaf untuk kesalahan yang mana? " Tanya Nath dengan tatapan dinginnya.


" Segalanya. " Mage tertunduk dengan derai air mata yang seolah tumpah begitu saja.


" Pergilah. Rasanya, aku bisa memaafkan mu, jika tidak melihatmu.


" Nath, tidak bisakah kau jangan begitu dingin padaku? " Tanya Mage dengan tatapan memohon.


" To the point lah. Apa yang kau inginkan sebenarnya?


" Nat, aku ingin kembali padamu.


Nath mencengkram pinggiran meja. Rasanya, dia ingin sekali memukul wanita yang begitu mudahnya mengatakan kata-kata itu. Meninggalkan dengan keadaan koma. Lalu sekarang ingin kembali? untung saja, orang yang mengatakan hal ini adalah wanita. Kalau saja dia pria. Batin Nath.


" Aku tidak bisa. " Nath menatap tegas.


" Apa karena kemarahan mu yang belum mereda?


Mage terdiam sesaat sembari menatap Nath. Dia mencari jawaban dibalik tatapan yang diberikan Nath padanya. Tapi, tidak tahu mengapa. Dia seolah tak mengenal lagi pria yang dulu menjadi orang paling spesial dihatinya. Dia kehilangan kemampuannya untuk membaca pikiran Nath. Dulu, dia begitu mudah menebak apa yang sedang Nath pikirkan.


" Nath, aku mengorbankan banyak hal untuk berlari kepadamu.


Nath Menghela nafasnya. Sebenarnya, dia benar-benar tidak tega melihat air mata yang terus saja terjatuh di pipi Mage. Tapi, untuk datang menghampiri wanita itu, rasanya Nath begitu tidak rela melakukannya.


" Aku tidak memintamu mengorbankan banyak hal.


" Iya kau benar. Nath, apa kau tahu alasanku pergi saat itu?


Alasan? membicarakan alasan kepergianmu saat ini, apa yang kau rencanakan?


" Nath, saat itu, Ibumu datang padaku. Dia menawarkan banyak uang. Dan kau pasti tahu maksutnya.


Nath mengepalkan tangannya erat.


" Aku menolak pada awalnya. Tapi, Ayahku sangat menderita dengan kanker paru-parunya. Aku terpaksa Nath. Aku tidak memiliki pilihan lain. Dan,


" Dan apa lagi?


" Ibumu juga yang memaksaku menikahi laki-laki itu. Dia sama sekali tidak merestui hubungan kita Nath. Dia menyukai Gaby dari awal.


" Apa kau sudah selesai?


Mage menatap Nath bingung. Bahkan dia sudah mengatakan segalanya. Yang berarti, dia juga sudah tau tentang Ibunya. Tapi kenapa Nath terlihat tidak terkejut? batin Mage menebak-nebak.


" Ibuku memaksamu, dan kau menurutinya. Lalu, apa masalahnya? " Nath menatap Mage heran.


" Masalahnya adalah, Ibumu. Dia yang membuat kita berpisah. " Mage kembali emosional.


Nath menghela nafasnya. Rasanya sesak juga harus berdebat dengan Mage. " Kau punya pilihan yang lain. Hanya saja, kau ingin yang lebih instan kan?


" Apa maksutmu, Nath?


" Kau bisa datang padaku. Kau bisa meminta bantuan ku. Ah, iya. Jangan lupa, ada Kevin dan Lexi yang selalu bersamaku. Jika masalahnya adalah uang, maka kami bertiga siap membantumu hingga akhir.


" Nath, aku tidak ingin membebani mu saat itu. " Mage yang sudah semakin dekat dengan Nath, dia meraih lengan Nath dan menyentuhnya pelan.


" Maka itu adalah pilihanmu. " Nath menatap tajam Mage.


" Apa?! " Mage merasa bingung. Apa kurang jelas, penjelasan darinya?


Nath masih menatap Mage tajam. " Kau yang memilih untuk meninggalkan ku. Kau yang telah menentukan nasibmu sendiri.


" Nath, bisakah kau memahami ku? saat itu, aku tidak memiliki banyak waktu untuk memilih.


" Kalau begitu, pergilah kepada pilihanmu. Kenapa ingin kembali? tempat yang pernah kau isi, sudah menjadi milik orang lain.


" Apa? " Mage menatap Nath tidak percaya. Menurut beberapa sumber, Nath tidak pernah dekat dengan wanita manapun juga selama lima tahun terakhir.


" Kita sudah selesai. Mari kita berjalan dijalan kita masing-masing. " Nath menatap Mage serius.


" Kau berbohong Nath!


" Aku tidak berbohong.


Mage mengepalkan tangannya kuat. Dia menarik nafas perlahan sembari mengumpulkan keberaniannya. Dia meraih tengkuk Nath dan membenamkan bibirnya di bibir Nath.


" Nath! " Suara wanita yang baru saja masuk tanpa mengetuk pintu.


Nath yang memang terkejut dengan aksi Mage, sontak mendorong tubuh Mage saat mendengar suara yang familiar ditelinga nya.


" Vanya? " Nath menatap Vanya terkejut.


To Be Continued.