
Setelah sampai di rumah Dodi, Berly juga tiba-tiba turun dari mobil dan mengikuti langkah kaki Dodi. Tentu saja pria itu kebingungan. Padahal kan sudah mengucapkan terimakasih, apa lagi yang ketinggalan? gumam Dodi di dalam hati. Gadis itu juga nampak bersemu malu yang tambah membuat Dodi bingung.
Gadis ini pipinya me merah, dia sedang menahan jijik dengan rumah ku, apa sedang menahan diri karena ingin buang air besar?
" Apa Nona membutuhkan kamar mandi? " Tanya Dodi. Berly tersenyum dan menggeleng.
" Nona sedang apa mengikuti ku? Nona membutuhkan sesuatu? " Tanya Dodi yang masih saja kebingungan. Berly dengan cepat mengangguk.
" Apa yang bisa saya bantu, Nona? "
Nikahi aku secepatnya!
" Oh, aku sangat lelah. Boleh beristirahat di rumah mu sebentar? " Pinta Berly dengan tatapan memohon.
Dodi mengeryit heran tentunya. Apa gadis cantik itu buta? apa tidak lihat kalau rumahnya sangat sempit dan sesak? apa yang Ivi katakan tentang wanita ini benar? sejenak Dodi berpikir, dan akhirnya dia menyimpulkan jika Berly memang agak aneh. Tapi walau bagaimanpun, dia sudah mengantar Dodi sampai ke rumah dengan selamat. Tidak mungkin kan kalau dia menolak permintaan gadis cantik itu.
" Kalau Nona tidak merasa risih, tidak masalah. "
" Tidak! tidak kok! tentu saja tidak! "
Berly dan Dodi akhirnya masuk kedalam rumah mungil itu. Seperti biasa, Ibu akan langsung mengomel begitu mendengar pintu rumahnya terbuka. Tentu saja dia tahu jika itu putranya. Karena mustahil ada pencuri yang masuk ke rumah sempit mirip gubuk di sawah itu.
" Dasar anak bandel! Ibu kan sudah bilang, jangan pulang larut ma,.. Eh? " Ibu menghentikan omelan nya saat melihat gadis cantik yang mirip salah satu model yang sering ia lihat di televisi.
" Kau? kau mirip seperti Kimberly ya? " Ucap Ibu sembari menatap wajah Berly penuh kekaguman.
" Selamat malam, Bibi. Aku memang Kimberly. "
" Ha?!! " Ibu melongo heran, lalu mengucek matanya dan menepuk-nepuk pipinya hingga memerah. Tentu saja lah dia kaget. Mana mungkin akan ada artis terkenal yang menyambangi rumahnya? api sekuat apapun dia memukul pipi atau mengusap matanya, tapi yang ada di hadapannya benar lah Kimberly.
" Perasaan aku sudah bangun tidur. " Ucap Ibu yang masih saja tidak mau percaya.
" Bibi, ini memang aku Kimberly. Apa aku boleh masuk? "
" Boleh! boleh! tentu saja boleh! " Ibu meraih pundak Dodi lalu menggesernya dengan kasar agar memberikan jalan kepada Berly untuk masuk.
" masa bodoh! mau ini mimpi atau bukan, yang penting aku bisa melihat Kimberly dari dekat. " Ucap Ibu semangat. Dodi hanya bisa menghela nafasnya dan menggeleng. Mau bagaimana lagi? memang begitulah Ibunya. Tapi setelah kembali melihat wajah Berly, benar dia merasa tidak asing dan teringat dengan papan iklan yang tak sengaja ia lihat beberapa waktu lalu.
Ibu langsung menyambutnya hangat. Begitu juga dengan Berly. Dia sangat bahagia karena ternyata di sambut baik oleh calon mertuanya. Hi... kalau sukses sih. Mereka asik mengobrol ke sana ke mari dengan semangat. Sesekali juga Berly menanyakan tentang Dodi. Tentu saja mulut ember Ibunya dengan lancar membongkar semua aib yang selama ini Dodi tutupi. Dan anehnya, Berly justru terlihat tidak masalah dan terus tertawa.
Dua orang ini gila atau apa sih? menggunjing orang apa seindah itu?
Kembali ke kediaman Chloe.
Setelah pembicaraan dengan Nathania dan Nathalie, Ivi jadi terlihat sedikit berbeda. Tentu saja Nathan menyadarinya. Dia jadi teringat dengan kata-kata Ayah mertuanya tadi pagi. Dari sinilah. Nathan bisa menyimpulkan, jika Ivi memiliki sesuatu yang tidak biasa dengan keluarga Marhen. Menyadari jika istrinya terlihat semakin tidak biasa, Nathan berjalan mendekati Ivi yang tengah berdiri memandangi langit malam dari balik jendela kaca kamarnya. Nathan memeluk Ivi dari belakang lalu mengecup pucuk kepala Ivi. Hah! hebat kan? ini karena dia menyempatkan diri menonton Drama dan membaca Novel saat di kantor. Romantis bukan?
" Apa yang sedang kau pikirkan? " Tanya Nathan dan semakin mempererat pelukannya.
Tentu saja Ivi gugup. Tapi sungguh aneh karena tangannya sama sekali tidak ingin menyingkirkan kedua lengan Nathan yanag memeluk erat tubuhnya dari belakang. Sebaliknya, Ivi justru merasakan adanya ketenangan tersendiri saat Nathan mendekapnya.
" Aku hanya memikirkan tentang, bagaimana jika kau terprovokasi dan memilih untuk menceraikan kan aku. "
" Aku tahu kau bodoh. Tapi aku tidak tahu kalau kau sangat bodoh. "
Kini giliran Ivi yang menghela nafas. Memang selalu begini saat berbicara dengan Nathan. Tapi entahlah, rasanya sangat nyaman dan tidak perlu menjadi orang lain seperti saat bersama dengan Bien. Dia akan cenderung berhati-hati saat berkata dan tidak suka membantah Bien.
" Jangan lupa, orang bodoh ini sudah kau nikmati. "
" Iya, mau bagaimana lagi? aku terpaksa. "
Ivi mengeryit lalu memutar tubuhnya untuk menatap Nathan.
" Jaga mulut sialan mu itu! kalau begitu, kembalikan keperawanan ku! "
Nathan tersenyum geli lalu kembali meraih pinggang Ivi dan merapatkan tubuh mereka.
" Bagiamana caranya? lagi pula kau juga sudah mengambil perjaka ku. Bisakah kau mengembalikannya? "
" Dasar! tidak masuk akal sekali. " Ujar Ivi kesal.
Nathan meraih wajah Ivi lalu membuat manik mata mereka saling menatap.
" Katakan padaku, apa yang menggumu? kenapa kau terlihat murung setelah pembicaraan kita tadi. "
Ivi menelan salivanya lalu menatap manik mata Nathan kembali. Entah akan seperti apa masa depannya bersama Nathan. Tapi saat ini Ivi begitu mempercayai Nathan. Hatinya juga selalu berkata kalau selain dari keluarganya, Nathan adalah salah satu orang yang bisa ia percaya.
" Nathan? "
" Em? "
" Jika seseorang memberi tahu semua hal buruk tentang ku dan keluargaku, apakah kau akan tetap bersama ku dan tetap menggenggam tangan ku? "
" Kenapa kau harus bertanya? aku sudah memberi tahu mu kemarin kan? aku, tidak akan meninggalkan mu apa pun alasannya. Aku menjanjikan ini bukan hanya dengan mu. Tapi juga Ayah mu. "
Ivi menyeka air mata harunya. Sungguh di sangat bahagia mendengar ucapan Nathan. Sekarang bahkan dia bisa merasa sangat lega dan yakin akan dirinya sendiri. Ivi memeluk Nathan erat karena merasa bahagia.
" Terimakasih, Nathan. Mulai sekarang aku tidak akan pernah meragukan diriku sendiri. Aku akan bahagia untuk kalian yang mencintai dan menyayangi ku. "
" Bagus sekali. " Nathan juga memeluk tubuh Ivi erat. Sungguh dia sangat penasaran, tapi sepertinya dia perlu menunggu sampai Ivi siap untuk menceritakan semua yang terjadi kepada dirinya di masa lalu.
" Ngomong-ngomong, kau tidak lupa dengan janji kita malam ini kan? " Tanya Nathan.
Sialan! orang ini pintar sekali membuat ku gugup.
" A aku i ingat. " Ujar Ivi seraya menjauhkan tubuhnya karena merasa gugup.
Nathan kembali menjatuhkan tubuh Ivi kedalam dekapannya. Meraih wajahnya dan pelan mulai menyesap bibir manis Ivi.
To Be Continued.