Touch Me!

Touch Me!
S2- Penyesalan



Kini bukan hanya Ibunya Ivi saja yang memeluk tubuh mungil itu. Vanya juga memeluk mereka bersamaan. Sungguh sangat menyakitkan masa lalu Ivi. Vanya pikir, apa yang terjadi di masa kecilnya adalah hal yang tidak ada bandingannya kalau soal luka. Tapi sepertinya, Ivi juga tak kalah menderita dan terluka. Tidak tahu bagaimana cara mengobati luka itu. Yang jelas, orang tua Ivi dan juga Dodi berhasil melakukanya.


" Ivi, aku memang Ibu mertua mu. Tapi kau bisa mengaggap ku sebagai Ibu sungguhan mu. Jangan terpuruk lagi ya? jadilah Ivi seperti beberapa waktu lalu. Ivi yang kuat dan cerewet. Ibu yakin, semua orang menyukai Ivi yang seperti itu. Dan Ibu juga yakin, kau akan lebih bahagia jika menjadi Ivi seperti sebelumnya. " Ucap Vanya yang di angguki oleh Ibunya Ivi.


" Putriku,... " Panggil Ayah yang hanya bisa diam di kursi roda. Bukanya tidak mau berjalan untuk memeluk putrinya, tapi tubuhnya terlalu gemetar dan lemas. Tubuhnya seolah kehilangan seluruh energi.


Ivi tersenyum lalu menyeka air matanya. Ivi melerai tubuhnya dari kedua Ibu yang mendekapnya. Perlahan dia kembali menangis menatap pria yang selama ini ia anggap dewa dalam sebutan seorang Ayah. Ivi mengingat semua waktu yang telah di habiskan bersama Ayahnya. Memancing bersama, mencuri makanan yang Ibu sembunyikan saat sedang menghukum mereka untuk tidak makan, menjahili kakak nya, menaiki sepeda bersama, Ayah yang dengan semangat menggendongnya sembari berlari menuju klinik saat dia demam, Ayah yang akan menangis saat dia menangis, bahkan Ayah tidak pernah ragu memarahi orang yang membuat nya menangis. Ayah yang diam-diam menambahkan uang saku sebelum ia berangkat sekolah, Ayah yang diam-diam membelikannya mainan laki-laki meski Ibu nya melarang. Entah berapa banyak lagi kenangan indah yang sudah di berikan oleh pria itu.


Ivi berjalan pelan menghampiri Ayahnya sembari menangis. Sungguh, tadinya dia tidak ingin menangis. Dia juga sudah menyeka air matanya dan mencoba tersenyum. Tapi mau bagaimana lagi? melihat kondisi Ayahnya yang sangat jauh berbeda dari beberapa waktu lalu, tentu saja hatinya begitu sakit. Rambut yang mulai botak kini di tutupi dengan topi, wajahnya juga terlihat pucat, tubuhnya juga terlihat kurus dan lemas. Padahal, beberapa waktu lalu tubuhnya begitu segar dan tegap.


" Ayah... " Ivi menangkup wajah Ayahnya dan masih saja tak bisa menahan tangis. Ivi mencium kening Ayahnya cukup lama.


" Ayah, sekarang Ayah sudah tahu semua kan? jadi bisakah Ayah hidup lebih lama untukku? "


Ayah tidak menjawab dan hanya bisa menangis tanpa suara. Sungguh sangat sakit melihat putrinya sekarang ini. Mungkin apa yang terjadi di masa lalu memang sudah berlalu, tapi bagaimana tentang lukanya? apakah mungkin akan berlalu? tidak! luka dalam yang dilalui putrinya tidak akan bisa dia lupakan begitu saja. Benar, Ivi memang selalu tertawa, cerewet dan tukang protes sebelumnya. Tapi tentang hati, tidak akan ada yang bisa memahami nya. Bahkan terkadang, diri sendiri juga bingung mengartikan apa yang hatinya rasakan.


" Sayang, putriku yang paling cantik, Ayah memang tidak akan bisa hidup abadi untuk mu. Tapi, kau sudah menemukan laki-laki yang bisa menjagamu seperti Ayah menjagamu. Meskipun awalnya Ayah sebal dengan dia, tapi harus Ayah akui, dia adalah pria terbaik dan bisa Ayah percaya untuk menitipkan mu. " Ivi langsunh memeluk Ayahnya. Egois memang meminta seseorang untuk hidup demi dirinya. Tapi ketakutan Ivi kehilangan sosok Ayah yang segalanya baginya, tentu membuatnya sulit berpikir dengan benar.


" Jangan lupa, aku juga akan menjaga mu dengan baik. Adikku yang paling menyebalkan di muka bumi ini. " Ucap Dodi yang sudah ada di dekat mereka.


Ivi bangkit laku mencebik kesal. Dia juga bisa sedikit tersenyum karena candaan dari kakaknya.


" Dengar, Ibu sudah mengajari mu bagaimana mengoceh untuk melawan orang. Tapi kau jangan lupa, aku yang mengajari untuk menjadi kuat. "


Ivi tersenyum lebar lalu memeluk erat tubuh Dodi.


Dodi menghela nafasnya. Dia memukul punggung Ivi sedikit kuat.


" Tentu saja, adik ku yang paling cantik di dunia lain. "


" Hentikan cibiran mu, dasar bujang lapuk! "


Salied, Salia dan Nyonya Marhen semakin terpukul melihat semua itu. Bagaimana bisa dia kehilangan semua momen yang harusnya ada dia di hidup Ivi? tapi semua yang terjadi di masa lalu juga bukan sepenuhnya kesalahan mereka. Ada sebuah alasan mengapa Nyonya Marhen tidak pernah mencari Ivi dan mencoba menemuinya. Tapi jika menjelaskan sekarang, Ivi pasti akan semakin membencinya.


Salia yang sedari tadi hanya bisa menangis pun tidak bisa melakukan apa-apa. Hatinya hancur bersamaan dengan derasnya air mata penuh penyesalan yang tak terhitung lagi seberapa banyak. Ditambah lagi, dia mengingat semua momen masa kecilnya bersama Ivi. Bermain bersama, tidur di kamar yang sama, membagi makanan bersama, melakukan banyak hal bersama. Tapi apa yang terjadi sekarang? dengan tangannya sendiri dia memukul, menghina dan juga merendahkan adik kandungnya sendiri.


Salied juga tak kalah terpukul atas apa yang terjadi dengan Ivi. Awalnya di juga begitu sedih harus berpisah dengan adik bungsunya, tapi karena suatu alasan, dia hanya bisa memendam rasa sedih dan kerinduan selama bertahun-tahun. Dia bukan tidak pernah mencari keberadaan adik bungsunya, tapi saat dia sudah dewasa dan memiliki koneksi, dia juga sudah berusaha mencari. Tapi sayangnya, semua informasi tentang Ivi tidak bisa dicari lagi. Bahkan nama Silvia Marhen juga sudah dinyatakan hilang. Tapi sekuat tenaga dia mencari tahu, dan pada akhirnya dia menemukan kediaman Ayah kandungnya yang sudah lama tidak ia temui. Bukannya disambut hangat dan mendapatkan informasi tentang adiknya, dia justru di usir dan tidak ada satu pun informasi yang bisa ia dapatkan sampai saat ini.


" Silvi, to tolong beri waktu untuk Ibu bicara nak. Ibu akan menjelaskan semuanya agar kau paham. Ibu tidak bermaksud meninggalkan mu. Ibu hanya terpaksa melakukanya. "


Ivi terdiam dan kini hanya menatap Nyonya Marhen datar. Sungguh dia sangat jengkel mendengar nada bicara yang begitu lembut dari wanita yang sudah melahirkannya.


" Silvi, kau pasti marah karena Ibu tidak mengenali mu. Tapi sungguh nak, jika Ibu tahu, Ibu pasti tida akan membiarkan semua ini terjadi. " Ucap Nyonya Marhen sembari terisak.


" Nyonya, berhentilah membujuk putriku. Asal kau tahu, putriku sangat takut dan patuh padaku. Dan aku, tidak akan mengijinkan putriku berbicara dengan mu apalagi memberi maaf. Biarkan saja orang mau menghina ku karena aku pendendam. Aku tidak akan perduli ocehan orang. Nyonya yang terhormat, apa kau tahu rasanya hatiku saat pertama kali aku bertemu Ivi? apa kau ingin tahu keadaannya? " Ibu menatap marah manik mata Nyonya Marhen yang masih saja bercucuran air mata.


" Bayangkan, Nyonya. Gadis kecil berumur sebelas tahun itu datang padaku dengan luka memar di sekujur tubuhnya. Tulang hidungnya patah, bibirnya pecah, pelipisnya sobek, rambutnya di potong acak-acakkan, bahkan ada bagian yang botak. Dari ujung kepala, sampai ke ujung kuku kaki putriku terluka, Nyonya. " Ibu kembali menangis lalu memukuli dadanya yang terasa sangat sesak.


To Be Continued.